
HAPPY READING
“Saya. Sayaa…” Duh, Andre nggak balik-balik lagi. Aku sebaiknya ngomong apa coba. Racau Hana dalam hati. Saat ini ia tak dapat berfikir dengan baik, sehingga ia takut salah bicara yang justru dapat memperkeruh suasana.
Edo masih menatap Hana penasaran. Jika tadi dia terlihat lebih santai dari pada Heni, kini ia mendadak terlihat seram dengan tatapan tajam setelah tahu Hana ada hubungan dengan Rahardja.
Edo dan Hana punya kekhawatiran yang berbeda. Saat Hana khawatir Edo akan menolaknya karena statusnya sebagai anak lain dari luar pernikahan resmi Galih dan Mustika, Edo sebenarnya justru mengkhawatirkan keterkaitan Hana dengan Rahardja Group yang belum bisa berdamai dengan Surya
hingga saat ini.
Jika Hana terus melanjutkan hubungannya dengan Andre, Edo tak dapat membayangkan sebanyak apa masalah yang akan menghadang mereka di kemudian hari. Karena Andre adalah bagian dari Surya dan Hana adalah bagian dari Rahardja.
“Kenapa tegang sekali sepertinya? Apa saya keluar terlalu lama?” tanya Andre sebelum mendaratkan pantat di tempatnya semula.
“Ekhm. Papa hanya tanya sama Hana, apa hubungannya dengan Galih Rahardja.” Edo tahu Andre mewarisi ketelitiannya dan kecermatannya. Jadi ia tak mau menjajal kemampuan Andre dengan mencoba membohongi anak semata wayangnya ini.
Andre mengernyit. Untuk apa papanya berdehem sebelum mulai bicara. Apa ada sesuatu yang membuat ia merasa tertekan sekarang?
Namun Edo dan Andre punya kemampuan mengontrol emosi yang sama baiknya, sehingga tak semua orang akan paham jika keduanya menemukan hal yang mungkin saja berada di tempat yang tak semestinya.
“Hana ini anaknya Galih Rahardja,” jawab Andre dengan fokus terkunci terhadap papanya. Yang ada dikepalanya sama dengan Edo, yaitu ia tak mau membohongi pria tua yang telah menurunkan sifat padanya ini.
“Benar?” tanya Edo yang berusaha memutus kontak dengan anaknya dan coba menatap Hana. Namun Andre masih tetap lurus menatap papanya meski tatapannya diacuhkan begitu saja. Ia masih berusaha menganalisa apa yang ingin papanya perbuat sekarang.
“Benar Om…” jawab Hana apa adanya tentang pertanyaan Edo yang baru saja diucapkan padanya.
Menghadapi calon mertua nyatanya punya pressure yang lebih berat daripada menghadapi client besar sekali pun. Saat Hana tak pernah kacau seberapa besar pun tekanan pekerjaan yang diterimanya, ia tak pernah merasa lumpuh seperti ini pikirannya. Ia tak dapat mencari solusi atau berfikir tindakan apa yang sebaiknya ia hindari atau lakukan secepatnya. Hana hanya bisa mengatakan apa yang ada sebenarnya serta mengikuti alur cerita saat ini.
“Bukankah hanya ada Rio?” tanya Galih menyatakan apa yang ia ketahui selama ini.
“Ada Hana juga…”
__ADS_1
Andre langsung bangkit saat mendengar ada suara lain yang ikut bicara setelah pintu terbuka.
“Om…” gumam Andre setelah bertemu tatap dengan pria yang baru tiba.
Nafas Edo terdengar berat. Namun hanya dengan beberapa kali tarikan, ia sudah dapat kembali menguasai dirinya.
“Silahkan duduk Pak Galih…” Edo mempersilahkan pria yang kerap bertemu dengannya di arena bisnis ini.
“Maaf jika kedatangan saya mengganggu makan malam anda.” Andre berjalan menuju sebuah kursi yang telah disiapkan.
“Tidak sama sekali…”
Akhirnya Edo menambah beberapa pesanan untuk rival bisnisnya ini.
“Maaf ya Pa, Andre nggak bilang, tadi Om Galih telfon untuk membicarakan suatu hal sama Hana tapi Hana lupa nggak bawa ponselnya. Dan kebetulan Om Galih ada di sekitar sini jadi Andre undang untuk makan malam sekalian,” jelas Andre tentang bagaimana bisa Galih tiba-tiba muncul di sana.
“Saya sedikit terlambat mengetahui hubungan anak-anak kita tapi saya rasa tidak masalah juga jika kita mulai semuanya sekarang…” ujar Galih membuka obrolan. Galik memang bukan orang yang suka basa-basi. Ia tipe orang yang senang memanfaatkan waktu dengan efektif dan sebaik-baiknya.
Heni memang belum bersuara sejak Andre selesai menelfon tadi. Ia masih tak menyangka jika Hana bukan orang biasa. Memang Edo selalu menyelesaikan setiap pekerjaan yang dibebankan kepadanya di kantor, sehingga Heni yang selalu di rumah tak pernah tahu sepak terjang Rahardja yang tak segan bermain kotor untuk menjatuhkan Surya.
“Kita selama ini selalu berhubungan dalam lingkungan bisnis, jadi tak masalah sepertinya jika kita mulai berhubungan sebagai keluarga.” Galih berusaha menjelaskan maksudnya menggunakan kalimat yang lebih sederhana.
“Ehm, saya mohon undur diri ke kamar mandi sebentar.”
Edo segera bangkit setelah Galih persilahkan.
“Anda mamanya Nak Andre?” tanya Galih pada Heni yang diam saja sejak tadi.
“Benar,” jawab Heni dengan wajah ramahnya.
“Perkenalkan, saya Galih Papanya Hana,” ujar Galih sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
“Saya Heni,” ujar Heni memperkenalkan diri.
Setelah dua orang tua ini saling memperkenalkan diri, seorang pramusaji mengantarkan pesanan ke ruangan ini. Dan setelah semua pesanan di tata rapi, wanita berseragam hitam putih ini segera undur diri.
“Silahkan Om,” ujar Andre.
“Terimakasih,” jawab Galih.
Bukan makanan yang berat yang kini datang, melainkan beberapa jenis desert karena bukan hanya Galih tapi semua yang bersama Edo juga baru saja menyelesaikan makan malam. Sehingga pasti tak ada tempat untuk lebih banyak makanan berat lagi.
Setelah cukup lama Edo pamit ke kamar mandi, sekarang ia sudah kembali. Ia segera bergabung bersama keluarga dan juga Hana serta sang papa.
Apa pun sebutannya, Galih bukanlah orang bodoh yang tak paham situasi. Jika dia tak bisa membawa diri, mustahil ia bisa menjadi pengusaha sebesar ini.
“Pak Edo sepertinya juga sedang terkejut sekarang?” tanya Galih memastikan perasaannya.
Edo nampak menhela nafas sebelum membalas tatapan Galih yang terhunus padanya. “Benar. Anak tunggal saya ini hampir tak pernah pulang dalam beberapa bulan terakhir, jadi saya merasa cukup banyak ketinggalan tentang segala sesuatu yang terkait dengan kehidupanya.”
Galih mengulas senyum.
“Anak muda memang suka begitu, terlebih ketika ia merasa sudah mampu memenuhi kehidupannya sendiri…” ujar Galih mengomentari pria muda yang kini ada diantara mereka. Andre memang bukan hanya mampu menghidupi dirinya sendiri namun juga mampu membuatnya merasa tak berdaya berkali-kali.
“Andre tidak mungkin pulang hanya untuk tidur kan Pa,” ujar Andre yang sebenarnya sudah merasa atmosfir tempatnya berada sedang tak baik-baik saja. Hanya saja ia berusaja memberikan reaksi sewajarnya menyinggung masalah kesibukannya yang luar biasa.
“Tapi kamu masih punya waktu dengan Hana, tapi tak ada untuk mama papa.” Heni yang memang tak sadar adanya arus berbahaya di sana. Ia hanya berusaha bersikap positif dan mencoba masuk dalam obrolan sang suami dan rekan bisnisnya ini.
“Hana juga sama, bahkan sejak kecil ia memang tak tumbuh di samping saya. Namun saya paham kenapa dia mendadak tak butuh saya, karena sudah ada Andre yang sangat kokoh yang bisa Hana jadikan sandaran.”
“Tapi Pak Galih apa tidak merasa ini keterlaluan saat anak-anak kita punya hubungan sejauh ini tanpa sedikitpun meminta pertimbangan terlebih dahulu?”
Andre segera menenggak habis minumannya. Ia sadar para orang tua ini mulai tak sungkan mengatakan apa yang mereka rasakan tanpa perlu membuat perumpamaan untuk memperhalus ucapan.
__ADS_1
Bersambung…