
^^^Helloowww, Senja menyapa.^^^
^^^Apa kabar temen-temen semua...^^^
^^^Masih semangat kan ngikutin Dika dan Rina?^^^
^^^Atau jangan-jangan malah baper sama Dedi dan Rista?^^^
^^^-Happy reading-^^^
Pagi hari di SMA Karya Bangsa. Rina untuk pertama kalinya dapat melangkahkan kaki dengan begitu ringan pasca mengenal Rio. Kali ini ia berangkat sendiri lebih pagi dari biasanya karena ia ingin sekali bertemu dan berbicara dengan Indah.
"Permisi Kak," Rina menyapa seorang mahasiswa praktik yang ia yakini mengenal Indah.
"Iya Dik, ada yang bisa saya bantu?" tanya pria kalem itu.
"Emm, apa mbak Indah sudah datang?" tanya Rina.
"Indah ya, kayaknya dia nggak ke sekolah hari ini. Kalau kamu ada kepentingan, bilang aja, nanti saya sampaikan," tawar pria itu lagi.
"Emm, saya minta nomor ponselnya bisa?"
"Boleh deh, kamu catet." Pria itu mendiktekan nomor ponsel Indah dan Rina segera mencatatnya.
"Makasih ya Kak," ucap Rina setelah menekan save.
Rina kemudian kembali berjalan menuju kelasnya. Di sana masih begitu sepi, jadi ia mencoba mengirim sebuah pesan kepada Indah. Ia membuka chatroom yang masih kosong dan coba mengetikkan sesuatu di sana.
Mbak Indah
"Assalamualaikum, mbak Indah..."
Setelah menekan tombol send, muncul centang dua, setidaknya pesan itu masuk meskipun belum terbaca. Beberapa waktu lalu Indah pernah meminta kontak Rina, namun sama sekali belum ada komunikasi setelahnya.
Rina mencoba mengalihkan perhatiannya pada sosial media yang akhir-akhir ini jarang disentuhnya.
Matanya memicing melihat postingan Dika. Sebuah foto hitam putih yang menampakkan bagian samping wajahnya, dan juga caption yang sarat akan sebuah beban berat. Sebenarnya apa yang kini kamu hadapi, kenapa kamu nampak begitu berat menghadapinya. Apa semua masalah ekonomi.
Seandainya Rina tahu siapa Dika, mungkin ia tak akan pernah berfikir seperti itu, bahkan yang menghidupi keluarganya adalah juga perusahaan milik Dika.
"Itu beneran temen kamu?"
Nita melongok ka dalam kelas. Dia membelalakkan mata saat melihat sabahabatnya kini sudah berada di kelas. "Kamu nggak salah Rin?" Nita melepaskan genggaman tangan Miko dan berjalan mendekati Rina.
"Elu yang salah," jawab Rina asal. Dia kembali melihat foto-foto lawasnya dengan Dika.
Miko yang tertinggal di depan pintu kemudian berjalan masuk menyusul kekasihnya.
__ADS_1
"Jam berapa sih?" Nita bertanya sambil mendongak menatap Miko yang berdiri di sampingnya.
"Tujuh kurang seperempat," jawab Miko setelah mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Elu tadi nyampe sekolah jam berapa nyet...?" tanya Nita yang masih heran karena tak biasanya Rina datang sepagi ini.
"Tauk deh, lupa gua."
"Nita, aku balik ya..." pamit Miko sambil mengelus kepala Nita.
"Oke." Nita melambaikan tangan hingga Miko hilang di balik pintu.
"Berangkat sama siapa?" kembali Nita bertanya saat perhatiannya sudah kembali pada Rina.
"Bareng papa..."
"Om Reno ngapain juga berangkat sepagi ini, bukannya dia bos ya di kantor."
Rina menggidikkan bahu. "Katanya ada tender besar yang mana ini menjadi titik balik munculnya CEO muda pewaris tunggal perusahaan papa. Dan yang ngurusin kebetulan papa, jadi papa ikut sibuk gitu deh." Rina tiba-tiba meletakkan ponselnya. Dia seakan tengah mengumpulkan puzle informasi untuk disusun ya di dalam otak.
"Muka lu kenapa, serius amat?" tanya Nita yang melihat dengan jelas perubahan raut wajah Rina.
"Kamu inget nggak pas di timezone?"
"Iya..."
"Dika kemaren pagi-pagi juga kerumah, sampai aku ke sekolah kan dianter dia."
"Bukan, bukaaannn. Dia kemarin pake baju rapi banget, pake dasi, pake jas juga, padahal kan katanya dia mau magang di perusahaan papa."
"Lu mau mikir kalau doi bosnya Om?" terka Nita.
"Mungkin nggak sih...?" Rina balik bertanya.
"Nggak ada sih yang nggak mungkin, tapi satu nih yang menurut gue aneh, masak iya lu kayak nggak ngerti apa-apa tentang Dika. Kayak itu tuh, lu putus sama Dika gara-gara ngeliat dia jalan sama adeknya kan, dan elu dengan sejenak jidat ngira Dika selingkuh?"
Rina terpaksa menggaruk kepalanya yang tak gatal mengingat kedohan yang membuatnya harus berurusan dengan Rio.
"Inget kan Lu?"
"Iya, iya inget. Nggak usah gitu juga matanya."
"Ya sebagai sahabat yang baik gue cuma mau mengingatkan," tegas Nita.
"Terus, gue kudu gimana nih?"
"Sebelumnya gue mau tanya, status hubungan lu sama Dika gimana?"
__ADS_1
Rina menggeleng dengan kepala memunduk.
"Maksudnya apa nih?"
Rina memdesah. "Gue nggak tahu, gue pernah ngajak balikan tapi dianya nggak ngasih kepastian."
"What!?"
Rina menutup telinganya. "Please deh, jangan bikin telinga gue sakit sepagi ini.
Nita geleng-geleng menatap sahabatnya. "Terus kalian pelukan de el el de ka ka kemaren dalam rangka apa. Lu fine-fine aja gituan sama cowok tanpa status yang jelas?"
"Kecilin suara lu bisa nggak?"
"Kagak, biar lu sadar!" Nita mulai bersungut-sungut menghadapi teman ajaibnya.
"Dia ngajakin gue nikah muda?"
"What!?"
"Nita, Please....!" Lirih Rina dengan menyumbat kedua telinganya.
Nita mengalah, dia merapatkan duduknya dengan Rina.
"Terus elu jawabnya gimana?" tanya Nita penasaran. Kini suaranya jauh lebih rendah dari tadi.
Rina menggeleng.
Nita segera membungkam mulutnya sebelum nada 8 oktafnya keluar. "Elu nolak?"
Rina mendesah dan memandang Nita sendu. "Kehidupan Dika sepertinya berat banget, bahkan sekarang dia juga harus kerja sebelum warisannya benar-benar habis. Gitu katanya."
"Elu takut hidup susah?" kembali Nita bertanya dengan raut wajah yang sulit di tebak.
"Ya, aku masih takut, aku nggak bisa masak, nggak bisa beres-beres, nggak bisa ngapa-ngapain. Aku takut jadi beban dia kalau aku..."
Nita meletakkan sebelah tangannya di bahu Rina. "Aku nggak bisa ngasih saran, aku cuma mau bilang, ambil keputusan yang tepat dan jangan pernah menyesali apapun keputusan kamu itu."
"Aku sayang dia..."
Nita mengangguk. "Aku bisa lihat kalau kamu emang sayang sama dia. Dan satu lagi yang perlu kamu pertimbangkan, yaitu restu dari Om dan tente, karena mereka nggak akan ngebiarin anaknya menderita."
Rina memgangguk. Diam-diam ia memikirkan setiap kata yang baru saja Nita ucapkan. Papa cukup mengenal Dika, dan dia sepertinya tak ada masalah aku dekat dengannya. Apakah aku dan Dika akan bahagia jika bersama?
***
Dika kembali menginjakkan kakinya di cabang kantornya yang lain. Dia datang bukan sebagai CEO, tapi sebegai utusan dari kantor pusat untuk melakukan pengawasan kinerja. Sempat diragukan, karena usianya yang masih begitu muda, namun dengan keterampilan berbicara yang belum lama ini dipelajarinya, Dika sudah berhasil meyakinkan banyak orang yang bahkan usianya lebih dari duakali lipat usianya.
__ADS_1
Baru satu perusahaan, dan kepalanya sudah dibuat berdenyut nyeri. Dika menatap langit yang langsung di sambut senja, dan mentari pun nyaris bersembunyi di peraduan. "Sebaiknya aku juga pulang..."
TBC