
HAPPY READING
Rencana double date yang Andre buat nyatanya tak sepenuhnya gagal. Meski sekarang dahi Rista sedikit biru karena tadi membentur sesuatu yang tidak ada yang tahu apa itu, dan Dedi kepalanya harus diplaster karena sempat mengeluarkan darah tapi keinginan Andre untuk membuat pasangan ini duduk bersama sudah terlaksana. Dia tak peduli dengan mereka yang luka-luka dan mobil yang turut menjadi korban.
“Hana, butuh bantuan nggak?!” teriak Andre dari ruang tamu kepada Hana yang sedang mengambil kompresan di dapur.
“Nggak! Kamu di situ saja!” balas Hana dengan cara yang sama karena ia pun telah menemukan semua yang dibutuhkannya.
Andre mendengus dan menatap dua sejoli yang belum juga mencair ini.
“Saayyaaaannngg!!! Kenapa kamu lama sek…”
“Berisik!!!”
Andre berhasil dibuat kaget dengan kor kompak Dedi dan Rista yang menyuruhnya diam ini.
“Masih kompak ya kalian…” sarkas Andre kemudian.
Rista memalingkan wajah sementara Dedi melempar pandangannya ke sembarang arah.
“Say…”
Bugh!
Belum juga Andre selesai dengan sebuah kata, namun Dedi sudah melemparinya dengan bantal tepat mengenai wajahnya.
Andre menangkap bantal itu dan meletakkan di sisi tubuhnya. “Oke gue nggak teriak lagi…” ujarnya kemudian.
Ketimbang berteriak lagi, Andre memutuskan untuk bangkit dan segera pergi dari sana menmeninggalkan Dedi dan Rista yang masih betah tak saling bicara.
“Kamu ngapain ke sini?” tanya Hana pada Andre yang membuatnya terkejut dengan kemunculannya yang tiba-tiba.
Andre merebut baskom berisi bongkahan es batu yang Hana pegang dan meletakkan begitu saja beserta kain yang berada di dalamnya. Ia segera menarik tengkuk Hana dan mel*mat bibir tipis yang menjadi candu baginya ini dengan membabi buta. Kali ini Andre Andre tak butuh durasi lama untuk ia mau melepaskan Hana.
“Kamu kenapa sih…” Hana mulai akrab lagi dengan hal-hal semacam ini. Alih-alih marah, ia justru meletakkan tangannya di pundak Andre.
“Muka aku baru kena timpuk Dedi, jadi bibir aku harus diobati sebelum terjadi infeksi.” Asal bunyi sekali Andre ini namun oleh Hana justru dihadiahi tawa.
“Teori apa lagi ini?” tanya Hana.
Andre sangat peka jika Hana sudah lebih menerimanya sekarang, tak seperti beberapa waktu yang lalu saat keduanya baru saja kembali bertemu. Sehingga ia tak mau menyia nyiakan kesempatan ini untuk kembali menc*mbu wanita cantiknya. Tangannya bergerak perlahan menyusuri tubuh rambing Hana kemudian berhenti di pinggang, membuat wanita ini merapat untuk lebih mendekatkan tubuh dengannya.
__ADS_1
Hana pasrah saat Andre mulai menunduk dan bermain di area lehernya. Ia pun mendongak membiarkan Andre lebih leluasa bermain di sana. Tangan Andre bergerak turun untuk mengakses bongkahan benda yang tersembunyi di balik dress Hana.
“Ehm…”
Hana yang semula merem-melek itu langsung membulatkan mata seketika. Ia panik saat sadar ada orang lain yang melihat kelakuannya. Spontan ia mendorong tubuh Andre agar terlepas darinya. Namun belum juga lepas, justru ia sendiri yang kembali ke dekapan Andre dan menyembunyikan wajahnya yang sudah berubah warna di dada bidang kekasihnya. Sebelumnya Hana ingin segera pergi, namun langkahnya terhenti saat melihat Dedi dan Rista yang berdiri menghalangi jalannya..
Andre terkejut juga sebenarnya, namun ia bisa apa dengan kondisi tertangkap basah seperti ini. Ia mengusap lembut rambut panjang Hana sembali menormalkan jantungnya yang menggila karena adrenalin yang terpacu dengan kemunculan dua orang yang tak ia harapkan ini. “Kalian nggak pengen mengulang apa yang baru saja kami lakukan?” goda Andre pada dua sejoli ini.
Hana benar-benar ingin mencubit Andre sekarang. Entah sudah lari kemana urat malunya sehingga Andre bisa bicara seperti ini dengan santainya. Sementara Dedi yang diajak bicara, hanya bisa berusaha menyembunyikan wajah Rista yang ia yakini juga sempat melihat adegan panas yang baru saja Andre dan Hana mainkan di hadapan mereka.
Semula Dedi dan Rista ingin pamitan, namun mereka malah menemukan tuan rumah ini sedang bermesraan. Melihat Rista yang mati langkah, yang terlintas dipikiran Dedi adalah menarik wanita ini dalam pelukannya sehingga Rista bisa menghindari adegan ini.
“Sekarang sudah ingat lagi kan caranya pelukan, kalau mau dilanjutkan, aku ada beberapa unit lagi di lantai ini. Mau diambilkan kunci akses?”
Hana sudah kehilangan kata. Andre ini sudah tak waras apa gimana?
“B*ngsat!” umpat Dedi yang segera angkat kali tanpa melepaskan rangkulannya kepada Rista.
“Ha ha ha ha. Singkirin tuh gengsi, aw!”
Belum juga Andre puas mengatai pasangan itu, sebuah cubitan kecil mendarat di perutnya. Bukan maksud Hana yang tak niat karena hanya mencubit kecit, tapi karena otot perut Andre yang terbentuk sempurna membuat Hana kesulitan untuk mencubitnya.
“Kalau ngomong, iiihhhh. Ih, ih, ih!!” Hana memukul dada Andre dengan membabi buta. Ia kesal bukan main pada kekasihnya ini karena malah berbicara seenak jidat di situasi yang absurd seperti tadi.
“Nggak apa-apa sayang. Sekalian mengingatkan mereka kenikmatan, aaaa iya iya iya…” Andre urung berbicara saat Hana nampak bersiap kembali menghajarnya.
“Mengingatkan, mengingatkan. Kamu pikir semua orang sebejat kita!” ketus Hana.
“Who knows. Kamu nggak tahu saja mereka dulu seintim apa?” ujar Andre sambil menyandarkan punggung karena Hana yang sudah tak lagi dalam kuasanya.
“Maksud kamu?” tanya Hana tak mengerti.
“Saat aku masih polos dan menganggap ciuman bibir itu sudah sesuatu yang luar biasa, aku kerap kali melihat mereka bergerilya di sela jam kantor.”
"Maksud kamu apa sih?"
Hanya dengan satu langkah, kina Andre sudah kembali merapatkan tubuhnya dengan Hana. "Kaya gini..."
"Paham, paham, paham..." Hana langsung paham dan segera menjauhkan tubuhnya saat Andre baru saja hendak memulai penjelasannya.
“Eh ngapain Dedi di kantor. Kan dia dokter…?”
__ADS_1
“Dedi dulu sekertaris Dika sebelum aku gantikan. Saat Dika baru sibuk dengan urusan pernikahannya, perusahaan pernah berada di bawah kepemimpinan Dedi, dan saat itu Rista yang berstatus pacarnya sering ke kantor untuk menemui kekasihnya.”
Hana terdiam. Sepertinya informasi ini begitu sulit dicernanya.
“Tanya dong kalau nggak paham,” sindir Andre kala melihat wajah bingung kekasihnya.
“Itu kapan sih?” tanya Hana akhirnya.
“Itu ya sekitar 5 enam tahun lalu lah," jawab Andre.
“Iya aku tahu pernikahan Dika dan Rina, tapi Dedi jadi pacarannya Rista itu kapan?”
“Aku nggak tahu tepatnya, tapi Rista sudah dipacari Dedi sejak dia baru kelas satu SMP, bahkan sebelum Dika dan Rina menikah…” jelas Andre.
“Terus yang itu tadi…” Ucapan Hana menggantung. Ia hanya memainkan jari karena bingung dengan kalimat yang akan ia ungkapkan.
“Yang itu tadi apa?” sudah tahu Hana kebingungan, masih pula Andre berlagak tak paham.
“Yang kata kamu di kantor…, eemmm…” Hana sudah mahir dalam hal dewasa seperti itu, tapi yang dibicarakan sekarang adalah Rista, sehingga ia merasa kesulitan untuk mengulang kata seperti yang Andre katakan.
“Yang aku bilang mereka sudah biasa skinship?”
Hana bernafas lega karena otak Andre berhasil menemukan kata-kata yang tak terlalu vulgar untuk pembahasan ini. Meskipun artinya sama saja, tapi setidaknya kata-kata ini lebih ramah di telinga. Dan Hana pun mengangguk sebagai jawabannya.
“Saat itu Rina dan Dika baru saja menikah. Dan Dedi yang menggantikannya memimpin perusahaan meskipun sifatnya hanya sementara. Dan kala itu aku yang baru saja masuk masih sangat membutuhkan bimbingan Dedi. Sehingga aku terpaksa harus berkali menelan ludah kala dengan sembrononya mereka bermesraan di dalam ruangan di sela-sela waktu kerja.”
"Dedi itu temannya Dika kan? Maksudku usianya..."
"Iya. Tapi ia sangat jenius dan punya daya ingat yang tinggi."
"Benarkah?"
Andre mengangguk. "Bahkan aku dan Dika juga sempat mengalami masa krisis setetelah ditinggal Dedi ke Amerika."
Dahi Hana mengkerut saat berusaha mencerna berbagai informasi ini. “Sekarang Rista baru semester awal, berarti lima tahun lalu dia masih…”
“Maksud kamu Rista masih kecil?” terka Andre karena Hana terlihat sulit menyelesaikan kalimatnya.
Hana pun mengangguk.
“Itulah yang jadi motivasiku ingin mencairkan kebekuan diantara keduanya. Asal kamu tahu, Rista itu sama sekali tak pernah membiarkan laki-laki mendekatinya. Sehingga kadang aku berfikir kalau Dedi sudah mendapatkan semua yang dia miliki,” ujar Andre mengungkapkan isi kepalanya kepada Hana.
__ADS_1
“Maksud kamu Rista sudah nggak, itu...”
Bersambung…