
Are you ready for this chapter?
Aku kabulkan permintaan kalian.
Hana sama Andre ketemu nih akhirnya, xexexe
HAPPY READING
“Hana istirahat saja akalu masih kurang enak badan,” ujar Sofi dengan lembut saat melihat Hana sibuk menata pot-pot kecil berisi tanaman.
“Nggak apa-apa Bunda. Hana langsung enakan habis makan masakan Bunda,” elak Hana dengan senyum lebarnya.
“Kamu suka?” kaget bunda.
Hana mengangguk antusias. “Masakan Bunda itu enak banget. Itu pare cara masaknya gimana sih biar nggak pahit?”
Sofi meletakkan guntingnya. “Masa iya nggak pahit?”
“Bener Bunda. Maaf ya Hana sampai nambah dua kali makannya.”
Apa Hana tak pernah cukup makan sebelum ke sini? “Emang kamu biasanya makan apa sih?”
“Ya makan biasa Bund.”
Tiba-tiba Hana murung. Kilatan bayangan kehidupannya muncul begitu saja. Ia yang harus jungkir balik hingga akhirnya harus numpang hidup di sini.
Sofi menyadari jika raut wajah Hana langsung berubah setelah menjawab pertanyaannya. Ya sudahlah, sekarang aku jadi punya alasan untuk memasak pare, karena ada yang suka selain aku. Batin Sofi. Bukan tanpa alasan Sofi berfikir seperti ini, karena di saat ia begitu menggemari tumis pare, Lili sama sekali tak mau memakan makanan dengan rasa khas yang pahit ini.
“Bantu Bunda sini yuk," ajak Sofi.
Hana mengusir jauh-jauh kegundahan hatinya. Ia tak boleh terlihat sedih dan menjadi beban di sini. Bagaimanapun juga Sofi dan Lili sudah sangat baik kepadanya.
“Bantu apa Bunda?”
“Lili bilang bosnya mau ikut ke sini, mau pilih-pilih bunga yang warnanya pink, jadi kamu bantu siapkan ya.”
“Iya Bund.”
__ADS_1
Hana mulai mengerjakan apa yang Sofi minta. Pada dasarnya ia adalah wanita pada umumnya yang sangat menyukai keindahan, jadi ia bisa menjalankan pekerjaan ini dengan riang.
Dua buah mobil mewah berhenti tak jauh dari ruko. Hana jadi penasaran ingin segera melihatnya,
“Hana, tolong kamu siapkan teh dan beberapa camilan ya. Kalau camilannya habis, tolong kamu beli. Ambil uang di kasir dan catat dalam buku berapa yang kamu ambil.”
“Baik Bunda…” Setelah menjawab Hana ingin sekali mencuri lihat.
“Cepat Hana, ternyata mereka sudah datang.” Suara Sofi tak begitu keras dan menyiratkan kepanikan. Karena bagaimana pun juga bos anaknya ini bukanlah orang biasa dan sayang sekali kalau mereka sampai kecewa dan Lili harus kehilangan pekerjaan yang baru ia dapatkan dalam beberapa hari.
Hana segera masuk ke dalam rumah dan melihat apa yang bisa disuguhkan. Ia sedikit kebingungan saat mencari karena ia belum hafal betul dimana barang-barang tersebut tersimpan.
Tiba-tiba pikirannya melayang ke apartemen Andre. Memang dapur apartemen itu tak punya banyak persediaan makanan atau pun bahan, namun semuanya tertata rapi dan terorganisir dengan baik. Jadi saat buru-buru, barang-barang yang diperlukan bisa dicari dengan menerawang berdasarkan kategori.
Setelah Hana mencari ternyata bukan kue kering yang habis, melainkan gula. Jadi ia memutuskan untuk segera mencari gula saja untuk membuat minuman untuk tamu Lili.
Di luar Andre baru saja tiba dan sedikit tertinggal dari mobil yang membawa Dika. Di tengah jalan ia nyaris kehabisan bahan bakar sehingga ia harus mengisinya terlebih dahulu.
“Mana?” Tiba-tiba Andre menghampiri Lili dan menodongnya dengan pertanyaan.
“A, a…” Lili yang juga sedang mencari keberadaan sang bunda terlihat celingak-celinguk kesana-kemari. Ia kemudian menghampiri sang bunda yang muncul dari dalam kios. “Bund, Hana mana?” tanya Lili dengan sedikit tak sabar.
“Oh iya. Lili lupa.”
Lili kemudian berjalan bersama sang bunda menghampiri Rina, Dika, dan Andre. “Perkenalkan ini Bunda saya,” ujar Lili pada ketiga orang yang harus dihormatinya itu.
“Saya Dika,” ujar Dika sambil menjabat tangan Sofi. “Ini Rina istri saya,” ujar Dika memperkenalkan istrinya saat Rina berjabatan tangan dengan Sofi.
“Saya Andre, sekertarisnya Pak Dika,” kata Andre yang terakhir memperkenalkan diri sambil menjabat tangan Sofi seperti yang dilakukan dua orang sebelumnya.
“Mari silahkan masuk. Maaf tempat kami hanya seperti ini.”
Belum juga Sofi selesai dengan ucapannya, Rina sudah melepaskan dirinya dari samping Dika dan mulai menjelajahi hamparan-hamparan tanaman cantik di hadapannya ini.
“Sepertinya Nona sangat suka bunga?” ujar Sofi sambil.
“Akhir-akhir ini saya merasa istri saya sedang ingin flashback menjadi gadis manis. Mungkin karena dulu saya terlalu dini menikahinya,” ujar Dika sambil tertawa.
__ADS_1
“Iya, Nona ternyata masih sangat muda dan anda juga.”
Dika tersenyum lebar menanggapi ujaran Sofi. Dan tawanya kian lebar saat menatap Rina yang sedang asik dengan didampingi Lili. Mereka seperti anak panti dengan pakaian yang senada dan motif sama.
“Silahkan masuk Tuan. Di dalam ada kursi jika Tuan berdua berkenan menunggu sambil duduk.”
Dika menatap Andre. Ia heran kenapa sekertarisnya ini dari tadi tak bereaksi sama sekali saat bunda Lili mengajak mereka berbicara. “Iya, saya di sini saja,” jawab Dika akhirnya.
Dika kemudian menyenggol bahu Andre, namun Andre justru memilih untuk menjauh darinya ketimbang menanggapi bosnya ini.
Saat Sofi hendak kembali membuka mulutnya, tiba-tiba Andre nyelonong menghampiri Lili. Sofi dan Dika sempat beradu pandang dan menatap Andre lagi kemudian. Dika kemudian permisi pada Sofi untuk menyusul Andre. Ternyata Andre sedang menghampiri Rina dan Lili yang sedang melihat-lihat berbagai macam bunga-bungaan yang tersedia di kios bunga Lili.
Semula Rina terkejut saat tiba-tiba Lili ditarik oleh Andre, namun akhirnya ia tersenyum karena merasa rencananya akan berhasil.
Yes, bisa double date nih kapan-kapan kalau Andre beneran kecantol sama Lili, karena Lili sepertinya tak akan menolak jika Andre menginginkannya. Batin Rina bahagia.
Sebenarnya Rina tak merasa Hana pacar Andre ini pernah secara langsung menyakitinya, mungkin karena ia datang ditengah kegalauan hubungan Andre dan Dian makanya ia menganggap Hana ini adalah perusak hubungan orang. Ya walaupun ini hanya penilaian subjektif Rina yang kurang berdasar, tapi intinya inilah alasan kenapa Rina tak begitu suka dengan Hana.
“Pak Andre kenapa narik-narik saya?” tanya Lili yang sekarang berada sedikit jauh dari Rina.
Andre mendesah dan menatap lelah. “Hana mana?”
“Oh…” Memangnya kenapa sih dengan Hana. Emang pak Andre ada urusan apa sama Hana? Jangan-jangan Hana yang dimaksud bukan Hana yang ini lagi. Kan yang namanya Hana banyak. Lanjut Lili dalam hati.
“Hey! Kenapa malah diem.”
“A, em, tadi… Bentar aku tanya sama Bunda.”
Lili berlari menghampiri sang Bunda yang baru saja melayani pembeli yang mengambil pesanan.
“Bun, Hana mana?” tanya Lili begitu tiba di dekat sang bunda.
“Hana tadi beli gula,” bisik Sofi. Tepat saat itu juga Hana muncul di seberang jalan. “Itu Hana!” tunjuk Sofi ke arah Hana.
Spontan Andre menatap ke arah yang di tunjuk Sofi. Ia bernafas lega karena akhirnya ia bisa menemukan Hana dalam keadaan baik-baik saja. Ia bersiap menyeberang dan sepertinya belum menyadari keberadaannya. Andre terlalu bahagia hingga tak ingin memikirkan bagaimana ceritanya Hana bisa tinggal di rumah Lili seperti saat ini.
Lili dibuat heran kala melihat bagaimana reaksi Andre saat menatap Hana dari kejauhan. Apa mereka saling kenal?
__ADS_1
Bersambung…