
^^^Jadian sama mantannya temen atau mantan jadian sama temen. ^^^
^^^Pernah nggak? ^^^
...*H A P P Y R E A D I N G*...
Ckrek
Gadis cantik tinggi semampai itu masih tak percaya dengan apa yang baru saja terabadikan di ponsel pintarnya.
"Masa iya sih Rina kumat lagi. Nggak ngeri apa kalau sampe kecantol yang modelan Rio," gumam Dian.
Saat ini Rina memang tengah berbincang dengan seorang pemuda berperawakan tinggi namun masih terlihat begitu muda. Di sini memang Rina hanya mengenal Nita sekeluarga dan Awan saja. Kenapa dia bersama Awan, karena Nita sedang di panggil mamanya entah untuk apa dan Nina sedang sibuk dengan teman-temannya.
Dan Awan bak mendapat anugerah, karena setelah kemarin gagal makan siang dengan Rina, kini ia bisa kembali bertemu dan berbincang dengannya.
Dian berjalan menghampiri Nina. Dia ingin menyerahkan kado dan mengucapkan selamat ulang tahun untuk adik sahabatnya.
Setelah menemui Nina, Dian segera menuju stand makanan, mengambil beberapa kue dan duduk pada sebuah kursi yang disiapkan di sana.
Rina dan Dian sempat bertemu pandang, namun masing-masing segera memutuskan. Awan memang belum sempat mengenal Dian, karena waktu itu Rina keburu memutuskan ya karena ketahuan dia masih kelas 3 SMP.
"Nita kok lama ya," gumam Rina.
"Kenapa, kan udah ada aku," kata Awan.
"Kamu nggak pengen gabung sama temen-temen kamu kah?"
Awan menggeleng. "Aku bisa sama mereka kapan aja, kalau sama kamu aku nggak tahu harus nunggu berapa lama untuk bisa sekedar ngobrol bersama."
"Ck, dasar bocah."
Awan sejenak menatap langit. "Rin, kalau aku saat itu bukan anak SMP, apa mungkin kita masih sama-sama sampai sekarang?"
Mungkin iya. "Jangan ngaco deh, kamu itu kudunya nggak manggil aku kayak gini bocah."
Awan meletakkan minuman di yang semula ia pegang ke sebuah meja yang berada tak jauh darinya. Ia segera meraih tangan Rina yang tak memegang apa-apa.
Awan sedikit membungkuk untuk menyamakan tinggi badannya dengan Rina.
Dian masih setia memperhatikan sahabatnya. Heran gue sama Rina. Kirain udah tobat, nggak tahunya masih aja penyakitnya. Lagian kok bisa-bisanya dia nemu cowok di acara kayak gini.
Entah mengapa Dian merasa perlu untuk mengabadikan momen ini. Untuk apa? Entahlah. Dia hanya ingin saja.
Merasa terlalu lama memperhatikan Rina, Dian merasa bosan juga, hingga tanpa ia sadari kini Nita sudah ada di sampingnya.
"Di, dah lama?" tanya Nita menyapa sahabatnya.
"Lumayan. Eh si Nina lama nggak ketemu kok udah gede aja ya."
"Jelas lah. Udah SMK dia mah," jawab Nita sambil memperhatikan adiknya dari jauh.
"Kok nggak lanjut ke sekolah kita?"
__ADS_1
Nita menggidikkan bahu. "Dia lebih suka di SMK. Eh lu lihat Rina nggak?"
Dian menatap malas. "Lagi asik sama cowok dia?"
"Cowok? Perasaan gue nggak ngabarin Dika..."
"Bukan Dika. Ya itu yang gue heran. Bisa-bisanya dia gandeng cowok lain di sini. Mana mesra banget lagi. Nggak bener tu bocah."
Nita tampak berfikir. "Ah salah lihat kali."
"Sumpah deh." Dian mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan hasil jepretannya pada Nita.
"Astaga..." Nita menepuk jidatnya. "Tu bocah obses banget sama Rina. Lu tahu nggak sekerang mereka ke mana?"
Dian menggeleng. "Rina bisa ngindar kan kalau emang dia nggak mau main api."
Nita menghela nafas lelah. "Untuk kali ini please jangan narik kesimpulan gitu aja ya."
Nita berlalu untuk segera mencari Rina.
"Ck, mereka pada kenapa sih?" Dian bangkit. Sepertinya ia tak bisa terlalu lama di sini. Ia ingin segera berpamitan pada Nina dan pergi meninggalkan tempat ini secepatnya.
"Wan, jangan aneh-aneh deh..." Rina berusaha melepaskan tangan Awan yang mencengkeram pergelangan tangannya
"Apa sih Rin. Di sana terlalu rame. Aku cuma pengen ngobrol sama kamu."
"Wan, kamu jangan macem-macem! " Rina mendorong tubuh Awan yang ingin memeluknya.
"Nggak lucu." Rina segera berbalik meninggalkan Awan. Sebocah-bocahnya Awan, dia tetap laki-laki.
"Rin..." Hanya dalam beberapa langkah, Awan sudah berhasil menahan Rina kembali.
"Wan, lu bikin gue takut tahu nggak."
"Awwaaaannnn, awan mendung ngapain narik-narik temen gue...." Nita yang berhasil menemukan keduanya segera menjewer telinga Awan dan menariknya.
"Aw, aw, Kak Nita apaan sih. Awan kan cuma lagi kangen sama mantan." Awan coba membela dirinya sambil menyelamatkan telinganya.
"Ighhh!" Nita menarik gemas telinga Awan sebelum melepaskannya. "Sekali lagi lu gini, gue aduin sama tante," ancam Nita.
"Yah, jangan dong."
Namun Nita tak menghiraukannya dan segera pergi dengan membawa Rina bersamanya.
"Kamu nggak apa-apa Rin?" tanya Nita saat mereka sudah tak melihat keberadaan Awan di dekatnya.
"Nggak apa-apa sih. Cuma ngeri aja ditarik ke sini. Mau teriak atau berontak secara tetang-tetangan tadi malu sama temen-temen Nina," jujur Rina.
"Aku juga sih yang salah. Dia sering banget nanyain kamu tahu nggak."
"Masa sih?"
Nita mengangguk. "Padahal kamu b aja deh, tapi Awan kok sebegitunya suka sama kamu," ucap Nita dengan tawa kecil di bibirnya.
__ADS_1
"Dih. Harus diakuin kan kalau Rina Malinda memang mempesona." Rina sempat berhenti dan memutar tubuhnya. Keduanya kemudian tertawa dan bergabung bersama Nina dan kawan-kawannya.
***
Dian sedang berjalan memasuki restoran milik mamanya. Meminjam dapur resto dan bereksperimen dengan bahan-bahan makanan sepertinya akan menyenangkan.
Langkahnya terhenti saat melihat sosok yang cukup ia kenali.
Dia menatap lamat sosok muda yang tampil berwibawa dengan setelan jasnya. Aku nggak tahu pasti kamu seperti apa, tapi setelah melihatmu dengan Rio di villa, aku yakin kalau kamu bukan remaja biasa. Batin Dian.
Tanpa ragu Dian berjalan mendekati Dika yang sedang berbincang santai dengan pria yang ditaksir seusia papanya.
"Dika..." Sapa Dian seakan tak sengaja mengetahui keberadaan Dika di sini.
"Eh Dian. Iya."
"Om..." Dian menyapa dan menunduk hormat saat melihat pria yang ia taksir adalah ayah Dika. "Kamu ngapain di sini?" tanya Dian pada Dika kemudian.
"Saya lagi nemenin..." ucapan Dika menggantung saat mendengar ponselnya tiba-tiba berdering.
"Halo selamat siang..." Dika bangkit dan meninggalkan Edo dan Dian di sana.
"Om, saya permisi ya..." Dian segera berpamitan pada Edo dan segera pergi dari sana.
Edo sempat memperhatikan Dian sebelum ia menghilang dari pandangan. Tak berselang lama Dika sudah kembali.
"Gimana Mas?" tanya Edo setelah Dika kembali.
"Kita kembali ke kantor saja," jawab Dika sambil duduk kembali ke tempatnya.
"Saya permisi ke kamar mandi dulu Mas," pamit Edo.
Dika mengangguk. Ia kemudian menyeruput capucinonya.
"Dika..."
Dika, tersentak saat Dian tiba-tiba kembali muncul.
"Lu lagi ada masalah sama Rina?" tanya Dian to the point.
Dika hanya melayangkan tanya untuk Dian.
Seolah paham Dian segera menscroll layar ponselnya untuk membuka kunci. "Lu kan jarang ya keliatan jalan sama dia. Nah ini nggak sengaja gue lihat dia kayak deket banget sama cowok," ujar Dian sambil menyodorkan beberapa hasil jepretannya.
Dika menghela nafas, tepat saat itu Edo muncul dari kamar mandi.
Dika lalu bangkit tanpa menjawab dan berkomentar atas apa yang Dian tunjukkan. "Di, aku duluan ya."
Dika meninggalkan Dian begitu saja setelah sempat meninggalkan uang di meja.
"Lah, main cabut aja. Atau jangan-jangan mereka udah putus." Sekelebat ide muncul di kepala Dian. Dia segera bangkit dan berjalan keluar menuju mobilnya.
TBC
__ADS_1