
HAPPY READING
“Sudah selesai?” tanya Andre yang kembali duduk di samping Hana.
“Sudah,” jawab Hana singkat.
“Kenapa kamu makan sedikit sekali. Aku tak mau terus terusan memeluk tulang,” ujar Andre sembarangan.
Hana sempat membulatkan mata sebelum mendengus dan menatap tajam Andre. Sayangnya pria ini terlalu sigap menghindari serangan Hana membuat wanita ini gagal untuk memberi pelajaran pada kekasihnya yang suka ngawur kalau membicarakan kehidupan mereka.
Alih-alih takut dengan reaksi Hana, Andre justru merangkul Hana dan menarik kekasihnya ini ke dalam pelukannya.
Awalnya aneh saat melihat Andre tertawa di saat Hana nampak beruang memukulnya, namun lama kelamaan Riza, Rahma dan Elis ikut tertawa juga. Mereka sadar ini adalah sisi manusiawi Andre yang selama ini ditutupi sehingga tak pernah ada yang tahu jika seorang Andre Wiguna bisa tertawa dan bucin juga.
“Pak Andre bisa juga ya seperti ini,” lirih Rahma pada kedua rekannya.
“Aslinya mungkin yang kaya gini,” balas Riza.
“Dan bisa muncul karena Hana,” timpal Elis yang terucap setengah hati karena tak rela mengakuinya.
Hingga sekian waktu lamanya, Andre dan Hana masih bertahan dalam canda. Hingga ketiga orang di sana juga mulai biasa dengan interaksi sejoli ini. Andre juga mempertegas bahwa ketiga stafnya tak perlu bersikap kaku, karena sekarang Andre adalah teman bukan atasan.
“Kalian sholat nggak?” tanya Riza pada kedua rekannya yang tanpa sengaja juga di dengar Andre dari tempatnya.
“Lagi ehm ehm,” jawab Rahma sambil meringis. Tentu kata abstraknya ini sangat dipahami oleh para wanita yang juga mendapatkan setiap bulannya. Namun berbeda bagi Andre yang sangat awam masalah ini.
“Ehm, ehm apa sih?” tanya Andre yang menjadi satu-satunya laki-laki yang ada di sana. Tak heran jika Andre tak paham masalah ini, terlebih saat di SMA ia merupakan siswa kelas IPS dan sekarang hidupnya hanya untuk bekerja di bidang bisnis.
“Shhh… itu, iihhh, jangan tanya deh,” sela Hana.
“Kenapa nggak boleh?” ujar Andre tak terima.
“Yaaaa…” Hana mendesah. “Pulang aja yuk…” ujar Hana akhirnya.
Andre menyambut ajakan Hana dengan senyum lebar. “Tadi diajakin pulang nanti dulu, sekarang malah buru-buru…”
“Mau pulang sekarang nggak?” Hana bangkit karena tak ingin berdebat dengan Andre sekarang.
Andre turut bangkit. Ia kemudian meraih pinggang Hana. “Kalian lanjutkan saja, kami permisi pulang,” ujar Andre pada kedua stafnya yang masih diam di tempatnya.
“Baik Pak…” serempak ketiganya.
Dan Andre pun keluar bersama Hana yang entah mau ke mana setelahnya.
“Kek istri ngajakin suami pulang nggah sih?” celetuk Rahma setelah pintu tertutup bersama dua orang yang menghilang di sana.
Riza mengangguk sementara Elis masih menatap lurus ke arah pasangan tadi menghilang.
“Tapi nggak aneh sih. Dunia bisnis itu penuh intrik. Jadi nggak heran kalau kehidupan pelaku bisnis jadi terkontaminasi oleh hal-hal pelik semacamnya,” lanjut Rahma yang sepertinya mulai kotor pikiranny.
“Maksud kamu apa sih Ma?” tanya Elis yang merasa ada maksud lain di setiap ucapan rekannya.
“Ya maksudku, aku takut kalau misal harus jatuh cinta dengan orang yang berasal dari dunia yang sama dengan pak Andre, so that aku pilih pak Dedi sebagai idola.”
__ADS_1
Elis dan Riza mencebik bersama-sama.
“Sama aja oncom. Pak Dedi pelaku bisnis juga. Aku pernah dengar kalau dia punya bisnis pribadi juga disamping profesinya sebagai dokter,” jelas Riza yang maksudnya agara Rahma sedikit membuka mata agar tak buta juga karena cinta.
Rahma mengangkat kedua bahunya. “Pulang yuk…” ujarnya kemudian.
Ketiganya pun berjalan meninggalkan ruangan. Namun di parkiran ada hal yang membuat perhatian mereka teralihkan. Di sana Hana tampak menyerahkan kunci mobil yang tadi ia bawa kepada seorang pria, sementara ia masuk dan pergi menggunakan mobil yang Andre kemudikan sendiri.
“Mungkin mereka mau jalan dulu,” ujar Riza yang tahu isi kepala kedua rekannya.
“Tapi katanya kan mau pulang,” timpal Rahma.
“Pulang ke rumah yang sama...” lanjut Elis dengan wajah mau menangis.
“Udah, udah. Ayo pulang,” putus Riza.
Ketiganya segera masuk ke dalam tiga taxi berbeda yang telah mereka pesan sebelumnya.
***
“Jahat kamu ya…”
“Enggak kok.”
“Ninggalin kerjaan seabrek kalau nggak jahat apa namanya.”
“Aku bukan pria jahat, tapi aku pria yang sayang istri.”
“Maaf ya…” Rina merasa perlu meminta maaf karena ia sudah marah-marah pada Dika, padahal Dika meninggalkan pekerjaan juga untuk bersamanya seperti sekarang.
“Nggak apa-apa sayang,” Dika menarik tubuh Rina dan mencium keningnya.
“Sayang…” panggil Rina yang masih nyaman dalam pelukan Dika.
“Hmm…” jawab Dika yang masih mengelus-elus rambut panjang Rina.
“Kita perlu cari sesuatu nggak buat Ayah?” tanya Rina sebelum menarik tubuhnya.
“Apa ya?” ujar Dika balik bertanya.
“Aku juga bingung makanya aku nanya,” lanjut Rina.
“Apa ya… Eh Rista apa sudah kamu beri tahu kalau Ayah sakit?” tanya Dika pada istrinya.
“Ya ampun, lupa. Tapi mungkin Mama sudah ngabar ke Rista,” jawab Rina.
“Nggak apa-apa. Kita jemput aja kali ya. Ayah pasti senang kalau Rista datang.”
“Tapi…”
“Tapi kenapa sayang…”
“Apa nggak sebaiknya kita hubungi dulu. Siapa tahu dia sedang sibuk. Kamu nggak lupa kan kalau adik kita ini banyak sekali kesibukan?” ujar Rina mengingatkan.
__ADS_1
“Tapi dia kan mundur dari proyek es krim kamu, tinggal garap R fashion doang sama kuliah…”
“Rista kan sering dapat tawaran manggung sekarang. Endors juga sampai nolak-nolak. Jangan bilang kamu nggak tahu ya. Kita pernah bahas ini sebelumnya,” ujar Rina dengan jari menunjuk dan mata memicing menatap suaminya.
“Tahu kok, tahu.”
“Nah makanya itu. Kita jangan seenaknya ganggu dia.”
“Tapi papanya sakit masa iya Rista nggak pulang…”
Rina terdiam sejenak. “Kenapa?” tanyanya kemudian.
“Kenapa?” ulang Dika. Namun sedetik kemudian dia membuang muka. Ya Tuhan, Rina kan belum tahu kalau Rista anak kandung Ayah Rudi. Racau Dika dalam hati
“Ya udah, kamu telfon dulu dia. Kita langsung meluncur ke apartemennya kalau Rista sedang luang,” ujar Dika coba mengalihkan pembicaraan sebelum kemudian terdiam sambil memperhatikan jalan, sementara Rina coba menghubungi adiknya. Masalah siapa ayah biologis Rista memang belum ia ungkap sampai sekarang. Bahkan Rina belum ia beri tahu masalah ini karena jujur ada rasa malu jika ada lagi orang yang tahu aib kedua orang tuanya.
Tapi Rista sudah menjelang dewasa sekarang. Entah tinggal menunggu berapa lama lagi, ia akan melepas masa lajang. Dan momen itu lah yang menurut Dika paling mendebarkan, karena kejujuran harus diungkap untu menentukan siapa yang nantinya akan menjadi wali nikah Rista.
“Gimana?” tanya Dika saat melihat istrinya mendesah kecewa.
“Nggak diangkat,” jawab Rina.
“Coba kamu hubungi asistennya?”
“Maksud kamu Rena?” tanya Rina memastikan.
“Iya, yang selalu sama Rista itu,” jelas Dika.
“Tapi dia cuma temannya sayang, bukan asistennya,” ujar Rina membenarkan.
“Oh. Siapa lah pokoknya. Punya contact dia nggak?”
Rina menggeleng.
“Ya udah. Langsung kita jemput aja.”
“Kemana jemputnya?”
“Ke tempat Rista berada.”
“Emang kamu tahu dia dimana?”
“Aku akan cari tahu,” jawab Dika mantab
Rina tak meragukan kemampuan suaminya terkait masalah ini. Jangankan adiknya, untuk mengetahui posisi orang yang tak begitu dikenalnya pun Dika akan dengan mudah melakukannya. Itu tak lain karena kuasa dan juga power yang dimilikinya.
Setelah sempat menghubungi seseorang, tak berapa lama Dika sudah mendapat pesan dan menginstruksikan alamat yang diterimanya pada sopir yang kini mengantarkan perjalanannya dengan Rina.
“Kamu nggak capek kan?” tanya Dika yang tiba-tiba mencemaskan kondisi Rina yang sedang mengandung buah hatinya saat ini.
Rina menggeleng kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Dika. “Sekalian jalan-jalan kan ya…”
Bersambung…
__ADS_1