
HAPPY READING
Niat awal kembali ke kantor, namun Andre ternyata benar-benar tak tega untuk meninggalkan Hana dalam keadaan seperti itu. Setelah menyelesaikan urusannya, ia kembali lagi untuk menunggui Hana di tempat kerjanya hingga nanti tiba jam pulang.
Penjelasan Hana tentang pertemanan mereka mental seketika. Bagaimana mungkin ada dua orang dengan jenis kelamin berbeda yang katanya berteman tapi nyatanya sedekat dan seposesif Andre ini.
“Yakin dia teman Hana?” bisik Eka pada Risma.
“Aku nggak yakin,” jawab Risma akhirnya setelah sebuah helaan nafas.
“Lihat deh, lihat deh…” Eka menunjuk Andre yang sekilas hanya diam saja di tempatnya.
Kedua wanita ini melihat dengan seksama bagaimana Andre yang tak putus menatap Hana sejak ia kembali tadi. Jika saja tak Hana larang, mungkin ia sudah memborong pakaian lagi di sana sebelum meminta toko untuk ditutup agar ia bisa membawa Hana pulang.
“Hana makin ngelunjak kalau dibiarkan…” ujar Haning pada Nuke.
“Kita masih belum tahu pria itu siapa Ning, yang jelas kelakuan Hana masih jauh ketimbangan keuntungan yang dia bawa,” jelas Nuke.
“Maksud… Mbak, Mbak, yah...” Haning merengut saat Nuke meninggalkan Haning begitu saja. “Seenaknya saja ninggalin orang. Nggak nyadar apa kalau kita seumuran,” gerutu Haning.
Siapa pun pria itu, pokoknya aku harus menunjukkan yang terbaik. Sebelum usia 30 tahun, aku harus bisa mendapatkan karir yang lebih baik. Haning bertekat dalam hati. Setelah mengikrarkan tekatnya ia kemudian mulai turun lagi untuk membantu Hana melayani pelanggan yang datang langsung ke toko.
***
Rina tampak serius memandangi layar gadget di tangannya. Sesekali tangannya bergerak untuk menandai beberapa bagian. Di depannya juga sudah berjajar mangkuk-mangkuk kecil berisi es krim yang sudah meleleh dan berair.
“Sayang, jangan terlalu lelah…” ujar Dika sambil menarik lembut benda elektronik yang Rina pegang.
“Tanggung sayang. Aku ingin menentukan varian apa yang akan masuk untuk tester. Setelah lolos saat tester, aku ingin segera launching. Dan aku ingin Rista yang menjadi brand ambassador untuk produk ini.”
“Kamu sudah ngomong sama Rista?” tanya Dika yang memegangi tepian meja untuk menyangga tubuhnya yang diremdahkan.
“Sudah, cuma kita belum sampai kata sepakat. Tapi kurang nggak sih kalau cuma satu orang?” Tanya Rina untuk meminta pertimbangan.
“Kamu mau kita ambil orang lain dari kalangan public figure, artis misalnya?” tawar Dika.
__ADS_1
“Emm, aku maunya bukan artis tapi dia berkarakter. Dia manis dan tak punya image macam-macam.”
“Siapa ya enaknya?” lanjut Rina setelah sempat diam.
“Ah, entahlah…” putur Rina. Ia kemudian meraih salah satu mangkok dengan ukuran paling besar. “Yah, kok cair…”
“Itu varian es krim racikan kita sendiri?” Tanya Dika.
Rina mengangguk. “Iya. Ini semua formula yang kita racik sendiri. Aku tadi sedang memilih dan memilah, mana saja yang bisa kita majukan untuk produksi dalam jumlah terbatas untuk tester. Niatku nanti saat launching, tak kurang dari lima varian yang kita keluarkan namun sebelum itu aku harus memilih beberapa diantara ini.”
“Kenapa ini mangkuknya besar?” Tanya Dika saat melihat satu mangkuk yang tadi hendak Rina raih. Ukurannya tampak berbeda dengan yang lainnya.
“Karena ini rasa strawberry. Dan untuk varian yang ini menurutku jadi yang terbaik diantara semua varian yang ada.”
“Benarkah?”
“Iya, makanya aku mintanya lebih banyak. Jadi sekalian aku makan.”
Dika menarik kedua sudut di bibirnya. Ia kemudian berjongkok dengan wajah menghadap perut istrinya.
“Sayang. Apa nanti anak kita harus meneruskan apa yang kita lakukan sekarang?” Tanya Rina saat Dika masih bermain dengan perutnya.
“Ya itu terserah dia saja. Kalau mau ya syukur, kalau nggak mau ya asalkan dia jadi orang yang berguna saja aku rasa sudah cukup.”
“Emm, kalau ternyata nih ternyata, kita cuma bisa punya satu anak dan dia tak mau meneruskan perusahaan bagaimana?”
“Kenapa kita harus memusingkan hal itu. Sistem sudah diatur dengan baik. Baik itu system kehidupan maupun system bisnis perusahaan. Tak harus memimpin untuk menjadi pemilik utama, dan tak ada yang menjamin pula perusahaan ini akan bertahan sampai kapan. Jangan sampai kita berfikir terlalu jauh, karena bisa saja perusahaan ini tak mampu bertahan hingga waktu yang sudah pusing kita pikirkan.”
“Kamu ngomong apa sih?” Tanya Rina yang kesulitan memahami kalimat panjang suaminya.
“Aku cuma mau ngomong, aku kangen masakanan mama, dan aku pengen nanti kita makan malam di rumah mama. Kamu mau kan?” Tanya Dika yang sebenarnya ini yang menjadi alasan ia menghampiri Rina di meja kerjanya.
“Rumah mama mana?” Tanya Rina memastikan.
“Mama Santi. Apa perlu kita minta papa Reno dan mama Ririn untuk datang juga? Kebetulan sudah lama kita tak makan bersama.”
__ADS_1
“Nggak masalah sih kalau mereka nggak sibuk,” ujar Rina menyetujui.
Dika bangkit dan mencium sekilas kening Rina. “Kamu hubungi mereka ya, aku mau balik kerja dulu…”
Dika meninggalkan Rina di tempatnya sementara dia kembali pada pekerjaannya. Rina sekarang memang bekerja di satu ruangan dengan Dika, namun mejanya terletak di sisi yang berbeda. Sehingga meskipun mereka ada di ruang yang sama, mereka masih bisa konsentrasi pada masing-masing pekerjaannya.
Konsentrasi Dika sempat terganggu, saat tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dari luar. Setelah dipersilahkan, ternyata dia adalah Lili yang mengurusi berbagai urusan Rina. Selain Lili ada Levi yang turut membantu Rina dalam perngerjaan proyek es krimnya. Sehingga dua wanita ini sering wara-wiri ke dalam ruangannya.
Dika tak mau memperhatikan lebih lama apa yang Rina dan Lili lakukan, karena pekerjaannya sendiri sangat banyak dan tak akan selesai saat ditinggal santai. Padahal sudah ada Dedi yang sesekali membantunya meski ia tak setiap hari berada di kantor. Dedi tercatat sebagai salah satu dokter di rumah sakit yang berada di luar kota. Ia menolak menanda tangani kontrak untuk bekerja dirumah sakit Rudi karena sebagai dokter yang masih tergolong muda, ia merasa terlalu dimudahkan dengan pilihan semacam ini.
Di rumah sakit Rudi, fasilitas sangatlah lengkap serta memiliki dokter ahli sangat banyak. Ia merasa kehadirannya akan lebih bermanfaat jika ia mengabdikan di rumah sakit yang sedikit jauh dari pusat kota dengan fasilitas yang masih seadanya. Padahal di daerah pinggir seperti ini juga sering ada kasus bahaya, namun sering kali tak bisa teratasi karena kekurangan fasilitas dan tenaga ahli.
Tok tok tok
Terdengar ketukan pintu lagi tak lama setelah Lili keluar.
“Masuk…” ujar Dika antusias, pasalnya ia berfikir orang yang sangat ia nantikan sekarang sudah tiba di tempat.
“Hai hai, assalamu alaikum…” muncullah wanita cantik dengan suara cetar dan wajah cerianya.
“Waalaikum salam.”
“Loh kok kamu?” kaget Dika.
Hanya Rina yang menjawab salam, sedangkan Dika malah terkejut karena yang datang bukan orang yang diharapkan.
“Kenapa Kak? Nggak demen ya Rista datang?” protes sang adik setelah masuk dan menutup pintu.
“Ya nggak sih, tapi…”
Tok tok tok
Dika menggantung ucapannya saat pintu tiba-tiba ada yang mengetuk lagi.
Bersambung…
__ADS_1