
...*HAPPY READING*...
Ada hikmah di setiap kejadian, itu memang benar adanya. Dan hikmah yang Rina rasa dari kejadian semalam adalah dia dan Dika kini tak lagi marahan.
Rina menatap gelisah jam di ponselnya. Sungguh kontras dengan yang lainnya, yang tengah menikmati penampilan Rista yang bernyanyi dengan iringan gitar yang Miko bawa di halaman samping rumah Rina.
"Rista suaranya bagus juga," puji Dian sambil menyenggol Rina.
Rina sedang malas berbicara. Untuk itu ia hanya mengiyakan dengan senyuman.
"Kalau bikin duo keren kali ya," imbuh Nita.
"Btw mereka pacaran nggak sih Rin?" Kembali Dian bertanya.
Lagi-lagi Rina mengangguk dengan diiringi sebuah senyuman.
"Lah, Dedi kan temennya Dika?"
"Lha kalau temennya emang kenapa Nit?" heran Dian.
Nita menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Nggak kenapa-kenapa sih."
Mereka kembali menikmati sarapan yang sebelumnya mereka buat sendiri.
Dedi dan Rista sudah sarapan, jadi mereka memilih bernyanyi sembari menunggu yang mengisi perutnya.
Tepat setelah menyelesaikan lagu pertama, Reno dan Ririn muncul dan menyapa mereka.
"Kok kalian nggak ikut makan?" tanya Reno pada Dedi dan Rista.
"Kita nggak dikasih ijin pergi Om kalau nggak makan dulu," jawab Rista.
Keempat remaja dengan piring di tangannya itu menunduk hormat kepada Reno.
"Jangan-jangan sungkan-sungkan ya, silahkan nambah kalau masih."
"Om nggak sarapan?" tanya Andre begitu menelan makanannya.
"Kita tadi udah di ujung gang," jawab Ririn.
"Ya udah, kalian lanjutin ya, kita mau bersih-bersih dulu."
"Iya Tante..." serempak teman-teman Rina.
...***...
Rencana jam 7 berangkat kini nyatanya hampir setengah 8 Dika baru muncul dengan tergesa.
"Sorry ya semua, maaf tadi ada sedikit kendala," ucap Dika sambil berjalan dan berhenti di samping Rina untuk mencium puncak kepalanya.
Dika mengabaikan wajah cemberut kekasihnya dan memeluknya begitu saja. Ia kemudian menyapa semua yang ada di sana.
"Berangkat aja kali ya."
"Kita emang udah siap dari tadi, kamu aja yang lama," ketus Rina sambil melepaskan diri dari pelukan Dika.
"Maaf sayang, ada masalah kerjaan dikit."
"Ada masalah apa?" tanya Dedi cepat karena merasa turut andil di setiap urusan pekerjaan Dika.
__ADS_1
"Cuma nyaris salah perhitungan. Tapi udah beres sama pak Edo," jawab Dika dengan sedikit mengurangi volume suaranya.
Andre mengernyit. Edo. Kok namanya bisa sama?
Dika menyerahkan kunci mobil pada Dedi.
"Tolong masukin barang-barang yang mau di bawa ya, mau ngecek ini sekali lagi," imbuh Dika sambil menunjukkan tabnya.
Dika duduk di salah satu meja di teras rumah Rina, tanpa ia sadari ternyata Reno sudah berdiri tak jauh darinya.
"Masih mau terus dikejar?"
Dika menoleh dan mengurai senyum.
"Silahkan duduk Om."
Saat Dika menyadari keberadaan Reno, ia mempersilahkan Reno untuk duduk.
Kok jadi kayak Dika yang punya rumah ya, wkwkwk. Atau serasa kayak atasan yang di temui bawahan?
"Iya Om. Saya nggak akan ngejatuhin mereka kalau mereka sendiri nggak ceroboh kayak gini."
Reno menepuk pundak Dika. "Jangan terlalu ambisi."
Bukan tanpa alasan Reno berkata seperti itu, karena semenjak Dika menjalankan perusahaan, ia nyaris tak memberi kesempatan pada perusahaan lain untuk berkembang. Memenangkan setiap tender dalam negeri, dan beberapa kali di negara lain, bahkan sudah berhasil mengakuisisi beberapa perusahaan lain.
Sebenarnya Reno bangga juga, tapi ada rasa khawatir bersamanya.
"Bro, udah nih!" Andre.
Dika mematikan layar gadgetnya dan segera berpamitan pada Reno.
Semua juga melakukan hal yang sama pada kedua orang tua Rina.
"Hati-hati. Nggak usah kenceng-kenceng bawa mobilnya."
"Iya Tante." Kali ini Dika yang menjawab.
Mereka berangkat dengan suka cita. Kemudi di tangan Dedi namun ia berkali-kali harus menoleh untuk menatap Dika yang sedang sibuk gadgetnya.
"Bro, kalau lu capek gua bisa gantiin nyetir kok," tawar Andre.
"Tapi kamu kan nggak hafal jalan sayang."
"Aku cuma baru balik dari Singapur Di, bukan dari antartika."
"Gue aja," sela Miko.
Dedi segera menepikan mobil Dika.
"Kamu mau ke mana?" tanya Dedi saat melihat Rista turun juga.
"Mau ikut Kakak."
"Aku lagi mau bantuin kakak kamu."
"Tapi aku nggak mau di depan sama kak Miko."
Tanpa suara ternyata Nita sudah turun bersama Miko di sampingnya.
"Kita tuker tempat ya," kata Nita kemudian.
__ADS_1
Formasi pun berubah. Miko dan Nita di bangku depan, Rista dan Rina di bangku tengah, di belakangnya ada Andre dan Dian, dan yang paling belakang adalah Dedi dan Dika.
"Dedi udah kerja juga?" tanya Andre pada kekasihnya.
Dian hanya menggidikkan bahu. "Kayaknya sih iya, tapi nggak tahu deh."
Andre menggelengkan kepala. "Anak muda produktif mereka."
Dian hanya menaikkan alisnya.
"Kok sepi sih. Kalian pada muter musik aja, sorry ya kita numpang kerja. Takut nggak bisa makan." Canda Dika yang renyah dari bangku belakang.
"Ellah Bos..., kita yang numpang sama situ. Kamu yang semangat ya kerjanya, mobil masih butuh diisi bensin," balas Andre bersama tawanya.
"Emm, kita patungan nggak apa-apa sih sebenernya," imbuh Dian.
"Santai aja Di, bokap kasih uang jajan lebih hari ini. Ya kan Ris?"
"Yo i Kak."
"Bener nih, kita seneng loh," sahut Dian.
"Ibu negara sudah say yes. Ya kan sayang?"
"Hmmm." Rina berdehem karena merasa dia lah yang dimaksud Dika.
"Tapi ibu negara lagi ngambek kakak, gara-gara bapak negara terlalu sibuk," timpal Rista.
"Nggak apa-apa. Demi anak dan istri biar bisa makan enak tidur nyenyak."
"Yes, ada yang mau kawin nih kayaknya bentar lagi."
Andre nyambung aja tanpa permisi membuat Rina begitu menyesal telah menyinggung anak istri dalam candaannya.
Rina merasa kesal, namun tak dapat dipungkiri kalau dia bahagia juga mendengar gelak tawa yang bersemangat dari Dika di jok belakang. Ia tahu benar Dika sedang serius, dan entah mengapa sejak keterangannya semalam, Rina jadi goyah dan mulai membayangkan menikah di usia muda meskipun papanya merasa keberatan dan kurang setuju saat ini.
"Btw masih jauh nggak sih?"
"Pantai pasih putih kan?" Miko coba memastikan tujuan mereka. Ia takut salah mengambil arah.
"Iya. Semua udah siap di sana."
"Gila. Ngikut sultan enak juga ya. Mau dong kerja sama situ," timpal Andre.
"Sekolah dulu yang bener," balas Rina.
"Lah, Dika kan bahkan masih kelas XI kudunya?" sambung Dian.
Andre menatap tak percaya kekasihnya.
"Lah, beneran?" Andre tak percaya dengan apa yang baru ia dengar. Ia menoleh ke semua arah. Semua kepala di mobil itu mengangguk iya.
"Gue doang ya yang nggak tahu."
"Emang iya sayang. Kamu kan baru muncul."
Andre mengancak rambutnya. "Lu udah ngehasilin duit, gue bisanya minta duit. Fix bro. Gue pengen belajar dari elu," kata Andre dengan sungguh-sungguh.
"Tapi sayang perusahaan Dika belum merambah ke sektor pendidikan, jadi lu belum bisa belajar dari dia."
Dedi berkata dengan wajah seriusnya. Dian membuang muka dengan senyum di wajahnya karena ekspresi lusu kekasihnya yang dikacangi oleh Dedi.
__ADS_1
Ia sempat tertarik pada pemuda ini, maka tak ayal jika ia cukup paham dengan sifat dingin Dedi pada setiap awal perkenalan.
TBC