
Jangan lupa tinggalkan jejak.
*HAPPY READING*
Dika berjuang keras melawan ketakutannya. Meskipun harus dengan dampingan Rina dan Rudi, akhirnya ia tak kabur lagi saat diambil sampel darahnya.
“Apakah sudah selesai?” tanya Dika yang masih memejamkan matanya.
“Sudah Pak,” jawab Sidiq sambil menekan bekas jarum itu dengan kapas. Rina menggantikan tangan Sidiq, dan menekan kapas itu ke tangan suaminya.
“Nggak mati kan?” sarkas Rina sambil sesekali mengecek bekas suntikan di lengan Dika.
Dika hanya diam sambil memperhatikan apa yang Sidiq lakukan dengan darahnya. Setelah ia selesai ganti Rina yang melakukan serangkaian pemeriksaan. Dia berbaring dan segera diperiksa oleh dokter Halima. Ia menjawab setiap pertanyaan dan mendengarkan setiap nasehat yang diberikan. Kemudian ia dimbil darahnya sepeti yang dilakukan pada Dika. Bedanya ia tak heboh seperti suaminya.
“Alhamdulillah, selesai juga,” gumam Dika setelah keluar dari ruangan donter Halima.
“Masih takut sama jarum suntik Pak Restu?” tanya Rina dengan suara yang kental sekali dengan nada mengejeknya.
“Enggak sih, tapi kalau ada pilihan untuk tak disuntik, aku akan lebih memilihnya,” ujar Dika sambil merangkul bahu istrinya.
“Kita makan siang di luar aja ya,” usul Dika.
“Aku sih terserah kamu,” jawab Rina dengan senyum manisnya.
Di depan rumah sakit, mobil sudah terparkir dengan rapi menunggu kedatangan mereka. Saat melihati kemunculan keduanya, mobil langsung terbuka pintunya.
“Makan burger boleh nggak sih?” tanya Rina begitu mobil mulai berjalan.
“Jangan lah sayang, kan tadi dokter juga sudah bilang kalau kamu kudu jaga pola makan.”
“Ya tapi kan jarang-jarang.”
“Jarang-jarang kalau lagi sama aku, tapi kalau kamu lagi sibuk sendiri gimana.”
Rina hanya meringis sambil memamerkan deretan gigi putihnya.
“Kita ke resto healthy food aja ya, miliknya chef siapa itu, lupa aku namanya,” ujar Dika sambil mengingat-ingat.
“Chef cantik itu kan? Kalau nggak enak gimana?” Rina mengerucutkan bibirnya. Ia sudah membayangkan makanan yang hambar yang hanya fokus pada penampilan dan tujuan kesehatan saja yang persis seperti namanya, healthy food.
“Kamu coba dulu ya, pasti ada nilai plus dari resto mereka makanya mereka terkenal meskipun harganya relative mahal,” jelas Dika mencoba meyakinkan istrinya.
“Yang membuat resto itu terkenal pasti karena yang punya orang terkenal. Apa lagi kalau mempertimbangkan harganya yang mahal. Uanganya kalau beli makanan yang biasa kan masih sisa, nah sisanya bisa untuk ditabung. Karena keperluan kita kan nggak cuma makan, tapi yang lain juga banyak.” Rina benar-benar underestimate terhadap rasa dari healthy food. Jadi dia benar-benar ingin mengajak Dika untuk tak ke sana.
“Aku beli restorannya aja bisa, bayar chefnya untuk masakin kamu tiap hari juga bisa.”
Poor Rina. Kalau pun tak mau mengikuti ajakan suaminya, harusnya lebih creative lah dalam mencari alasan. Hindari uang sebagai alasan, dan temukan alasan logis lainnya. Karena suaminya ini adalah jajaran orang terkaya
__ADS_1
di Indonesia saat ini, jadi jika hanya untuk membayar healthy food saja pasti bukan masalah baginya.
“Gimana? Saya masih ada black card jika memang kurang, tapi sepeetinya hanya untuk hal seperti ini belum perlu saya keluarkan,”
Rina menghela nafas. “Sebagai istri yang sholehah, kewajibanku adalah patuh sama suami. “
“Terus yang tadi?”
“Aku hanya memastikan kamu nggak lupa kalau tabungan kita tak terhitung jumlahnya.” Ngeles lagi, itu lah uang Rina lakukan saat ini.
Tak ada pilihan selain pasrah, dan selanjutnya mereka akan makan siang di tempat yang telah Dika tentukan.
***
Andre meletakkan lembaran dokumen yang belum selesai dibacanya. Ia benar-benar kehilangan fokus dalam bekerja. Ia tak bisa fokus dengan apa pun yang sedang ia kerjakan. Pikirannya melayang pada kejadian tadi pagi, dimana ia pergi saat kondisi Hana nampak mengenaskan.
Ya Tuhan. Apa aku keterlaluan? Seharusnya ini setimpalkan dengan kelakuannya selama ini?
Andre bangkit dan berjalan kesana-kemari. Ia tak punya arah dan duduk kembali. Dia mengepalkan tangan karena pikirannya terus saja berputar dan kembali pada Hana.
Kenapa aku begitu mengkhawatirkan perempuan itu? Aku seharusnya tak boleh terlalu memikirkannya. Tapi mengapa bayangannya tak mau pergi juga.
Tok tok tok
“Masuk.”
“Maaf Pak Andre, investor dari Jepang yang rencananya akan datang hari ini baru saja mengabarkan jika mereka akan mengalami keterlambatan. Hal ini karena mereka ada kendala saat keberangkatan.”
“Jadi apa saja jadwal saya hari ini?”
Elis mengusap layar tabnya dan membaca setiap detail yang tertulis di sana. Dering ponsel Andre yang tiba-tiba membuat Elis menghentikan ucapannya. Andre mengusap layarnya untuk menjawab panggilan itu.
“Selamat siang Pak Restu,” ujar Andre saat panggilan itu tersambung padanya.
“Apa kamu sedang berada di kantor saat ini?” tanya Dika to the point.
“Iya Pak. Tapi baru saja calon investor dari Jepang mengabarkan keterlambatannya, dan mereka mengajukan reschedule dengan kita.”
“Kamu handle dulu masalah itu. Apa ada agenda urgent lain yang tak bisa kamu tinggalkan?”
Andre menatap Elis. “Tidak ada Pak. Anda free hingga malam nanti,” jawab Elis yang paham maksud tatapan Andre.
“Kosong Pak Restu,” ujar Andre kemudian.
“Baik kalau begitu kamu bisa istirahat karena saya sedang dalam perjalanan ke kantor. Saya yakin beberapa hari ini kamu bahkan tak cukup punya waktu untuk tidur.”
Andre menghela nafas lega. Saat ini ia memang sedang dalam keadaan tak bisa bekerja dengan baik.
__ADS_1
“Terimakasih Pak Restu,” ujarnya kemudian.
“Iya. Kamu pantas mendapatkan hal ini,” jawab Dika dengan bijak.
Andre menyimpan ponselnya sesaat setelah Dika memutuskan sambungannya.
“Lis, saya akan meninggalkan kantor sekarang. Berkas yang harus mendapat taken CEO tolong siapkan di meja beliau sekarang. Usahakan semua sudah siap di meja sebelum beliau datang."
“Baik Pak Andre.”
Elis mohon diri setelah menerima perintah dari Andre, sementara Andre langsung membereskan mejanya. Ia tak bisa menunda untuk pulang ke apartemennya.
Ia berjalan dengan tergesa melewati jajaran stafnya. Hal ini membuat ketiga orang perempuan itu heran dibuatnya.
“Pak Andre kenapa?” tanya Rahma pada Elis yang baru saja bertemu dengan Andre di ruangannya.
Elis menggeleng. “Tadi pak Andre sepertinya baru menerima telfon dari pak Restu, terus aku nggak tahu.”
“Ngerasa nggak sih kalau pak Andre lagi lost fokus?” tanya Rahma lagi.
“Kalian ini para gadis nggak pak Restu nggak pak Andre dibahas melulu. Baru tahu rasa kalau nanti pak Andre tiba-tiba bawa istri kayak pak Restu waktu itu,” timpal Riza tanpa mengalihkan matanya dari layar computer di hadapannya.
Rahma dan Elis sempat beradu pandang sebelum sebuah tawa pecah dari keduanya.
Andre memarkir mobil putihnya dengan tergesa. Ia memacu langkah cepat seakan tak ada lagi waktu untuk pulang.
“****! Kenapa lift ini jalannya lambat sekali.”
Begitu pintu lift terbuka, Andre langsung berlari menuju apartemennya. Ia bergegas membuka pintu dan cepat-cepat mencari Hana.
“Dmn*!”
Kembali Andre mengumpat saat tak menemukan Hana dimana-mana. Saat ia mulai frustasi, tak sengaja ia mendengar gemericik air di kamar mandi.
Oh sedang mandi. Batin Andre.
Andre menghela nafas lega, dan segera mendudukkan dirinya. Namun hingga hampir setengah jam dia diam, belum ada tanda-tanda Hana menyelesaikan hajatnya. Ia yang penasaran segera menyusul Hana ke dalam.
Kenapa perasaanku tak nyaman?
Andre bangkit dan berjalan dengan cepat. Ia mendorong pintu kamar mandi tapi tak bisa. dia mengangkat sebelah kakinya dan...
Brak!!
“Hana?!!”
Bersambung.
__ADS_1