
Hai, hai.
Banyak yang mempertanyakan kapan Rina akan hamil.
Senja jawab ya.
Rina akan hamil kalau sudah ada sel telur yang berhasil dibuahi oleh sel ******. Xexexe
HAPPY READING
Rina sedang duduk dalam gelisah menemani suaminya yang sedang rapat dengan para petinggi perusahaan. Di awal tahun, perusahaan ini selalu memberikan gebrakan dan kejutan baru di dunia bisnis yang sekarang ia rajai. Resolusi Dika yang semula dianggap gila ini awalnya ternyata terbukti menyumbang perkembangan perusahaan yang sangat signifikan.
“Es krim…”
Ruang rapat langsung senyap saat Rina mengeluarkan satu kata ajaibnya.
“Apa Nona Rina sedang mengajukan usulan?” tanya seorang petinggi.
Rina menarik nafas sesamar mungkin. Ia tak mungkin membiarkan dirinya terlihat bodoh atau gugup saat ini. Ia tadi sedang tak fokus, dan entah mengapa kata-kata itu muncul begitu saja di saat semua orang sedang fokus menyampaikan berbagai macam ide brilian untuk ide pengembangan.
“Iya," Ujar Rina dengan penuh keyakinan.
Rina menjeda ucapannya. Sungguh. Yang terjadi di dalam hatinya tak semantab ucapannya. dalam hati ia gemetar dan mati gaya. Ia sendiri bingung jika harus menentukan latar belakang dadakan atas satu kata ajaib yang ia ucapkan.
Rina kembali menarik nafas panjang. Yang orang lain lihat ia sedang mengumpulkan atensi dari audience sebelum mulai berbicara, tapi sebenarnya ia sedang gugup dan mencari alasan yang logis untuk dijadikan latar belakang ucapan asalnya.
“Perusahaan kita sudah merambah ke berbagai sector. Saya tidak perlu menjelaskan detailnya apa saja. Logo Surya hampir tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakan di Indonesia dan bahkan sudah mulai masuk pasar ASIA dan sebagian wilayah Eropa.”
Kembali Rina menghela nafas. Dika juga turut memperhatikan wajah serius istrinya yang biasanya akan lebih banyak diam saat mendampingi ia rapat sepert ini.
“Nah, Es krim merupakan kudapan yang sangat digemari. Bagaimana kalau es krim menjadi bidikan kita ke depan.”
Rina menahan kepalanya yang sudah ingin menunduk. Ia tak boleh terlihat lemah Meski sebenarnya ia benar-benar ingin menghilang.
Kalau langsung ditolak aku aman, tapi di sisi lain Dika pasti malu. Kalau masuk ke list, aku juga bingung mau bilang apa? Batin Rina bergejolak.
“Es krim, boleh juga.”
Degh!
Ayo Rina, mikir, mikir, mikir.
__ADS_1
“Lalu Nona Rina punya resolusi apa jika memang es krim nantinya lolos menjadi produk baru yang Surya Group luncurkan?”
Rina kembali mengulur waktu. Dia tersenyum lebar sekali untuk menghalau gugup sementara otaknya tengah berputar kencang menyusun berbagai argument yang masuk akal untuk dia utarakan.
Rina menelan ludah. Bismillah…
“Es krim. Sudah banyak diproduksi oleh perusahaan besar, kecil, bahkan industry rumahan. Tapi dari sekian banyak yang ada, hanya beberapa yang bertahan dan punya nama.”
Semua orang masih menatap Rina, menantika apa yang hendak wanita ini ucapkan selanjutnya.
“Harus punya ciri khas dan kadang menjadi pertimbangan kedua adalah kualitas.”
“Tunggu-tunggu. Maksud Anda kualitas tidak penting?”
Rina memasang senyumnya saat seseorang masuk dalam pembicaraannya dan mulai menyela. Ayo Rina. Udah basah ya nyebur sekalian. Optimis dan hadapi. Rina berusaha menyemangati dirinya sendiri.
Dika menyandarkan punggung di kursi kebesarannya. Ia melipat kedua tangannya di dada dan memperhatikan dengan baik apa yang kini dilakukan istrinya.
Rina mulai berbicara. Ia menjelaskan apa pun yang ia peroleh dari proses riset kilat di otaknya barusan. Ia menyingkirkan berbagai macam teori yang berbicara berdasarkan logika. Ia mau main aman karena yang dilakukannya ini adalah di luar yang ia rencanakan.
“Saya kira ide Nona Rina boleh juga. Kita sebelumnya hanya fokus pada hal-hal serius dan melupakan pemikiran sederhana tapi sarat akan makna seperti yang baru saja diungkapkan Nona,” ujar salah seorang anggota rapat.
“Saya sepertinya harus merubah cara pandang saya terhadap para pebisnis muda. Pak Restu berhasil mematahkan stigma saya bahwa pengalaman lah yang menentukan kesuksesan, tapi lupa bahwa otak brilian itu merupakan bawaan yang dianugerahkan Tuhan dan tak bisa direkayasa manusia meskipun harus melewati manipulasi waktu.”
“Tapi ada satu hal yang harus dipertimbangkan, yaitu pengalaman lah yang diperlukan para penggerak muda untuk mengontrol setiap langkahnya agar lebih baik dan tak mengulangi kesalahan para pendahulunya.”
Statement penutup Dika ini berhasil mendapat tepuk tangan sebelum rapat diakhiri. Dika dan semua jajarannya keluar bersama-sama. Mereka masih ngobrol sesekali sebelum kembali ke ruangannya atau pun kembali ke kantornya bagi
mereka yang bukan pekerja kantor pusat.
Dika dan Rina pun kembali ke ruangannya. Masih banyak pekerjaan menanti yang harus diselesaikan hari ini.
“Kamu tadi kok bisa punya ide es krim sih. Mana ngomongnya nyela ucapan orang." Dika tertawa kecil mengingat kelakuan istrinya yang sedikit tak sopan.
“Maaf ya,” sesal Rina.
“Nevermind. Untung kamu istri saya,” ujar Dika dengan sombongnya.
“Igghhh. Emang iya sih, he he he.”
Keduanya sempat saling menatap sebelum sama-sama tertawa.
__ADS_1
“Aku tadi sebenernya…”
Spontan Rina menjeda ucapannya saat Dika mengalihkan pandangannya pada ponsel yang ia pegang di sebelah tangan.
“Aku angkat bentar,” ijin Dika karen dering ponsel itu terus terdengar.
Sedikit kecewa, karena Rina harus mengalah untuk urusan lain Dika. Tapi ini lah kehidupan. Kita tak akan pernah benar-benar menjadi yang utama karena kita hidup tak hanya berdua, tapi bedampingan dengan banyak orang yang lainnya dengan banyak kepentingan yang berbeda.
“Halo. Gimana Vin. Sudah action ya?”
“Sudah, tapi tanpa mereka sadari ada bahaya lain yang tengah mengintai.”
“Apa membahayakan?”
“Cukup bahaya sebenarnya. Dan sebenarnya ini yang ingin aku katakan pada anda. Apa mereka perlu diberikan backingan atau lebih baik langsung diperingatkan?”
“Jangan-jangan. Cukup awasi saja. Kita lihat, ada lawan tak terduga atau tidak. Aku tak mau dia tahu jika ada campur tanganku.”
“Baiklah. Akan saya jalankan sesuai perintah anda.”
“Good. Tak salah selama ini aku percaya dengan kalian.”
“Kami tahu dengan siapa kami harus serius, dan dengan siapa kami bisa bermain-main. Kalau begitu, selamat siang pak Restu Andika.”
“Siang.”
Dika menutup ponselnya dan kembali menyimpannya. Ia menoleh dan menatap Rina yang tengah sibuk memperhatikan jalanan.
“Hidup kamu kayanya lebih serem dari film action,” ujar Rina saat merasakan belaian lembut di kepalanya.
“Kamu capek?” tanya Dika dengan suara rendah.
Rina menoleh menatap Dika yang tengah menatap lembut dirinya. Ia menggeleng dan membalas senyum suaminya. “Hidupku akan hampa kalau tak ada kamu warnai dengan kisah semacam ini.”
“Udah pinter ngegombal ya sekarang.” Dika mengacak rambut Rina dan menarik tubuhnya ke dalam pelukan.
Rina membalas dengan tawa dan membalas pelukan suaminya.
Ting!
Keduanya tertawa lagi saat sadar ternyata mereka sedang berada di dalam lift, dan sekarang mereka harus berjalan lagi menuju setumpuk pekerjaan yang mau tak mau harus dituntaskannya.
__ADS_1
Bersambung…