
*HAPPY READING*
Tepat dugaan Andre yang mengira akan bisa menemui Dian di restorannya. Dian memang suka makanan Jepang jadi Andre yakin ia akan sering di restorannya yang ini dibanding resto yang lainnya. Saat Andre datang bersama Hana, Dian langsung muncul dan bergabung bersama mereka.
“Akhirnya move on juga kamu," sapa Dian begitu bertemu dengan Andre yang membawa seorang wanita.
Hana bingung dengan ucapan wanita cantik yang tiba-tiba muncul menghampiri ia dan Andre ini.
Dengan sengaja Andre mengeratkan genggaman tangan Hana, seakan menegaskan pada wanita cantik ini bahwa yang diucapkan adalah benar adanya.
“Gimana menurut kamu?” Andre minta pendapat Dian tentang wanita cantik di sampingnya.
Dian melipat tangannya di depan dada. Matanya menelisik penampilan Hana. Dia cantik tanpa banyak polesan. Selamat Ndre, akhirnya kamu menemukan cintamu. Batin Dian dalam hati.
“Not bad.”
“Not bad doang?!” protes Andre tak terima.
“She is so good, she is also so beautiful. Tapi aku akan bilang itu kalau kamu sudah nikahin dia. Masa kalah sama Dika yang gak ragu ngajakin Rina nikah muda,” cibir Dian yang diiringi tawa renyahnya.
Enteng banget nyebut nama Dika dan Rina. Sebenarnya siapa wanita cantik ini. Batin Hana.
Hana benar-benar dibuat pusing sejak masuk tadi. Seharusnya kan dia yang memimpin permainan, kenapa malah dia yang merasa dipermainkan.
Sabar Hana, sabar. Jika ingin dapat hasil yang besar, usaha yang kamu perlukan juga besar. Hana menyemangati dirinya dalam hati.
“Ellah. Kalau mau nyaingin si bos mana bisa.”
Kini tak hanya Dian yang tertawa, tapi Andre juga. Setelah puas saling menyapa, akhirnya Dian mengajak fake couple ini ke ruang khusus di restorannya. Ke ruang VIP yang hanya bisa digunakan oleh orang-orang tertentu saja.
Setelah mengantarnya ke ruang tersebut, Dian pamit sebentar karena ada tamu yang harus ditemuinya. Begitu Dian keluar, aura di tempat itu langsung berubah. Andre yang semua sangat rama dan friendly terhadap Dian, kini jadi dingin seketika. Yang sebelumnya tak segan tersenyum kepada Hana, sekarang menatap pun enggan.
“Ini maksudnya apa sih Pak?” Hana tak mampu lagi menunda rasa penasarannya. Ia segera bertanya pada Andre apa maksud semua ini, membuat wanita cantik tadi berfikir jika Andre punya hubungan special dengannya.
Andre menuang air putih yang sudah di sediakan di hadapannya. Ia tak langsung menjawab Hana melainkan terlebih dahulu meminumnya.
Hana menengadah, mengatur nafasnya, mencengkeram ujung roknya dan apapun untuk meredam kekesalannya. Ia tak boleh menunjukkan emosinya di depan Andre. Ia harus tenang dan sabar sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya.
“Kamu bisa dengar kan apa yang aku bicarakan sejak tadi?” ucap Andre tanpa menatap Hana.
Hana hanya bisa berusaha meredam emosinya. Ia membuang jauh-jauh wajah kesalnya dan memasang senyum paling manisnya.
“Nah gitu dong. Meskipun kamu kesal, jangan sampai mukanya jelek,” ujar Andre masih dengan wajah cueknya.
__ADS_1
Ini gimana sih? Kenapa Andre bisa tahu kalau aku sedang kesal sama dia. Apa jangan-jangan sebenarnya dia tahu aku ada maksud lain terhadapnya.
Andre menghela nafas dan menghadap ke arah Hana. Wajah datarnya berubah serius seketika. “Saya akan bantu masalah financial kamu, saya akan cukupi kebutuhan kamu, tapi dengan satu syarat?”
“Apa?” sahut Hana cepat. Ia yakin ini adalah kesempatan bagus untuknya, jadi tak boleh ia sia-siakan begitu saja.
“Stay beside me, and do what I say?”
Ada cemas yang tak mampu Hana sembunyikan. Harusnya kan keberadaanku yang mangancam, kenapa malah aku yang merasa terancam?
Andre menatap dingin. “Kamu tak perlu banyak berfikir, aku masih punya Tuhan yang membuatku takut melakukan dosa.”
Hana mengangkat wajahnya dan mencoba bertemu pandang dengan Andre. Jika aku tidak maju, aku tak punya akses untuk masuk. Tapi kenapa tiba-tiba aku merasa Andre ini adalah tipe orang yang akan membuatku kesulitan.
“Saya akan menarik tawaran saya jika kamu tak segera mengatakan iya?”
Hana tersentak karena Andre berhasil mengintimidasinya.
“I, iya.”
Andre tersenyum simpul. Tangannya bergerak untuk menyelipkan rambut Hana yang menutupi sebagian wajahnya. Hana masih membeku saat menyadari ia baru saja membuat keputusan tanpa memikirkannya lebih matang.
“Ehm…”
Hana langsung mundur saat menyadari kedatangan orang lain di sana. Dian datang dengan senyum lebarnya dan ikut duduk bersama Andre dan Hana. Dibelakangnya sudah ada beberapa orang pelayan yang datang dengan nampan berisi makanan.
Kata-kata ini berhasil membuat wajah Hana memerah, sedangkan Andre masih biasa saja.
“Oh iya, kita belum kenalan ya tadi.”
Dian mengulurkan tangan pada Hana. “Aku Dian, teman baiknya Andre.”
Hana menerima uluran tangan itu. “Saya Hana.”
Senyum indah tak pernah luntur dari wajah Dian. Andre merasa ini tak biasa, tapi iya yakin senyum ini pertanda baik untuk hubungan mereka selanjutnya.
“Ayo Hana, dicicipi makanannya. Kalau nggak enak bilang aja, nanti kita perbaiki kualitasnya.”
Hana hanya tersenyum, tiba-tiba Andre memberikan sumpit padanya. Lagi-lagi Hana dibuat terkejut dengan perubahan Andre yang tiba-tiba. Wajahnya tak sekaku sebelumnya. Ia bahkan tersenyum kepadanya.
Melihat interaksi Andre dan Hana, membuat Dian menutup mulut untuk menyembunyikan tawanya.
“Hana ini pemalu ya. Masa kamu tatap aja sudah merah gitu mukanya.”
__ADS_1
Hana langsung menutup wajahnya setelah mendengar ucapan Dian. Masa merah sih? Tapi emang panas rasanya.
“Udah-udah. Ayo makan.”
Hana sesekali mencuri pandang pada dua orang bersamanya ini. Kenapa mereka aneh sekali. Sepertinya ada rahasia di balik senyuman mereka.
“Hana sekarang kesibukannya apa?”
Degh!
Apa Dian ini benar-benar tak tahu aku siapa? Padahal Dika sudah membuat seluruh Indoneia menghujatku. Apakah aku sungguh tak dikenali dengan penampilan seperti ini?
Hana yang bingung menatap Andre di sampingnya. Andre mempersilahkan Hana untuk menjawab pertanyaan Dian.
“Saya baru kehilangan pekerjaan, jadi saya pengangguran dan sedang mencari kerja,” jawab Hana.
“Basic kamu apa?” tanya Dian.
“Sekertaris,” jawab Hana.
“Kenapa nggak kamu bawa ke Surya aja Ndre. Nggak kasihan kalau Hana harus pontang-panting cari kerja kesana-kemari. Tahu sendiri kan sekarang mau ngapa-ngapain harus punya koneksi.”
Aku bisa masuk ke Surya dan sudah pernah berada di posisi yang sangat tinggi, tanpa koneksi dan tanpa manipulasi. Aku berhasil masuk dengan kemampuanku sendiri. Racau Hana dalam hati.
Andre menatap Hana sekilas. Ia yakin wanita ini sedang menggerutu dalam hati, karena ia sempat berada di Surya tanpa koneksi. Hana sebenarnya cerdas, hanya kecerdasannya diaplikasikan secara kurang tepat.
“Aku masih belum cukup kaya untuk bisa leha-leha Di,” jawab Andre sebelum memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
“Maksud kamu?” tanya Dian tak mengerti.
Andre tak langsung menjawab. Ia tak suka berbicara dengan keadaan mulut penuh makanan.
Andre meraih segelas air putih setelah selesai menelan makanan.
“Ya mana mungkin aku konsen kerja selama ada dia.”
“Ha ha ha.” Dian tertawa setelah paham maksud Andre.
Sementara Hana masih bingung dengan pembicaraan dua orang ini.
“Kebelet mojok ya,” celetuk Dian membuat Hana membulatkan mata.
“Uhuk…” reflex Hana menyemburkan makanannya setelah mendengar apa yang Dian ucapkan padanya.
__ADS_1
Dian tak mampu menahan tawa sementara Andre berusaha membantu Hana.
TBC