Zona Berondong

Zona Berondong
Misteri Box 5


__ADS_3

^^^Ini jadi misteri box terakhir kayaknya. ^^^


^^^Semoga temen-temen nggak ngerubah judulnya jadi misteri kehidupan berondong ya, haha. ^^^


^^^-Happy reading-^^^


"Saya minta maaf dan saya tak memaksa kamu untuk memaafkan saya." Rudi bangkit dari tempat duduknya.


"Ayah..."


Rudi mengurungkan langkah yang hendak di mulainya. Dia berbalik menatap Dika yang sudah berdiri tak jauh dari sana.


"Apa boleh saya memanggil anda ayah?" Dika menegaskan apa yang baru ia ucapkan.


Greb


Rudi merangkul tubuh jangkung anak sahabatnya ini. Sudah lama ia menantikan saat seperti ini.


"Maaf saya tak bisa memanggil anda papa, karena bagi saya papa saya hanya satu, papa Hendro."


"Tak apa Nak, tak apa." Rudi masih begitu terharu karena Dika mau memanggilnya ayah. "Bahkan kalau kamu tetap ingin memanggil saya Om, itu tidak akan saya permasalahan." Rudi beberapa kali menepuk bahu Dika. Ia bahkan harus meneteskan air mata saking bahagianya.


Dika menyadari itu, dan ia masih bertahan dalam rengkuhan ayah tirinya. Hingga akhirnya Rudi melepaskan pelukannya.


" Terimakasih Nak... "


" Untuk apa? Saya bahkan belum bilang memaafkan anda..."


Rudi terdiam. Ternyata aku yang terlalu cepat bahagia.


Dika terkekeh melihat raut wajah ayah tirinya yang berubah seketika. "Saya akan memaafkan anda dengan satu syarat."


"Katakan Nak, asal tak menyuruh saya meninggalkan mamamu pasti akan saya turuti."


Dika tersenyum sebelum akhirnya kembali ke wajah seriusnya. "Saya tadi sempat mendengar anda menyebut Rista sebagai anak anda, dan saya ingin tahu bagaimana anda bisa menikah dengan Mama saya."


Wajah Rudi menegang. Haruskah dosa ini ia ungkap sekarang. Ia tak yakin akan ada maaf untuknya setelah Dika tahu rahasia besar yang selama ini disembunyikannya.


Dia menghela nafas, karena bagaimana pun juga kesempatan ini tak datang dua kali. Ia adalah pembuat dosa maka ia juga harus berani mempertanggung jawabkannya.


Rudi menghela nafas. "Hendro menggugat cerai Santi jauh sebelum perusahaan jatuh. Ketika saya muncul, sidang putusan cerai sudah di bacakan namun surat dari pengadilan belum keluar."


"Lalu kenapa mereka masih serumah?"


"Kita ngobrol sama Mama kamu juga ya, karena ada pesan yang mungkin tak tersampaikan jika kamu bertanya pada saya..."


"Dan Rista?"

__ADS_1


Kembali Rudi menegang. "Apakah boleh saya meminta waktu?"


"Semakin Ayah mengulur waktu, saya takut hati saya akan kembali beku."


Degh!


"Apa kamu yakin ingin mendengarnya sekarang?"


"Saya sangat yakin..." jawab Dika mantab.


Flashback On.


Rudi POV


"Mas..." Santi datang ke ruanganku dengan berderai air mata. Ia datang dengan menggendong Restu yang kala itu berusia sekitar 3 tahun.


Aku yang baru saja selesai rapat memang dalam keadaan tidak sibuk.


"Kamu kenapa?" aku merengkuh tubuh Santi beserta Restu yang terlelap bersamanya.


"Mas Hendro selingkuh Mas..." ucap Santi di tengah tangisnya.


Aku tak tahu harus berkata apa, aku begitu terkejut mendengarnya. "Restu baringin dulu ya, kasihan kalau tidurnya terganggu." Aku membawa Santi ke ruang istirahat yang berada di dalam ruang kerjaku.


"Jangan-jangan hanya fitnah atau kamu salah lihat," ucapku pada Santi setelah membaringkan Restu di atas tempat tidur.


Aku hanya mampu mengelus punggungnya dan berharap wanita yang mati-matian ku usir dari pikiran ku ini akan tenang.


"Terlebih lagi ketika aku mendengar suara Mas Hendro meminta wanita itu mengantarkan handuk untuknya. Apa sebagai wanita aku tak boleh berprasangka?"


Aku tak mampu berkata. Dunia bisnis memang kotor, dunia bisnis memang kejam. Ranjang kerap kali menjadi jalan untuk memperoleh kesepakatan. Aku tahu sangat tahu, tapi aku juga kecewa kenapa sahabatku bisa seperti itu. Terlebih yang disakitinya adalah wanita yang sangat aku cinta.


"Kamu sekarang mau gimana?"


"Aku ingin ikut Mas, aku tak ingin pulang. Kalau aku ke rumah ayah bunda, aku takut mereka akan berpikir macam-macam."


Aku menyanggupinya. Melewatkan malam dengan menahan perasaan itu sangat berat. Aku berusaha memejamkan mata. Namun saat mendengar tangisan Restu yang terbangun tengah malam karena minta susu, aku segera menghampiri kamar mereka. Aku berusaha membantu Santi yang kesusahan membuat susu sambil menenangkan Restu yang menangis kencang. Aku menggendong bocah tampan yang saat kelahirannya turut kuperjuangkan.


Tangisnya mereda saat aku memeluknya dan segera tidur saat aku meminumkan sebotol susu padanya. Entah mengapa aku merasa begitu bahagia hanya dengan seperti ini.


Malam itu aku tak kembali ke kamar karena Santi mengajakku ngobrol, menceritakan bagaimana tertekannya dia terlebih semenjak melahirkan. Ia tak bisa leluasa mengikuti kemana Hendro pergi, tersiksa khawatir, tersiksa cemas, terlebih jika mendengar Hendro yang banyak berurusan dengan wanita. Wanita karir yang penampilannya terjaga, tak seperti ia yang bahkan tak sempat untuk merawat diri seperti sedia kala.


Memang benar laki-laki dan perempuan itu tak boleh hanya berdua, dan kami benar-benar menjadi korbannya hingga harus tergelincir dalam jurang dosa.


Aku tak bisa menahan diri, karena bagiku itu adalah yang pertama. Santi juga yang tengah buta karena kecewa hingga tak mampu mencegah dosa itu terjadi.


Setelah kejadian itu, aku memutuskan untuk pergi, menghilang agar tak mengganggu kehidupan Hendro dan Santi.

__ADS_1


9 bulan kemudian aku mendengar bahwa Santi melahirkan. Aku terkejut karena aku masih ingat betul kejadian 9 bulan sebelumnya.


Diam-diam aku meminta Reno untuk mengambil sedikit rambut Rista dan melakukan tes DNA. Ternyata benar, dia adalah anakku.


Aku diam, aku tak memberitahukan siapapun terkait hal ini.


Ketika aku kembali karena perusahaan tengah diujung tanduk, aku di kejutkan karena Hendro bilang ia sudah bercerai dengan Santi dan memintaku untuk menikahinya. Aku sempat menolak namun dia bilang kalau Rista harus berada dekat dengan papanya.


"Maksud kamu apa?" tanyaku pada Hendro.


"Rudi, aku sudah tahu kalau Rista adalah anakmu."


Aku malu aku menyesal. "Maaf, maafkan aku. Aku khilaf waktu itu. Terlalu kejam kalau sekarang Rista tahu kamu bukan papanya?"


"Kamu tenang saja, anak-anak akan tetap sama saya. Kamu hanya perlu menjaga Santi."


"Nggak Hendro, ini nggak adil buat mereka."


"Santi berhak bahagia, dan saat bersamaku dia hanya terus mendapat luka."


Ternyata sejak awal kehamilannya, Santi sudah mengakui perbuatan khilaf kami. Hendro kecewa namun ia juga merasa dirinya tak lebih baik. Saling memaafkan adalah pilihan keduanya. Demi Restu dan demi anak yang di kandungnya. Setelah lahir Santi dan Hendro melakukan tes DNA dan hasilnya DNA Rista tak cocok dengan Hendro. Jadi dipastikan kalau Rista adalah anak Rudi, sehingga tak ada nama Surya yang tersemat pada nama Rista.


Flashback Off


"Jadi menurut Ayah di sini yang salah papa?"


Aku menggeleng. "Hendro mungkin kurang hati-hati sehingga ia harus terjebak dalam permainan lawannya."


"Maksudnya?"


"Orang itu adalah Mustika. Dia adalah istri dari Galih Rahardja."


Dika mengernyit.


"Mustika sudah lama menyukai Hendro. Puncaknya saat kedua orang tua kamu bercerai, Mustika juga ingin menceraikan Galih agar bisa bersama Hendro. Galih tak terima. Namun akhirnya ia berhasil menyelamatkan rumah tangganya. Sejak saat itu Rahardja selalu melakukan berbagai cara untuk meruntuhkan Surya."


"Jadi persaingan Surya dan Rahardja karena masalah ini?"


"Tidak semua, namun iya ada pengaruhnya."


Ada sesal di hati Dika mengingat betapa ia sangat membenci Rudi. "Ayah, maafkan saya..."


"Apa boleh Ayah memelukmu?"


Ada lega di hati Dika meski nyeri juga mendera saat mendengar kisah masa lalu orang tuanya, dan bagaimana akhir rumah tangga mereka.


TBC

__ADS_1


__ADS_2