Zona Berondong

Zona Berondong
Rem Blong


__ADS_3

^^^Kalau udah mantan malah jadi sayang.^^^


^^^Ada yang gitu nggak?^^^


^^^Selamat membaca.^^^


^^^Jangan lupa tinggalkan jejak biar author encer nulisnya.^^^


"Nyesel kan lu."


Ya ampun, suara itu kenapa terus menggaung di telingaku. Rina yang kini sedang berdua di mobil Dika merasa begitu terganggu dengan kata-kata Nita yang diucapkan tadi sebelum mereka berpisah. Ucapan Nita itu bak rekaman terus diputar berulang-ulang di telinga Rina.


"Aaarrrgggghhhh! Enggak, enggak, enggak, engggaaaakkkkkkkk!" Rina berteriak sambil menutup telinganya.


Dika yang terkejut karena teriakan Rina segera menepikan mobilnya. Dia melepas seat belt dan meraih bahu Rina. "Kamu nggak apa-apa?"


"Dika." Rina spontan menarik Dika ke dalam pelukannya. Dika yang tak siap pun hilang keseimbangan hingga posisinya sekarang menghimpit tubuh Rina. Entah sengaja atau karena kekurangan ruang gerak, wajah Rina pun tenggelam di dadanya.


"Rin," panggil Dika sambil pelan-pelan bergeser mencari posisi yang nyaman agar tak terlalu menghimpit Rina.


"Kamu pasti sebel ya sama aku, benci ya sama aku." Rina berbicara tanpa merubah posisi.


"Rin, lepasin dulu deh."


Rina menggeleng.


"Aku cowok normal loh," Dika menjeda ucapannya. "Aku takut nggak bisa ngendaliin diri kalau kelamaan kayak gini."


Otak Rina berjalan lebih cepat kali ini. Dia segera mengendurkan pelukannya pada tubuh Dika. "Maaf ya."


Dika mendaratkan tubuhnya pada kursi kemudi. Dia nampak merapikan seragamnya. "Nggak ada yang marah. Kalau boleh jujur seneng malah."


Rina mendaratkan sebuah cubitan dengan kuat. "Iiihhhhh, dasar banddeellllll!!"


"Aw aw awwhhh!" Dika terus mengaduh karena Rina mencubit lengannya kuat sekali.


"Gimana rasanya!?" ucap Rina sesaat setelah melepas cubitannya.


"Galak banget sih Neng!" ucap Dika dengan meringis bercampur senyum yang mengembang sambil mengusap-usap bekas cubitan Rina. "Tapi...." Sesaat kemudian senyumnya pudar.


"Tapi apa?" tanya Rina yang tanpa sengaja melihat perubahan raut wajah Dika.


Dika kembali mengembangkan senyum di bibirnya. "Enggak kok."


Rina tiba-tiba menunduk, memandang jarinya yang tertaut di ujung rok seragamnya.


Dika yang berada di kursi kemudi segera menyandarkan punggungnya. "Rin, jujur aku masih berharap sama hubungan kita..."


"Dika..." lirih Rina dengan nada bersalah.


"Tapi aku bukan tipe cowok yang bakal ngerebut cewek orang kok, tenang."


Rina mendongak menatap Dika. Tapi aku cewek macam itu Dik. Aku jadian sama cowok lain padahal masih punya pacar.

__ADS_1


"Tenang aja, nggak ada unsur menyindir kok." Dika segera angkat bicara begitu menyadari ada aura penyesalan dari tatapan Rina. "Kita sekarang jalan ya."


Rina mengangguk dan saat itu juga Dika mulai menyalakan mesin mobilnya. Saat Dika mulai fokus dengan kemudinya, Rina perlahan menoleh untuk menatap wajah serius mantan kekasihnya. Maafin aku Dika. Aku nyesel, tapi kayaknya semua udah terlambat. Sejurus kemudian, Rina ikut fokus menatap jalanan. Hingga akhirnya tibalah mereka disebuah sekolah terpadu yang terkenal di kotanya.


"Ini sekolah Rista?"


"Iya," jawab Dika sambil mengutak-atik ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Nelpon Rista?" tanya Rina.


Dika hanya mengangguk. "Hallo, Kakak udah di luar." Dika spontan berucap tanpa mengalihkan pandangannya dari Rina. "Kemana? Depan mana?" Dika melayangkan pandangannya untuk mencari sebuah objek.


Rina menepuk pundak Dika pelan, "itu Rista bukan?" Rina menunjuk seseorang di seberang jalan.


Dika segera mengikuti arah pandang Rina. "Oke, Kakak ke sana." Dika menaruh hpnya di atas dasbor, "aku fokusnya ke gerbang, nggak tahunya dia asik jajan," ucapnya sambil terkekeh.


"Hai," sapa Rina saat menurunkan kaca mobilnya.


"Pantesan lama, ternyata sama Kak Rina to."


"Bocah diem deh."


Rista hanya merengut dan kembali memakan cilok di tangannya.


"Kamu kok jajan sembarangan sih Dik!"


"Abis laper Kakak...."


"Ya tapi nggak kudu cilok juga Dik, mana saosnya banyak banget sampek merah gitu!"


"Ya udah, kamu ikut Mama lagi aja. Biar hidup kamu lebih terjamin!"


Rina terkejut bukan main. Jika selama ini ia mengenal Dika sebagai sosok yang senang bercanda dan jarang marah, namun kebersamaannya akhir-akhir ini menunjukkan sisi Dika yang lain yaitu banyak aturan dan tidak mau dibantah. Rina bingung menghadapi situasi ini. Tanpa sengaja ekor matanya menangkap bahwa Rista kini sedang tertunduk menahan tangis.


Rina sadar dari lamunannya ketika Dika menyalakan mesin mobil. "Dika..." Dika menoleh kala mendengar namanya dipanggil. Rina berharap bisa sedikit meredakan emosi Dika. "Jangan marah ya?" lanjut Rina dengan menunjuk Rista menggunakan ekor matanya. Berharap Dika akan melihat kondisi adiknya di jok belakang.


Dika menghela nafas dan mengurungkan niatnya untuk melanjutkan perjalanan. "Ris, maafin Kakak ya..."


"Rista yang salah Kak, maksud Kakak biar Rista nggak sakit kan?"


Dika mengangguk dengan senyum di wajahnya. Senyum yang begitu menyejukkan. Dika, kayaknya aku emang udah salah nilai kamu. Kamu bukan bukan bocah. Batin Rina.


"Aawww....!" Rina meringis kala Dika tiba-tiba mencubit hidungnya.


"Iya tahu aku ganteng, tapi nggak kudu gitu juga kali ngeliatnya."


"Sakit dodol!"


"Dih, sewot lagi. Lap tuh Iler!"


Refleks Rina mengusap-usap area bibirnya. Masa sih ada iler?


"Kak Restu jahat ih."

__ADS_1


What?! Dika ngerjain aku. "Dikaaaaa!!!" Rina kemudian menghujani Dika dengan cubitan di area perutnya. Rina hafal betul jika Dika sensitif di bagian ini.


Dika menggelincang tak karuan. Sulit bergerak iya, namun dia benar-benar tak tahan. "Hahaha, udah, sakit, hahahah, udah sayang udah...." tanpa sadar Dika memanggil Rina dengan sebutan sayang.


Rina mematung dipanggil seperti itu. Ya ampun aku kok baper sih. Dasar berondong tengil! Umpatnya dalam hati. Rina masih diam saja bahkan ketika kini wajah mereka begitu dekat. Hembusan nafas keduanya bahkan begitu terasa.


"Rin..."


"Hmmm..."


"Maafin aku..."


Mata Rina membulat. Benda kenyal dan basah itu tiba-tiba menyentuh bibirnya. Bukannya menghindar. Rina bahkan kini menutup matanya, membiarkan Dika untuk melakukan apa yang diinginkannya.


Dika melepas tautan yang dibuatnya secara tiba-tiba, pandangannya menyapu wajah ayu wanita di hadapannya. Hingga akhirnya tatapan itu berhenti di bibir ranum yang baru di sesapnya.


Dika menatapnya dengan ragu, bercampur hasrat yang begitu menggebu. Mati-matian ia menahan, namun justru Rina mengulurkan tangan untuk membelai wajah Dika.


Seolah mendapat dorongan, Dika kembali mel***t bibir Rina.


1 detik


2 detik


3 detik


....


n... detik


"Kak, udah belum?”


Seketika dua tubuh yang semula merapat itu saling bertolak dan menjauh.


"Ehm, ekkhhmmm." Dika berdehem untuk meredam kecanggungan.


Rina yang sudah bersembunyi di balik kursi segera mendelik menatap Dika dengan tajam sambil memperlihatkan 2 kancing b**unya yang lepas.


Dika nyengir menanggapinya. Apa boleh buat. Namanya juga rem blong mau gimana lagi. Tengkuk yang tak gatal pun akhirnya harus menjadi sasaran.


"Lain kali lihat sikon dong Kak, kasian banget mata suci aku harus ternoda."


Rina hanya menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang merah padam.


Cepat-cepat Dika kembali menjalankan mobilnya yang entah kemana tujuannya.


TBC.


Alhamdulillah, selesai juga part ini dear.


Makasih ya yang udah bersedia mampir.


Semoga suka sama ceritanya.

__ADS_1


Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan jejak pada setiap kunjungan kalian.


Happy reading, love you all.


__ADS_2