
^^^Kepo ya sama lagu kemaren? Hehehe^^^
^^^Itu lagu terbarunya Clarice Cutie, dia cast Rista versi Indonesia.^^^
^^^Judulnya 'Tertawa Menangis'. ^^^
...*HAPPY READING*...
Rista berdiri di samping Dedi dengan memegang ponsel yang layarnya dihadapkan pada kekasihnya ini. Dika menerima satu lagi mik yang sepertinya sudah disiapkan oleh EO yang ia bayar.
"Kali ini ijinkan saya membawakan satu lagu lagi untuk anda semua, khususnya untuk Rina, tunangan saya."
Rina yang namanya baru disebut mendadak gugup. Ia tahu Dika suaranya memang cukup enak di dengar, tapi kalau di depan banyak orang seperti ini bagaimana jadinya?
Dedi mulai kembali memetik senar gitarnya. Sepertinya lagu yang akan ditampilkan kali ini lebih ngebeat dari yang Rista punya sebelumnya. Terbukti dari ritme petikan gitar Dedi.
^^^Aku tak tau apa yang lain^^^
^^^Darimu hari ini^^^
^^^Apa itu karena sepatu flatmu?^^^
^^^Atau kukumu^^^
^^^Yang baru kau warnai?^^^
Wajah-wajah di sana nampak takjub setelah mendengar suara Dika. Sepertinya pria yang baru saja melamar Rina ini begitu sempurna dan nyaris tanpa cela.
^^^Pernahkah kau bertanya^^^
^^^Seperti apa bentuk air tanpa wadah?^^^
^^^Pernahkah kau mengira^^^
^^^Seperti apa bentuk cinta?^^^
^^^Rambut warna warni bagai gulali^^^
^^^Imut lucu walau tak terlalu tinggi^^^
Kali ini Rista juga tak sungkan menunjukkan suara emasnya bernyanyi bersama sang kakak.
^^^Pipi chubby dan kulit putih^^^
^^^Senyum manis gigi kelinci^^^
Dika senang sekali melihat kekasihnya tersenyum malu seperti ini.
^^^Kini 'ku tau apa yang lain^^^
^^^Darimu hari ini^^^
^^^Itu bukan karena sepatu flatmu^^^
^^^Atau kukumu yang baru kau warnai^^^
Dika berjalan turun dari panggung dan semua lampu langsung mati berganti dengan sebuah lampu sorot tertuju pada gadis cantik yang menjadi pusat mata Dika dan semua orang yang ada di sana saat ini.
Acara lamaran yang katanya sederhana ini nampaknya tak sesederhana nyatanya. Mungkin sederhana versi Dika berbeda dengan orang pada umumnya.
^^^Pernahkah kau bertanya^^^
^^^Seperti apa bentuk air tanpa wadah?^^^
^^^Pernahkah kau mengira^^^
^^^Seperti apa bentuk cinta?^^^
Rista mengangkat miknya.
^^^Rambut warna warni bagai gulali^^^
^^^Imut lucu walau tak terlalu tinggi^^^
^^^Pipi chubby dan kulit putih^^^
^^^Senyum manis gigi kelinci^^^
^^^Membuatku tersadar^^^
^^^Bentuk cinta itu^^^
__ADS_1
^^^Ya kamu^^^
Dika mengenggam tangan Rina dengan tangan kanannya sementara mik di tangan kirinya. Rina tertawa bahagia ditambah lagi yang dinyanyikan Dika memang berhasil menambah ceria suasana.
^^^Pernahkah kau bertanya^^^
^^^Seperti apa bentuk air tanpa wadah?^^^
^^^Pernahkah kau mengira^^^
^^^Seperti apa bentuk cinta?^^^
Dedi bangkit dari kursinya dan berdiri di samping Rista.
^^^Rambut warna warni bagai gulali^^^
^^^Imut lucu walau tak terlalu tinggi^^^
^^^Pipi chubby dan kulit putih^^^
^^^Senyum manis gigi kelinci^^^
^^^Rambut warna warni bagai gulali^^^
^^^Imut lucu walau tak terlalu tinggi^^^
^^^Pipi chubby dan kulit putih^^^
^^^Senyum manis gigi kelinci^^^
^^^Membuatku tersadar^^^
^^^Bentuk cinta itu^^^
^^^Ya kamu^^^
^^^Cuma dirimu^^^
^^^Untukku bentuk cinta itu kamu^^^
^^^Ya kamu^^^
Lagu pun berakhir. Semua bertepuk tangan dan ikut merasakan bahagia yang Dika dan Rina rasa.
Tak ada orang yang tahu jika di sana ada satu lagi pasangan muda karena semua fokus pada pasangan yang baru saja bertunangan itu saja.
"Kak..."
Rista merasa aneh karena tiba-tiba Dedi memeluknya seerat ini.
"Aku cuma pengen peluk." Dedi mengerahkan pelukannya saat merasa Rista ingin menjauh darinya.
Akhirnya Rista pun membalas pelukan Dedi.
"Mau jalan-jalan?"
Meski bingung, Rista segera mengangguk. Cepat-cepat Dedi membawa Rista pergi dari sana sebelum lampu kembali menyala dan orang yang jumlahnya tak begitu banyak itu menyadari kedekatan mereka yang tak biasa.
"Kita mau ke mana?" tanya Rista begitu Dedi menjalankan mobilnya.
"Pengen muter-muter aja."
Setengah jam Dedi membawa Rista tanpa tujuan, bahkan harus melewati jalan yang sama tanpa sengaja. Akhirnya ia menghentikan mobilnya di salah satu warung tenda dengan menu utama bubur ayam.
"Bubur ayam biasanya jualan pagi nggak sih Kak?"
"Itu kan biasanya."
Dedi melepas jas yang ia kenakan dan memakaikannya pada Rista.
"Aku nggak dingin Kak."
"Tapi aku kepanasan sayang..."
Rista mengulum senyum karena dipanggil sayang oleh Dedi. Ini memang bukan yang pertama tapi jantungnya selalu bermasalah jika Dedi membawanya dalam situasi seperti ini.
Dia menatap punggung lebar Dedi yang sedang memesan. Tak lama kemudian pemuda itu kembali.
"Kak, kapan Kakak mau ngelamar Rista?"
Dedi membenahi jepit rambut Rista yang bergeser dari tempatnya.
__ADS_1
"Jika waktunya tiba dan bekalku sudah siap?"
"Bekal buat apa Kak? Ngelamarnya kan dirumah, nggak perlu bekal kali."
Dedi menghela nafas. Ia harus bersabar, karena pacarnya ini gadis yang usianya baru 13 tahun. Siapa suruh ia tak sabar menunggu Rista lebih berumur.
Mungkin rasa cinta yang tak pandang usia yang harus di salahkan dalam kasus ini. Untung saja Dedi tak dikata pedofil saat memilih untuk memacari gadis kecil.
"Aku nggak janji, tapi kalau Allah memang menetapkan kita untuk berjodoh, aku akan datang empat atau lima tahun lagi dan langsung nikahin kamu."
Rista mendongak menatap kekasihnya ini.
"Apa kamu mau?" tanya Dedi pada Rista yang diam saja.
"Aku maunya sekarang..."
Rista merengek manja dan menyadarkan kepalanya di pundak Dedi. Namun tak lama karena ia kembali menegakkan tubuhnya.
"Kakak sekarang lebih sibuk dari kakak aku, udah nggak pernah ngajak jalan aku, kalau nikah kan kita bisa kayak mama papa, tinggalnya berdua, jadi kalau siangnya kerja malamnya kan masih bisa ketemu."
Dedi menangkup wajah gadis kecilnya.
"Apa kamu siap kalau tiba-tiba perut kamu membesar? Terus ada bayi di sana terus kalau udah keluar harus kamu rawat dan susui."
Wajah Rista mendadak pasi. Dedi tersenyum geli saat melihat wajah Rista meringis ngeri.
"Sabar ya. Saat ini aku sedang berusaha memantaskan diri agar suatu saat aku bisa membahagiakanmu dengan hasil jerih payahku."
Keduanya saling menatap, hingga tak sadar kalau bubur pasanannya pun sudah tiba.
"Sampai kapan?"
"Apanya?" tanya Dedi sambil meraih tangan Rista dan menggenggamnya.
"Kakak sibuknya."
Dedi meraih pundak Rista dan membawa merapat ke tubuhnya.
"Sampai aku datang dan nikahin kamu?"
"Lama banget?"
Dedi menghela nafas.
"Karena untuk mendapat sesuatu yang indah maka diperlukan usaha yang tak mudah."
Rista mengernyit bingung.
"Bagiku kamu sangat indah, jadi jika Allah memang menetapkan kita sebagai jodoh, maka aku ingin menjaga kamu tetap indah setelah menjadi milikku."
"Rista nggak ngerti."
Dedi mencubit gemas hidung Rista.
"Intinya aku pengen kamu jadi teman hidupku selamanya, dan aku juga sudah minta izin sama papa mama kamu."
"Tapi di sini nggak ada yang bisa janji karena takut kalau Allah ternyata punya rencana lain di hidup kita."
"Rista nggak mau kalau bukan kamu," potongnya cepat.
"Jangan mendahului rencana Allah. Kamu tunggu aku ya sementara aku berjuang untuk masa depan kita."
"Kakak kayak mau pergi jauh aja ngomongnya."
Kembali Dedi mengacak rambut Rista. Rista hanya pasrah diperlakukan seperti ini.
"Kita memang nggak boleh sering-sering ketemu sayang."
"Siapa yang ngelarang?"
"Keadaan."
Dedi menghela nafas.
"Aku terlalu menyukaimu bahkan sejak kamu masih menganggapku kakakmu. Aku sangat menginginkanmu, jadi aku takut gelap mata dan menjadikan milikku sebelum waktunya."
Dedi meletakkan telunjuknya di depan bibir Rista saat gadis ini nampak hendak melayangkan tanya.
"Tugas kamu cukup mengingat dengan baik apa yang baru saja aku katakan. Suatu saat kamu pasti akan paham maksudnya."
"Mohon sama Allah semoga takdir cintaku adalah kamu."
__ADS_1
Keduanya saling berpelukan hingga lupa posisi dimana sekarang mereka berada. Untung saja Dedi lebih bisa menjaga kewarasan saat bersama kekasihnya tak seperti Dika dan Rina.
TBC