
Baca mantra dulu, xexexe
Jangan lupa spam komen kawan-kawan.
HAPPY READING
“Pak Andre.” Beberapa orang security itu tampak menunduk hormat saat Andre tiba. Namun reaksi berbeda muncul dari orang-orang di sana. Memang hanya pengelola yang tahu Andre siapa. Selebihnya hanya tahu jika Andre merupakan sekerteris Surya Group yang kebetulan menghuni salah satu apartemen di sana.
Andre nampak tak peduli dengan pandangan remeh dan umpatan yang dilayangkan padanya. Fokusnya sekarang hanya bagaimana cara menemukan Hana secepatnya.
“Apa kalian yakin tak ada yang keluar setelah kalian menahan semua untuk tinggal di dalam?!” tanya Andre dengan berapi-api.
“Tidak Pak. Kami langsung memblokir semua jalur keluar. Tidak hanya bagi yang hendak keluar, bahkan yang hendak masuk pun kami tahan.”
Andre melihat keluar. Benar saja, ternyata banyak orang yang bersiap masuk tapi tak diijinkan. Ia menelisik baik-baik setiap orang yang ada di sana. Ia tak ingin ada celah yang digunakan Hana untuk bersembunyi.
Andre mencengkeram kerah pria berbaju hitam dan berbadan kekar di hadapannya. “Temukan wanita yang akhir-akhir ini sering keluar masuk bersama saya. Jika tidak, kepala kalian yang harus jadi gantinya.”
Andre menghempas kasar pria bertubuh besar itu. Ia kemudian berjalan untuk kembali ke rumahnya. Ia harus terlebih dahulu menanangkan diri sebelum bertindak lebih jauh lagi.
Orang-orang yang semua ramai melayangkan protes itu menelan suaranya. Mereka ngeri melihat Andre yang murka seperti ini. Mereka tak berani bersuara hingga pria yang mengenakan celana training dan kaos oblong berwarna purih itu pergi.
Brak!!!!
“Kemana kamu rumpur liar.”
Setelah menutup pintu dengan menendangnya, Andre berteriak persis seperti orang gila.
“HANAAAAA!!!”
Cklek!
“Kamu kenapa?”
Seorang wanita muncul sambil memegangi perutnya. Andre mematung. Ia masih tak percaya dengan apa yang kini dilihatnya. Ia berjalan cepat dan berhenti di depan perempuan ini.
“Awwh.” Haha meritih saat Andre mencengkeram rahangnya dengan kencang.
“Kamu kenapa sih?” tanya Hana takut-takut.
“Kamu yang kenapa? Apa tidak ada yang bisa kamu lakukan selain merepotkan orang, ha?!”
Aura Andre gelap sekali. Dengan melihatnya saja sudah bisa membuat siapa pun takut apa lagi kalau sampai dibentak seperti ini.
“Kamu marah? Aku salah apa?” tanya Hana yang sesekali memegangi perutnya.
Andre mencengkeram pergelangan tangan Hana dan menariknya. Ia kemudian menghempaskan tubuh wanita ini di atas sofa.
__ADS_1
“Andre…” lirih Hana saat Andre benar-benar membuatnya ketakutan.
“Kenapa wajahmu seperti itu? Mana Hana sekertarisku dulu, yang cerdas dan berani. Kenapa kamu sekarang jadi lemah seperti ini?” tanya Andre dengan menatap remeh wanita di hadapannya.
Hati Hana teriris.
Ternyata benar, Andre hanya mempermainkanku. Baru saja tadi dia bilang cinta, tapi kenapa sekarang jadi sekasar ini? Tuhan. Sepertinya aku memang harus segera pergi. Ini bukan tempatku, aku tak boleh terlalu lama di sini.
Hana memejamkan mata saat merasa Andre lepas kendali. Terus bersama beberapa waktu terakhir membuat hana paham jika pria ini tak bisa dihentikan jika sudah punya mau. Terbukti dari setiap ada yang mengotori jalan Surya Group, selalu Andre berhasil menjadi eksekutor dalam proses penyingkiran pihak-pihak pengganggu. Ia tak akan berhenti sebelum targetnya hancur. Dan sepertinya ini juga berlaku dengan Hana saat ini. Hana merasa Andre akan menghancurkannya dengan paripurna. Ia memang tak dipenjara, tapi hukuman yang disiapkan Andre jelas lebih menyakitkan daripada sekedar mendekam di penjara. Semua rusak, semua hancur tanpa sisa.
Setitik air mata lolos dari sudut mata Hana.
Lakukan. Lakukanlah sesuka hatimu. Aku akan pergi setelah kau membebaskanku.
***
“Belum ada informasi juga?!” teriak pria tua itu murka.
Brugh!!
Tubuh lemas itu ambruk dengan mengenaskan. Pria tua itu berbalik badan membiarkan raga tanpa nyawa itu dibawa pergi dari sana.
“Sekarang kamu, kamu, kamu, dan kamu.” Pria tua itu kembali menunjuk empat orang anak buahnya untk menjalankan misi yang sama.
“Kalian tahu sendiri kan akibatnya? Jadi aku tak perlu menjelaskan lagi. Aku hanya butuh kabar keberhasilan dari kalian.”
“Seminggu. Aku tak mau lebih dari itu.”
Pria tua itu meminta anak buahnya untuk segera pergi. Setelah ia tinggal sendiri, perlahan tangannya membuka laci. Ia mengambil foto lawas yang telah puluhan tahun disimpannya.
“Erika…, aku akan segera menemukan anak kita. Kamu tenang saja.”
Ia kembali menyimpan foto tersebut dan berjalan meninggalkan ruang kerjanya.
“Papa mau ke mana mana?” tanya Mustika yang baru melihat suaminya muncul setelah masuk ke ruang kerja sejak pagi.
“Mau ke kantor,” jawab Galih sambil berjalan melewati istrinya.
“Nggak sarapan dulu?” tawar Mustika.
“Nanti saja di kantor,” tolak Galih.
“Kalau begitu bawa ini. Aku sudah menyiapkan bekal. Ini untuk makan siang juga. Kalau semisal aku tak sempat mengantar, kamu bisa makan ini siang nanti.”
Mustika menyodorkan kotak bekal pada suaminya.
“Kamu tak perlu rept-repot,” ujar Galih pada istrinya.
__ADS_1
“Aku nanti mau ke rumah Rio. Aku ingin menemani Indah di rumah.” Mustika memilih untuk mengganti topic ketimbang mendebat suaminya yang sepertinya sedang berada dalam mood kurang baik.
“Apa kamu sudah mau berangkat?” tanya Galih tiba-tiba. Bagaimana pun dinginnya dia, pria tua ini sangat menyayangi cucu-cucunya.
“Iya. Aku sudah pesan taksi dan akan pergi setelah kamu berangkat ke kantor.”
“Cancel taxinya. Aku antar kamu ke rumah Rio.”
Galih berjalan terlebih dahulu meninggalkan Mustika. Sudut bibir wanita paruh baya ini tertarik. Dia merasa begitu bahagia hanya dengan kebaikan kecil dari suaminya.
Kita memang pasangan hasil perjodohan. Tapi tak inginkah kamu berbagi kebahagiaan dengan wanita yang telah mengabdikan sepanjang sisa hidupnya untuk kamu ini?
Mustika memasukkan beberapa makanan yang sudah ia siapkan untuk menantu dan cucunya. Setelah siap, ia menyusul suaminya berjalan ke depan.
***
“Rapat sudah siap Pak, tinggal menunggu kehadiran anda untuk memulainya.”
“Dalam waktu kurang dari lima menit saya tiba di sana.”
“Baik Pak.”
Dika memuruskan panggilannya. “Kamu mau ikut apa menunggu di sini?” tanya Dika pada Rina yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.”
“Apa aku boleh di sini saja? Mataku terasa berat dan aku juga lapar,” ujar Rina sambil memegangi perutnya.
Dika bangkit dan merapikan jasnya. Ia berlajan dengan tenang menghampiri istrinya.
“Perlu aku pesankan makanan?” tanya Dika sambil menunduk menatap istri cantiknya.
“Aku bisa sayang,” jawab Rina sambil menenggelamkan wajahnya di perut Dika.
Dika membelai lembur rambut wanitanya. “Maafkan aku ya, harus mengajakmu bekerja seperti ini.”
“Tak masalah, pekerjaanku sebenarnya tak banyak, hanya saja aku tak mampu segesit Andre.”
Dika menarik bahu Rina dan ia membungkuk untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah cantik istrinya.
“Aku susah beradaptasi dengan orang baru, makanya mau tak mau harus menyeret kamu,” ujar Dika sambil menatap lekat wajah istrinya.
“Nggak apa-apa, aku suka.”
Rina mendongak membuat Dika spontan menyambar bibirnya.
“Aku tinggal,” ujar Dika sebelum mencium puncak kepala Rina dan pergi meninggalkan ruangannya segera.
Bersambung…
__ADS_1