
Jejak, jejak. Yang sudah mampir jangan lupa tinggalkan jejak.
HAPPY READING
“Kamu sekarang lapar apa tidak? Kalau lapar delivery saja,” ujar Andre begitu mereka tiba di apartemen.
Gimana mau delivery, orang HP aja nggak ada. Hana mulai mengembangkan senyum di wajahnya.
“Terserah kamu saja, yang penting kamu ngasih makan saya.”
Andre mengacuhkan Hana dan fokus pada poselnya. Semula ia ingin menawari wanita ini makanan, namun ia urungkan mengingat bahwa ia tak beleh terlalu baik pada wanita ular ini..
Senyumnya berubah kecut saat ucapannya tak mendapat jawaban. Inginnya bercanda, tapi sepertinya Andre sama sekali tak berniat menanggapinya. Hana sadar akan perubahan sikap Andre padanya.
Welcome to the hell. Sepertinya ia akan kembali menjadi Andre yang menyeramkan sekarang.
“Di sini saya tak ingin bersandiwara, jadi jangan berharap banyak pada saya.”
Nah kan, bener.
Andre bergegas menuju kamarnya. Ia meninggalkan Hana yang seperti orang bodoh di ruang tamu apartemennya.
Hana tak tahu apa yang harus ia lakukan. Di sana ada sofa, sepertinya lumayang untuk menopang tubuh lelahnya. Ia memegangi perutnya. Apa ia lapar? Tidak juga, karena menahan lapar hanya salah satu hal yang sering kali harus ia tahan dalam hidupnya. Selain lapar, masih banyak hal yang harus ia tahan, termasuk perderitaan yang tak ada habisnya.
Tak terasa setitik cairan bening meleh dari sudut matanya. Hana, kamu harus kuat. Kamu harus bikin mama bangga.
Di salah satu dinding ada jam yang menggantung di sana. Sudah pukul 11. Dan Andre sepertinya tidak akan membuka pintu untuk Hana masuk ke kamarnya.
”Baiklah pak Andre, saya tak masalah tidur di sini.”
Hana bermonolog sambil menata sofa untuk tidurnya. Hana mulai berbaring, dan hawa dingin mulai terasa menusuk. Hana memeluk tubuhnya sendiri berharap akan memberikan rasa hangat kemudian. Namun dengan tega kenyataan tak mengabulkan harapannya. Ia masih saja menggigil saking dinginnya.
“Ya Tuhan. ACnya nggak bisa dikecilin apa ya.”
Hana bangkit dan mencari apapun yang bisa ia pakai untuk menyelimuti tubuhnya.
“Masa iya harus copot hordeng.”
Hana mondar-mandir mencari remote AC. Jika ia tak berhasil menemukan selimut, mungkin menaikkan suhu ruangan bisa menjadi jalan keluar.
Hampir tengah malam, Hana belum juga mampu berdamai dengan udara. Ia duduk dan memeluk kakinya sambil melihat kesana-kemari. Saat melihat banyaknya paperbag belanjaan tadi, sebuah ide melintas di benaknya.
Tadi Andre membelikannya banyak baju, ia mengeluarkan beberapa baju dan membawanya ke sofa. Ia berbaring dan menata beberapa baju di atas tubuhnya.
__ADS_1
“Setidaknya aku tak mati kedinginan sampai besok pagi.”
Dan Hana mulai memejamkan mata.
***
Adzan subuh berkumandang. Andre perlahan membuka matanya. Ia menyibak selimut dan turun dari ranjang. Ia menjambak rambutnya dan menyangga kepala dengan kedua tangannya. Sejujurnya ia tak bisa tidur nyenyak semalam. Ia khawatir dengan Hana yang mungkin saja kedinginan di luar sana. Tanpa selimut dan dengan pengaturan suhu yang cukup rendah.
Namun ia menahan diri untuk tak keluar dari kamarnya. Ia memilih untuk mengambil air wudhu dan menjalankan
kewajiban yang acap kali ia lupakan. Semoga masih ada ampun untuk hamba sepertinya.
Setelah sholat subuh, ia masih bertahan di dalam kamar. Ingatannya melayang ke malam tadi saat batal makan
malam karena keberadaan Dika di tempat yang sama dengan mereka. Meskipun ia menahan Hana demi Dika dan perusahannya, tapi ia tetap tak percaya diri jika ada yang tahu ia menggunakan cara ini. Atau kemungkinan lebih buruknya adalah ada yang salah tafsir dengan keputusannya.
Pukul 5.30 dini hari, Andre tak bisa menahan diri untuk tak melihat bagaimana kondisi Hana di luar. Ia tersenyum kecil saat melihat Hana yang meringkuk di sofa dengan beberapa lembar pakaian di atas tubuhnya.
“Oke. Sepertinya aku memang tak boleh lemah terhadapmu.”
Andre sempat menyentuh puncak kepala Hana sebelum ia kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri.
***
“Iya.” Singkat Dika yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia berjalan sambil menggosok rambutnya dengan tubuh berbalut handuk yang melilit pinggangnya.
Yang satu ini tak usah dibahas ya. Seberapa lama mereka mandi dan apa saja yang mereka lakukan di kamar mandi, pasti semua sudah hafal di luar kepala.
“Kamu bisa nemenin aku nggak, atau aku pergi sendiri kali ini?” tanya Rina.
“Ikut ke kantor ya, sekalian cek Andre dulu. Semoga dia tidak bertingkah hari ini.”
Rina menghentikan pergerakan tangannya. “Memangnya Andre kerjanya nggak bener? Sepertinya aku tak pernah mendengar dia bermasalah?”
Dika melemparkan handuknya dan berdiri di belakang Rina. “Kemarin ia meninggalkan kantor dengan banyak berkas yang belum beres. Ini bukan seperti Andre yang biasanya. Meskipun kerjanya tak secepat dan seperfect Dedi, tapi dia tidak pernah berantakan seperti ini. Kerjanya selalu well organize, teliti dan rapi. Dia paham apa yang aku inginkan tanpa terlalu aku arahkan. Itu biasanya.”
“Jadi maksudmu?” tanya Rina yang belum paham dengan maksud suaminya.
“Aku khawatir dia ada masalah. Jadi aku ingin melihat kondisinya kini, karena kemarin hingga malam tadi dia tak pernah menjawab saat aku hubungi.”
Dika mengambil alih hair dryer dari tangan Rina. Dengan telaten ia membantu sang istri mengeringkan rambutnya.
“Masalah cinta kali,” celetuk Rina.
__ADS_1
“Hidup itu bukan hanya soal cinta sayang.”
“Aku yakin Andre sebenarnya masih suka sama Dian, dan mungkin dia bingung karena terlanjur dekat dengan perempuan lain, menurut kamu gitu nggak?”
Dika menggidikkan bahu. “Jangan terlalu mencampuri urusan orang, karena yang kamu lihat belum tentu yang
sebenarnya orang itu alami.”
Rina cemberut karena Dika tak sepemikiran dengannya.
“Terserah. Pokoknya sekarang aku ngerasa kasihan sama Dian.”
“Kasihan kenapa?” tanya Dika.
“Dia kayak sakit banget pas tahu Andre udah punya pasangan.”
Dika diam saja dan masih sibuk mengeringkan rambut Rina.
“Iiihhh, kok diem aja sih,” omel Rina.
“Ya emang kudunya gimana sayang.”
“Ya nyahut kek, apa kek.”
Dika meletakkan hair dryer ditangannya dan memutar tubuh istrinya.
“Itu kehidupan orang sayang. Apa yang terbaik menurut kita belum tentu baik untuk mereka. Makanya kita boleh beropini, kita boleh berpendapat, kita boleh menasehati, tapi satu yang harus kamu ingat, jangan sampai memaksakan kehendak kita hanya karena menganggap itu baik untuk mereka.”
Dika menjeda ucapannya.
“Still remember our story, right? Kita menikah dibawah umur, kita menikah dengan melalui proses yang panjang. Bayangkan kalau kita harus di hadapkan pada orang yang memaksakan kehendak, pasti kita akan merasa terganggu dan kesulitan. Padahal jelas sekali pernikahan dini banyak negatifnya, tapi kita tetep kekeh dengan keputusan kita.”
Rina tampak merenung. Beberapa waktu kemudian ia mendongak dan tersenyum pada suaminya.
“Makasih sayang.”
Dika membelai wajah istrinya dengan sayang.
“Terimakasih telah menegurku dengan cara yang indah.”
Dika mengusap lembut rambut pendek istrinya. “Karena kamu bagiku indah, maka aku ingin membuat semuanya indah.”
Bersambung…
__ADS_1