Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Bukan Mimpi


__ADS_3

HAPPY READING


“Maafkan Papa.”


Edo berucap tiba-tiba setelah sebelunya sempat mengacuhkan panggilan anaknya, tiba-tiba justru minta maaf seperti ini. Tentu hal ini membuat Andre makin bingung lagi.


“Papa kenapa sih. Jangan bikin Andre bingung gini lah…” ujar Andre yang sudah lelah menerka.


Edo melepaskan tangannya yang berada di pundak Andre sejak tadi. Ia kemudian menyatukannya dengan sebelah tangan yang satu lagi.


“Papa juga malu untuk mengungkapnya. Tapi bagaimana lagi. Ini bahkan sudah terjadi.” Edo bicara lagi tapi masih belum juga sampai ke inti. Sepertinya Andre harus banyak-banyak bersabar saat ini.


Dua pria beda generasi ini saling menatap beberapa saat sebelum Edo kembali berucap.


“Papa mau tanya, apa keguguran Hana waktu itu sengaja kalian lakukan?” tanya Edo dengan raut sungguh-sungguh.


Andre mengepalkan tangannya. Ia merasa disudutkan dengan pertanyaan ini, tapi itulah fakta yang terjadi dalam hidupnya.


“Andre bukan brengsek yang tahu enaknya saja Pa. Ini adalah kali pertama Andre salah langkah sejauh ini.” Andre menghela nafas membuat ucapannya sempat terjeda. “Sebenarnya sejak awal kandungan Hana memang sudah bermasalah, tapi Andre sekuat tenaga menyelamatkannya. Bahkan terkahir Andre sampai menyewa perawat khusus untuk merawat Hana.”


Andre menjelaskan kejadian yang sebelumnya sempat ia tutupi dari orang tuanya.


Edo nampak menghela nafas mendengar penuturan putranya. Meski ia tak berkata apa-apa tapi wajahnya menyiratkan rasa lega.


“Papa berharap tak ada kejadian semacam ini lain kali.”


Edo dan Andre sempat bertemu tatap sebelum keduanya melepas kontak.


“Biar Papa dan mama saja yang merasakan penyesalan  jangka panjang karena tak bisa menahan diri hingga harus ada kehidupan sebelum pernikahan.”


Andre terdiam. Apa maksudnya ini? Apa Papa juga pernah menghamili mama sebelum menikah dulu? Andre bertanya-tanya dalam hati. Namun belum cukup keberaniannya untuk berterus terang menanyakan.


“Kamu paham kan maksud Papa?” tanya Edo saat melihat Andre diam saja.


“Apa maksudnya Papa dulu juga pernah membuat mama hamil sebelum menikah?” tanya Andre hati-hati.


Dada pemuda ini mencelos rasanya saat melihat sang papa menganggukan kepala.


“Dimana dia?” tanya Andre tak bisa lagi menahan diri.


Kembali dua pria ini saling menatap. Kali ini Edo yang terlebih dahulu memutus kontak.


“Dia adalah kamu.”


Edo tak berani menatap Andre kali ini. Rasa bersalah benar-benar mendominasi. Ia sungguh tak ingin membuat Andre kecewa makanya ia ingin menyimpan ini selamanya. Namun ia tahu sebaik apa pun ia menyimpan rahasia, pasti suatu saat akan terungkap juga. Dari pada Andre nanti lebih kecewa kerena tahu hal semacam ini dari orang lain, lebih baik ia mengakuinya sendiri seperti ini.

__ADS_1


Andre benar-benar tak menyangka ia punya takdir seperti ini. Ia anak haram, kenapa ia harus jadi anak haram? Padahal selama ini Hana yang dikhawatirkan punya takdir yang demikian. Lantas apa Hana dan keluarganya mau menerimanya jika sampai tahu dia seperti ini adanya.


“Berarti Andre anak haram?” Andre bergumam dengan suara sangat pelan.


Dada Edo jadi nyeri melihat putranya seperti ini. Andre yang selalu bersemangat kini mendadak tak punya gairah. “Tidak Nak. Tidak ada manusia yang lahir dalam keadaan haram. Yang haram adalah kelakuan mama dan Papa yang tak mau bersabar dan merasa sudah berhak meski belum halal.”


“Tapi sama saja…”


“Tidak Nak. Papa tak akan terima jika ada ungkapan semacam itu.” Edo menghela nafas membuat ucapannya terjeda. “Maafkan Papa Nak, maafkan Papa.”


Andre menatap papanya sekilas sebelum menundukkan kepala. Rasa percaya diri yang dimilikinya selama ini sirna begitu saja. Kini yang ada hanya rasa rendah dan kehilangan muka untuk berjumpa dengan orang lain nantinya.


“Nak, sementara kamu tinggal sama kami ya…” pinta Edo pada anak tunggalnya.


Andre yang sempat melamun meratapi nasibnya spontan menatap sang papa. Sudah lama ia hidup sendiri sehingga aneh saja saat tiba-tiba ada permintaan seperti ini.


“Papa hanya tak ingin kalian salah lagkah lagi. Cukup lah kebersaman kalian saat bekerja, dan tahan sampai semua yang haram menjadi halal untuk kembali tinggal bersama.” Edo mengungkap alasan untuk mengajak anaknya pulang sementara.


Andre tak bisa berfikir jernis sekarang sehingga ia memilih untuk diam. Namun bukan hanya melewatkan malam tanpa Hana yang Andre takutkan, tapi jika sampai hubungganya akan berakhir setelah Hana tahu semuanya.


“Sayang aku sud… dah.”


Hana yang sebelumnya power full suaranya, mendadak hampir tak mampu menyelesaikan kalimat terkahirnya saat sadar Andre tak lagi sendiri seperti saat tadi ia pergi meninggalkannya.


“Sudah beres semua” tanya Andre memastikan.


“Sudah,” jawab Hana takut-takut. Bagaimana ini. Jangan jangan aku harus pulang sendiri selarut ini? Lanjut Hana


dalam hati.


“Kalau Hana sudah, lebih baik kita segera pulang,” timpal Edo menutuskan.


“Baik. Ayo…” Andre bangkit menyusul sang papa. Keduanya kemudian berjalan bersama-sama.


Ya Tuhan. Benarkan apa yang aku takutkan tadi. Mereka mendadak baik hanya karena ingin memberi kesan manis sebelum meminta Andre pergi. Racau Hana dalam hati.


Beberapa langkah berjalan, Andre baru sadar jika Hana tak ada bersamanya. Ia kemudian menoleh ke belakang dan mendapati Hana masih diam di tempatnya.


“Loh, ayo…” ajak Andre agar Hana mengikutinya.


“Ha?” Hana masih bingung seperti orang ling-lung.


Andre mendesah. Ia harus balik kanan dan membawa Hana bersamanya. “Ha he ha he! Ayo pulang,” ujar Andre sambil meraih tangan Hana.


“Aku juga?” tanya Hana sambil menunjuk dirinya.

__ADS_1


“Ya menurut kamu?” Andre balik sambil menggoda kekasihnya.


Hana menggeleng sebagai jawaban.


“Kita pulang sama-sama ya Sayang,” ujar Andre sekali lagi.


“Sama Om Edo juga?” tanya Hana memastikan.


“Sesekali numpang boleh kan?”


“B, b, boleh…” Hana bahkan hingga terbata menjawab candaan papa kekasihnya. Ia masih belum terbiasa dengan sikap Edo yang seperti ini. Meski ia senang, tapi masih aneh saat dirasakan.


Andre tersenyum melihat interaksi papa dan kekasihnya, namun sayang di salah satu sudut hatinya ada rasa tak nyaman setelah tahu seperti apa dirinya.


Hana mengerjab saat Andre tanpa ragu menggenggam tangannya dan membawanya berjalan bersama sang papa juga.


Ini bukan mimpi kan?


Keesokan harinya…


Kali ini Andre datang pagi-pagi sekali. Ia sengaja tak naik ke ruangannya karena ingin menunggu Hana yang entah akan berangkat kerja dengan siapa. Melihat Andre tampak menunggu di lobi, hal ini tentu menjadi pemandangan tak biasa untuk para karyawan yang ada di sana.


“Loh Pak Andre?” Elis yang baru tiba langsung menghampiri atasannya ini saat ia baru tiba.


“Iya,” jawab Andre singkat.


Elis yang merasa ini sungguh tak biasa membuatnya merasa tak boleh membuat hal ini sia-sia. Masih ada lima belas menit sebelum dimulainya jam kerja sehingga ia memutuskan untuk beberapa waktu menemani atasannya.


“Saya tak ingin siapa pun mengganggu saya sekarang,” ujar Andre saat baru saja Elis mendaratkan pantatnya.


Spontan Elis langsung bangkit dan kembali dalam posisinya yang berdiri. “Maafkan saya Pak. Saya hanya merasa perlu menemani bapak karena masih ada beberapa waktu sebelum dimulai jam kerja.”


Andre sama sekali tak menanggapi. Ia hanya fokus melihat keluar seakan menunggu sesuatu yang nantinya akan muncul di sana. Dan tiba-tiba tanpa berkata apa-apa bahkan seolah Elis tak ada, Andre bangkit dan berjalan ke depan saat sebuah mobil berhenti di depan lobi perusahaan.


Elis yang merasa sangat diacuhkan pun merasa penasaran. Ia hanya mendesah setelah tahu siapa yang tengah Andre nantikan.


“Ternyata Hana. Aku pikir hubungan mereka akan selesai saat identitas Hana sebagai anak Rahardja terbuka tadi malam…” gumam Elis seorang diri.


Elis tertawa miris, namun ia tak mau terlihat menyedihkan diwaktu sepagi ini. Sehingga ia memilih pergi dan menyambut pekerjaan yang harus diatasinya hari ini.


“Welcome to the reality. Sepertinya aku harus berusaha mendapat tambatan hati. Bukan maksudnya mencari pelarian, tapi kehidupanku sudah selayaknya mendapat pelabuhan.”


Elis memang sudah tak muda lagi. Mungkin di luar negeri sana usia menjelang tiga puluh bukanlah usia yang tua, namun di Indonesia hal ini masih menjadi perbincangan jika ada wanita dengan usia yang dianggap matang masih melajang atau bahkan belum memiliki pasangan. Dan Andre bukanlah kandidat yang tepat untuk dikejar karena sungguh untuk bersanding dengannya saingan yang harus dihadapi terlalu berat.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2