Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Saling Menguatkan


__ADS_3

HAPPY READING


“Aku nggak bisa. Sorry…”


“Kamu…”


“Andre.” Dengan suara rendahnya dan gerakan kecil tangannya, Dika berhasil membuat Andre yang semula bangkit langsung kembali ke tempatnya.


Setelah menatap Andre kini Dika menatap pria dewasa di hadapannya. “Oke. Terimakasih banyak Rio. Terimakasih untuk kerelaanmu terhadap hubungan Hana dan Andre. Aku sadar hati itu tak bisa dipaksa. Dan aku menghargai itu,” ujar Dika kemudian


Dika menghela nafas dan beralih menatap Andre lagi. “Dan Andre, sekarang tata dirimu dan segera temukan Hana. Bukankah itu lebih penting daripada kamu terus mencari kambing hitam.”


Andre terdiam. Sepertinya ucapan Dika ini ada benarnya.


“Dika, aku hari ini mau ijin dulu boleh kah?” tanya Andre kemudian.


“Kalau aku tak mengundangmu ke kantor hari ini apa ada niatanmu untuk meminta ijin atas kemangkiranmu hari ini?” sarkas Dika.


Andre hanya tersenyum tak enak dengan ucapan bosnya.


Dika sendiri juga tertawa setelah menyelesaikan ucapannya. “Pergilah Andre. Namun hanya hari ini aku memberikanmu ijin. Besok kamu harus sudah bekerja seperti biasa. Aku tak masalah apa yang kamu lakukan untuk mencari Hana, yang jelas jangan lupakan kewajiban pekerjaanmu,” ujar Dika mengingatkan.


Andre mengangguk mantab. "Saya permisi dulu,” ujar Andre sambil menatap Dika dan dua orang lain yang ada di sana.


“Andre…”


Saat Andre hendak menarik gagang pintu, tiba-tiba Rio memanggilnya. Andre tak menjawab dan hanya berbalik dan menatap pria tampan berperawakan sedang yang tengah menatapnya ini.


“Segera temukan Hana dan…” Rio nampak ragu dengan ucapannya. “Dan pastikan ia tak muncul di depan papa saya,” lanjut Rio setelah beberapa helaan nafas.


“Kamu tenang saja.” Andre balik badan danmelanjutkan langkahnya pergi meninggalkan ruangan Dika.


Di dalam tersisa tiga orang. Dika yang masih diam di kursi keberarannya, Melvin yang entah sejak kapan sudah asik dengan ponsel yang dimiringkan dan Rio yang duduk dalam ketidak tenangan.

__ADS_1


“Ehm…” Rio berdehem untuk mencairkan suasana. Namun apa yang dilakukan Rio tak mendatangkan hasil seperti yang dimaunya. Dika tak bersuara dan masih diam menatap dirinya.


“Apa ada yang perlu dibahas lagi?” tanya Rio akhirnya setelah yakin Dika tak ada niat untuk membuka suara.


Hanya sebuah helaan nafas yang menjadi reaksi Dika. Dan hal ini justru membuat Rio makin segan untuk berpamitan.


Tuk, tuk, tuk, tuk, tuk, tuk, …, tuk


Dika mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, sembari diam entah memikirkan apa. Dan setelah sebuah helaan nafas, ia mulai menatap Rio lekat.


“Rio…”


“Iya…”


Di sini rupanya power umur sudah dilupakan. Jabatan dan kedudukan rasanya paling dominan. Lihat saja bagaimana Rio terlihat menjaga sikap di depan Dika yang notabene usianya jauh lebih muda dari pada dia. Bahkan Melvin pun yang juga berusia diatas Dika patuh dengan apa tang diucapkan pria muda ini.


“Kita sama-sama pengusaha, benar?” tanya Dika.


“Iya…” singkat Rio.


“Iya…”


“Nah, kamu tahu kan jika Andre terus-terusan labil seperti ini saya kehilangan salah satu mesin pencari uang, jadi sebagai sesame pebisnis, kira-kira langkah apa yang menurut kamu harus saya tempuh untuk menstabilkan salah satu mesin pencari uang saya?”


Rio menelan ludah. Jelas sekali pria muda ini ingin sekali mempermainkannya. Apa yang harus Rio katakan, yang menjadi penyebab ketidak stabilan Andre adalah Hana. Wanita yang ia tolak sebagai adiknya, namun fakta tak pernah sejalan dengan maunya. Terlebih setelah mendengar penuturan Andre atas pengorbanan Hana yang bersedia menjadi boneka ayahnya hanya agar Rio tak perlu melakukan apa yang ia tak mau.


Setelah apa yang Hana lakukan, bukannya Rio berterimakasih namun justru malah membencinya karena menganggap Hana ingin merebut hati papanya. Rio sadar, penjahat kelas kakap pun akan merasa tak tenang saat melakukan kecurangan, terlebih bagi seorang yang pada dasarnya berhati lembut pastilah akan merasa sakit jika melakukan hal yang bertentangan dengan hati kecilnya. Itu lah kurang lebih yang dirasakan Hana.


“Sebenarnya Hana tak pernah membuat kesalahan terhadapku,” ujar Rio tiba-tiba.


Dari tempatnya Dika tersenyum samar. Akhirnya ia berhasil membuat Rio terombang-ambing. Rio sekarang sudah seperti bocah bandel yang sedang menghadap guru BP. Menekan tanpa bentakan, nada tinggi, dan umpatan. Dika benar-benar menjalankan dengan baik perannya sebagai pencair hati yang telah lama beku.


“Aku hanya tak bisa terima saat ada anak lain yang itu bukan mama yang lahirkan. Aku takut jika sampai kehilangan papa jika aku tak mati-matian mempertahankannya.”

__ADS_1


“Saat papa selalu mengangung-agungkan hartanya yang cukup banyak dibagi berdua rasanya aku ingin meledak.”


“Aku tak peduli dengan kekayaan papa sama sekali. Aku bisa cari sendiri dan kurasa cukup untuk makan kenyang dan hidup nyaman. Tapi bukan itu, bukan itu yang tak ingin aku bagi. Aku tak ingin berbagi papa.”


Dika terus memperhatikanbaik-baik apa yang Rio katakan.


“Aku sakit Dika, sakit. Aku sakit saat melihat mama diam-diam menangisi papa yang lebih perhatian dengan perempuan lain. Terlibih itu adalah…”


Rio tak enak melanjutkan ucapannya. karena yang akan ia bicarakan adalah orang yang sekarang ia yakini sudah tak ada di dunia ini.


Dika mengangguk paham. “Rio, tapi sekarang nyatanya om Galih dan tante Mustika masih bersama kan? Apa kamu lupa kalau Rudi yang sekarang hidup bersama mama itu bukan papa kandungku?” ujar Dika membeberkan kenyataan hidupnya.


Rio tersentak dan kembali menapak kenyataan. Kehidupan Dika nyatanya tak kalah pahit dengan dia.


“Dia adalah ayah tiriku,“ ujar Dika dengan mata menerawang. “Papa dan mama bahkan harus bercerai dan tak lama setelah perceraian itu papa benar-benar pergi meninggalkanku.”


“Itu rasanya sakit Rio, sakit.”


Rio mengangkat wajahnya dan langsung bertemu tatap dengan Dika. Keduanya sama-sama pernah merasakan kehancuran di rumah mereka. Bedanya kini Dika sudah bisa berdamai dengan kenyataan sedangkan Rio masih tenggelam dalam kebencian.


“Tapi setidaknya papa atau mamamu tak punya anak dari pasangnya yang lain,” lanjut Rio lagi.


Dika tersenyum kecut. Sayang ia tak mungkin mengungkap aib orang tuanya dengan mengatakan Rista adalah anak dari ayah tirinya yang terjadi di tengah pernikahannya dengan almarhum papanya.


“Saya tak mau membandingkan aib orang tua kita, yang jelas saran saya buka mata kamu, buka telinga kamu dan terima kenyataan yang terjadi sebenarnya. Karena sering kali apa yang kita sangkakan tak sesuai dengan kenyataan,” ujar Dika sungguh-sunggah.


Rio beradu tatap dengan Dika beberapa waktu. Keduanya seakan sedang bertukar keyakinan dan saling menguatkan. Karena bagaimana pun juga baiknya kehidupan Dika kini, dadanya masih terasa nyeri saat mengingat masa-masa terpuruknya kala itu.


Kkrrkkk!!!


“Bangs*t!!”


Spontan Rio dan Dika menoleh.

__ADS_1


Bersambung… 


__ADS_2