
HAPPY READING
Andre bak orang kesetanan berlari meninggalkan ruangan setelah tak sengaja mendengar percakapan Dika dengan istrinya yang mengabarkan bahwa Hana ditemukan tergelak tak sadarkan diri di kamar mandi. Andre mengabaikan semua pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, dan tak memperdulikan apakah Dika mengijinkannya atau tidak.
Dika yang khawatir dengan kondisi sekertarisnya, juga segera berlari mengejar Andre.
“Gue yang nyetir…”
Dika menahan tangan Andre yang sudah hendak menarik handle pintu mobil. Andre tak menjawab. Ia berlari memutar dan duduk di samping kemudi. Dika kemudian menjalankan mobilnya menuju rumah sakit dimana Hana dilarikan.
Andre terlihat kacau. Ia melonggarkan dasinya bahkan langsung dilepas dan dilempar begitu saja. Jasnya pun segera di tanggalkan dan ikut dilempar ke jok belakang.
Dika yang melihat ada sebuah botol air mineral yang terletak di dashboard mobil Andre. Ia segera mengambilnya dan menyodorkannya segera kepada Andre.
“Minum…”
Andre tak menjawab. Ia hanya menerima uluran Dika dan segera meminumnya.
“Calm down dude. Jangan panic saat seperti ini…” ujar Dika saat melihat Andre selesai meminum air mineral yang selalu ada di mobilnya.
“Kenapa semua serba beruntun seperti ini. Kenapa aku tak diberi jeda untuk memikirkan apa yang sebaiknya harus aku lakukan…”
Dika menghela nafas. Hubungan percintaan Andre memang sulit. Meski hubungan ini diawali sebuah kesalahan, tapi ia kasihan juga dengan segala rintangan yang harus dihadapi sekertarisnya ini.
Selesai ia meratap, ia menoleh ke arah Dika dengan gerakan cepat. Nampak jelas ada hal yang menyergap di pikirannya tiba-tiba. “Gimana kantor kalau kamu ada bersamaku?” tanya Andre akhirnya.
“Udah. Everything gonna be all right. Tenang saja. Yang penting kamu sekarang tenang dan pikirkan langkah apa yang akan kamu ambil kemudian,” ujar Dika dengan santai di balik kemudi.
“Thanks Dika. Aku nggak tahu gimana nasibku kalau bosku bukan kamu.”
“Aku sahabatmu.”
“Terimakasih…”
Andre memejamkan mata dan memijat pelipisnya. “Hana, kamu harus kuat Hana…” lirihnya.
__ADS_1
Dika sejenak menepuk pundak sahabatnya sebelum kembali menggenggam kemudi. yang jelas mereka harus tiba di rumah sakit segera.
Di rumah sakit, sekarang Hana sedang di tangani. Rina sedang menunggu di depan ruangan bersama Novi dan Lili. Dari ketiga orang ini terlihat Novi yang paling ketakutan. Ia memang belum pernah melihat kondisi Andre yang paling gelap, namun melihat dari kebiasaannya ia yakin ia pun tak akan dibiarkan baik-baik saja jika terjadi sesuatu dengan Hana. Ia digaji sangat tinggi untuk sebuah tanggung jawab terhadap keselamatan Hana dan anak yang ada di kandungannya. Dan jika terjadi apa-apa dengan mereka, dapat dipastikan pula jika ia harus membayar mahal untuk kecerobohannya.
Harusnya aku semalam minta tidur dengan Nona saja, tak apa-apa tidur di lantai, asal bisa memastikan keselamatan nonanya ini. Gara-gara aku tak berani masuk pagi ini, aku jadi tidak tahu kalau Nona terjatuh di kamar mandi dan mengalami pendarahan lagi seperti ini. Batin Novi yang benar-benar menyesalkan kecerobohannya.
“Hana gimana?” tanya Andre yang baru saja datang dengan tergesa menghampiri Rina dan dua orang wanita yang bersamanya.
Karena Rina diam saja, ia kemudian menatap Novi, perawat yang ia bayar khusus untuk menjaga Hana. Novi nampak meringis saat Andre mencengkeram kedua pundaknya dengan erat. Tatapan tajam Andre membuat Novi kian diam larut dalam rasa bersalah dan ketakutan.
”Bagaimana Hana bisa jatuh, apa kamu tidak menjaganya...”
Novi mulai gemetar mendengar suara rendah Andre. Tak ada bentakan namun sarat akan emosi dan kemarahan. Ia benar-benar tak tahu harus menjawab apa.
Terdengar derap langkah dari arah Andre datang. Bahkan Dika yang kakinya panjang saja sempat ketinggalan saat mengejar Andre yang berlari sejak keluar dari mobil. Sekarang ia baru saja bisa menyusul sahabatnya ini yang sepertinya telah menemukan orang yang akan menjadi sosok pelampiasan kemarahannya.
“Udah Ndre udah. Jangan buat gaduh. Ini di rumah sakit,” ujar Dika saat sudah berhasil menjangkau Andre.
“Tapi dia sudah nggak becus menjaga Hana.” Andre tak bisa menahan kekesalannya.
Andre melepaskan cengkeramannya pada Novi. Sekarang Dika membawanya duduk bersampingan dengannya. Dika sesekali mengusap punggung Andre untuk meredakan emosi sahabatnya ini.
Dika sebenarnya juga penasaran bagaimana Hana sampai bisa mengalami accident di rumahnya. Namun jika ia
bertanya, bisa-bisa Andre menggila dan bisa membabat siapa saja. Akhirnya Dika hanya bisa bermain mata dengan Rina namun tak satu pun dari keduanya mau terlebih dahulu membuka suara.
Setelah sekian waktu menunggu, pintu ruang operasi pun terbuka. FYI, begitu tiba di rumah sakit, Hana langsung digotong ke ruang operasi karena kondisi harus mendapatkan penanganan segera. Ia tak hanya pingsan, namun juga pendarahan yang ia alami cukup mengkhawatirkan.
Andre menyingkirkan tangan Dika untuk menghampiri seseorang dengan pakaian serba hijau yang muncul dari balik pintu.
“Bagaimana kondisi istri saya…?”
Tidak ada yang mendebat Andre mengenai bagaimana ia mengakui Hana. Karena pria ini berikrar cepat atau lambat ia pasti akan menikahi wanita ini.
“Maaf Pak, saya belum bisa menjelaskan detailnya, yang jelas Nona Hana membutuhkan darah sekarang. Jadi saya harap dari pihak keluarga bisa mengupayakan sekarang,” ujar wanita ini sambil menyerahkan selembar kertas.
__ADS_1
Andre menerima kertas itu, dan sekilas memba isinya. Ia tak sadar jika perawat itu bersiap menutup pintu. Saat Andre sadar, ia menahan pintu yang hampir tertutup.
“Tapi bagaimana kondisi istri saya dan anak...”
"Maaf Pak, operasi masih berjalan," potong wanita ini dan mendorong pintu dari dalam lebih kuat.
Brak!!!
Andre menggebrak pintu yang baru saja tertutup. Andre mencak-mencak dan beberapa kali memukul pintu dengan kuat.
“Andre, Andre…”
Dika segera menahan Andre. Karena jika tidak, pintu di
hadapannya ini bisa dijebolnya saat ini juga.
Bugh!!
Dika yang merasa kewalahan akhirnya tak mampu lagi menemukan cara selain ini. Andre langsung tersungkur saat harus merasakan bogem mentah yang Dika berikan. Rina menghela nafas saat melihat suaminya seperti ini lagi. Sementara Lili yang sedikit terkejut hanya menatap Nonanya sekilas. Ia mengurut dada saat melihat Rina nampak baik-baik saja. Namun berbeda dengan Novi. Tanpa ada yang tahu, ia sekarang gemetar dan sudah tak mampu berdiri tegak lagi. Jika tak memegangi sandaran kursi, mungkin Novi sudah terduduk sejak tadi.
“Sadar Ndre sadar. Dengan kamu ngamuk seperti ini, masalah tak akan selesai,” ujar Dika sambil menatap lelah sahabatnya ini.
Actually, bukan perkelahian yang terjadi pada Dika dan Andre saat ini. Yang baru saja dilakukan Dika tak lebih dari sekedar menyadarkan Andre untuk segera mengembalikan pemikiran rasionalnya. Hana butuh dia, Hana butuh Andre untuk bertahan. Dan yang ia butuhkan bukan Andre yang emosinya meluap-luap seperti ini, tapi Andre yang akan bersamanya menghadapi semua cobaan ini.
Dika merangkul tubuh Andre yang sudah tak ngotot seperti tadi. Pria ini sudah mengendurkan ototnya dan terduduk lemas di atas lantai. Ia nampak merenung sementara Dika masih meletakkan tangannya di pundaknya.
“He kamu…”
“Kamu siapa maksudnya?” tanya Rina untuk memastikan siapa yang suaminya maksudkan.
“Ya yang berdiri itu.” Dika menghela nafas dan bangkit melepaskan tangannya dari pundak Andre. Dengan sebelah tangan dimasukkan ke dalam saku, Dika berdiri tepat di
hadapan Novi.
Novi yang semula gemetar mendadak mau pingsan. Berada dengan jarak sedekat ini dengan pria setampan ini membuatnya ngefly paripurna. Ia lupa jika pria tampan di hadapannya ini sudah ada yang punya, bahkan ada di sana juga. Dia bengong melihat mulut Dika bergerak namun tak ada suara yang mampir ke telinganya.
__ADS_1
Bersambung…