
HAPPY READING
Lelah bercerita, Rio baru sadar kalau Indah sejak tadi ternyata telah memejamkan mata.
Tahu gini mending aku tadi merekamnya, jadi kalau Indah tanya aku tinggal menunjukkan hasil rekamanku saja. Gerutu Andre dalam hati.
Jujur ada kesal memang di dadanya, tapi Rio sama sekali tak marah dengan istrinya. Indah sejak dulu sangat sabar dalam menghadapinya. Saat Rio melakukan kesalahan besar bahkan membuatnya harus menahan sakit pula, Indah masih tetap berdiri tegak di sampingnya. Meski berderai air mata, Ia masih setia di samping Rio dan langsung menangkapnya saat Rio terjatuh. Ia selalu ada saat Rio membutuhkannya.
Bahkan saat Rio dengan seluruh ego dan keangkuhannya membuat masa depan Indah hancur, Indah juga tak marah. Ia malah berkata ia yang tak cukup berhati-hati sehingga harus memiliki takdir seperti ini.
Rio merebahkan tubuh Indah dan kemudian menyelimutinya. Sambil menunggu Indah bangun, Rio perlahan bergerak untuk membereskan barang-barang mereka. Ia sudah tak sabar untuk segera membawa Indah pulang dan bermain lagi dengan kedua anaknya di rumah sambil menanti bocah ke tiga yang akan lahir di dalam keluarganya.
Sementara itu di kantor Surya Group, Andre dan Hana baru saja tiba. Sapaan dan salam hormat datang menghujani keduanya. Tentu bukan Hana yang menjadi sasaran mereka tapi Andre yang merupakan petinggi di perusahaan ini. Namun karena Hana ada di sampingnya, maka otomatis ia juga menjadi objek yang wajib mendapatkan sapaan hormat saat ini.
Di saat Andre menatap pun enggan semua yang menyapanya, maka Hana berbeda. Ia membalas setiap sapaan yang mereka dapatkan dengan senyum dan sikap hormat.
“Beruntung banget sih dia, tahu gitu aku dulu dekati saja petinggi perusahaan ini biar langsung dapat jabatan tinggi,” ujar seorang staf di balik meja resepsionis.
“Iya. Cantik emang, tapi jangan-jangan otaknya kek udang,” imbuh satunya lagi.
“Mungkin dia pandai di ranjang, makanya pak Andre juga seperti posesif sekali terhadapnya.”
Dua orang yang mendengar ucapan ini tertawa kecil dengan kalimat nakal yang baru mereka dengar.
“Ah sudahlah. Mungkin nasib dia saja yang baik, makanya dia bisa enak seperti sekarang,” ujar satu lagi yang sejak tadi hanya diam saja tanpa sedikit pun bersuara.
“Tapi terlalu mencolok,” ujar wanita yang pertama bicara.
“Ya kita nggak tahu apa yang terjadi sebenarnya, makanya jangan asal membicarakan orang,” ujar wanita yang sebelumnya diam ini.
“Ah kamu mah terlalu polos,” ujar yang satunya.
Segerombol penggosip baru saja mengomentari Hana. Kemunculannya yang tiba-tiba dan tak lepas dari Andre sudah berhasil menghebohkan kantor ini. Terlebih kala Andre memproklamirkan hubungan mereka sebagai sepasang kekasih, Hana langsung menjadi bidikan mata dan kamera saat muncul di sana. Parasnya yang cantik, pembawaannya yang ramah dan tubuh yang nyaris sempurna selalu berhasil menjadi buah bibir.
Terlebih setelah berhasil merebut hati Andre, sekarang dengan mudahnya ia bisa berada di samping Rina, menjadi penanggung jawab atas sebuah project besar yang digarap perusahaan. Siapa juga yang tak iri. Siapa pula yang tak curiga dengan memasang berbagai prasangka. Tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya. karena kalau sampai tahu, gosipnya pasti akan lebih heboh lagi.
Saat seseorang berusaha mencari informasi tentang Hana, tak ada satu pun yang berhasil menemukan informasi valid tentang siapa wanita cantik yang selalu bersama wajah kedua perusahaan ini, sehingga spekulasi tentang siapa Hana merebak dengan begitu cepat seantero perusahaan.
__ADS_1
“Sayang, kamu capek?” tanya Andre pada Hana yang sejal masuk lift hanya diam saja.
Hana mendongak dan menatap Andre. Ia menggeleng sebelum menyandarkan kepalanya di lengan Andre. “Hanya sedikit lapar…” ujarnya beralibi. Namun bukan itu sebenarnya. Ia tadi merasa banyak sekali tatapan tak suka mengarah kepadanya. Ia dapat menerka apa yang ada di kepala mereka, namun apa daya. Sebagian mungkin benar adanya. Ia sungguh merasa tak nyaman dengan hal ini, namun apa boleh di kata?
Hana ada affair dengan Andre? Benar. Ia bahkan sempat mengandung anak pria tampan ini.
Hana simpanan Andre? Benar. Ia sekarang tinggal dan makan atas pemberian Andre. Ia diam-diam juga tinggal di rumah Andre. Hubungan mereka juga sudah jauh melampaui batas wajah sepasang kekasih pada umumnya.
Hana bisa mendapatkan posisinya karena pengaruh Andre? Benar sekali. Jika dia bukan pacar Andre, sepertinya mustahil Rina akan menempatkan ia di posisi asisten begitu saja tanpa melalui proses yang panjang dengan berbagai kriteria yang sulit untuk dipenuhi.
Hana tak punya kemampuan dan hanya mengandalkan kecantikan? Salah besar. Karena Hana awalnya merupakan karyawan di jajaran tertinggi di kantor ini. Hanya saja kini ia kembali dengan menanggalkan semua identitas lamanya, sehingga ia dianggap masuk secara instan tanpa melalui penyaringan dan kualifikasi seperti kebanyakan karyawan lainnya. Padahal Hana sudah pernah melewati semua itu sebelumnya hingga ia berada di posisi yang sangat tinggi sebelum di lempar Andre menggunakan tangannya sendiri.
Mungkin spekulasi terakhir yang bisa saja Hana patahkan jika ada yang berani menyatakan langsung padanya. Hanya saja mungkin sangat sulit mencari orang dengan keberanian yang sangat besar untuk menyakan hal sensitif seperti ini secara langsung kepada Hana.
Ting!
Pintu lift terbuka setelahnya. Andre dan Hana kemudian segera keluar untuk melanjutkan langkah menuju ruangan mereka. Ini sudah lewat jam makan siang, sehingga trio sekertaris sudah bersiaga di tempatnya.
Ketiganya sempat menunduk hormat saat Andre dan Hana lewat lalu melanjutkan pekerjaannya setelah Andre dan Hana berlalu dari hadapan mereka. Seperti biasa, mulut Rahma sangat gatal untuk berkomentar, sayangnya Riza dan Elis sama sekali tak menunjukkan minat terhadapnya. Jadi kali ini ia harus menelan kecewa dan menahan banyak kata yang biasanya meluncur dengan indah dari bibirnya.
“Kamu ke Rina dulu, nanti kalau makan siangnya sudah datang akan aku antar,” ujar Andre.
“Ide lu bagus Bos…” ujar Andre yang muncul tiba-tiba di ruangan Dika.
“Ide apa sih?” tanya Dika tanpa membalas tatapan sekertarisnya ini.
“Jangan berlagak bego deh,” ujar Andre msih dengan gaya songongnya.
“Apa pekerjaan kamu sudah selesai?” tanya Dika yang sesekali menatap tanpa minat pada sekertarisnya.
“Sudah.” Jawab Andre. Ia kemudian menarik kursi di hadapan Dika dan duduk di sana. “Entah kamu sengaja untuk membantu saya atau bahkan mungkin mengerjai saya, saya tetap mau berterimakasih.” Kali ini Andre mengucapkannya dengan nada serius. Ia tak cengengesan bahkan sedikit pun senyum tak nampak di wajahnya. Yang ada hanya ketulusan dan keseriusan.
Dika menghentikan gerakan tangannya dan membalas tatapan Andre yang kini focus di hadapannya.
“Saya tahu benar jika penyerahan tanggungjawab proyek kerjasama dengan Rio itu bukan semata karena pekerjaan,” lanjut Andre masih dengan pikiran awalnya. Karena Dika sama sekali tak berkomentar tentang apa yang dia ucapkan sebelumnya.
“Lantas karena apa?” tanya Dika berlagak tanya. Ia seolah ingin memastikan apa yang sedang Andre bicarakan.
__ADS_1
“Kamu ingin saya ada waktu untuk bicara dengannya kan?” Andre bertanya untuk memastikan. Kepercayaan dirinya mulai goyang.
“Apa hal itu ada untungnya buat saya?” sarkas Dika yang membuat Andre mati kutu seketika. Bagaimana tidak. Dika mengatakannya dengan wajah kaku tanpa senyum atau tawa lucu.
Andre menghela nafas. Keyakinannya jadi luntur seketika. Semula ia menyangka Dika akan mengaku dengan mudahnya saat ia menodong bosnya ini dengan fakta dan analisanya yang hampir tak pernah meleset selama ini.
“Ya nggak ada sih. Tapi saya pikir kamu mau membantu saya.” Suara Andre terdengar sumbang sekarang.
“Dan apakah benar?” Dika masih berusaha mempermainkan sekertarisnya.
“Sepertinya tidak…” jawab Andre dengan nada putus asa. Sepertinya untuk masalah tipu muslihat, Andre belum bisa disetarakan dengan Dika. Terbukti dengan semua kemampuan yang Andre miliki, ia masih bisa dipermainkan seperti ini oleh pria yang secara umur lebih muda darinya ini.
“Hwa ha ha ha…” Dika tak tahan lagi. Kini tanpa ragu ia menyemburkan tawa.
Dika yang mendadak tertawa membuat Andre garuk-garuk kepala. “Kamu kenapa Bos?” tanya Andre dengan wajah ling-lungnya.
“Tai Lu! Hwa ha ha ha ha...!!!”
Baru saja tertawa terhadapnya, sekarang Andre justru Dika umpati. Apa salahnya coba?
Andre semakin bingung. Tak ada yang bisa ia lakukan selain membiarkan Dika menikmati tawanya dan bertanya setelah tawanya reda.
“Lu bener-bener deh, hwa ha ha ha...!!!”Dika belum puas dan kembali tertawa.
“Bener-bener apanya bos?” tanya Andre pada Dika yang masih tak mengerti apa maksudnya.
“Berapa tahun lu sama gua?” Dika bertanya masih dengan wajahn merahnya yang lelah tertawa.
“Ini apa sih maksudnya?” kini Andre mulai berani tertawa.
“Lu bego. Gampang banget dikadalin.”
Akhirnya Dika mengakui, bahwa ia sengaja membuat skenario agar Andre dan Rio bisa mengobrol. Namun hanya berhenti di situ. Selebihnya ia tak melakukan apa-apa. Memang harapannya adalah Andre mau bersikap dan memperjelas hubungannya dengan Hana. Dan saat Andre bercerita tentang apa saja yang ia bahas dengan Rio, Dika sangat bangga dengan sahabatnya.
“Lanjutkan Ndre. Usahakan yang terbaik untuk hal baik. Aku akan mendukung setiap langkah kamu,” ujar Dika dengan sungguh-sungguh.
“Terimakasih banyak Bos...”
__ADS_1
Bersambung...