Zona Berondong

Zona Berondong
Lamaran


__ADS_3

...*HAPPY READING*...


Lepas dzuhur mulai nampak orang mendatangi kediaman Reno Agustian. Mereka ditugaskan untuk mendekor taman belakang sebagai tempat untuk melaksanakan lamaran.


Awalnya Reno mau acara dilaksanakan di dalam saja, namun ternyata setelah dihitung yang datang banyak juga.


Karena tak ada EO yang berhasil Reno minta untuk menghandle acara, akhirnya ia menghubungi Dika. Dan dalam waktu kurang dari satu jam, datanglah mereka dengan segala perlengkapannya untuk acara nanti malam.


"Pa, EO mana yang nyanggupin permintaan dadakan Papa?" tanya Ririn saat melihat orang-orang datang dengan membawa mobil bak terbuka.


"Dika Ma. Tadi Papa nyerah dan hubungi dia."


Ririn mencebikkan bibirnya. "Gitu aja udah minta bantuan sama dia. Pak Reno udah nggak sanggup ya beresin masalah kayak gini saja?"


Reno meraih bahu Ririn dan merapatkan ke tubuhnya. "Anak itu terlalu susah di tahan kalau udah punya mau."


Ririn mendongak menatap suaminya.


"Sekarang perasaan Papa gimana?"


Reno menghela nafas.


"Lihat sendiri kan, hal yang sulit bagiku berakhir mudah ditangannya. Mati-matian aku larang mereka menikah segera, ternyata takdir bahkan memaksaku untuk mengakui kehebatan pemimpin Surya."


Ririn mengangguk setuju.


"Semoga Allah meridhoi langkah kita."


"Aamiin."


Acara sederhana ini ternyata tak sesederhana yang dikira. Dengan menyesal Reno harus meminta batuan Dika untuk membereskan semua, karena saat dia yang turun tangan pasti akan mendapat penolakan karena semua yang serba dadakan. Dekorasi dan makanan dibereskan Dika dalam sekali sentuh, dan kini Rina pun sedang fitting baju bersama desainer yang juga datang atas permintaan Dika ke rumah.


Selain itu, penata rias pun sudah didatangkan. Nenek Nani tak mampu banyak protes melihat bagaimana kuasanya pria yang akan menikahi cucunya. Ia masih penasaran bagaimana sosok pria ini.


"Kata Rina mereka umurnya sebaya, tapi kok serba bisa kayak gini sih."


"Ia yang bosnya atau jangan-jangan hanya penikmat kerja orang tua?" terka perempuan tua namun masih terlihat begitu bugar ini.


"Papanya sudah meninggal Bu, dan Ayah tirinya juga sudah sibuk dengan urusannya. Jadi dia benar-benar menanggung hidupnya sendiri."


"Masa iya anak usia belasan bisa kerja bener."


Ririn kehabisan kata. Mendebat mertua memang bukan pilihan bijak bagi menantu seperti dirinya.


"Mas Reno Bu yang tahu banyak masalah sepak terjang Dika dalam mengelola perusahaan."

__ADS_1


"Tapi Ibu masih ragu."


"Bismillah aja Bu ya..."


"Assalamualaikum..."


Ririn mengurut dada saat suara salam itu berhasil sejenak menghentikan omelan mertuanya.


"Waalaikum salam..." serempak Ririn dan mertuanya.


Di sana nampak orang tua Ririn datang bersama dua orang adiknya.


"Ya Allah Mbak Ririn, ngasih tahunya kok dadakan sih. Jantung kita rasanya mau copot tahu nggak..." kata Vanti adiknya.


Ririn membalas pelukan dua orang adiknya dan kedua orang tuanya.


"Iya, coba ngasih tahunya kemarin, kan mas Riski bisa di pending ke luar kotanya."


"Maaf Pak, Bu, Vanti dan Rahma. Saya pengennya juga ngasih tahu kemarin-kemarin tapi kata mas Reno mending agak mepet aja biar kagetnya nggak kelamaan."


"Iya, dan sukses bikin kita jantungan," timpal Rahma.


"Sama. Saya tadi kesini pagi-pagi mau ngasih kejutan, nggak tahunya saya yang dikejutkan," sahut nenek Nani sambil menyalami besannya.


"Rina lagi fitting Bu di kamar."


"Duduk dulu ya semua. Mau dibikinin minum apa?" tanya Ririn pada semua anggota keluarganya.


Semua di ruang tengah bersama Ririn. Bukan obralan biasa yang kini tengah mereka perbincangkan, namun berbagai ungkapan keterkejutan yang mereka rasakan pagi ini.


Ririn sudah bersiap untuk ini, yaitu mendapat protes dari semua anggota keluarga karena menganggap keputusan ini terlalu terburu-buru untuk Rina.


...***...


Dan kini malam pun tiba. Selepas magrib, Rina sudah mulai dirias oleh penata rias yang sudah datang sejak siang.


"Mbak, jangan menor-menor ya..."


"Nggak menor kok sayang, cuma menghighlight wajah kamu aja," jawab penata rias berhijab itu sambil memoles wajah Rina.


"Aku nggak mau kelihatan tua Mbak..."


Penata rias itu sejenak menghentikan tangannya. Ia nampak berfikir.


"Baju kamu warna apa?"

__ADS_1


"Silver."


"Oke, oke..."


Dan wajah Rina kambali di rias.


...***...


Jam setengah delapan Dika sudah datang bersama kedua orang tuanya. Bersama mereka juga ada orang-orang terdekat, namun bukan kakek nenek dan Om tante ya seperti Rina.


Sejujurnya ketidak harmonisan keluarga Dika belum tuntas sepenuhnya, terutama yang di rasa oleh keluarga almarhum papanya. Mereka enggan berkomunikasi dengan Dika dan Rista terlebih saat mereka memutuskan untuk menerima Rudi sebagai papa sambung mereka.


Rista yang juga ikut tak mau melepaskan Dedi dari genggamannya. Ia bahkan sempat mengungkap ide gila untuk juga ditunangkan seperti Rina dan Dika. Namun jelas saja ditolak oleh sang mama.


Dedi juga sama, ia jelas tak mau karena kini ia juga tengah berusaha fokus akan hidupnya dan perlahan menggeser Rista dari hatinya.


Bukan, bukan Dedi ingin meninggalkan Rista, hanya saja ia tak mau seperti Dika dan Rina. Dari apa yang kini tengah ia dalami, ia merasa bahwa pacaran itu benar-benar tak ada manfaatnya. Selain itu ia kini juga merasa belum pantas jika harus mengklaim Rista sebagai miliknya.


Sekitar 15 menit setelah kedatangan Dika beserta rombongan, muncullah Rina dari kamarnya. Ia begitu cantik dengan make up natural dan dress selututnya.


"Ya Allah, Rina masih terlalu imut meski sudah tertutup make up," bisik Vanti pada Rahma kakaknya.


"Iya. Dan calon suaminya juga muda banget. Dia nggak ngehamilin Rina kan?"


"Mereka nikahnya masih 1,5 tahun lagi Van, keburu brojol kalau udah hamil mah," jawab Rahma.


"Iya juga..."


Ririn memang menjelaskan kalau mereka tunangan hanya untuk pengikat saja, karena pernikahan masih lama. Untuk alasannya, jelas Ririn dan Reno rahasiakan. Mereka tak siap dengan protes para keluarga saat tahu calon menantunya masih kelas 2 SMK.


Pukul delapan acara pun di mulai. Dedi yang menjadi MC dadakan membuka acara dengan begitu apik. Pembawaannya yang dewasa dan sopan membuatnya turut mendapat perhatian.


Selama hidupnya Dedi memang lebih banyak menghormati dari pada dihormati. Jadi dia terlihat dingin saat diam dan menjadi ramah namun sopan saat sudah berbicara. Berbeda dengan Dika. Sejak kecil dia sudah biasa menjadi majikan, dan kini dia menjadi bos. Jadi tah heran ada sedikit arogan di sela kepercayaan diri yang sudah melekat pada dirinya.


Setelah dipersilahkan, Rudi menjadi yang pertama berbicara pada acara malam ini. Ia memperkenalkan diri sebagai ayah Dika yang kemari untuk melamar putri dari keluarga Reno Agustian.


Setelahnya, giliran Reno yang berbicara. Ia menerima kedatangan keluarga Rudi Andika dan mempersiapkan meraka melanjutkan niatnya.


"Namun ada hal yang ingin saya tanyakan, dengan disaksikan oleh semua yang ada di sini..."


"Menikah itu bukan perkara mudah. Setelah ijab kabul dan sah, hidup Nak Dika akan berubah. Semua hal akan menyangkut dua kepala bahkan dua keluarga."


"Nak Dika masih muda dan punya segalanya, lantas kenapa begitu ingin menikah segera dan tak memilih untuk menikmati kesenangan sebagai single terlebih dahulu dengan segala hal yang kamu miliki?"


TBC

__ADS_1


__ADS_2