Zona Berondong

Zona Berondong
Training Calon Mantu


__ADS_3

^^^Tareek ses....^^^


^^^Jangan lupa tinggalkan jejak ya.^^^


^^^-Happy reading-^^^


Rina merasa paginya sungguh luar biasa. Adzan subuh yang biasanya tak mampu mengusik tidurnya, tapi kali ini bahkan sanggup membuatnya terjaga. Dan kini ia sudah ada di dapur bersama sang mama untuk menyiapkan sarapan.


"Masak apa Ma?" Reno yang baru mandi langsung meraih pinggang Ririn dan memeluknya dari belakang.


"Pa lepasin."


"Kenapa emang?" Bukannya menurut Reno malah mengeratkan pelukan dan mendaratkan kecupan di leher istrinya.


"Ehm, ehm, Papa Mama, di sini ada yang masih di bawah umur loh."


Mendengar itu spontan menjauhkan tubuhnya dari Ririn. "Rina kok di sini?"


"Ke kamar lagi nih..."


"Eh, jangan, jangan. Papa aja yang pergi."


Rina tertawa saat melihat kepanikan papanya. Pemandangan ini sungguh langka. Biasanya Reno sangat menjaga wibawa, namun kali ini tingkahnya persis siswa yang kedapatan nyontek oleh gurunya.


"Di sini aja Pa..."


"Nggak deh, Papa masih kudu ngecek beberapa file."


Rina segera menghampiri mamanya. "Papa suka gitu ya Ma..."


Mama hanya tersenyum dan mengangguk.


"Mama sama papa dulu kenalnya gimana?"


Ririn menghentika sejenak aktivitasnya memotong sayuran. "Dulu papa presiden BEM saat Mama mahasiswa baru. Mama..., Mama mulai terpesona dengan papa sejak saat itu." Dengan wajah berhias senyuman, Ririn kembali sibuk memotong sayuran.


"Mama yang nembak papa?"


"Ya nggak lah. Senaksir-naksirnya Mama sama laki-laki, nggak mau Mama nyatain perasaan duluan."


Rina tertawa melihat Mamanya.


"Ya udah Ma, Rina mandi dulu ya..."


"Cepet turun, ada tamu spesial pagi ini."


Tamu spesial? "Oke Ma." Rina terus berjalan menaiki tangga dan tak mau ambil pusing dengan tamu spesial yang dikatakan mamanya.


Ririn melanjutkan acara memasaknya ditemani Bibi.


"Pa, jadi Dika ke sini...?" tanya Ririn saat melihat Reno menuruni tangga.


"Kalau sesuai rencana sih iya."


Setelah pertanyaannya di jawab, Ririn kembali menata makanan di meja.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam..."

__ADS_1


Terdengar seseorang mengucap salam dari depan.


"Biar Papa aja," cegah Reno saat Ririn hendak berjalan ke depan.


Tak lama kemudian Reno sudah muncul dengan Dika.


"Lhoh, Dika kok bajunya?" Ririn terkejut saat melihat Dika dengan tampilan yang berbeda.


"Iya Tan."


"Ada tamu bukannya suruh duduk kok malah dilihatin kayak gitu sih Ma..." Reno coba mengalihkan pembicaraan, karena sesuai permintaan Dika, ia tak ingin terlalu banyak orang yang tahu tentang hidupnya.


"Eh iya, silahkan duduk." Ririn kemudian berjalan menaiki tangga menuju kamar putrinya.


Tok tok tok


"Rin, cepet keluar deh."


Tok tok tok


"Sayang..."


Cklek


"Kenapa Ma?" tanya Rina yang keluar sambil merapikan poninya.


"Itu, itu. Kamu kudu cepet lihat." Ririn menarik Rina agar mempercepat langkahnya.


"Temennya Papa ya?" tanya Rina yang melihat sosok rapi berjas di meja makan mereka. Kok aku ngerasa familiar ya sama perawakannya. Batin Rina yang tak dapat melihat dengan jelas laki-laki itu karena posisinya yang membelakangi tangga.


"Kamu pasti kaget," Ririn terus menarik Rina agar berjalan lebih cepat.


Dika menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia tahu benar akan seperti ini jadinya, tapi tak ada pilihan lain. "Kata Om Reno aku mau di training dulu biar lolos kualifikasi calon mantu," canda Dika asal.


"Pa..., masak iya kudu gitu? Kan Dika masih harus sekolah..." protes Rina kepada papanya.


"Dika yang maksa, Papa kudu gimana?" Reno tak ingin berdebat, jadi dia cari amannya saja. Saat melihat wajah dua wanita penting di hidupnya yang tak karuan, Reno baru tahu kalau mengerjai orang itu rasanya sungguh menyenangkan.


"Dika. Kata kamu kan kamu mau nerusin usaha papa kamu?"


"Ya kan kudu punya pengalaman dulu Rin. Usaha papa itu perputaran dananya terbatas, yang kalau salah dalam mengelola bisa ambleg kapan saja."


"Ya, terus kamu mau magang di tempat Papa?" tanya Rina dengan memandang Dika dan papanya secara bergantian.


"Iya," jawab Dika singkat.


"Jadi karyawan biasa, bagian apa, biasanya anak magang kan cukup pake kemeja nggak perlu pake dasi dan jas lengkap kayak gini."


"Rina, kamu duduk dan sarapan. Sekolah masuknya masih jam 7 kan?"


Jika Reno sudah berbicara dengan serius seperti itu, tentu Rina tak akan berani membantah meskipun begitu banyak pertanyaan yang menggunung dalam benaknya.


"Kamu berangkat sama siapa Rin?" tanya Dika di sela makannya.


"Emmm, ojek."


"Om, apa Om bisa nunggu sebentar, biar saya antar Rina dulu."


"Nggak usah, nggak usah. Magang hari pertama masak mau dateng siang, mau di blacklist sama Papa."

__ADS_1


"Uhuk..."


"Kenapa Pa," Ririn segera mengambilkan minum untuk suaminya.


"Uhuk, uhuk, uhuk..." Papa ini cuma kepala kantor cabang, mana bisa ngeblack list CEO, yang ada Papa di bebas tugaskan alias dipecat. Reno merutuki ucapan sembrono putrinya. Namun jangankan menegur, memberitahu yang sebenarnya saja Reno tak punya kuasa.


Dika segera menutup mulutnya yang tertawa melihat tingkah Reno yang begitu lucu di matanya.


"Papa kok bisa keselek sih?"


"Udah udah diem dulu. Kalian juga makannya jangan sambil ngobrol," kata Ririn memperingatkan Rina dan Dika.


Semua kembali fokus terhadap makanannya. Reno masih sesekali menatap Dika dengan segan, bagaimanapun juga ia adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja, jadi ia begitu malu dengan tingkah putrinya barusab. Jika saja Dika tak melarang dan Reno bisa mengatakan yang sebenarnya, mungkin tak akan ada kejadian seperti barusan.


Dan setelah setelah sekesai sarapan, Dika benar-benar mengantarkan Rina ke sekolah.


"Dik, udah dibilang jangan. Papa itu orangnya disiplin banget loh." Rina masih berusaha mencegah Dika agar tak mengantarkannya.


"Aku tahu," jawab Dika santai sambil mendorong Rina untuk segera masuk ke dalam mobilnya.


"Kalau tahu kok masih nekat sih."


"Kalau kamu nggak mau aku kena blacklist, sekarang kamu diam, biar aku konsen nyetirnya."


"Ck," Rina berdecak dan menyilangkan tangannya di dada.


"Hhh..." Dika mendesah saat Rina bahkan tak memasang seatbeltnya. Akhirnya ia mendekat dan membantu Rina memasangkannya.


Plak


Rina memukul lengan Dika yang menekan bagian sensitifnya.


"Itu tadi sakit loh," ucap Dika santai.


"Sengaja kan?" tuduh Rina.


"Dikit doang," Dika terkekeh sambil mulai menyalakan mobilnya.


"Iihhhh, kamu yaaa..." Rina mulai menyerang Dika dengan cubitan membabi buta.


"Udah udah, eh, udah..." melihat Rina mengacuhkan peringatannya, tiba-tiba ide jahil muncul di kepala Dika.


Rina merasa tengkuknya ditarik dan sedetik kemudian dia merasa ada benda basah dan kenyal mel**at bibirnya. Matanya mengerjap-ngerjap mencoba mencerna kejadian yang tengah dialaminya. Saat tersadar bahwa Dika tengah men**umnya, Rina mulai membalas lu**atan itu.


Namun tepat saat itu juga, Dika malah menarik wajahnya. "Cieee, mau ya, ngarep ya, cciieee."


"Dikkaaaaa!" Rina ingin kembali menyerang Dika.


"Telat nih telat, mau kamu sekolahnya telat."


"Nyebelin!" Rina kembali menyilangkan tangannya.


"Aku pengen makan kamu kalau tangannya gitu."


Rina segera mengambil tas untuk menutupi dadanya.


Dika meraih dagu Rina dan mengusap bibirnya pelan. "Aku sayang kamu."


Saat itu juga wajah Rina terasa memanas. "Udah, ayo jalan. Jalan..." Rina mendorong-dorong bahu Dika agar segera menjalankan mobilnya.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2