Zona Berondong

Zona Berondong
Bersedia


__ADS_3

...*HAPPY READING*...


"Sebelumnya ijinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Restu Andika. Saya sudah hidup sendiri sejak SMP. Sebenarnya saya masih punya ayah dan mama, tapi saya merasa sayang untuk meninggalkan rumah yang menyisakan kenangan saya bersama almarhum papa."


Dika menjeda ucapannya. Semua mengunci mulut setelah mendengar kalimat terakhir Dika.


"Perlu saya beritahukan bahwa Bapak Rudi Andika bukan ayah kandung saya, tapi beliau adalah ayah sambung saya."


Selalu seperti ini. Santi tak dapat menahan air mata saat Dika mengungkap Rudi sebagai ayahnya.


Dika menghela nafas.


"Saya masih muda, tapi bukan berarti saya tak berfikir panjang sebelum memutuskan untuk menikah muda."


"Takdir sudah menetapkan, bahwa saya harus dewasa di usia muda. Kehilangan waktu bermain untuk bekerja saat masih remaja, membuat saya merasa hidup ini tak adil awalnya."


"Namun setelah merenung, ternyata takdir ini tak jahat sepenuhnya."


"Karena itu, saya tak ingin karir saya saja yang mencapai puncak di usia muda tapi jiga kehidupan pribadi saya."


Kembali Dika menjeda ucapannya dengan beberapa kali helaan nafas.


"Jadi saya juga merasa ingin sekali memulai menata hidup lebih awal. Agar setiap saya bertemu Rina, setiap saya memikirkan Rina, setiap saya merindukan Rina, itu menjadi ibadah yang akan membawa berkah untuk hidup saya."


Dika mengakhiri ucapannya. Semua takjub dengan kata-kata yang baru saja meluncur dari bibir pemuda yang usianya masih belasan.


"Saya menyerahkan keputusan pada Rina," pungkas Reno akhirnya.


Rina yang tengah duduk diantara Reno dan Ririn segera berdiri dengan senyum manisnya.


"Rina Melinda."


Rina membalas tatapan Dika.


"Saya tak tahu tepatnya berapa bulan kita pacaran. Saya sayang sama kamu, saya ingin selalu sama kamu, saya ingin ada kamu dalam setiap helaan nafas hidup saya."


"Dan saya tahu perasaan itu jika terus terpelihara akan jadi timbunan dosa karena kamu belum halal untuk menjadi tujuan hidup saya," kata Dika sambil menatap Rina.


"Jadi, Rina. Apa kamu bersedia menjadi istri saya dan menjadi tujuan setiap usaha saya, menjadi tempat pulang dalam setiap lelah saya, dan menyempurnakan ibadah saya?"


Rina menatap kedua orang tuanya. Air matanya jatuh saat melihat senyum tulus dari Ririn dan Reno.


"Saya bersedia..."


Tak ada yang meminta dan tak tahu siapa yang memulai terlebih dahulu. Semua bertepuk tangan dengan Raut wajah bahagia. Seolah semua turut merasakan kebahagiaan yang Rina dan Dika rasa.


Rista datang dengan membawa sepasang cincin untuk kakaknya. Cincin perak dengan ukiran nama Rina untuk Dika dan cincin Emas bertahta berlian untuk Rina.


Setelah sepasang cincin itu terpasang di jari Rina dan Dika, keduanya segera duduk setelah sebelumnya sempat diambil beberapa foto.


Oh iya, momen ini juga telah terabadikan dalam bentuk video. Dika memang tak mau melewatkan momen ini untuk diabadikan.


Santi dan Ririn berdiri. Santi menyerahkan satu set perhiasan kepada Ririn sebagai simbolis dari seserahan yang Dika bawa.


Entahlah apa saya yang Dika bawa. Bahkan Santi dan Rudi pun tak tahu. Sepertinya hanya Dedi yang tahu karena dia yang membantu Dika mempersiapkannya.


"Pa, Rista boleh nggak kasih kado buat kakak?" tanya Rista pada Rudi.


"Memangnya Rista pengen kasih apa?"


Rista mendadak ragu dan segera melayangkan tatapan pada Dedi. Dedi tersenyum menatap gadisnya, berharap Rista akan mengenggam keyakinan bersamanya.


"Rista sama kak Dedi bikin lagu, kalau boleh mau Rista nyanyiin sekarang?"


"Rista bisa?" tanya Rudi tak percaya.


"Nggak usah lah Mas," cegah Santi.


"Nanti lagunya..."


"Ya udah Ma kalau nggak boleh," sahut Rista cepat saat tahu Santi tak menyetujuinya.


Rista segera berbalik namun tiba-tiba Rudi menahannya.

__ADS_1


"Papa pengen dengar."


"Beneran Pa?"


"Iya."


Rista sempat menatap mamanya yang ternyata juga tersenyum padanya sebelum ia pergi berlari untuk menghampiri Dedi.


"Kak boleh..."


Rista melompat kegirangan. Dedi mengangkat tangan dan mengacak rambut Rista.


"Seneng?"


Rista mengangguk cepat. "Banget."


"Ya udah, siap-siap ya. Aku ambil gitar di mobil dulu."


Dedi mengayun langkah panjangnya. Ia bahkan berlari akhirnya agar bisa lebih cepat tiba di tempat mobilnya berada untuk mengambil gitar kesayangannya.


"Dedi kenapa lari-lari?" tanya Rina yang tak sengaja melihat Dedi berlari meninggalkan area taman belakang.


"Nggak tahu," jawab Dika singkat.


Dika celingak-celinguk memperhatikan sekitar.


"Kayaknya nggak ada masalah deh," lanjut Dika.


Dika kembali mengobrol dengan kakek nenek Rina.


"Selamat malam semuanya."


Suara Dedi berhasil meredam seluruh obrolan di tempat ini.


"Sebelumnya kami mohon maaf karena telah menggu acara ramah tamah anda semua, dan ijinkan lah kami untuk menampilkan persembahan istimewa untuk Dika dan Rina."


"Lagu ini ditulis sendiri oleh Rista untuk kakaknya, selamat menikmati...."


Dedi menempatkan mik di tempatnya dan ia mulai memetik gitar dan memainkan intronya.


"Dia bisa melakukan apapun yang pernah ia pelajari."


"Mereka bisa ke jenjang kita saat ini nggak ya?"


Dika menghela nafas. "Entahlah. Hubungan mereka rumit."


Rina mengangguk setuju sambil mulai menikmati alunan lagu.


"Tapi kamu sendiri gimana perasaannya kalau Rista benar-benar berjodoh dengan Dedi?"


Dika meraih pinggang Rina dan membawanya merapat. "Sebagai kakak tentu aku sangat bahagia jika memang Rista berjodoh dengan orang seperti Dedi."


^^^Kadang terasa sulit untuk mensyukuri^^^


^^^Apa yang ada, apa yang ada^^^


^^^Atau memang hanya kita saja^^^


^^^Yang tak puas dengan^^^


^^^Apa yang ada, apa yang ada^^^


Semua terpesona dengan merdunya suara Rista.


^^^Tak semua orang bisa^^^


^^^Punya kesempatan yang sama^^^


^^^Andaikan engkau dapat membuka mata^^^


^^^Kita bisa rasakan bahagia^^^


^^^Asalkan kita trus percaya^^^

__ADS_1


^^^Sadari semua makhluk tercipta^^^


^^^Tuk saling dapat menjalani hidup ini bersama^^^


Tepuk tangan terdengar riuh. Ketegangan di wajah Rista mengendur dan terbitlah senyuman di wajah cantiknya. Ia seakan mendapat suntikan percaya diri dalam dosis tinggi saat ini.


^^^Setiap detik yang kau jalani^^^


^^^Oh sungguh sangat berarti^^^


^^^Jangan pernah kau sia-siakan^^^


^^^Semangat yang masih terpendam^^^


^^^Jangan biarkan tenggelam^^^


^^^Marilah arungi arus kehidupan^^^


^^^Tak semua orang bisa^^^


^^^Punya kesempatan yang sama^^^


^^^Andaikan engkau dapat membuka mata^^^


^^^Kita bisa rasakan bahagia^^^


^^^Asalkan kita trus percaya^^^


^^^Sadari semua makhluk tercipta^^^


^^^Tuk saling dapat menjalani hidup ini bersama^^^


^^^Jangan engkau ragu aku disini untukmu^^^


^^^Jangan engkau ragu aku disini untukmu^^^


^^^Walaupun tak slalu di laga yang sama^^^


^^^Gelap pastikan menghampiri^^^


^^^Badai pun datang menghakimi^^^


^^^Namun sinarnya kan menjaga^^^


^^^Jelas arah kita^^^


^^^Kita bisa bila percaya mewujudkan mimpi-mimpi kita bersama^^^


^^^Kita kan raih bahagia^^^


^^^Mengubah semua harapan menjadi nyata^^^


^^^Kita bisa rasakan bahagia^^^


^^^Asalkan kita trus percaya^^^


^^^Kita kan raih bahagia 'tuk saling dapat menjalani hidup ini bersama (bersama)^^^


^^^Bersama^^^


Tepuk tangan terdengar riuh. Dika benar-benar kagum dengan adiknya. Yang sering diteriakinya karena hobi menyanyi di kamar mandi itu sekarang bisa menulis lagu dengan lirik penuh makna dan nada yang nyaman menyapa telinga.


Santi juga tak tahu jika putrinya berbakat seperti ini. Rudi bahkan bangkit dari kursinya untuk memberi tepuk tangan pada putri cantiknya.


"Terima kasih semua."


Dedi dan Rista serempak membungkukkan badannya.


"Semoga terhibur terutama buat kak Dika dan kak Rina. Selamat untuk perundangan kalian."


Semua bertepuk tangan.


Dika meninggalkan Rina dan berjalan menghampiri adik kesayangannya. Ia sempat tos dengan Dedi sebelum memeluk erat adiknya ini. Saat itu juga Dika tampak membisikkan sesuatu, tapi tak ada yang tahu selain mereka bertiga.

__ADS_1


TBC


__ADS_2