
^^^Maaf ya updatenya ngaret. ^^^
...*HAPPY READING* ...
"Enggghhhhhh...."
Senyum Rina terbit seketika saat Dika perlahan membuka mata dan melenguh sembari meregangkan tubuhnya.
"Alhamdulillah sayang, kamu udah sadar...." pekik Rina girang.
"Alhamdulillah..." ungkapan syukur juga Santi ucapkan sambil mencium wajah anaknya bertubi-tubi.
"Pada ngapain sih?" tanya Dika dengan mata setengah terpejam.
"Kamu ini bikin kita semua khawatir tahu nggak. Kalau capek itu istirahat, jangan maksain diri kalau emang nggak kuat," omel Santi.
Sepertinya Santi sudah lupa bagaimana tadi ia menangisi putranya ini. Belum juga jejak air matanya kering, sekarang ia sudah ngomel saja.
" Apa sih Ma, aku ngantuk, tidur bentar lagi boleh ya. "
Dika langsung menutup wajahnya dengan selimut, dan sepertinya ia juga belum menyadari kalau di sini juga ada calon mertuanya.
"Apa sih, nggak ada." Santi menarik selimut yang menutupi wajah Dika.
"Mas, kamu gimana sih, anaknya baru sadar kok nggak cepet-cepet diperiksa malah diam saja."
Oke, Dika sudah dapat jatah, sekerang Rudi yang harus kena omel. Meskipun sedikit terpaksa, namun Rudi tetap melaksanakan permintaan istrinya.
"Masih pusing nggak?" tanya Rudi pada Dika.
"Pusing Yah, masih pengen tidur."
"Ya udah kamu tidur."
Santi menepuk jidat.
"Mas, periksa yang bener dong, masa gitu caranya meriksa pasien."
"Sayang, ini udah paling bener loh. Yang paling Restu butuhkan sekarang adalah tidur dan istirahat."
"Mana ada. Mas ini dokter beneran apa bukan sih."
Rudi benar-benar mati kutu. Harga dirinya dihancurkan Santi di depan calon besan dan calon menantunya.
"Maaf Tan, tapi Dika yang kalian tangisi sejak tadi malam itu bukan pingsan, tapi dia sedang tidur."
Dedi mulai menjelaskan analisa yang sudah dibenarkan Rudi sebelumnya. Semua nampak memperhatikan terutama Santi.
__ADS_1
"Ini yang dokter Dedi apa mas Rudi sih? Kok dia bisa ngejelasin kayak gitu sedangkan Mas cuma diam."
"Gimana saya mau ngomong San, baru mangap apa udah teriak-teriak kamunya."
"Lagian Dedi memang calon dokter kok?"
Dika langsung membuka selimut yang semula menutupi wajahnya. Di sana tak ada yang bersuara, namun tatapan menuntut penjelasan kompak dilayangkan.
"Ded, sudah waktunya mereka tahu."
Dedi bersiap untuk banyak kemungkinan, setelah sebuah helaan nafas panjang, ia mulai berbicara.
"Saya sudah lolos seleksi kuliah kedokteran, dan segala berkas sudah diurus."
"Lu tega ninggalin gue?!" tanya Dika tak percaya.
Kantuk yang semula membuat Dika enggan membuka mata itu langsung sirna entah kemana.
"Kamu bisa Dika, kamu hebat."
"Tapi gue gampang lupa, gue nggak bisa mempelajari sesuatu dengan cepat kaya elu."
"Kamu hanya tak percaya diri dengan kemampuan kamu."
"Jadi ini yang bikin elu selalu bawa-bawa Andre dan minta gue buat rekrut dia."
...***...
"Mas sejak kapan tahu semua ini?" tanya Santi pada Rudi.
"Sejak Dedi memutuskan masuk Islam, dia rutin ikut kajian, mulai saat itu lah kami mulai dekat."
"Rista nggak masalah kak Dedi pengen jadi apa, yang penting nggak jauh-jauh dari Rista."
"Ck, kamu tuh masih kecil Nak, sekolah dulu aja yang bener," timpal Santi.
"Ya kan...." Rista urung berbicara. Malu juga kalau dia bilang pengen menikah dengan Dedi nantinya.
"Udah, udah. Sekarang kita makan dulu. Semoga Dedi dan Dika bisa menemukan jalan tengah untuk masalah keduanya."
"Tapi saya juga cukup amazing dengan Dedi Pak, berkas yang saya butuh berjam-jam untuk mempelajari, bisa ia selesaikan dalam kurang dari satu jam, dan itu tak asal-asalan. Jadi Dika tinggal membubuhkan tanda tangan saat sudah selesai Dedi periksa. Jadi nggak heran kalau Dika sangat tergantung pada Dedi, " ucap Reno.
" Tapi sikap Dika yang seperti itu saya rasa kurang baik. Dia tak boleh terlalu bergantung pada orang lain. Hal ini bisa berakibat buruk pada performanya. "
Reno mengangguk sebelum semua kembali sibuk dengan sarapannya.
...***...
__ADS_1
" Gue dukung keputusan elu. Ingatan otobiografi yang elu miliki memang harus elu pelajari dan temukanlah solusi. "
" Thanks banget bos. "
Dedi sudah menjelaskan salah satu motifasinya mengambil kuliah kedokteran adalah karena ia sadar ia punya kemampuan yang tak dimiliki orang lain. Ia bisa mengingat semua secara rinci sejak meninggalnya mending kedua orangtuanya. Ia tahu segala sesuatu yang berlebihan itu tak baik, jadi dia ingin mempelajari apakah kemampuan luar biasanya ini bisa berakibat buruk untuk tubuhnya.
" Jadi kapan lu mau resign? "
" Gue nyari tambahan modal dulu boleh kan, sampai perkuliahan gue dimulai," ucap Dedi dengan kekehannya.
"Peluk boleh kan ya," ucap Dika sambil merentangkan tangannya. Mereka sejenak berpelukan.
"Sekarang tinggal Rista. Nggak mungkin kan elu pergi gitu aja tanpa ngejelasin semua sama dia."
"Iya, gue juga lagi mikir."
Tepat saat mereka selesai bicara, para wanita sudah kembali ke ruangan itu dengan Rina membawa makanan di tangan kanan dan kirinya.
Setelah sarapan Dika minta untuk pulang saja, sementara Dedi ke kantor untuk menghandle beberapa pekerjaan yang sebenarnya harus ditangani Dika. Ia bersama Andre karena Dika sudah menyetujuinya ditambah dengan Rudi yang juga akan membantu mengawasi jalannya perusahaan setelah Dedi benar-benar tak ada di samping Dika lagi.
...***...
Pernikahan tinggal menunggu jam. Setelah pertemuan di rumah sakit, Dika dan Rina benar-benar tak diizinkan untuk bertemu. Dika juga memilih untuk libur bekerja dengan alasan ia barusaja mengalami kecelakaan. Hanya segelintir orang yang tahu bahwa Dika dan Rina sedang bersiap melepas lajang.
Dan malam ini acara pernikahan sudah dalam tahap finishing.
"Maaaaa, bosen...." gerutu Rina sambil mondar-mandir memandang orang yang sibuk mendekor rumah mereka.
Akhirnya pernikahan dilaksanakan di rumah bukan di gedung seperti rencana awal.
"Kamu istirahat aja sayang, biar besok bisa tampil fresh," kata Ririn sambil memantau persiapan pernikahan anak semata wayangnya.
"Tapi Rina beneran bosen Mama."
"Ya udah sini bantuin kalau gitu."
"Nggak ah, nanti kuku Rina rusak," ucap Rina sambil berlari memasuki kamarnya.
"Tahu gitu dari tadi mending aku suruh bantuin aja biar Rina nggak berisik."
Sementara itu Dika di rumah lebih banyak diam. Ia tengah merenungkan kehidupan yang akan ia lalui setelah ini.
Ia akan menikah, memikul tanggung jawab sebagai seorang suami dan kepala rumah tangga. Namun bukan itu yang membuatnya risau, tapi saat ingat bahwa Dedi tak akan ada di sampingnya lagi setelah ini.
Dika sudah terlanjur nyaman bekerja bersama Dedi, tugasnya jadi lebih ringan karena kemampuan Dedi dan sangat nyaman saat bekerja karena Dedi adalah sahabatnya.
Namun ia tak boleh egois. Dedi ingin menjadi dokter bukan karena tak suka bekerja bersama Dika, tapi karena ia juga ingin mempelajari kemampuan langka yang ia miliki. Meskipun ini luar biasa tapi tetap saja ingatan otobiografi merupakan sebuah ketidak normalan.
__ADS_1
TBC