
^^^Maaf lagi karena kemarin nggak up.^^^
^^^Semoga hari ini bisa diganti.^^^
^^^Gimana udah pada nerima undangan apa belum?^^^
...*HAPPY READING*...
Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 dan Dika masih bertahan di rumah Rina. Seharian jalan-jalan sepertinya tak cukup untuk mereka.
"Kok udah malem sih," gerutu Dika saat melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Rina hanya mengangguk dan memainkan jarinya.
"Aku kudu pulang ya?"
"Kayaknya iya..."
Dika hendak bangkit namun Rina justru melingkarkan kedua lengannya di perut Dika.
"Bentar lagi..." kata Rina manja.
Dika tersenyum dan membelai rambut gadisnya.
"Aku juga belum pengen pulang."
Tiba-tiba Rina melepas pelukan dan menegakkan tubuhnya.
"Tapi kamu harus pulang sekarang. Udah malam."
Dika menatap heran kekasihnya. Tadi siapa yang nahan aku pulsng. Begitu aku bilang belum pengen pulang malah diusir.
"Udah, pulang dulu."
"Kamu masih harus kerja, masih harus ngurusin seabrek urusan, masih harus ketemu banyak orang, masih harus..."
Rina terpaksa berhenti bicara saat dengan cepat Dika meraup bibirnya. Rina memilih untuk memejamkan mata dan memumpahkan semua kesalnya di sana.
Dari jauh tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang tengah memperhatikan.
" Pa, mereka... "
" Sabar dulu Ma. Sedikit saja kita paham posisi mereka. Mereka bukan seperti anak muda yang terlena dan dengan gampangnya berzina di belakang orang tua. Mereka memilih segera menikah dan membina rumah tangga."
Wah, Reno dan Ririn nggak tahu aja gimana mereka kalau lagi berdua. Kalau nggak ada Dedi mungkin gol sudah lama tercetak.
"Kita tunggu aja dulu. Kalau sekiranya kelewatan kita baru ke sana."
Ciuman panjang itu berakhir juga, Dika sempat menatap lekat wajah kekasihnya, sebelum membawa Rina ke dalam pelukannya.
"Sayang, aku tahu kamu kesal aku tahu. Tapi aku belum bisa banyak memilih."
"Setelah menikah aku ingin kamu sering bersamaku, memegang jabatan untuk dekat denganku selama kamu ingin merahasiakan pernikahan kita."
"Kamu di kantor bukan untuk bekerja, tapi untuk dekat denganku di sela waktu kuliah kamu."
"Lakukan apapun semua mau kamu, asalkan tetap di dekat ku."
"Aku maunya ngerti tapi aku masih suka kesel sendiri..." cicit Rina.
Dika mengusap-usap punggung gadisnya sambil terus berbicara, hingga akhirnya Rina mau melepaskan pelukannya.
Dika segera berpamitan namun Rina bilang masih mau di teras belakang.
"Argggghh. Nikah sekarang boleh nggak sih."
Dika duduk lagi dan kembali memeluk Rina bahkan lebih erat dari tadi.
Rina tersenyum melihat kelakuan Dika. Ternyata tidak hanya ia yang takut terserang rindu dan tak ingin berpisah, tapi Dika pun sama sepertinya.
__ADS_1
"Udah-udah. Kamu harus pulang," ujar Rina sok dewasa.
"Tapi aku masih pengen sama kamu."
"Ih, jangan manja ih."
"Manjanya sama calon istri sendiri juga."
"Iya, tapi kalau aku iffleel gimana?"
"Silakan, aku nggak maksa."
Rina mendorong tubuh Dika, memaksa pemuda ini untuk melepaskan pelukannya.
"Sayang, kamu harus pulang, harus istirahat."
"Nginep sini boleh nggak sih?"
"Big no ya. Pasti nggak boleh lah sayang. Nanti kalau Ayah ke sini terus nyeret kamu pulang gimana. Nggak keren ah."
"Ayah nggak mungkin gitu sama aku."
"Ayah sih enggak, tapi nggak tahu deh mama gimana."
Keduanya tertawa bersama, membayangkan jika Santi benar-benar ke sana. Menjewer telinga Dika dan menyeretnya.
Adegan tak rela berpisah mereka ternyata sudah berjalan setengah jam saja. Dan sekarang sudah pukul setengah 12 malam. Dika yang belum mau pulang ditambah Rina yang sebenarnya belum rela jika Dika harus meninggalkannya.
"Sabar Dika sabar. Tinggal seminggu lagi sabar..." gumam Dika pada dirinya sendiri.
"Sayang, aku harus pulang."
Rina mengangguk. "Nggak aku anter ya, aku masih mau di sini lihat bintang."
Bohong sekali Rina ini. Alasan sebenarnya ia enggan mengantar Dika ke dapan adalah karena takut jika dia akan kembali merengek dan melarang pulang kekasihnya ini.
"Aku pulang, kamu cepet istirahat."
Dika mencium puncak kepala Rina sekilas.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam..." jawab Rina tanpa melihat Dika.
Perasaannya sungguh berat. Kenapa kali ini ia begitu tak rela Dika meninggalkannya. Padahal hanya untuk pulang, bukan kemana-mana.
Rina memejamkan mata saat Dika bergerak menjauh darinya. Suara langkahnya yang menjauh begitu jelas di telinganya. Ia menahan tubuhnya untuk tak berbuat apapun yang bisa mencegah Dika untuk terus berjalan.
Greb
Susah sekali ternyata, dan Rina kini sudah memeluk Dika dari belakang.
"Sayang..."
Dika memutar tubuhnya dan kini keduanya sudah berhadapan.
"Let me go home, babe..."
Rina menggeleng. "I can't..."
"Apa kamu pengen aku ijin sama Papa buat nginep di sini."
Spontan Rina melepaskan pelukannya dan mendorong tubuh Dika.
"Nggak ada. Kamu pulang..."
Rina terus mendorong tubuh Dika. Dika pasrah saja dengan kelabilan gadisnya. Hingga akhirnya mereka tiba di ruang tengah.
"Pa, Ma. Belum tidur?" tanya Dika yang pertama menyadari keberadaan Reno dan Ririn.
__ADS_1
"Belum Nak. Masih ada yang harus kami bicarakan," bohong Reno.
Sebenarnya mereka sudah ingin tidur dari tadi, namun membiarkan anaknya dengan seorang pria semalam ini bukanlah pilihan yang bijak. Meskipun sebentar lagi mereka akan menikah.
"Dika mau pamit pulang..."
Dika membungkuk untuk mencium tangan Reno dan Ririn bergantian.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam..." serempak Reno dan Ririn.
"Rin, anter Dika ke depan ya..." pinta Ririn.
"Nggak mau."
Rina berlari begitu saja menyusuri tangga dan menghilang di balik pintu kamarnya.
Ririn hanya geleng-geleng melihat tingkah putrinya.
"Rina tadi nggak bolehin kamu pulang ya?"
"Iya Ma," jujur Dika.
"Kamu yang sabar ya."
"Iya Pa. Dika nggak masalah kok."
Akhirnya Reno dan Ririn lah yang mengantar Dika ke depan, sementara Rina entah sedang apa di dalam kamar.
"Kamu nyetirnya hati-hati. Dan langsung pulang."
"Iya Ma, makasih. Besok Dika juga harus kerja."
"Emang bos nggak boleh libur ya meskipun mau nikah?" tanya Ririn.
"Kalau seandainya Rina nggak minta pernikahan ini dirahasiakan mungkin bisa Ma, tapi kalau sekarang Dika hanya bisa mengatur jadwal agar ada waktu kosong 2 atau 3 hari."
"Iya, iya saya ngerti. Jangan semua dibikin ribet kayak para wanita."
"Iya Pa. Terimakasih pengertiannya."
Setelah berpamitan dan sekali lagi mengucapkan salam, Dika langsung memasuki mobilnya. Perlahan mobil hitam itu meninggalkan rumah Reno. Reno dan Ririn pun masuk untuk segera beristirahat.
Mereka sengaja membiarkan Rina sendiri agar dapat berfikir lebih jernih.
Dijalan ia melihat seorang pria nampak panik di samping mobilnya. Dari jauh ia seperti familiar dengan perawakan pria itu. Karena penasaran akhirnya Dika berhenti.
"Ada yang bisa saya bantu Mas."
Pria itu membeku saat melihat Dika menyapanya. Sebenarnya Dika sama saja, hanya saja ia masih berhasil menarik sudut bibirnya untuk tersenyum.
"Istri saya mau melahirkan dan mobil saya pecah ban," ucap pria itu akhirnya setelah sempat terdiam.
"Mari saya antar ke rumah sakit," tawar Dika.
"Terimakasih, tapi saya sudah..."
"Mas, aku nggak tahan..." rintih seorang wanita dari dalam.
"Saya ikhlas bantu kalian."
Akhirnya pria itu membawa istrinya memasuki mobil Dika. Hingga mobil Dika berjalan dia masih sibuk menghubungi orang.
"Dika terimakasih."
"Sama-sama..."
TBC
__ADS_1