
^^^Tulis pendapat kalian tentang part ini.^^^
...*HAPPY READING*...
Mengenakan dress berlengan panjang dengan aksen tali dipinggang membuat perempuan muda ini tampak begitu anggun. Mengenakan sepatu berhak dengan warna senada membuatnya percaya diri saat berjalan.
Ia menyapa audience sebelum memulai presentasi. Ia berbicara dengan tenang layaknya orang yang sudah berpengalaman. Sekilas siapapun tak mengira jika ia merupakan mahasiswa semester akhir yang tengah mempresentasikan hasil karyanya.
Tepuk tangan riuh memenuhi ruangan setelah Rina Malinda mengucapkan penutup. Standing applause didapatnya dari beberapa profesional yang sengaja hadir di sana.
Ia melangkah dengan senyum lebar dari podium menuju tempat duduknya.
Saat baru saja mendaratkan pantat, seseorang datang dengan membawa bucket bunga berukuran besar.
"Selamat Kakak."
Rina menerima bucket besar itu dan memeluk gadis cantik yang menyelamatinya ini.
"Makasih sayang."
"Tadi kakak yang nyuruh aku kesini. Takut kalau ada laki-laki laki lain yang datang dan lebih dulu kasih bunga buat Kak Rina."
Gadis cantik ini adalah Rista, adik Dika suaminya. Di tahun ketiga pernikahannya, Rina masih kekeh menyembunyikan pernikahan mereka. Sehingga pantang untuk Dika menemuinya di ruang publik seperti ini.
" Makasih banyak ya, di datengin artis itu rasanya bahagia tahu nggak."
"Kakak bisa aja."
"Emang kamu lagi gak ada jadwal?"
"Jadwal apa sih Kak, orang aku nyanyi cuma buat seneng-seneng bukan jadi profesi, jadi aku nggak mau ngoyo lah. Lagian bentar lagi aku juga kuliah, mungkin nggak akan ada nama Rista di panggung lagi."
"Kamu emang rela?"
"Rela Kak. Dan lagi papa sama mama juga nuntut aku kudu bertahan di dunia hiburan."
Jika sebagian orang menganggap menjadi artis merupakan sebuah profesi penghasil uang yang menjanjikan namun berbeda bagi sebagian mereka sudah ditakdirkan kaya. Mereka tak ingin terlalu muncul di media dan menggadaikan ketenangan hidup mereka dengan popularitas. Hanya saja Rista yang sempat merasa dunianya mati menemukan kesenangan di sini, jadi menjadi penyanyi tak lebih dari sekedar cara menghibur diri.
"Oke lah."
Keduanya segera keluar dari ruang auditorium dan berjalan menuju tempat parkir.
"Hai Rin."
Rina dan Rista langsung berhenti saat seorang pria menghampiri mereka.
"Iya Rey, ada apa?"
"Selamat ya. Kalau dilihat-lihat sepertinya presentasi kamu berhasil dan karya kamu mendapat apresiasi bagus."
"Alhamdulillah."
"Oh iya, ini dari aku, ucapan selamat buat keberhasilan kamu."
Pria yang disapa Rey itu menyodorkan bucket bunga yang ia bawa.
"Ma ka sih, ya." Rista menghalau tangan pria ini. Ia pun sengaja memberi penekanan pada setiap ucapannya.
"Nih lihat Kak Rina udah punya. Lebih besar dan isinya mawar semua," lanjut Rista.
Rina tersenyum melihat polah adik iparnya. Persis seperti Dika yang selalu tak suka apa bila ada yang sok perhatian terhadapnya.
"Yuk Kak."
Rista menarik Rina tanpa permisi kepada Rey. Pemuda itu tampak kesal saat menatap mereka pergi.
"Cantik-cantik galak. Awas aja jatuh cinta."
__ADS_1
Rey merupakan anak salah satu dosen Rina. Sejak pertemuan tak sengaja beberapa bulan lalu, Rey suka datang ke kampus dan mencoba mengenal Rina. Namun Rina tak pernah peduli karena ia sudah punya lelaki sempurna sebagai suami.
"Ini mau ke mana sih Ris?" tanya Rina saat Rista tak memberi tahu tujuan mereka.
"Entar juga tahu," jawab Rista sebelum kemudian memasang headset di telinganya.
Rina coba menghubungi suaminya, namun tak ada jawaban di seberang sana. Mungkin kamu sedang sibuk. Pikir Rina.
Rina kemudian coba menghubungi sang mama yang hampir sebulan tak ditemuinya.
" Halo Ma, assalamualaikum."
"Waalaikum salam. Gimana kabar kamu Nak."
"Alhamdulillah Ma, baik. Papa Mama gimana?"
"Alhamdulillah. Kita sehat. Kamu lagi dimana?"
"Lagi di jalan Ma. Rina baru kelar ujian Ma," tukas Rina bahagia.
"Gimana hasilnya?" tanya Ririn penasaran.
"Rina dapat standing applause Ma," pekik Rina dengan girangnya.
"Alhamdulillah. Selamat sayang ya. Perasaan kamu gimana?"
"Ya seneng lah Ma. Rina nggak sabar buat buat lebih banyak karya."
"Mama cuma bisa doain biar apa yang kamu cita-citain bisa cepat terlaksana." Dan juga bisa kasih Mama cucu segera, batin Ririn dalam hati.
"Makasih Mama. Udah dulu ya, salamin buat Papa, insyaallah Rina bakal berkunjung segera."
"Iya. Tinggal bilang aja kamu longgarnya kapan, sepertinya akan lebih gampang terealisasi kalau papa mama yang datangin kamu."
"Jangan gitu lah Ma, kita jadi malu sebagai anak."
"Makasih banget ya Ma."
"Iya sayang."
"Ya udah Ma, ini Rina lagi lagi di jalan di jemput Rista."
"Mau kemana memangnya?"
"Nggak tahu nih Ma, surprise katanya."
"Ya sayang. Kamu hati-hati ya, jaga kesehatan, jangan lupa makan."
"Makasih, Mama juga ya."
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Rina menatap sejenak ponsel di tangannya sebelum kembali menyimpannya.
"Rista..."
Rina mengguncang-guncangkan tubuh adik iparnya karena merasa terus diacuhkan.
"Kenapa Kak?"
"Ini sebenarnya mau ke mana sih?"
"Ke kantor kak Restu. Dah tenang aja."
"Ha? Kudunya kita bilang dulu Ris, kalau dia sibuk gimana?" panik Rina karena ia tahu adik iparnya ini pasti akan merecoki pekerjaan sang kakak.
__ADS_1
"Tenang aja. Kita punya posisi yang lebih penting dari pekerjaan kak Restu," ucapnya dengan penuh percaya diri.
"Ck. Ya tapi nggak bisa gitu dong."
Rina terlambat untuk mencegah, pasalnya mereka kini telah tiba di depan lobi kantor Dika.
"Hayuk Kak."
Rista keluar begitu saja tanpa menunggu Rina.
"Kakak ada kan?" tanya Rista pada resepsionis.
"Ada Non, tapi beliau masih ada..."
"Eh, Non, Non Rista!"
Rista tak butuh penjelasan. Ia hanya ingin tahu kakaknya ada di tempat atau tidak. Selain itu tak penting.
"Ya Tuhan."
Rina mempercepat langkahnya saat mendengar teriakan dari resepsionis.
Rina yang berlari mengundang perhatian dari puluhan karyawan yang berlalu lalang.
"Astaga."
Rista bahkan sudah naik lift yang hanya digunakan oleh Dika dan orang tertentu saja termasuk dirinya. Tak ingin lebih lama menunggu, akhirnya Rina menggunakan lift lain yang biasa digunakan karyawan.
Ada beberapa orang lain yang masuk bersamanya. Rina tak peduli dengan tatapan tak bersahabat yang mereka layangkan padanya.
"Jadi kamu wanita yang rajin banget datengin pak Restu?" tanya seorang wanita muda yang nampaknya masih baru di sana.
Rina hanya tersenyum dan tak berniat menanggapi. Seseorang yang lain nampak menyenggol bahu perempuan muda ini untuk memperingati.
"Dan sepertinya udah dicabut hak make privat lift."
Rina menghela nafas. Ia harus sabar.
"Kamu juga nggak punya kemampuan kayaknya, makanya cuma bisa nemplok dan nggak dapet posisi di kantor ini."
"Sstt." kembali seseorang di samping perempuan ini memperingati, tapi nampaknya perempuan muda ini tak begitu peduli.
Rina mencoba menatap perempuan ini. Tubuhnya bagus, wajahnya lumayan, hanya saja wajahnya terlalu banyak polesan. Batin Rina.
Rina coba menatap langsung wajah perempuan ini.
"Apakah kedatangan saya mengganggu anda?"
"Jelas. Kalau kamu datang, pekerjaan bos kami akan terganggu, dan hal itu sedikit banyak akan memengaruhi pekerjaan kami sebagai karyawan," ucapnya dengan bangga.
"Lagian apa kamu tak punya pekerjaan selain mengganggu bos kami. Sepertinya kamu juga bukan bagian dari keluarga pak Restu, dan setahu kami pak Restu juga single," lanjut perempuan muda itu dengan berani.
Ting
Rina menahan pintu lift agar tetap terbuka. Dengan senyum percaya diri, ia menatap perempuan tadi.
"Kalau dengan sedikit gangguan saja kamu tidak dapat bekerja dengan baik, lebih baik berhenti sebelum diberhentikan. Permisi."
"Kamu..."
"Udah-udah."
Sayup-sayup Rina mendengar pegawai lain yang bersama perempuan muda ini merutuki perbuatan rekannya. Ia tak ingin berbalik hanya untuk tahu apa yang mereka perdebatkan. Meski tak pernah ada yang sefrontal ini, namun Rina sudah tak panik jika harus menghadapi situasi seperti ini.
Dia terus berjalan dengan wajah tegak menuju ruangan suaminya. Ia harus menjadi wanita tangguh untuk dapat bersanding dengan Dika.
TBC
__ADS_1
Hawanya masih remaja apa udah dikit beda nih?