Zona Berondong

Zona Berondong
Sabtu Malam


__ADS_3

^^^Hai, hai.^^^


^^^Senja balik lagi.^^^


^^^Gemes nggak sih lihat Dika dan Rina yang statusnya tetep mantan.^^^



Rina kangen Dika yang akhir-akhir ini mulai sibuk.


^^^Atau ada yang nungguin Dedi sama Rista jadian?^^^



Tingkah absurd Dedi dan Rista


^^^Atau jangan-jangan ada karakter lain yang lebih menarik buat kalian?^^^


^^^-Happy reading-^^^


"Ded..." Dika menghampiri Dedi yang sedang berkutat dengan komputer di rumahnya.


"Dah balik?" Dedi balik bertanya.


Dika tak manjawab namun justru membanting tubuhnya di atas sofa.


"Ada yang bisa gue bantu?" tawar Dedi saat melihat temannya nampak kusut.


"Rista di mana?" bukannya menjawab Dika justru kembali melempar pertanyaan.


"Lagi renang di belakang kayaknya."


"Elu abis SMK mau ngapain?"


"Lu mau ngomong apa sih? Emang apa yang bisa dilakuin anak yatim piatu kayak gue selain ngikutin permainan takdir dan terus berjuang bertahan hidup."


Dika tertawa miris. Dia terus mengeluh namun ia lupa jika sahabatnya sendiri bahkan hidupnya jauh lebih mengenaskan dari dia. Tak hanya miskin perhatian, tapi juga miskin harta. Jika dia masih bisa hidup enak, Dedi bahkan harus berjuang untuk sekedar makan kenyang.


"Elu mau ikut gue."


"Lhah, ini kan gue dah ngikut elu, makai fasilitas lengkap elu makan sering ikut elu, cuma tidur aja gue yang di kos sendiri."


"Nggak gitu, tapi gue butuh bantuan elu buat ngawasin kinerja perusahaan."


"Ya mana bisa, orang sistem kerjanya gimana aja kagak ngarti."


"Kamu cukup mengumpulkan informasi. Aku ingin tahu apa ada duri dalam perusahaan sebelum aku memulai kepemimpinan."


Dedi nampak berfikir.


"Tenang, gue gaji," kata Dika seolah tahu yang Dedi ragukan.


"Gue nggak matre tapi..." Dedi sebenarnya tak enak, namun semua juga tahu kalau butuh biaya untuk bertahan hidup.


Dika menepuk bahu sahabatnya. "Aku paham."


"Thank's ya." Dedi segera memeluk sahabatnya ini.


"Kalian ngapain?"


Dedi segera memalingkan wajah saat tahu Rista yang datang.


"Dik, pakai baju yang bener bisa nggak? Kamu bukan anak kecil lagi lo," ucap Dika menasehati. Pasalnya kini Rista hanya mengenakan kimono yang di dalamnya hanya ada bikini.

__ADS_1


"Ini mau ke kamar Kak, terus lihat Kakak udah pulang makanya aku samperin."


"Udah sono..."


Rista segera berjalan menuju kamarnya menuruti perintah sang kakak.


"Kamu sakit Ded?" tanya Dika saat melihat wajah Dedi yang tiba-tiba merah.


Dedi menggeleng. Terasa sedikit panas memang, tapi ia terkejut jika ternyata membuat warnanya berubah. "Cuma lagi ngebayangin nominal yang bakal kamu kasih..." Dedi mencari alasan agar Dika tak berfikir yang macam-macam.


Dika terkekeh. "Sebanyak jatah uang makan kamu sebulan aku pikir udah cukup."


"Mending aku jadi babysiter nya Rista aja, udah dapet yang unlimited kayak gini," Dedi menunjukkan credit card dari Dika yang bisa Dedi gunakan untuk memenuhi kebutuhan dia dan Rista.


"Hahaha....!"


Keduanya kembali tertawa bersama. Rasa-rasanya Dika bahkan nyaris tak pernah tertawa lepas seperti ini beberapa waktu terakhir.


"Kak..."


Tawa keduanya berhenti saat Rista datang dan bergabung bersama mereka.


"Apa Dik..." Dika meminta adiknya untuk duduk di sebelahnya.


"Malem minggu gini nggak ada niatan buat ngajak Kak Rina jalan kah?"


Dika mengernyit. "Mau nginep di villa?"


Rista mengangguk antusias.


"Ini jam berapa sih?"


Tak lama setelah Dika menanyakan jam, adzan magrib pun berkumandang.


Dika mengangguki ucapan Dedi.


"Rista sholat dulu sama Kakak ya. Dedi tunggu bentar nggak apa-apa..."


Kenapa Dedi tak sholat?


Karena dia merupakan non muslim. Namun Dika dan Dedi tak pernah mempermasalahkan hal tersebut, makanya mereka bisa langsung akrab sejak pertama saling kenal.


Diam-diam Dedi memperhatikan Dika dan Rista. Ada rasa penasaran yang membuat dia ingin tahu tentang keyakinan sahabatnya. Karena jujur, dia sedang dilanda kehampaan.


Selepas sholat, Dika dan Rista kembali bergabung bersama Dedi.


"Gue balik ya, kan pada mau ke villa." Pamit Dedi setelah Dika duduk di sebelahnya.


"Kakak ya ikut juga dong, ya kan Kak..." Rista mulai merengek pada kakaknya.


"Emang kamu balik mau ngapain sih?" tanya Dika.


"Mau istirahat, capek gue." Bukan, sejujurnya bukan itu alasan Dedi. Dia hanya tak ingin terus bersama Rista jika nanti Dika sudah bersama Rina. Tak nyaman terus bersama dengan orang yang di sayang namun tak boleh mengungkap perasaan.


"Rista nggak jadi ikut deh kalau Kak Dedi nggak ikut..."


"Tadi kan kamu yang bilang pengen ketemu Rina," kata Dedi dengan wajah lelah.


"Ya tapi..., pokoknya Rista mau ada semua."


Dika menghela nafas. "Kalau kamu sibuk nggak apa-apa deh, kalau misal alasannya capek, nanti kan aku yang nyetir, kamu bisa tidur selama perjalanan."


Melihat wajah serius Dika, Dedi jadi tak enak. Mau bagaimana pun juga, Dika sudah banyak sekali membantunya.

__ADS_1


"Oke deh, gue ikut."


"Yeyeye...." keputusan Dedi disambut suka cita oleh Rista dengan bersorak bahagia.


"Bentar aku hubungin Rina."


Dika segera meraih ponselnya dan menghubungi Rina. Tak perlu menunggu lama, panggilan itu sudah tersambung dan langsung dijawab di seberang sana.


"Rin, sibuk ya...."


"Kok rame ada siapa?" Belum juga Rina menjawab, Dika sudah kembali bertanya.


^^^"Ada mereka..."^^^


^^^Rina mengarahkan ponselnya pada semua yang ada di sana. Ada Dian dan Nita serta ada seorang cowok yang hanya menatap tanpa ekspresi.^^^


"Ada cowok juga...?"


^^^"Dia pacar gue..." Ini bukan suara Rina, tapi suara Nita karena merasa pacarnya dibicarakan.^^^


"Ya udah deh kalau sibuk, lanjutin aja..."


^^^"Nggak, nggak sibuk kok... Kamu mau ke sini?"^^^


Dika menggeleng. "Tadi Rista pengen ngajakin kamu sama kita rame-rame ke Vila, tapi kalau kamu udah ada acara, mungkin lain waktu aja..."


^^^"Vila? Di mana? Kita boleh ikut dong...?"^^^


^^^Dian langsung nimbrung tanpa diundang, yang akhirnya mendapat hadiah cubitan dari Nita.^^^


"Boleh sih, ya kan Ris..."


Yang ditanya hanya mengangguk. Di sisi lain Dedi juga turut bernafas lega, setidaknya dia tak hanya berdua dengan Rista.


"Tapi Om sama tante ngizinin nggak ya?"


^^^"Bentar deh aku tanya..."^^^


Sambungan video call pun dimatikan. Dan Rina segera minta izin pada Reno dan Ririn yang dengan mudah langsung diizinkan. Begitu pun dengan Dian dan Nita. Dan ternyata hanya Dian yang mendapat izin, sedangkan Nita tidak.


"Yah, sayang banget kamu nggak bisa ikut. Kan lumayan kita bisa nikmatin pantai besok pagi," keluh Dian karena sahabatnya ini tak bisa turut serta.


"Ya gimana lagi, gue juga udah lama nggak ke rumah nenek..."


Nita masih bersantai di rumah Rina, sedangkan Dian kini sedang sibuk berkemas bersama Rina. Dia tak pulang, jadi ia putuskan untuk meminjam beberapa helai baju Rina.


Tak lama kemudian deru mobil terdengar berhenti di depan rumah Rina. Dia segera berlari untuk menyambut Dika dan Rista.


Namun dia terkejut saat Rista keluar dari kok belakang.


"Di depan ada orang?" tanya Rina saat Dika menghampirinya.


"Noh, Dedi lagi molor."


"Ohhh..."


Dari belakang ada yang dalam hati bersorak bahagia. Ya, dia adalah Dian. Ia yakin akan melewatkan malam yang menyenangkan karena keberadaan berondong yang tak kalah keren dari Dika di sana.


TBC.


Ada aroma apa nih temen-temen, 😘😘😍


Perlu ada orang ketiga nggak?

__ADS_1


__ADS_2