Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Di Balik Pintu


__ADS_3

HAPPY READING


Sejak kepergian Cindy, Hana hanya diam. Ia duduk saat Andre memintanya duduk, dia bicara saat Andre bertanya dan sama sekali tak menunjukkan inisiatif apa-apa.


“Jangan memperkeruh suasana Hana…” ucap Andre yang mulai pudar kesabarannya.


Hana yang sebelumnya diam kini mulai membalas tatapan


Andre kepadanya.


“Kita memang berada di dimensi yang berbeda Andre…” kata Hana tiba-tiba.


“Dimensi apa?”


“Dian, Cindy, dan entah siapa lagi semua adalah wanita baik dari keluarga terpandang. Sedangkan aku, menyebutkan nama orang tua saja aku kesulitan, terlebih saat mengingat aku…”


Haha kesulitan melanjutkan ucapannya. Sangat sulit mengatakan hal buruk tentang diri sendiri meski itu adalah sebuah kenyataan.


“Aku adalah ****** yang bahkan hingga sekarang rela bersamamu tanpa kepastian.”


Hana merintih saat tiba-tiba Andre mencengkeram rahangnya.


“Mau kamu sebenarnya apa, HA?!!!”


Andre tak dapat mengontrol suaranya. Suaranya nyaring terdengar dari luar karena Cindy tak menutup pintunya dengan rapat saat keluar.


Saat Riza dan Elis masih bisa duduk di tempatnya, kini Rahma sudah melesat untuk mengetahui apa yang terjadi dengan atasannya. Ia tahu ini bahaya tapi yang namanya penasaran harus bagaimana.


“Aku ingin menikahimu kamu tidak mau, dan sekarang kamu mempermalahkan kita yang sudah hidup bersama!” Nafas Andre menderu menahan luapan emosinya.


Rahma bergidik ngeri melihat pemandangan yang ada di hadapannya.


“Apa aku harus membuatmu telan**ng dan m**desah setiap ada masalah. Ha?!”


Kalimat ini membuat mata Rahma membola. Pikiran nakalnya menyeruak ke atas muka. Suara Andre memang sudah tak sekeras tadi, namun dengan posisi ini, Rahma bisa dengan jelas mendengarnya. Ia membekap mulutnya agar tak bersuara saat proses menguping belum diakhirinya.


“Andre, lepaskan aku Andre. Aku hanya bicara berdasarkan fakta…” lirih Hana karena cengkeraman Andre di rahangnya membuat ia sulit untuk bicara.


Rahma bergidik ngeri menyaksikan semua ini. Meski tak cukup jelas, namun ia bisa melihat apa yang terjadi di dalamnya. Rahma mundur dan secepatnya kembali ke tempat saat ia melihat Andre berjalan ke arahnya dengan wajah kesal dan tangan terkepal.


Riza dan Elis tak berani bertanya melihat raut ketakutan dari Rahma. Mereka sadar ada yang tak beres, sehingga mereka berlagak seolah tengah fokus untuk bekerja. Belum tuntas deg-degan akibat raut wajah Rahma, sekarang pintu yang semula sedikit terbuka itu terdorong kuat membuatnya langsung tertutup rapat.


Riza, Elis dan Rahma serempak menggeleng sebelum memilih diam dan kembali menceburkan diri dalam pekerjaan. Mereka penasaran dengan apa yang terjadi di dalam. Bagaimana nasib Hana, apakah sedang dicincang atau sedang dilumatkan.


Belum tuntas ketegangan, Trio sekertaris ini kembali dibuat deg-degan dengan kemunculan sosok nomor satu di perusahaannya. Ia tampak terburu-buru untuk membuka pintu ruangan sekertaris utama.


Dika tercekat saat sadar pintu tak bisa dibuka. Ia kemudian melayangkan tatapan bertanya pada tiga staf yang komandonya di bawah Andre.


“Ini kenapa?” tanya Dika pada ketiga staf Andre yang bahkan tak menyapanya saat ia muncul di hadapan mereka.

__ADS_1


“Itu…”


Hanya Riza yang coba menjawab namun ternyata ia sama saja dengan kedua rekannya yang tak bisa bicara.


“Apa ada seseorang di dalam?” tebak Dika. Pasalnya saat Andre keluar tak mungkin ia mengunci pintu seperti ini.


Tiga wanita ini hanya menganggukkan kepala sebagai jawabannya. Mereka enggan bersuara karena takut salah memilih kata


Tak mau menunggu lebih lama, Dika segera memutar tubuhnya.


Brak brak brak!!


“Andre!!”


Brak brak brak brak brak!!!


“Aku dobrak kalau nggak cepetan kamu buka… Andre!”


Brak!


Dika menahahan tangannya saat tahu pintu itu kini di buka. Dan tak berselang lama, pintu benar-benar terbuka dan Andre benar-benar keluar denagn wajah merah penuh keringat. Dika mendorong sekertarisnya untuk masuk ke dalam dan pintu kembali ditutupnya dengan segera.


Begitu tiba di dalam, Dika menemukan pemandangan yang sama sekali tak ia sangkakan. “Kalian? Bukannya…” Dika nyengir.


“Kamu sudah makan? Tapi maaf aku terlalu lapar jadi sisa ini tak mungkin aku bagi denganmu.”


Andre memasukkan sesuap besar makanan ke dalam mulutnya.


“Kenapa harus dikunci segala pintunya…” lanjut Dika setelah mampu menetralkan ekspresi yang kini menurutnya tak sesuai situasi.


Andre menggerakkan tangannya. Mulutnya sibuk mengunyah dan Hana dengan telaten mengelap keringat di wajah Andre.


“Han…”


Hana menyerahkan segelas air kala ia paham apa yang diinginkan kekasihnya.


“Aku tadi hampir gila pas ada Cindy ke sini. Kamu kenal Cindy nggak sih…” Andre bergidik saat mengingat momen tadi. “Tingkahnya bikin gatel. Sok artis padahal nggak ada yang kenal juga.”


Andre mencomot buntut terakhir yang belum disentuhnya. Ia menggerogotinya tanpa dosa di depan bosnya.


Dika menghala nafas dan memutar tubuhnya. “Lain kali selama masih jam kerja ponsel selalu stand by ya. Repot saat ada perlu aku harus mencarimu seperti ini. Selesaikan makanmu, aku tunggu di ruangan.” Dika mengayun langkah setelah menyelesaikan kalimatnya. Ia meninggalkan Andre dan Hana berdua di kamarnya.


Di sela mengunyah Andre menatap ponsel yang sejak tadi diacuhkannya. Ternyata mode diam belum ia matikan sejak semalam. Setelah selesai, Andre merapikan diri untuk menghampiri Dika di ruangannya.


“Apa ada sesuatu yang mendesak?” tanya Andre begitu muncul di ruangan Dika.


“Tidak. Aku hanya ingin mengajakmu bertukar pendapat tentang proyek es krimnya Rina. Aku benar-benar tak paham dengan konsep yang Rina inginkan. Kalau sudah ada waktu segera ke ruanganku untuk membahas hal ini.”


Setelah Dika keluar dari ruangan Andre, tak berselang lama Andre keluar dan menyusulnya. Pemandangan ini tentu membuat trio sekertaris jadi makin penasaran.

__ADS_1


“Pasti nih pasti…” ujar Rahma yang terus menatap ruangan atasan tertingginya.


“Pasti apa?” tanya Riza penasaran.


“Ihhh, masa Mbak nggak paham sih. Pak Eko gitu nggak kalau lagi ngacak-acak Mbak Riza.”


“Terus apanya yang pasti tadi?” tanya Riza karena Rahma malah membawa nama suaminya.


“Masa nggak ngerti. Pak Restu pasti sekarang sedang memperingatkan,” ujar Rahma dengan keyakinan 1000%nya.


“Ngomong apa sih? Lagian yang ngintip kan kamu jadi mana kita tahu,” protes Riza.


Rahma meletakkan pekerjaannya dan beringsut membawa kursinya di antara Elis dan Riza. “Tadi tuh ya, Aku lihat pak Andre kayak ngamuk sama Hana, dia juga bilang, emmm…” Rahma menggigit jari karena khawatir dengan perasaan Elis. Selain itu ia juga deg-degan sendiri saat memikirkan reka adegan di dalam kepalanya.


“Ayo katakan…” Desak Elis yang meski sakit ia juga merasa penasaran.


“Kamu beneran pengen denger?” tanya Rahma hati-hati.


“Iya,” jawab Elis meyakinkan.


“Ehm, ehm… Aku cerita nih. Tadi sepertinya Hana cemburu dengan keberadaan Nona yang di dalam, tapi sayangnya aku nggak dengar Hana ngomong apa. Kemudian pak Andre malah marah dan mencengekam erat rahang Hana…” Rahma bergidik ngeri mengingat kejadian yang ia lihat tadi.


Riza dan Elis menanti dengan tak sabar.


“Dan satu lagi. Aku lupa susunan kata lengkapnya, yang jelas hubungan Hana dan pak Andre susah melampaui batas wajar…”


“Kamu jangan asal menyimpulkan ya,” ujar Riza mengingatkan.


“Aku nggak asal ngomong Mbak, orang aku dengar kok.”


“Memangnya apa yang kamu dengar?” desak Elis karena Rahma terus saja berputar-putar.


“Kemarin ada yang curiga nggak sih saat lihat Hana yang keluar dengan digendong dan pakaian yang dipakai juga berbeda?”


“Kita sedang bahas hari ini Rahma, kenapa kamu harus bawa-bawa kemaren,” protes Elis yang disambut anggukan oleh Riza.


“Sshhh hhh...” Rahma menghela nafas. ia juga sulit berkata, terlebih ini hanya hasil menduga.


“Mereka...” Hana merapatkan kedua tangannya.


Tanpa Riza lanjutkan Rahma dan Elis sudah paham. “Masa iya tapi…” lanjut Riza.


Rahma mengangkat bahu. “Yang jelas tadi aku dengar pak Andre meneriaki Hana tentang…” Rahma mengangkat kedua telunjuk yang ia tautkan…”


“Apa Rahmaaaa...” Elis mulai tak sabar.


“Ah sudahlah, nggak sanggup aku.” Rahma capek sepertinya.


Cklek!

__ADS_1


Mendengar suara pintu dibuka, Rahma segera menggeser kursinya untuk kembali ke tempat semula.


Bersambung…


__ADS_2