Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Rindu


__ADS_3

HAPPY READING


Malam hari, akhirnya Hana mau makan juga. Andre sebenarnya khawatir dengan kondisi Hana yang yang susah sekali kemasukan makanan. Ia menolak semua makanan yang berbau kuat. Rasa hambar dan rasa pahit adalah varian rasa yang bisa diterima oleh mulut Hana. Seperti saat ini ia sedang makan malam bersama Andre dengan menu tumis pare buatan bibi.


"Perut kamu gimana sekarang?" tanya Andre di sela makan.


"Masih berasa ketarik, tapi udah nggak sakit," jujur Hana.


“Fleknya masih keluar?” tanya Andre di sela makannya.


Tiba-tiba Hana meletakkan tangan yang tengah memegang sendok yang ia gunakan untuk makan. Kemudian ia menatap Andre dengan segan.


“Kamu kenapa? Apa makanannya nggak enak?” tanya Andre yang melihat dengan jelas perubahan wajah Hana yang tiba-tiba.


Hana menggeleng. Ia kembali menggerakkan tangannya meski enggan.


“Hana…”


Hana seketika mengangkat wajahnya ketika ia kembali mendengar Andre memanggilnya dengan cara berbeda.


“Hana please.”


Nada lelah Andre terdengar lagi. Entah mengapa Hana begitu kecewa saat akhir-akhir ini Andre sering kali berbicara seperti ini kepadanya. Aku memang tak berguna, sama sekali tak berguna. Bisanya hanya menyusahkan Andre. Aapa ia benar-benar selelah itu terhadapku?


Tak ingin terlibat sebuah perdebatan, Hana cepat-cepat memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Jika mulutnya penuh, ia punya alasan untuk tak menjawab. Ia bertekat ingin segera menghabiskan makanan di piringnya dan ingin tidur segera malam ini.


Andre pun juga sama. Ia lelah jika harus berdebat. Ia memutuskan untuk membiarkan Hana diam dalam kesalnya.


***


“Ris, kamu masih ingat kan punya kamar sendiri?”


“Apa sih Kak, aku masih pengen ngobrol juga.”

__ADS_1


“Tapi Rina butuh istirahat, kemarin dia habis masuk rumah sakit lagi karena kelelahan.”


“Kita kan cuma ngobrol sambil tiduran Kakak, masa yang kayak gini bisa bikin kelelahan.”


“Rista Andini…”


Rista meringis saat Dika sudah memanggilnya dengan cara seperti ini. Ia kemudian beringsut untuk bersembunyi di balik tubuh mungil kakak iparnya. Sementara Rina yang merasa dijadikan tameng hanya pasrah dan tertawa kecil melihat tingkah kakak beradik yang tak pernah akur ini. Tapi jangan salah. Mereka tak akur bukan karena saling membenci atau tak peduli, tapi hal ini merupakan salah satu cara mereka mengungkapkan kasih sayang satu sama lain.


Rista yang merasa tubuh Rina tak bisa menyembunyikannya, akhirnya bangkit dan mulai berlari saat Dika terus mengejarnya. Ya ini Rista lupa apa gimana Senja juga nggak tahu? Saat dia masiih kelas satu SMP saja ia sudah lebih tinggi dari Rina, apa lagi kini ia yang tingginya sudah diatas 170 senti sedangkan Rina masih tetap bertahan di bawah 160 sentimeter.


Kaki panjang kakak beradik ini benar-benar bisa diandalkan. Saat melakukan berbagai manuver dan lompatan dalam pelarian, keduanya sama-sama kencang. Merasa tak cukup kejar-kejaran di dalam kamar, akhirnya Rista berlari keluar.


Dengan kaki panjangnya, Rista dapat berlari dengan mudah bahkan dapat melewati beberapa anak tangga dalam sekali lompatan. Namun karena kaki Dika yang tak kalah panjang, Rista harus berjuang ekstra untuk menghindari tangkapan kakak satu-satunya ini.


Langkah Rista mendadak berhenti saat ia berada di ujung tangga. Ia melihat punggung papanya tengan melakukan video call dengan laptop yang ia letakkan di atas meja. Ia nampak serius saat mendengar penjelasan dari orang yang tengan melakukan sambungan dengannya.


Bukan. Bukan keberadaan Rudi yang membuat Rista berhenti, namun wajah serius seseorang yang memenuhi layar  di hadapan papanya.


Dika menuruni 3 anak tangga yang tersisa dengan perlahan. Ia berhenti tepat di samping Rista dan menyampirkan lengannya di pundak adiknya.


“Kangen?” lirihnya tepat di samping telinga.


Rista masih fokus pada objek yang telah mengalihkan dunianya saat ini. Ia menatap pria yang telah membuatnya terus menanti selama lima tahun dalam sepi.


“Kalau kangen ya ungkapin.”


Tepat saat Dika menyelesaikan ucapannya, sosok yang memenuhi layar Rudi itu menyadari keberadaan Rista yang berdiri tak jauh dari orang yang tengah dihubunginya ini. Wajahnya langsung terlihat kaku dan membeku saat pandangannya bertemu dengan gadis yang membuatnya terpenjara dalam selama ini.


Melihat dua orang yang masih bersikukuh dengan egonya ini, dengan jahil Dika justru menghampiri sang ayah dan duduk di sampingnya tiba-tiba. “Ded, kapan balik, ada yang kangen tuh.”


Dedi nampak salah tingkah, sementara Rista metanya langsung membola di tempatnya. Mendengar Dika menyebutkan nama putrinya, Rudi reflex langsung memutar kepalanya untuk mencari keberadaan Rista.


“Sejak kapan Rista di situ?” kaget Rudi yang saat tahu ada Rista berdiri tak jauh darinya.

__ADS_1


“Rista nggak sengaja lewat.” Rista berlagak acuh dan berjalan begitu saja meninggalkan anak tangga terakhir yang sejak tadi dipijakinya.


Rudi kemudian menatap Dika sejenak kemudia menatap Dedi yang saat ini nampak bingung sendiri. Setelah sebuah helaan nafas, Rudi baru paham apa yang baru saja terjadi di sana. Ia menggeleng dan mengembangkan senyumnya. Selanjutnya ia


bangkit dan dan menepuk bahu Dika sebelum meninggalkan laptopnya yang kini Dika gunakan.


“Well pak Dokter..." Dika menjeda ucapannya dan dengan serius menatap sahabatnya. "Sudah jadi dokter kan sekarang…?” sarkasnya dengan banyak makna yang tak langsung diungkapkan.


Dedi menyandarkan punggungnya. Ia sepertinya masih butuh


waktu untuk menormalkan degup jantungnya yang beritme tak karuan setelah melihat gadis yang teramat ia rindukan.


“Cie elah. Masih bengong aja. Buruan balik, terus halalin. Usia kalian lebih dari cukup dibanding saat aku menikahi Rina dulu.”


Dedi menghela nafas. Ia baru ingat jika baru saja tadi Rudi mengabarkan perihal kehamilan Rina. “Selamat ya, sebentar lagi jadi papa,” ucap Dedi akhirnya.


“Thanks Bro.” Dika paham sepertinya Dedi ingin menghindari pembahasan tentang Rista.


“Gimana kabar Surya Group?” tanya Dedi kemudian.


“Mau ngetes? Bukannya situ paham benar keadaan kita,” sarkas Dika.


Dedi tertawa kecil. Raganya memang berada di Amerika, tapi hati dan pikirannya sebagian tetap ia tinggal di Indonesia. Ia tak pernah benar-benar meninggalkan Surya Group, perusahaan besar yang juga telah memberikan perubahan besar pada hidupnya.


“Andre ada masalah apa sih?” tanya Dedi akhirnya. Ia tahu performa sekertaris yang menggantikannya ini cukup menurun dalam beberapa waktu terakhir. Terlebih ketika ia tahu ada proyek yang sedang digarap perusahaan ini, namun masih jalan di tempat dalam satu bulan terakhir. Ini bukan kebiasaan Surya Group dimana tiba-tiba bergerak lambat seperti ini.


Dedi memang tahu banyak hal melalui data statistic, namun secara spesifiknya ia tak tahu banyak.


Dika merubah wajah jahilnya menjadi serius saat ini. “Ini berat,” ujarnya kemudian.


Keduanya terdiam dengan mata salig menatap. “Ded. Gua butuh elu…” ujar Dika yang tak dapat menyembunyikan rasa lelahnya.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2