
Drrtt dddrrttt
Sebuah panggilan masuk menghentikan aktivitas Rina yang semula tengah membereskan peralatan sekolahnya.
"Mas Rio," lirih Rina. Buru-buru dia menggeser tombol hijau di layar ponselnya. "Hallo Mas."
"Mau pulang kan?"
"Iya."
"Aku tunggu di parkiran."
Bip
"Tapi Mas, halo Mas, Mas," Rina menatap malang hp-nya. "Kok dimatiin gitu aja sih," gumamnya kemudian.
Nita yang melihat temannya menggerutu segera bertanya, "Ada apa Rin?"
"Masa iya Mas ryokan ngajak aku pulang bareng, lah ini aku belum bilang apapun Mas Rio udah main nutup telpon aja," adu Rina sambil menunjukkan layar ponselnya.
"Dia lagi buru-buru kali?" kata Nita.
"Iya, dia pasti lagi buru-buru. Anak kuliahan kan emang tugasnya serba individu dan buru-buru. Hari-harinya pasti sibuk."
Rina akhirnya kembali melanjutkan kegiatan yang sebelumnya sempat tertunda. Saat ia telah menyelesaikan kegiatan beres-beresnya, tiba-tiba terdengar suara seseorang tengah memanggil namanya.
"Rina!"
Rina dan beberapa siswa yang masih di kelas segera menoleh kearah sumber suara itu.
"Loh Mas, kok nyusulin kesini?" tanya Rina yang kemudian berjalan menghampiri Rio.
"Iya, abisnya kamu lama," jawab Rio sambil merangkul bahu Rina.
"Nita, aku duluan ya. Temen-temen, aku duluan."
Rio kemudian tersenyum dan berkata," Rina nya aku bawa dulu ya."
Semua tersenyum kepada Rio, entah itu senyuman sebagai perwujudan rasa hormat atau senyuman yang merupakan ungkapan kekaguman.
Rina dan Rio kemudian berjalan beriringan meninggalkan kelas menuju parkiran. Sementara itu di kelas Rina, mendadak heboh karena kepergian Rina bersama cowok ganteng yang seharian ini tiba-tiba berkeliaran di sekolah mereka.
"Tadi itu cowoknya Rina ya Nit?" tanya Desi pada Nita.
"Iya kali," jawab Nita asal.
"Kok kali sih, masak sebagai temannya kamu enggak tahu," kata Desi lagi.
"Ya kalau aku temennya emang aku kudu tahu semua urusan dia," ketus Nita.
"Perasaan pacarnya Rina orangnya..."
"Orangnya gimana?!" potong Nita cepat sebelum Desi menyelesaikan ucapannya.
__ADS_1
Sementara itu Rina dan Rio kini telah meninggalkan wilayah sekolah.
"Udah deh, jangan kepo kayak Dora, Nita cantik balik dulu, bye." Nita pun segera melenggang meninggalkan ruang kelasnya.
Saat ini Rina dan Rio tengah bersama dalam mobil Rio.
"Rina pengen ke mana gitu apa pengen langsung pulang aja?" tanya Rio.
"Emm, Mas Rio mau kemana emang?"
"Mau kemanapun asal sama kamu," jawab Rio sambil meraih tangan Rina dan menciumnya.
Ya ampun Mas, bisa meleleh ini nanti. Batin Rina.
"Kenapa kok nunduk?" tanya Rio karena mendapati Rina yang tiba-tiba menundukkan kepalanya.
"Enggak kok," jawab Rina yang mulai salah tingkah sambil mengangkat wajahnya. Dia kemudian segera berpaling menatap ke arah luar jendela.
"Ngadep sini dong, kan aku jadi nggak bisa lihat wajah cantik kamu."
"Ih Mas Rio gombal terus," ucap Rina sambil terus memandang kearah luar jendela.
Namun tiba-tiba ada sosok yang begitu familiar tertangkap netranya. Dika, kamu ngapain di sana. Batin Rina.
Hingga mobil Rio melewati sosok yang tengah menarik perhatiannya itu, Rina belum mampu memutuskan pandangannya dari sana.
"Ngeliatin apa sih sayang, kok sampai gitu banget?" tanya Rio.
"Emm, itu Mas, di sana..." bingung sekali Rina kali ini. Tak mungkin kalau dia harus mengatakan yang sejujurnya kalau dia tengah memperhatikan sosok yang baru saja diputuskannya tadi pagi.
Rina hanya membalas perkataan Rio dengan tatapan nanar. Mungkinkah mas Rio mengenali Dika? Bukankah mereka baru bertemu sekali tadi pagi. Batin Rina.
"Dasar anak muda zaman sekarang, mau mesum aja nggak modal banget."
"Ha?!"
"Kenapa sayang?"
"Masa iya sih Mas, mesum di lapangan, tengah hari bolong lagi," timpal Rina.
"Ya terus ngapain dong di sana kalau enggak mesum," kekeh Rio.
"Yang ngapain gitu kek, kita kan nggak tahu," kata Rina tak mau kalah.
"Ya siapa tahu dia lagi pengen menyendiri karena ada masalah mungkin," lanjut Rina.
Rio mengerem mobilnya secara mendadak.
"Mas?!" pekik Rina karena begitu terkejut.
"Mau coba lihat ke sana, kayaknya kamu ngebelain orang yang lagi di sana banget sih. Jangan-jangan kamu kenal lagi sama dia?" terka Rio sambil menatap tajam Rina.
"Eng, enggak kok Mas, maksud aku tu, emm maksud aku ya intinya kita jangan suudzon kalau kita nggak tahu apa yang terjadi di sana," ucap Rina dengan susah payah.
__ADS_1
"Kamu nggak lagi sembunyiin sesuatu dari aku kan?" tanya Rio sambil mencengkram pundak Rina dan menatapnya tajam.
Rina hanya menggeleng dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Rio yang awalnya berapi-api, kini mulai luluh. Dia segera mengecup kening Rina. Selanjutnya dia membawa Rina ke dalam dekapan nya. Sebuah isakan pun lolos di sana.
"Sayang maafin aku ya," kata Rio berusaha menenangkan Rina.
"Mas Rio bikin Rina takut," lirih Rina.
"Sstt, jangan takut ya. Aku cuma takut kalau aku tiba-tiba harus kehilangan kamu, padahal kita baru memulai hubungan ini," kata Rio sambil mencium puncak kepala Rina.
"Ya kalau Mas Rio kayak gini aku jadi takut ngejalanin hubungan sama Mas," lanjut Rina.
"Jangan takut ya, please. Meskipun kita baru mulai hubungan ini, tapi Mas udah sayang banget sama Rina. Rina juga sayang kan sama Mas," kata Rio sambil memeluk erat Rina.
Rina hanya diam dan pasrah dengan perlakuan Rio. Dia takut harus menjawab apa, karena keraguan tengah singgah di hatinya.
Dika, kamu tadi di sana ngapain. Di sana adalah tempat pertama kita bertemu. Kamu yang kala itu terlihat kacau, menghajar preman yang hendak menggangguku. Apakah hari ini kamu juga ke sana dengan keadaan kacau? Apakah kekacauan mu kali ini gara-gara aku? Rina.
Sementara itu tak jauh dari tempat dimana Rio memberhentikan mobilnya, seorang laki-laki nampak berdiri dengan jari mengapit sebuah batang rokok. Dia berdiri menatap nanar mobil yang tadi pagi membawa pergi raga dan hati kekasihnya.
Rina, beberapa bulan yang lalu kita bertemu di sini. Aku yang kalau itu kacau karena pernikahan ibuku, tak sengaja berhenti di sini. Melihatmu tengah diganggu preman, aku segera menolongmu. Namun bukan hanya kamu yang mendapatkan pertolongan, tapi aku juga. Kedatanganmu bersama kedua preman itu, membuatku akhirnya bisa melampiaskan, kemarahan, kekecewaan, dan kesedihan yang tak lagi mampu ku pendam.
Rina, tak mau kah kamu segera menghampiriku ketika aku kacau di sini lagi saat ini? Apakah kamu tetap akan pergi meninggalkanku aku yang tengah terluka ini?
"Lu ngeliatin apa," tanya Dedi yang melihat Dika tengah memperhatikan mobil yang berhenti tak jauh dari mereka.
Dika tak menjawab. Dia masih diam dan tetap melakukan hal yang sama.
"Apanya sih yang menarik, kayaknya masih keren mobil elu," kata Dedi lagi.
"Enggak, tadi aku aku cuma ngerasa terganggu dengan dengkuran kamu."
"Masa iya?" tanya Dedi heran.
"Iya, padahal aku ke sini buat nyari ketenangan, tapi bukannya tenang malah nyatpamin kamu yang tidur seenaknya pake ngorok lagi."
"Aku kayaknya kalau tidur nggak ngorok deh," sangkal Dedi.
"Serah. Aku mau balik. Kamu mau ikut apa mau tetap disini," kata Dika.
"Ya ikutlah, ngapain juga aku disini kaya orang bego," kata Dedi.
"Ya udah, biar nggak bego mending kamu ngikut orang pintar." Dika kemudian masuk ke mobilnya begitu saja.
"Sialan!" umpat Dedi namun tak urung dia juga segera menyusul Dika masuk ke dalam mobil.
TBC.
Alhamdulillah, selesai juga part ini dear.
Makasih ya yang udah bersedia mampir.
Semoga suka sama ceritanya.
__ADS_1
Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan jejak pada setiap kunjungan kalian.
Happy reading, love you all.