Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Kelepasan


__ADS_3

HAPPY READING


“Tolong kamu ceritakan bagaimana kamu bisa bertemu Hana waktu itu?” tanya Andre setelah hampir setengah jam ia dan Ken adu telepati.


“Aku juga penasaran, bagaimana ceritanya aku bisa tahu kehamilan Hana sebelum kamu,” sarkas Ken dengan wajah sama dinginnya.


Andre mengusap kasar wajahnya. “Aku memang…” Andre menjeda ucapannya. Ia menatap sekeliling seakan kini tengah dalam pelarian. “Ken, apa kamu peduli dengan Hana?” tanya Andre kemudian.


Ken menatap Dian yang sejak tadi diam di sampingnya. Ia meraih tangan Dian dan membawa ke dalam genggamannya. “Iya aku peduli,” jawab Ken akhirnya.


Dian tampak tersentak dan matanya langsung berkaca-kaca. Ia ingin melepaskan tangannya dari genggaman Ken, namun Ken ternyata sudah siap dengan munculnya reaksi ini. Buktinya kini Ken telah mengenggam tangan Dian erat sekali.


“Andre, mungkin sebaiknya kita tak bicara di sini,” usul Ken.


Jelas yang akan dibahas adalah perkara yang bagi orang tua adalah sesuatu yang kurang pantas. Tapi sayangnya hal tak pantas ini terlanjur kejadian. Dan bagaimana pun juga akibat yang sudah terlanjur timbul haruslah dipertanggung jawabkan.


“Mau cari sarapan di luar?” tawar Ken saat melihat Andre tak langsung bereaksi.


“Boleh,” jawab Andre menerima tawaran Ken ini.


Sementara Dian memilih diam dan tak ikut bersuara. Ia masih dirundung kesal dengan apa yang baru saja Ken ucapkan. Bagaimana tidak, karena sebelumnya Andre harus terpikat dengan Hana saat Dian belum bisa move on dengan sempurna. Sekarang mengapa harus Ken juga, padahal Dian terlanjur masuk ke dalam hubungan yang serius dengan pria bermata sipit ini. Dian benar-benar hanya bisa pasrah bahkan saat Ken terus membawanya keluar rumah bersama Andre dan masuk ke dalam mobil mereka.


“Ndre, bawa satu mobil saja, nanti balik aku antar.”


“Nggak usah, nanti merepotkan,” tolak Andre.


“Lebih merepotkan lagi kalau kamu sampai ketiduran waktu nyetir,” canda Ken yang bisa saja terjadi mengingat Andre yang belum memejamkan mata sejak sehari sebelumnya.


“Aku tak selemah itu.”


“Udah lah. Jangan kekanakan.”


Andre berhasil luluh. Ia urung mengeluarkan mobilnya dan segera masuk ke mobil Ken di jok belakang.


“Itu Dian lu apain, manyun terus?” tanya Andre saat menyadari wajah masam sahabatnya.


“Aku tahu istriku sensitive, makanya aku merasa perlu meluruskan semua termasuk keterkaitan tak sengaja ku dalam hubunganmu dengan Hana.”


“Istri?”


“Sorry Ndre." Ken tertawa kecil karena merasa kelepasan mengatakan sesuatu yang sementara ingin disembunyikan. "Aku ngawinin mantan kamu tanpa minta restu dulu,” canda Ken dari balik kemudi.

__ADS_1


“Tai Lu!” umpat Andre dari jok belakang. “Tapi selamat ya…”


“Selamatnya nanti saja kalau kita udah resepsi dan nikah resmi di sini.”


“Emang kalian nikah macam apa?” tany Andre penasaran.


“Kita nikah di gereja pas di Beijing.”


“Gercep lu ya.”


“Harus Ndre. Bertahun-tahun aku nunggu sampai dia bersedia bilang iya. Jadi…”


“Jadi begitu lampu ijo langsung gas ya,” sambar Andre dengan cepat.


“Ha ha ha ha…” Kedua pria tampan itu kompak tertawa.


Sementara Dian masih menunduk dengan mengulum senyum bahagianya. Namun tak lama sebelum senyum itu tiba-tiba pudar. Apa mungkin Ken memang ada rasa dengan Hana, padahal dia membicarakanku seperti ini?


“Kamu beneran niat ngasih aku makan?” tanya Andre saat Ken menghentikan mobilnya di depan sebuah restaurant.


“Iya. Biar elu ada tenaga buat nyari Hana,” jawab Ken asal.


“Tck…” Andre tersenyum miring sesaat sebelum Ken mematikan mobil.


Andre urung membuka pintu saat mendengar panggilan ini.


“Kalau kamu tak bisa menemukan Hana segera, aku takut kamu bisa jatuh cinta lagi dengan istriku nanti.”


Dian tak dapat menahan sudut bibirnya yang tertarik kencang. Ia yang semula menunduk perlahan mengangkat wajahnya. Ia tak tahan untuk tak menatap pria yang selalu memujanya ini. Ternyata saat ini Ken juga tengah menatapnya.


Senyum Dian mendadak pudar saat Ken memutus kontak keduanya dan malah memilih keluar. Ia kembali menunduk dan bersiap menyambut kecewa. Namun belum juga kecewa itu tiba, tiba-tiba pintu disampingnya terbuka. Ternyata Ken keluar bukan untuk meninggalkan Dian, melainkan untuk membukakan pintu bagi wanita cantik yang telah diperistrinya ini.


Wajah kaku Dian disambut senyum lebar Ken yang selalu menawan. Perasaan Dian sudah terombang-ambing sejak tadi, makanya sekarang ia kesulitan mengontrol wajahnya. Apakah dia harus tersenyum, marah, atau menangis. Yang jelas ritme jantungnya hampir tak pernah Ken biarkan teratur saat keduanya bersama.


Andre berjalan terlebih dahulu sementara Ken dan Dian mengekor di belakang. Setelah menemukan tempat yang dirasa tepat, akhirnya ketiga orang ini duduk di sana.


“Aku tahu kamu tak punya banyak waktu, jadi cepat jelaskan apa maksud ucapanmu tadi?” tanya Andre to the point.


Ken tak peduli dengan nada dingin Andre. “Mbak…” ia justru mengangkat tangannya dan memanggil pelayan untuk memesan.


“Setidaknya kita tak boleh bicara dengan perut kosong. Harus diisi dulu biar otak dapat ternutrisi,” ujar Ken tanpa menatap dua orang yang duduk satu meja dengannya ini.

__ADS_1


“Omong kosong,” kesal Andre.


Ken sama sekali tak menghiraukan tekanan yang Andre berikan. “Pesan 3 porsi menu sarapan yang paling banyak di pesan,” ujarnya pada seorang pelayan yang menghampirinya.


“Baik Pak…”


Ken memang tak memberi kesempatan untuk bertanya, sehingga pramusaji itu pergi untuk kemudian memperkirakan apa yang akan disajikan untuk memenuhi pesanan Ken.


“Saudara Kenzo, bisa anda mulai bicara sekarang,” desak Andre yang hampir kehilangan kesabaran.


“Tunggulah sarapannya datang pak Andre,” ujar Ken masih dengan nada santainya.


Ken langsung menoleh saat merasa Dian meraih sebelah tangannya. Meskipun tak bersuara, tatapan memohon Dian berhasil membuat Ken merasa ia tak boleh terlalu lama mempermainkan Andre.


“Baiklah, baiklah. Sebaiknya harus mulai dari mana ceritanya?”


“Aku ingin tahu semua.”


“Iya, iya. Akan saya ceritakan pelan-pelan. Ya meskipun saya tahu anda tak punya hak untuk tahu semua.”


“Jangan kurang ajar kamu. Saya berhak tahu karena…”


“Oke saya kurang ajar, terus anda apa, brengsek, iya…”


“Jaga ucapan anda…”


“Udah, udah. Jangan bertengkar di sini malu…”


Tepat saat Dian melerai dua pria berwatak keras ini, seorang pramusaji datang dengan tiga porsi makanan yang sesuai dengan yang Ken minta.


“Ayo makan. Kalau kalian tidak mau makan, saya juga tak akan mulai bicara,” ujar Ken sesaat setelah pramu saji itu pergi.


Mau tak mau Andre mengikuti permintaan Ken, sementara Dian yang kadung penasaran juga meraih sendok untuk memakan makanan di hadapannya.


Ken tersenyum miring. Selama ini ia selalu kalah power dengan Andre. Dan saat melihat Andre menurut, ternyata rasannya senang sekali.


“Saat itu saya tak sengaja lewat. Saya penasaran saja saat melihat Hana yang duduk seorang diri di trotoar. Dan waktu saya hampiri tiba-tiba dia malah pingsan,” jelas ken secara singkat.


“Terus dari mana kamu tahu kalau Hana hamil?” tanya Dian penasaran.


“Ya karena Hana pingsan makanya satu-satunya tempat yang terpikirkan ya rumah sakit, jadi itu Hana saya bawa saja ke rumah sakit,” jujur Ken.

__ADS_1


“Tapi satu hal yang membuat saya penasaran.” Ken menjeda ucapannya dan perlahan menoleh menatap Andre. “Kenapa saat Hana tahu ia hamil, ia tak ingin kamu tahu…”


Bersambung…


__ADS_2