
Hayow tebak, Ken akhirnya ke Beijing sama siapa ya?
HAPPY READING
Dian menjatuhkan kantong-kantong berisi makanan yang ia bawa. Ia mengucek matanya, namun halusinasina tak hilang juga.
“Aw!!!” Ia mencubit lengannya namun masih juga bayangan itu ada di sana.
“Kamu ngapain malah bengong di situ?”
“Ha?” mulut Dian menganga dengan apa yang baru didengarnya. Dan menyusul tubuhnya pun memaku saat bayangan nyata itu tak hanya tak hanya baru saja bersuara, taki kini berjalan menghampirirnya.
“Aku sudah menunda keberangkatanku, apa sekarang kamu masih mau berubah pikiran lagi?”
Lidah yang biasanya lemas dan lincah kini mendadak kaku. Hanya kepala yang menggeleng dengan mata mengerjap menjadi jawaban Dian atas pertanyaan Ken yang sepertinya menang nyata bukan halusianasinya saja.
“Aku yakin kamu pasti belum packing. Ayo aku bantuin.” Ken menarik tangan Dian namun Dian justru menahannya.
“Kenapa lagi?” heran Ken.
“Apa kamu benar Kenzo?”
Ken melepas genggamannya dan memegangi kedua bahu Dian.
“Kita cukup lama saling mengenal. Kebangetan bangat kalau kamu masih juga nggak ngenalin aku, hmm?”
Dian masih plonga-plongo sambil menatap Ken yang semula ia pikir sudah pergi kini ternyata terpampang nyata di hadapannya. “Kamu nggak jadi ke Beijing?”
Ctak!
Dahi Dian mengkerut sesaat, namun sedetik kemudian ia kembali memasang wajah bloonnya. Sepertinya sentilan Ken belum dapat menyadarkan Dian.
“Kamu pikir untuk apa aku di sini? Katanya kamu mau ikut? Nggak jadi?” kesal Ken yang langsung menanyai Dian beruntun.
Dian mengangguk cepat. “Jadi."
“So, tunggu apa lagi?”
“Tunggu apa?” ulang Dian.
Ken menghela nafas. “Ya ampun Dian, otak kamu ini tadi ketinggalan dimana sih? Masa iya jatuh sama kantong makanan itu?”
Dian celingak-celinguk menatap kantong yang Ken maksud. Ia kemudian memegangi kepalanya, meraba-raba jika ada yang aneh di sana.
“Sshhh…. Aduh Di. Nggak gitu juga kali. Cepet kamu buka pintu.”
“Kepala aku nggak apa-apa Ken,” ujar Dian yang masih belum move on dari topik otak yang ketinggalan.
__ADS_1
Ken mendorong tubuh Dian. “Sekarang buka pintu. Masalah otak ntar aja dipikirin, yang penting sekarang kita packing.”
“Ini ke Beijing?”
“Iyaaaa……”
Dian merogoh tasnya dan mengambil kunci. Setelah kunci di tangan, bukannya segera membuka pintu Dian justru memutar tubuhnya yang langsung berhadapan dengan Ken yang berdiri persis di belakangnya.
“Kita ngapain di Beijing?”
Ken tak langsung menjawab. Ia tahu Dian belum menyelesaikan ucapannya.
“Kita kan belum minta restu mama papa, aku juga belum siap…” Dian menggigit bibir.
“Jangan over thingking Di. Ya walaupun menikah di sana buka ide yang buruk, tapi the most important thing that I want to show you my hole big family there, and also I want they know that I’ve decide my own destiny."
Ken menatap dalam mata Dian. "That is you,” ucapnya sambil menyentuh ujung hidung Dian.
“Kamu lagi ngelamar aku?”
“Sshhh hhh, nggak tahu lah. aku sudah menggunakan berbagai cara dan bahasa untuk mengungkapkan rasa cintaku yang sebanyak itu juga selalu kamu tolak. Terserah kamu mau menganggap apa ucapanku barusan, karena intinya sama, aku pengen kamu yang ngelahirin Kenzo junior.”
Kedua sudut bibir Dian tertarik. Ia mengalungkan lengannya di leher Ken. Aku menyerah padamu Kenzo.
Ken pun menarik pinggang Dian tepat saat wanita ini berjinjit dan wajah keduanya mendekat. Seluruh perasaan mereka curahkan, semua ragu telah mereka singkirkan dan mereka sepakat untuk bersama tanpa rangkaian kata yang indah dan tanpa background yang mewah.
Tadi saat Ken hendak pulang dari tempat Hana, ia sempat mengutarakan niatnya untuk membawa wanita ini pergi ke Beijing bersamanya. Hati kecilnya berkata tak masalah jika ia harus membesarkan anak Andre, dan hidup bersama Hana. Ia yakin ini lebih baik dari pada harus menyerah dengan pilihan neneknya. Memang tak ada cinta diantara keduanya, tapi kepositifan yang ia yakini pasti akan membawa kehidupan yang lebih baik nanti.
Ken sangat menghargai keteguhan Hana. Meskipun Ken tak cukup mengenal Hana dengan baik, tapi ada keyakinan Hana sebenarnya gadis baik apes saja karena harus rusak di tangan Andre. Padahal bisa saja Hana memanfaatkan keadaan dengan menerima tawaran Ken. Ia tak harus kerja susah payah seperti ini, dan hidup enak bersamanya.
Setelah Ken berpamitan, ia ingin menggunakan peruntungannya. Ia mencoba mengirin pesan untuk Dian, karena bagaimana pun juga wanita ini menjadi incaran hatinya yang utama. Siapa tahu masih ada keajaiban untuknya. Saat baru saja ia mengirim pesan, ternyata Dian langsung membalas.
Ken sempat tak percaya dengan apa yang baru saja Dian katakan. Saat ia ingin menghubungi kembali untuk memastikan, ternyata ponsel Dian sudah tak aktif. Tak ingin membuang waktu, Ken segera membawa mobilnya menuju rumah Dian. Jika harus menjemput Dian, ia yakin akan ketinggalan pesawat. Oke lah, sesekali menggunakan fasilitas orang tua tak masalah ya. Ia tak terlalu suka menggunakan
jet pribadi, tapi untuk situasi seperti ini tak masalah sepertinya dari pada ia harus ketinggalan acara neneknya esok hari.
***
“Lili, di kios bunda kamu ada bunga yang warna pink nggak?”
“Ada Nona.”
“Aku mau ke sana,” ujar Rina tiba-tiba.
“Ha? Sebenarnya saya bisa minta antar ke sini saja kalau Nona mau?”
“Emm, bisa sih. Tapi aku ingin dibawain semua jenisnya biar aku bisa pilih.”
__ADS_1
“Baik Nona.”
Lili segera menghubungi bundanya untuk meminta Hana mengantarkan apa yang Rina minta. ia sungkan kalau Rina harus ke tempatnya. Ia takut rukonya tak layak untuk Rina datangi.
“Halo Bun, assalamu alaikum.”
“*Waalaikum salam* Lili, ada apa?”
“Hana sudah pulang belum ya?” Lili sedikit kesal sebenarnya karena bunga yang Rina pesan belum sampai juga.
“Sudah, tadi diantar temannya.”
“Kok diantar Bun, yang pesanan kantor tadi juga nggak Hana antar?” tanya Lili yang tak lagi dapat menahan kekesalannya.
“Ya itu tadi. Katanya tadi dia pingsan di pinggir jalan?”
“Pingsan, bukannya Hana sehat-sehat aja tadi pagi?” Kekesalan Lili berubah cemas seketika.
“Iyaaa…, Bunda juga nggak tahu. Terus kamu tadi nanyain Hana kenapa?”
“Nggak jadi deh. Lili mau minta tolong sama Hana buat bawain bunga yang warnanya pink.”
“Bunga apa?”
“Ya bunga apa aja Bun, pokoknya yang warnanya pink. Nona yang minta.”
“Bunda aja gimana yang antar, biar Hana yang jaga kios.”
“Ya jangan lah Bun, nanti Hana bingung lagi…”
“Lili…”
Mendengar panggilan Rina, Lili segera menjauhkan ponselnya. “Iya Nona.” Kemudian ia kembali mendekatkan ponselnya. “Bentar Bun ya.”
“Hana saudara kamu?” tanya Rina.
“Iya Nona.”
“Kalau nggak bisa kita ke tempat kamu saja. Siapa tahu aku bisa tertarik sama bunga lain.”
“Tapi kios saya kecil Nona,” jawab Lili sungkan.
“Saya nggak nanya.”
Lili hanya meringis menanggapi. “Ya sudah kalau memang Nona berkenan.”
“Pinter.” Rina kembali menyuapkan keripik kentang ke dalam mulutnya. Sebenarnya ia tak boleh makan keripik semacam ini, tapi ia yang tak bisa membendung keinginannya akhirnya beli dan ngumpet-ngumpet makan seperti ini.
__ADS_1
Lili dengan cepat beres-beres sebelum pergi membawa Rina ke kiosnya.
Bersambung…