
^^^Membahas tentang keyakinan memang sensitif.^^^
^^^Tapi author nggak bisa kalau memgesampingkan unsur yang satu ini.^^^
^^^Meskipun ini hanya cerita, tapi keberadaan Tuhan tetap harus ada, meskipun bukan hal utama dalam cerita.^^^
^^^Semoga pada suka ya.^^^
^^^-Happy reading-^^^
"Semangat sekali Pak Yohanes ini..." cibir Dika saat melihat Dedi yang begitu antusias untuk sarapan.
"Ada menu spesial soalnya," kata Dedi dengan mata berbinar.
Drrkk!
Dika menarik sebuah kursi dan duduk di sana.
"Apa sih?"
"Ntar, nungguin semua ngumpul dulu," jawab Dedi.
Tak lama berselang ketiga gadis itu datang. Dedi bangkit dan menyiapkan kursi di sebelah kirinya, karena di sebelah kanan sudah ada Dika.
Dian tersenyum saat merasa Dedi tengah menatapnya sambil menyiapkan kursi di sampingnya.
"Ta..."
Dian menoleh, dan ternyata ada Rista di belakangnya. Astaga, kenapa aku tadi bisa mikir kalau Dedi sedang menyambutku. Dengan setitik kecewa, akhirnya Dian duduk di kursi sebelah Rista.
Kini mereka sudah duduk melingkar di meja. Nggak perlu tanya kan posisi Rina di mana? Jelas banget dia ada di sebelah Dika.
"Terus yang lu kata spesial tadi apa Ded?" tanya Dika saat merasa mereka semua sudah berkumpul di sana.
"Udah makan dulu aja..." Dedi mulai mengambil makanan dengan porsi besar.
"Gila, badan atletis lu bisa nggembung kayak balon tahu nggak?" kata Dika melihat aksi sahabatnya.
"Jarang-jarang kali gue bisa makan sajian istimewa kayak gini," kata Dedi yang mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Itu yang lu kata istimewa?" tanya Dedi yang hanya mengambil cumi asam manis dan menyingkirkan menu yang lainnya.
Dedi mengangguk karena mulutnya penuh untuk menjawab.
Astaga, biar jutek si berondong doyan masakan gue, sampai dibilang istimewa kayak gitu. Batin Dian yang dibuat berbunga-bunga.
Rista tersenyum kecut saat beberapa kali Dedi yang lahap makan tersenyum kepadanya. Kak Dedi pasti ngira itu masakan aku, padahal kan bikinannya Kak Dian.
Merekapun melanjutkan makan dalam Diam.
"Ini nggak ada yang mau lagi?" tanya Dedi saat melihat masih ada cumi di sana.
"Enak sih Ded, tapi tetep gue nggak bisa makan cumi banyak-banyak," ujar Dika.
__ADS_1
"Ini enak banget, makasih ya..." kata Dedi sambil menuang semua cumi itu ke piringnya.
"Sama-sama, aku juga seneng buatnya kalau kamu suka..."
Dedi mematung saat mendengar suara itu. Itu bukan suara Rista, jangan-jangan... Dedi mendongak. Dan benar saja, yang berbicara barusan adalah Dian dan kini dia masih setia mentap Dedi dengan senyum indah di bibirnya.
"Wahahaha, ternyata yang istimewa itu karena Dian yang masak ya, hmmm..." Dika berkata sambil tertawa menggoda.
"Selamat ya Di, bentar lagi kamu bakal ninggalin aku jomblo sendiri..." ucap Rina dengan memalingkan wajahnya dari Dika.
Dian tersipu malu mendengar ucapan Rina. Meski terlalu dini untuk membahas cinta namun jika Dedi menembaknya, sepertinya akan dengan mudah ia terima.
Kluntang!
Dedi gelagapan hingga tak sengaja menjatuhkan sendoknya.
"Nggak usah salting gitu lah bro, Dian kayaknya nggak keberatan kalau kamu ajak jadian..."
Rina segera menyenggol bahu Dian saat Dika menggoda Dedi.
Tiba-tiba Rista bangkit dan pergi meninggalkan meja makan.
"Ta...!" Dedi bangkit dan mengejar Rista.
"Rista kenapa Rin, Di...?" tanya Dika pada kedua gadis yang masih berada di sana.
Yang ditanya hanya saling memandang dan menggeleng tak tahu.
"Ya Tuhan...." Dika bangkit dan berusaha menemukan adiknya segera.
Dian memutuskan untuk tak mencampuri urusan mereka. "Apa mungkin Rista sama Dedi pacaran ya?" Dian menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya. "Kayaknya enggak deh. Pertama Rista masih terlalu kecil, dan lagi mereka beda keyakinan kan?" tepis Dian terhadap pemikirannya sendiri.
"Ta, kamu mau ke mana sih?" setelah berhasil mengejar Rista, kini sekuat tenaga Dedi menahannya.
"Kakak kecewa kan sama aku? Kakak marah kan itu ternyata bukan masakan aku?"
Dedi menggeleng. Aku yang terlalu berharap sama kamu.
"Kakak diem aja, berarti iya kan?!" Rista mulai menitikkan air mata.
Dedi benar-benar frustrasi berada dalam situasi, ini namun ia belum berhasil menemukan kata-kata untuk mengembalikan keceriaan Rista.
"Aku emang nggak bisa apa-apa, aku cuma bisa nyusahin orang, aku...." tiba-tiba bibir Rista yang sedikit bergetar tak mampu ia gerakkan saat ada benda basah menempel di sana.
Dedi tak tahu harus berbuat apa untuk menghadapi Rista. Ia tahu caranya ini salah, tapi inilah pilihan hatinya.
Mata keduanya saling menatap dengan jarak sangat dekat. Entah siapa yang menuntun dan memulai, bibir yang semula hanya menempel itu kini saling menye**p.
"Ban**at!"
Bugh!
"Lu gila ha!?" nafas Dika memburu sesaat setelah melayangkan sebuah pukulan di wajah sahabatnya.
__ADS_1
Saat ini Dedi yang tersungkur di atas pasit hanya mampu diam tanpa niat sedikitpun untuk membela diri ataupun membalas perlakuan sahabatnya.
Dika jongkok tepat di hadapan Dedi. "Dasar pe**fil. Lu lupa adik gue umur berapa ha!"
Dika kembali meraih kerah Dedi sebelum Rista menghadangnya.
"Minggir kamu ta. Kamu ngga sepantasnya melindungi bajingan kayak dia?!"
"Dika udah Dika, Rina memeluk tubuh Dika dari belakang.
"Lepasin Rin!"
Rina sebenarnya juga bingung dengan apa yang terjadi karena ia juga baru tiba di sana.
"Rista sayang sama Kak Dedi..." ucap Rista tiba-tiba.
"Ta, kamu jangan gila, ngerti apa kamu soal sayang, ha!? "
"Kak, logika Rista awalnya menolak Kak Rina, tapi keyakinan Rista bahwa Kak Rina yang bisa buat Kakak bahagia membuat Rista nerima dia walau awalnya Kak Rina punya pacar selain Kakak."
Tangan Rina mengendur. Ia merasa begitu bersalah kali ini.
Dedi tersentak. Ia menatap gadis yang berada di hadapannya ini. "Ta," gumamnya lirih.
"Tapi kamu masih kecil Dik...." Ucapan Dika melunak kali ini.
"Kak, Rista emang masih kecil, Rista emang belum ngerti tapi Rista ngerasa bahagia saat Kak Dedi ada sama Rista. Izinkan Rista ngerasain bahagia kayak Kak Restu sama Kak Rina..."
"Dik, arrgghh!" Dika mengacak rambutnya frustrasi.
"Maaf," gumam Rina tiba-tiba.
"Ssttt, kamu nggak salah," Dika menangkup wajah Rina dan menatapnya.
"Dika, maafin aku juga. Aku udah capek menyimpan semuanya sendiri. Tapi..."
Rista menggeser duduknya agar dapat menghadap Dedi.
"Aku paham betul semuanya begitu rumit. Bukan hanya menyoal hatiku dan Rista, tapi..." Aku masih gamang mengenai Tuhan, lanjut Dedi dalam hati.
"Apa?" tanya Rista. "Apa karena aku masih kecil, apa karena fisikku belum seperti kak Rina atau kak Dian, atau..."
"Ta!" potong Dedi cepat. "Mungkin sebaiknya kita harus menjaga jarak."
Rista menggeleng, "enggak, aku nggak mau jauh dari Kak Dedi."
"Tapi Ta..."
Dika geram dan menarik tangan Rista untuk dibawa pergi dari sana.
"Kak...!" Rista menepis tangan Dika. "Please, kali ini aja..."
"Dika, percaya sama Dedi dan Rista ya..." perlahan Rina membawa Dika pergi dari sana.
__ADS_1
TBC