
Hai, hai.
Mari tinggalkan jejak, biar Senja cair idenya, wkwkwkw
HAPPY READING
Setelah seharian membebaskan diri dari sibuknya pekerjaan, Dika kini sudah kembali pada aktivitasnya bersama Rina disampingnya. Setelah menerima laporan dari beberapa divisi, sekarang waktunya Dika untuk beristirahat sejenak di jam makan siang.
“Makan di luar?” tanya Dika yang menghampiri Rina di mejanya.
Rina mendongak, menatap suaminya yang tetap menjulang meski telah sedikit merendahkan tubuhnya. “Aku sudah pesan. Nggak apa-apa ya makan di sini saja.”
“Nevermind,” ujar Dika dengan santai. Ia tak pernah mempersulit Rina, termasuk tak pernah menuntut istrinya untuk membuatkan makanan untuknya, karena ia tahu benar istrinya ini sangat tidak ahli dalam membuat makanan.
Dika melihat sekilas apa yang istrinya kerjakan. “Apa ada masalah?” tanya Dika saat melihat dahi istrinya yang berkerut.
“Enggak sih, tapi kayaknya performa cabang perusahaan ini mengalami penurunan. Apa tak sebaiknya dilakukan evaluasi sebelum semuanya terlalu sulit untuk ditangani?” ujar Rina dengan mendongak lagi.
Dika menari kursi agar ia bisa duduk dan melihat dengan lebih jelas apa yang baru saja Rina tunjukkan.
“Iya juga sih. Ini yang pernah dibahas Andre beberapa waktu lalu,” gumam Dika.
Rina menatap suaminya seakan bertanya.
“Andre juga sudah pernah bilang, cuma waktu itu kita sedang disibukkan dengan proyek lain jadi aku lupa di sector ini juga ada masalah,” jelas Dika kemudian.
Saat Dika dan Rina mulai serius, tiba-tiba terdengar suara pintu yang diketuk.
“Masuk…”
Tak lama kemudian muncullah Elis bersama seorang pria di sampingnya.
"Oh, bawa sini aja Pak," ujar Rina sambil bangkit dari kursinya. Ia segera mempersilahkan masuk kurir pengantar makanan yang ia pesan sebelumnya.
“Makasih Elis, kamu sudah bisa melanjutkan pekerjaan kamu,” ujar Rina mempersilahkan Elis meninggalkan ruangan kerja suaminya.
“Sudah Nona. Mohon ini diterima…” Pria itu menyerahkan bill yang harus Rina bayar setelah ia mengeluarkan semua makanan yang dipesan.
“Sebentar,” ujar Rina sambil meraih dompet untuk mengambil uang. Setelah mengambil sejumlah yang dia butuhkan, ia segera menyerahkan sejumlah uang tersebut.
“Kembaliannya buat Bapak,” lanjut Rina cepat saat pria itu hendak mengambilkan kembalian.
__ADS_1
Raut bahagia terpancar dari wajah lelah pria itu. “Terimakasih, Tuan, Nona. Saya permisi dulu.”
“Iya Pak. Sama-sama,” jawab Rina sementara Dika hanya menganggukan kepala.
Rina membuka satu-persatu makanan yang tertata di atas meja. Ia menyiapkan semuanya untuk makan siang ia dan suaminya.
“Sayang, ayo makan dulu, habis itu kita sholat,” kata Rina saat Dika tak juga mengalihkan pandangannya dari layar monitor yang semula dilihatnya dengan Rina.
“Sayang, bekal kita di dunia sudah lebih dai cukup, tapi yang buat akhirat masih jauh dari cukup.”
Alih-alih kesal, Dika tersenyum kecil mendengar perkataan istrinya. Ia segera bangkit dan berjalan meninggalkan pekerjaan untuk menghampiri istrinya.
“Nggak sholat dulu aja,” usul Dika.
“Aku lapar. Aku nggak mau pas sholat malah kepikiran makanan,” ujar Rina sambil mengambilkan makanan untuk Dika.
“Belajar dari mana yang kayak gitu?” tanya Dika.
"Yang mana?" tanya Rina menjeda kegiatannya.
"Yang ngomong itu barusan," jelas Dika.
“Dari ayah, waktu beliau ngomong sama mama,” jawab Rina sambil menyerahkan makanan yang ia ambilkan untuk Dika.
Rina mengambil kembali piring yang baru ia serahkan. Ia menambahkan buncis seperti yang diminta Dika.
“Segini cukup?”
“Udah. Makasih sayang…”
Setelah mengambilkan makanan untuk suaminya, Rina kemudian mengambilkan makanan untuk dirinya sendiri. Keduanya kemudian makan siang bersama.
***
Setelah pertemuan malam itu, Ken sama sekali tak menemui Dian. Mereka masih berkomunikasi sesekali, hanya saja Ken jadi tak seintens dulu memberi kabar atau pun menayakan kabar dari Dian. Sekarang jadi lebih banyak Dian yang
menghubungi Ken ketimbang Ken yang menghubunginya.
“Kenapa sekarang rasanya ada yang hilang saat biasanya ada yang ngerecoki sedang kan sekarang tak ada yang bawel kapan saja menghubungi.” Dian bermonolog sambil duduk seorang diri di ruang kerjanya. Ia kini sedang ada di sebuah bangunan yang belum selesai 100% pengerjaannya. Namun ia meminta untuk dibuatkan 1 ruang terlebih dahulu sebagai ruang kerjanya, agar ia dapat memantau laju pembangunan calon restonya tersebut.
Ini adalah restoran Chinese food pertama miliknya. Sejak kenal Ken, ia jadi sering makan masakan China yang Ken rekomendasikan. Berasal dari etnis Tionghoa membuat Ken tak bisa jauh-jauh dari makanan China. Hal ini membuat Dian sebagai salah satu orang terdekatnya ikut-ikutan suka dengan beberapa jenis makanan khas China yang juga tak sulit ditemukan di Indonesia.
__ADS_1
Dian memang hobi makan dan suka masak. Jika ia menumukan makanan baru yang menurutnya enak, ia pasti akan segera mempelajari cara membuat makanan tersebut. Begitu pun dengan makanan China. Sejak Ken mengenalkan ia dengan berbagai makanan favoritnya, diam-diam ia sering belajar memasaknya. Dan puncaknya adalah malam itu, dimana ia dapat membuat masakan China yang nantinya akan
menjadi salah satu menu di restoran barunya. Ia ingin Ken mencicipi dan menjadikan restoran baru ini sebuah kejutan untuk dia.
Tapi sayangnya kenapa Ken tak bisa bersabar. Tak bisakah mereka tetap seperti ini menikmati kedekatan tanpa disibukkan dengan menentukan status hubungan? Dian tak mau terburu-buru menjatuhkan pilihan untuk menentukan siapa pendamping hidupnya kelak. Ia tak mau salah pilih dan menyesal kemudian.
Dian tak bisa menahan diri untuk menghubungi Ken. Ia merasa sepi saat tak ada suara berisik pria ini yang biasa mengganggunya setiap hari.
Dian membuka kunci layar ponselnya dan mulai mencari nomor Ken di sana. Tak mau menunggu lebih lama lagi, ia segera mendial nomor itu dan menempelkan ponselnya di telinga.
“Ken, angkat dong.” Dian bergumam karena tak sabar menunggu panggilannya dijawab oleh Ken di seberang sana.
“Halo…”
“Ken, ya ampun. Kenapa kamu hilang begitu saja. Aku kan…”
“Bentar Di.” Ken memotong ucapan Dian tiba-tiba.
“Sayang. Kenapa makanannya masih dianggurin, masa iya nunggu disuapin?” Dian menutup mulutnya saat terdengar suara wanita yang sedang mengajak Ken berbicara.
“Iya, iya. Nanti Ken makan,” terdengar suara Ken menjawab suara wanita itu tadi.
Ya Tuhan, kenapa Ken bisa secepat ini.
Dian tak mau lebih banyak mendengar kemesraan Ken di dalam panggilannya. Ia segera memutus panggilan itu dan meletakkan ponselnya begitu saja.
Aku harusnya tak marah. Bukankan aku sudah menolaknya, lantas apa salahnya jika Ken melabuhkan hati pada wanita yang mau menerimanya.
Dian coba menenangkan hatinya. Tapi rasa kecewa itu terus saja merasuk di hatinya.
Tuhan, bagaimana perasaanku yang sebenarnya?
Dian memejamkan mata beberapa saat. Setelah matanya terbuka, ia kemudian menatap ponselnya yang kelihatan tenang-tenang saja.
“Lihatlah, bahkan Ken tak balik menghubungiku saat aku memutus panggilannya secara sepihak.” Dian tertawa miris dengan nasibnya.
“Andre, apakah aku harus lebih keras memperjuangkanmu? Meskipun ada wanita di sampingmu, tapi aku yakin jika aku masih menjadi tujuan utamamu.”
Tangan Dian kembali menari di atas ponselnya. Raut bahagia langsung menghiasi wajah cantiknya saat panggilan yang baru dibuatnya langsung tersambung.
“Andre…”
__ADS_1
Bersambung…