Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Hana dan Heni


__ADS_3

HAPPY READING


Setelah mengajak Andre dan Hana bergabung bersama, Edo lantas pergi begitu saja tanpa peduli apakah istrinya akan suka. Jika Edo sudah seperti ini, seberapa galaknya Heni tak akan punya arti. Edo adalah kepala keluarga sehingga apa yang menjadi keputusannya merupakan hal mutlak yang harus anggotanya ikuti.


“Ayo…” Andre mengulurkan tangannya pada Hana yang masih belum juga bernajak dari tempatnya.


Semula tak langsung Hana sambut. Namun setelah Dian beberapa kali mengusap punggungnya, Hana mulai memiliki keberanian untuk menyambut uluran Andre dan berjalan bersama kekasihnya ini.


“Sayang, listen. Mau sekarang atau nanti, mau saat ini atau esok hari, menemui papa dan mama adalah sesuatu yang memang harus kita hadapi,” ujar Andre yang bermaksud memupuk keyakinan pada Hana.


Hana menghela nafas dan menatap tanpa arah.


“Ingat saat Tuhan memaksa kita bertemu dengan om Galih dan tante Mustika. Semua berjalan dengan sangat lancar bahkan jauh lebih mudah dari pada yang kita bayangkan sebelumnya. Sebagaimana saat menghadapi Rio. Belasan tahun kamu selalu menghindar namun masalahmu justru kian membesar. Tapi begitu kamu berani menghadapi, semua bisa selesai dengan mudahnya. Lantas kenapa keyakinan ini tak kita bawa saat bertemu dengan mama papa?”


Andre masih berusaha membakar kebekuan Hana agar mencair. Hal ini ia lakukan karena ingin membuat hubungan keduanya bisa mengalir dan akhirnya bermuara pada satu tujuan yaitu bahagia bersama.


Ken yang menyimak sejak tadi segera membawa istrinya untuk duduk kembali. Tri semester pertama kehamilan istrinya belum terlewati, sehingga kehamilan Dian masih cukup rentan saat ini.


Diam-diam Ken cukup bangga dengan Andre. Ia pernah ada di posisi sulit saat memperjuangkan hatinya. Jika ia main memutuskan menikahi Dian tanpa memperdulikan bagaimana tanggapan keluarganya, Andre ini justru berusaha menyingkirkan satu-persatu masalah yang menghadang hubungannya dengan Hana sebelum membawa hubungan mereka ke tahap selanjutnya.


Sebenarnya tujuan Ken dan Andre sama, hanya jalan yang dipilih beserta resiko yang harus dihadapi saja yang berbeda.


Tak ada yang mutlak benar dan mutlak salah dari keduanya. Memang manusia tempatnya salah dan dosa, hanya saja jalan yang kita pilih sering kali berbeda.


“Pa, Ma…” sapa Andre saat baru muncul bersama Hana.


Edo yang kebetulan sedang makan mempersilahkan kedua anak muda ini untuk duduk dan bergabung bersama mereka.


“Hanya ke sini saja lama sekali. Pasti pacar kamu ini menolak untuk diajak ke sini,” terka Heni yang sama sekali tak memperdulikan perasaan anak gadis orang yang kini sudah hidup bersama putra tunggalnya.

__ADS_1


Hana sadar ia yang dimaksud. Namun ia sama sekali tak punya keberanian untuk membalas ucapan Heni yang bahkan hingga kini menatap ke arahnya saja ia tak sudi.


“Andre tadi ke kamar mandi dulu Ma, makanya lama,” bohong Andre yang hanya bermaksud mencari alasan saja.


Ingin sekali Heni menjawab lagi, namun nampaknya Edo tak berkenan jika istrinya ini berbicara terlalu banyak saat ini.


“Kalian juga makan,” ujar Edo saat makanan yang semula di dalam mulutnya sudah berhasil ia telan.


“Kita sudah di luar tadi Pa,” ujar Andre yang kali ini ia berkata apa adanya.


“Hilang selera Pa kalau ada kita…” Heni tak bisa menahan ucapannya. Namun setelah melihat ekspresi tak suka dari suaminya, ia kembali menahan diri untuk tak berbicara.


Hana ingin menangis rasanya. Ingin sekali ia berkata, jika sekarang ia sudah memiliki keluarga, jadi tak sepantasnya Heni memperlakukannya seperti ini. Namun belum juga kata itu terucap, ia baru ingat bahwa mamanya tak lebih dari orang ketiga di dalam pernikahan Galih dan Mustika.


“Hana ayo makan,” lirih Andre kemudian.


Andre mengambil beberapa makanan dan hendak memberikannya pada Hana.


“Kalau pacar kamu nggak bisa ngambilin, seharusnya kamu bilang sama Mama. Biar makanan kamu Mama yang siapkan…”


Andre mengurungkan niatnya. Menyangka mengambil makanan untuk diri sendiri saja sudah seperti ini reaksi Heni, apa lagi kalau sampai tahu Hana yang sedang Andre ambilkan makanan. Ia mengulas senyum dan beralih menyodorkan makanan yang baru ia ambil untuk sang mama.


“Andre merasa Mama agak kurusan, makanya Andre ambilkan makanan,” ujar Andre pada sang Mama.


Edo tahu anaknya pura-pura. Tapi biarlah. Biar anaknya ini berusaha untuk hidupnya. Andre sangat profesional dalam lingkungan bisnis tempatnya bekerja sehingga berhasil menjadikan Surya Group raja di jajarannya. Namun dalam urusan kehidupan, Andre masih sangat ketinggalan.


Sebagai orang tua Edo memang mau yang terbaik untuk anaknya, namun ia tahu di dunia ini tak ada kebaikan yang mutlak untuk manusia. Yang ada hanya pilihan dimana berisi paket lengkap yang harus diterima dan dijalani oleh manusia.


Begitu pula dengan pilihan pasangan. Edo tak bisa menuntut yang sempurna untuk anaknya, karena yang demikian tidak akan pernah ada.

__ADS_1


“Tuh kan Pa. Ini pasti karena Mama rutin senam. Makanya jangan suka marah kalau Mama ikut senamsama ibu-ibu kompleks,” ujar Heni yang sepertinya berhasil sedikit Andre lunakkan.


“Sekarang Mama rutin senam ya. Pantas saja…” Andre masih terus berusaha menyenangkan mamanya.


Heni mulai lupa ketidak sukaannya pada Hana. Ia mulai menceritakan pada Andre kegiatan rutinnya setiap hari, termasuk mengatur menu makanan dan jenis kegiatan yang ia lakukan setiap harinya. Ia tak mau kalau sampai terlihat tua saat menemani suaminya melakukan kunjungan atau mendatangi jamuan yang isinya orang kalangan atas semua.


Di sela mendengarkan sang mama, Andre menyempatkan diri untuk mengirim pesan pada Hana. Ia meminta kekasihnya ini untuk mengambilkan makanan untuk Andre dan untuk dirinya sendiri. Ia harus membuat mamanya terus rileks seperti ini sebelum mulai membahas hubungan keduanya lebih lanjut lagi.


Hana bukannya tak tahu masalah ini, hanya saja ketidak nyamanan yang menyerangnya membuat otaknya lumpuh dan tak bisa berfikir ia sebaiknya berbuat apa. Yang bisa ia lakukan hanyalah diam dan mengikuti setiap alur yang dimainkan.


“Pekerjaan Papa di kantor gimana?” tanya Andre saat melihat Edo selesai dengan makanannya.


“Harus banyak mengandalkan tenaga muda seperti kalian. Oh iya, Hana masuk lagi ya sekarang?”


“Iya Om…” jawab Hana yang baru saja mengambilkan makanan yang sebelumnya Andre minta.


“Meneruskan project es krim itu ya. Sampai mana?” tanya Edo memastikan.


“Emm, sudah semua. Mungkin akhir pekan ini launching sudah bisa dilakukan,” jawab Hana memberitahukan pekerjaannya.


“Oh. Cepat ya kamu kerjanya,” ujar Edo yang sepertinya cukup puas mendengar informasi dari Hana.


“Timnya solid Om, makanya saya bisa menyesuaikan diri dengan mudah.” Hana tak boleh lengah meski ia ingin berkata iya atas pujian Edo.


“Apa lagi kamu pacarnya Andre, jadi bisa langsung dapat posisi nyaman tanpa perlu bersusah-susah dari bawah…”


Nah kan. Baru saja senang sekarang serangan sudah datang.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2