
^^^Mohon bersabar pemirsa, yang keriting masih coba duluruskan, yang tertutup masih mau dibuka, pokoknya ikuti terus kelanjutannya. ^^^
^^^-Happy reading-^^^
"Kamu istirahat ya." Rudi bangkit setelah selesai memeriksa Rista.
"Tidak ada kondisi yang mengkhawatirkan, jadi saya mau pamit dan kembali ke rumah sakit," pamit Rudi pada semua terutama Dika yang berdiri tak jauh darinya.
"Kalau boleh tahu, bagaimana Om bisa ada di sini?" tanya Dika tiba-tiba.
Rudi menghela nafas. "Saya kebetulan lewat." Inginnya ia jujur, namun sepertinya momen kurang pas.
"Saya bukan anak kemaren sore yang percaya alasan semacam itu, Om."
Kata-katanya terdengar sarkas, namun senyum di wajah Dika membuat Rudi yakin bahwa sudah ada sedikit celah untuknya masuk.
"Maafin gue."
Dika menatap tak paham dengan ucapan tiba-tiba Dedi.
"Gue yang sudah mengabari dokter Rudi saat Rista hilang dan kecurigaan kita akan campur tangan Rio dalam masalah ini. Gue panik, maaf..." helaan nafas diakhir ucapan Dedi sarat akan penyesalan.
"Bisa kita bicara di luar Om..." tanpa menunggu persetujuan Rudi Dika berjalan terlebih dahulu untuk keluar meninggalkan kamar.
Rudi menatap punggung lebar Dika yang menjauh.Ya Alloh, apa Restu akan semakin membenciku?
Dedi begitu merasa bersalah saat Dika mengajak Rudi berbicara 4 mata. Sebelum menerima tawaran Rudi, Dedi sempat ragu. Namun setelah keduanya bertemu, entah mengapa ia merasa bahwa Rudi tak seburuk yang Dika kira. Ya Tuhan, apa dengan mengawasi Dika dan melapor pada dokter Rudi itu sebuah kesalahan?
Sedangkan Rina, ia tak banyak bersuara. Mengingat siapa sosok Dika sebenarnya, dan serentetan kejadian yang ia sama sekali tak paham dengannya. Dan di sini hanya ada ia, Dedi dan Rista, yang sepertinya tak tepat jika dijadikan tempat bertanya olehnya.
"Silahkan duduk Om..." Dika yang sudah terlebih dahulu tiba di ruang tamu segera mempersiapkan Rudi untuk duduk di sana.
Setelah keduanya duduk bersama, tak ada satupun yang langsung berbicara. Mereka seakan masih tenggelam dalam pikiran masing-masing dan belum ada tanda-tanda akan segera muncul ke permukaan.
"Maafkan kelancangan saya..."
Suara yang pertama keluar itu adalah suara Rudi. Melihat Dika yang tak bereaksi, membuat ia tak bisa memerka bagaimana perasaan anak tirinya ini padanya.
"Sejak Rista meninggalkan rumah, saya dilanda cemas, tapi tak ada yang bisa saya lakukan karena kesalahan yang saya lakukan sungguh fatal..."
Dika dapat melihat betapa menyesal ayah tirinya itu kini.
Rudi menghela nafas. "Saya panik, saya memang tak pandai bicara jadi saya menampar dia..."
Dika terhenyak. "Jadi anda menyesal karena menampar Rista, bukan karena menhelingkuhi mama dengan wanita yang lebih pantas menjadi anak anda?"
Rudi mendadak blank saat Dika mengatakan semua itu. Ya Tuhan. Apa ini artinya Restu benar-benar tak akan pernah bisa menerimaku.
__ADS_1
"Kenapa, kenapa anda diam saja!" Dika mulai hilang kesabaran saat melihat Rudi hanya diam saja.
"Saya tidak pernah selingkuh."
Dika menatap remeh ayah tirinya ini.
"Lusi menjebak saya..." Rudi melirik sejenak pemuda di hadapannya ini. *Baiklah, a*ku harus jujur, terserah akan dipercaya atau tidak, tapi aku memang harus mengatakan semuanya.
Rudi nampak menghela nafas. "Lusiana datang untuk mencari Rista. Saat itu saya pulang untuk makan siang di rumah. Saya sudah lama tidak suka dengan dia, karena saya tahu dia pernah di rawat karena keguguran di rumah sakit saya..."
Dika terbelalak mendengar penuturan Rudi. Namun ia tak lantas percaya begitu saja dan segera menormalkan ekspresinya.
"Saya meminta dia untuk berhenti mengejar kamu, karena saya tahu kamu sudah memutuskan dia. Dia tidak terima dengan kata-kata saya dan dia mengancam saya."
Rudi tampak menghela nafas. Kali ini ia sengaja tak ingin melihat bagaimana reaksi Dika. Ia hanya ingin mengungkap yang sebenarnya.
"Saya segera ke kamar untuk meletakkan bawaan saya juga berharap bisa menemukan Santi di sana, namun begitu saya di dalam pintu kembali terbuka dan Lusi lah yang muncul dari sana."
Flasback On
"Lancang sekali kamu masuk kamar saya."
"Kenapa Om? Jangan berlagak kaget seperti itu lah. Pasti Om juga udah biasa kayak gini sama wanita-wanita di luar sana." Lusi mendekat dan mulai menanggalkan pakaian terluarnya.
"Jangan kurang ajar kamu ya..." Rudi masih terpaku di tempat. Bagaimana pun juga, ia tak ingin berbuat kasar, terlebih pada seorang wanita.
"Dengan saya saja kamu bisa seperti ini, bagaimana mungkin saya bisa mengizinkan kamu sama anak saya..."
Lusi tersenyum miring. Ia merapatkan tubuh n**ednya pada Rudi. Saat Rudi mencoba mendorongnya, namun Lusi dengan sigap mengalungkan tangannya di leher Rudi. Tepat saat itu, Rista datang dan membuka pintu. Jadi dia melihat dengan jelas ayah tirinya ini seolah tengah menindih tubuh te***jang Lusi.
"Aaaaaaaaa....!!" Rista berteriak dengan kencang.
Rudi mendorong tubuh Lusi dan segera mengejar Rista yang berlari keluar.
"Nak, ini tak seperti yang kamu lihat." Rudi mencoba berbicara dengan Rista.
"Nggak, nggak. Mama!!"
Rista histeris dengan memanggil-manggil mamanya.
"Nak jangan seperti ini, malu kalau di dengar orang..."
Saat itu Santi datang dengan membawa nampn berisi minuman.
"Ma, tadi papa sama kak Lusi di kamar nggak pake baju..."
"Jangan asal bicara kamu, sekarang kamu ke kamar." Titah Rudi. Ia panik, ia takut Santi akan marah dan pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Bukannya ke kamar, Rista justru menghampiri Mamanya dengan menangis. "Ma, ayo kita pergi dari sini Ma, Rista takut Ma..."
Mendengar itu Rudi benar-benar takut. Ia benar-benar takut kehilangan Santi. Ia menghampiri anak dan istrinya. "Sayang, ini nggak seperti yang dilihat Rista, kamu percayakan sama saya..."
"Ma, aku lihat sendiri Ma." Rista masih kekeh dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Santi, kamu yang paling mengenal aku..."
Santi diam. Rudi memang tak pernah dekat dengan wanita lain selain dirinya, bahkan saat ia meninggalkannya menikah dengan Hendro, Rudi masih sibuk dengan dunianya tanpa wanita.
"Saya percaya sama kamu Mas."
"Ma, Mama nggak percaya sama Rista, Mama lebih percaya sama dia. Ma, dia jahat Ma. Dia juga yang dulu bawa Mama ninggalin almarhum papa."
Tuduhan itu benar-benar membuatnya sakit. Dia bahkan harus mengasingkan diri demi melihat sahabat dan wanita yang dicintainya bahagia bersama. Dia juga sempat menolak saat Hendro mengungkap ingin menceraikan Santi agar bisa kembali bersamanya. Namun apa kah salah saat keduanya sudah sah bercerai dia datang dan meminangnya?
Plak
Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi Rista. Rudi menatap tak percaya apa yang sudah ia lakukan pada putrinya.
"Mas...!"
Santi mengejar Rista yang sudah berlari dan masuk ke dalam kamarnya.
Dari samping kamar Rista, Lusi keluar dengan menundukkan kepalanya.
"Untuk apa kamu di sini, cepat pergi!"
Santi menatap dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Rudi mengusir Lusi. Ia menatap bagaimana air mata mengalir dari sudut mata orang tersabar yang pernah ia temui selama ini. Air mata kedua Rudi yang keluar setelah yang pertama keluar saat kematian Hendro, mantan suaminya.
Santi meninggalkan kamar Rista yang terkunci dan berjalan menghampiri suaminya.
"Aku tak menghianatimu Santi, aku tak melakukan apapun dengan gadis itu..."
"Aku percaya Mas..."
Rudi menceritakan apa yang sebenarnya dilakukan Lusi hingga berakhir Rista memergokinya. Santi masih tak menyangka dengan apa yang Lusi lakukan, namun ia juga belum dapat berbicara dengan putri satu-satunya.
Flashback Off.
TBC
Done ya.
Author udah nggak punya hutang kan terkait insiden satu ini.
Thanks banget yang udah ngikutin perjalanan Rina dan Dika sampe sini.
__ADS_1
Dan Love you all.