
HAPPY READING
“Sudah nemu pengennya makan dimana?”
Rina menggeleng sambil terus mengotak-atik ponselnya. Ia menscrol kesana-kemari untuk mencari tempat makan mana yang akan dituju saat ini.
Untung Dika sudah sempat mengganjal perutnya, jika tidak mungkin ia sudah pingsan kelaparan karena terlalu lama menunggu Rina memutuskan tempat tujuan makan.
“Sebenarnya kamu mau makan apa sih sayang…?” tanya Dika yang mulai bosan menunggu. Ya kalau tempatnya nyaman mungkin Dika tak akan begitu mempermasalahkan. Tapi mereka kini hanya di kursi depan sebuah swalayan yang tak ada nyaman-nyamannya untuk menghabiskan waktu untuk menunggu sesuatu yang belum pasti kapan usainya.
Saat ini keduanya tengan duduk di emperan sebuah swalayan. Di hadapannya ada es krim kemasan dan beberapa makanan ringan.
“Aku kangen Dian…” ujar Rina setelah tak jua menemukan makanan yang ingin ia makan.
Dika menatap tak percaya. “Dian lagi nggak di Indo sayang. Masa iya kamu mau ngajakin aku ke Beijing sekarang…”
Rina hanya menatap suaminya. Bukan tatapan tajam atau tatapan memohon. Sepertinya kali ini Rina masih mempertimbangkan situasi dan kondisi saat hendak mengungkapkan keinginannya.
“Aku telfon Dian bentar kali ya. Siapa tahu setelah ngobrol sama dia aku jadi tahu mau makan apa.”
Dika menghela nafas. “Iya…” Maunya sih bilang terserah, namun Dika tak mau istrinya yang sensitive ini sampai sedih dan moodnya hancur karena Dika tak bisa menahan diri.
Setelah menemukan kontak Dian, Rina segera menekan tombol dial.
Tutt tutt tutt tuttt
“Nomor yang anda tuju…”
Rina segera memutus panggilannya saat terdengar suara operator yang menyahut di seberang sana.
“Kenapa? Nggak aktif?” tanya Dika saat melihat istrinya menjauhkan ponsel dari telinga.
“Nyambung sih tadi, cuma nggak diangkat,” jawab Rina apa adanya.
“Coba sekali lagi. Siapa tahu kali ini Dian jawab,” usul Dika.
Saat baru saja Rina hendak menekan tombol dial, ponselnya sudah terlebih dahulu bergetar.
“Eh ini…” ujarnya dengan mata berbinar.
“Ini apa?” tanya Dika meminta istrinya memperjelas maksudnya.
“Dian telfon balik,” ujar Rina sesaat sebelum menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu di telinga.
Rina terlihat girang saat berbicara dengan Dian, sementara Dika sendiri juga harus menerima panggilan dari ponsel yang tiba-tiba berdering.
“Halo…”
“Assalamu alaikum…”
Dika menarik kedua sudut dibibirnya. “Waalaikum salam. Apa kabar?”
“Ellah. Berapa hari nggak ngobrol sih, udah nanyain kabar aja…” sindir pria di seberang sana.
__ADS_1
Kembali Dika mengurai tawa. “Lagi ngapain…?”
Orang yang menghubungi Dika ini tak menjawab. Keduanya sama-sama diam beberapa saat. “Ded, bukannya ini sudah waktunya lu balik?” tanya Dika setelah ia ingat sesuatu.
“Sudah waktunya,” ulang Dedi menyetujui.
“Kapan lu balik?” tanya Dika lagi.
“Ini memang sudah waktunya.”
“Tck. Jangan ribet-ribet kenapa. kayak perempuan aja.”
Terdengar tawa di seberang sana.
Mendengar Dedi tertawa, Dika menajamkan pendengarannya. “E tunggu deh, back sound kamu…”
“Ehm, udah dulu ya. Aku masih ada keperluan.”
“E, e, eh, hey…” Melihat layarnya yang baru saja kembali terkunci. “B*ngsat emang. Itu anak kenapa sih. Dikira biaya telfon murah apa ya. Nelfon nggak ada maksud jelas.”
Dika mencoba membuka pekerjaan sembari menunggu Rina berbicara. Namun tiba-tiba ia urungkan.
Kok aneh ya. Sejak kapan lagu Indonesia diputer sekenceng itu di Amerika. Batin Dika. Sepertinya Dedi sedang di ruang public karena Dika seperti mendengar suara banyak orang yang sedang berbicang bersahutan. Namun yang membuat heran adalah obrolan dan lagu yang didengarnya berbahasa Indonesia.
Apakah sebanyak itu orang Indonesia yang berada di Amerika? Batin Dika lagi.
“Sayang, kita pergi sekarang ya…” ujar Rina tiba-tiba.
“Ke tempat Dian ya, aku…”
“Sayaaanngg,” buru-buru Dika memotong ucapan istrinya. “Kamu jangan aneh-aneh ya. Besok aku masih banyak banget pekerjaan.”
“Iya, aku cuma ketemu sama Dian sekalian makan malam. Nggak lama kok…”
“Ngobrol dan makan emang nggak lama, tapi perjalanannya itu loh sayang. Jadi kira-kira ya…” ujar Dika yang berusaha sabar karena sejak tadi dia sudah menahan diri.
“Paling setengah jam nyampe, apa itu lama?” tanya Rina lagi.
Dika tak habis pikir. “Pakai alat transportasi apa yang secepat itu mengantarkan kita dari Indo ke China?” tanya Dika yang mulai habis kesabarannya.
Rina mendengus. “Bener-bener ya kamu. Kamu pikir aku sengawur itu apa?!”
“Ya terus gimana namanya?”
“Dian udah balik. Dia landing tadi siang.”
“Oh, kirain…” Dika meringis sambil mengusap tengkuknya. “Ya udah ayok. Dian lagi dimana?”
Rina mendengus. “Makanya kalau ada orang ngomong dengerin.”
“Iya, iya maaf…” Dika meminta maaf sambil mengusap lembut pipi istrinya.
“Seenaknya aja motong omongan orang. Ya gini ini jadinya.”
__ADS_1
“Iya, iya maaf. Udah dong jangan ngambek.”
Rina yang semula menatap sinis Dika mengalihkan pandangannya pada ponsel yang baru saja bergetar. Setelah membuka pesan yang baru saja masuk, Rina kemudian menyerahkan ponsel itu pada Dika. “Nih Dian share loc.”
“Mana?” Dika menerima ponsel yang baru saja Rina ulurkan. “Kesana sekarang?” tanya Dika kemudian.
“Iya lah. Besok kan suamiku tercinta harus bekerja…” sarkas Rina.
Dika tertawa geli melihat istrinya yang merajuk. Ia kemudian mengulurkan tangannya pada Rina yang belum juga beranjak dari tempat duduknya. Mereka kemudian berjalan beriringan dengan berpegangan tangan menuju mobil hitam yang akan mengantarkan mereka ke tempat Dian.
***
“Kenapa bisa hilang, ha!?”
“Maaf Pak. Kami benar-benar tidak tahu…”
Andre mengusap kasar wajahnya. “Kalau sampai terjadi sesuatu dengan istri saya, kalian akan saya tuntut semua.”
Beberapa orang perawat yang menjadi sasaran kemarahan Andre ini tak ada yang bisa berkutik. Mereka hanya bisa menunduk dan tenggelam dalam kediamannya saat Andre terus meneriaki sambil menunjuk-nunjuk wajahnya.
“Ini kenapa?”
Heni yang baru tiba dikejutkan dengan anaknya yang mencak-mencak terhadap beberapa pegawai rumah sakit ini.
“Ma, Hana ilang Ma…” adu Andre.
Heni memegangi lengan putranya. “Coba duduk sini.”
Andre mengikuti apa yang mamanya katakan. Keduanya berjalan ke sofa dan duduk di sana.
“Sebelumnya saya minta maaf. Tapi kalian bisa pergi,” ujar Heni pada para pegawai rumah sakit ini.
“Tapi Ma…”
Heni mengusap lembut lengan anaknya membuat Andre langsung diam seketika. Ketiga orang yang semula Andre marahi juga langsung bergegas pergi dari ruangan ini.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Heni memastikan.
“Hana hilang Ma, Hana hilang…” ujar Andre yang tak dapat menutupi kekalutannya.
“Bukan itu, tapi kenapa Hana bisa sampai di rawat di sini?”
Andre mencengkeram erat kepala dengan kedua tangannya. Tak sampai di situ. Rambut yang tak sengaja terselip di sela jari juga harus tertarik karena kencangnya Andre mencengkeram di sana.
Heni yang tak berhasil menenangkan Andre dengan mengusap lengan, kini menggunakan tangan halusnya untuk mengusap punggung Andre yang terasa kaku.
“Istighfar Nak, istighfar. Sekarang cerita sama Mama yang yang sebenarnya terjadi.”
Andre menghela nafas sebelum berbicara, ternyata setelah sebuah helaan ia belum merasa cukup. Akhirnya ia mulai menarik nafas lagi. Entah harus berapa helaan nafas yang Andre butuhkan untuk melegakan dadanya. Namun hingga sekian kali dadanya tak kunjung merasa lega.
Tak tega melihat kekalutan anaknya, akhirnya Heni membawa Andre ke dalam pelukannya. Tak peduli seberapa besar Andre ini, tak peduli seberapa tinggi jabatannya, tak peduli seberapa besar kuasanya, Andre tetaplah anak kecil di mata Heni.
Bersambung…
__ADS_1