Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Syukuran


__ADS_3

Long time tidak menyapa kalian.


Berhutang rasanya jika cerita ini digantungkan.


So, let finish it.


HAPPY READING


“Ma…”


Santi dan Ririn urung meneruskan langkah saat merasa panggilan itu teralamat untuk keduanya.


“Mau minta tolong bisa?” lanjut Rina saat merasa panggilannya berhasil menahan kedua mamanya.


Santi dan Ririn saling menatap sejenak. “Bisa,” jawab keduanya bersamaan.


Rina perlahan mengeluarkan gulungan kain dengan kedua tangannya.


“Stagen?”


Kembali Ririn dan Santi berucap berbarengan.


Rina pun mengangguk perlahan dengan senyum dibentangkan.


“Yakin mau pake ini?” tanya Ririn.


“Yakin,” jawab Rina dengan mantabnya.


“Nggak apa-apa emang?” tanya Ririn minta pendapat Santi yang memilih diam saat ini.


Nampak ragu Santi menjawab. “Nggak apa-apa sih, cuma sedikit tak nyaman,” ujarnya kemudian.


Akhirnya Rina mengikat perutnya yang sedikit bergelambir pasca melahirkan dengan kain panjang yang entah darimana ia dapatkan.


“Saya dulu cuma pakai gini pas lahiran Restu saja, tapi pas Rista nggak boleh lagi,” ungkap Santi begitu stagen sudah terpasang dengan baik di tubuh memantunya.


“Bukannya Mbak melahirkan Caesar semua?” tanya Ririn memastikan.


Glek!!


Merasa gumamannya akan mendatangkan masalah, Santi hanya bisa menelan ludah.


“Iya. Cuma yang pertama kan sama keluarga almarhum Mas Hendro tapi Rista kita sudah…, emmm…”


“Sudah tinggal misah kan ya,” potong Ririn cepat karena merasa pertanyaan yang terlanjur ia lontarkan kurang berkenan di hati sang besan.


Santi nampak pasrah setelah sebelumnya sempat menghela nafas. “Iya,” jawabnya singkat.


Sebenarnya tak sepenuhnya benar tebakan Ririn, namun Santi merasa tak tepat untuk membahasnya.


“Eh tapi di luar itu bagi resep dong. Hamil dua kali tapi badan masih langsing gini.” Buru-buru Ririn mengganti topic pembicaraan, agar suasana akward tak berkepanjangan.


Terlihat dipaksa. Namun Ririn berusaha melebarkan senyumnya. “Masa?”


“Iya, bener. Aku suka iri,” lanjut Ririn dengan tatapan berapi-api.

__ADS_1


Dan dua nenek muda ini akhirnya mulai berbincang tentang life style masing-masing. Dan dari sini dapat kita lihat jika Santi memang menerapkan healthy life style sehingga selain tubuh yang bugar bentuk tubuhnya pun otomatis ikut terjaga.


“Duh, harus olah raga juga ya biar langsing,” sahut Rina tiba-tiba. Semula ia hanya diam mendengarkan, tapi sepertinya ia juga butuh untuk memperhatikan.


Tak hanya Ririn yang menyadari keindahan tubuh Santi, tapi Rina juga. Namun karena dia masih muda semula ia merasa belum waktunya ia bekerja keras untuk menjaganya. Tapi itu dulu sebelum ia hamil dan melahirkan. Sekarang ia merasa kalah jauh jika di sandingkan dengan sang mertua.


“Ya sebenarnya kita olah raga itu biar badannya sehat, masalah langsing dan lain sebagainya itu hanya bonus. Gitu sih kata Mas Rudi,” jelas Santi yang mulai bisa mendapatkan moodnya lagi.


“Dokter Rudi juga suka olahraga?” tanya Ririn yang benar-benar ingin tahu masalah ini.


Santi mengangguk. “Kita rutin jogging setiap pagi dan sesekali workout kalau memang Mas Rudi tidak sibuh…” lanjut Santi.


Ririn tak mampu menutupi binar kagum dimatanya.


“Waaaahhhh. Kalau aku sama Mas Reno malah lebih suka rebahan sambil ngemil kalau ada waktu luang,” balas Ririn disertai tawa renyahnya.


“Pantes Mama sama Papa hamil berjamaah, ha ha ha…” imbuh Rina yang membuat Santi harus berusaha keras agar senyum anggunnya tak berubah menjadi tawa.


Saat Santi tersenyum saja ditahan, Rina malah dengan penuh keleluasaan menertawakan orang tuanya. Terlebih ketika Ririn nampak tak terima, Rina malah makin kencang menertawakannya.


***


Acara bertajuk syukuran dan aqiqah pun dilaksanakan. Acara yang tak hanya berhenti di makan-makan bersama undangan, tapi juga santunan untuk anak yatim dan fakir miskin. Tak ada masalah memang untuk orang sekaliber Dika, karena mereka memang dari gologan mampu dan serba berkecukupan untuk merealisasikannya.


“Rista belum datang?” tanya Rina pada Dika yang baru saja menyelesaikan sholat asyarnya.


“Aku belum ketemu,” jawab Dika sambil melipat sajadahnya.


“Kok bisa?”


“Adik kamu tuh.”


Dika berjalan menghampiri Rina setelah menyimpan sajadahnya. “Sayangnya kok iya.”


Pasutri ini tertawa bersama kemudian. Mereka lantas mulai berbincang dan menimang sang buah hati yang belum lama dilahirkan. Setelah itu Dika ganti baju dan keluar meninggalkan Rina di kamar. Ia harus menyapa tamu dan melihat sejauh mana acara berjalan.


Rina sendiri lebih banyak di kamar. Selain karena kondisinya yang baru melahirkan, ia tak mau terlalu lelah karena harus bertemu banyak orang.


2 jam kemudian.


Adzan magrib telah berkumandang, bahkan iqomah pun sudah menyapa indera pendengaran. Tapi Dika belum muncul juga muncul untuk sholat di kamar dan menyapa Rina.


Hal ini membuat kegalauan bergejolak di benak Rina karena ia begitu merasa sepi setelah sekian waktu sendiri ditinggal sendiri.


Sebenarnya Rina tak sepenuhnya sendiri. Di sana ada juga Gendis dan suster yang menjaganya.


Saat ini Gendis sedang diganti popoknya, Rina yang sedang diam mulai memperhatikan bentuk tubuhnya yang tak lagi indah.


“Oee, oee, oeee…”


Terdengar jelas Gendis sedang menangis di sudut ruangan, namun hal ini tak membuat Rina tergetar untuk mendekat dan menenangkan putri semata wayang.


Tubuhku melar karena mengandung Gendis, sekarang jadi kendor karena habis melahirkan. Payudaraku membesar berkali lipat, sangat keras namun tidah indah. Apakah Dika sekarang jijik melihatku yang seperti ini, sehingga ia sama sekali tak risau saat aku tak disampingnya?


Berbagai pikiran negative dengan ganasnya menyerang pikiran bahkan mulai merusak perasaan Rina. Kian nyeri  lagi kala melihat jam terus berputar dan Dika belum juga muncul di kamar.

__ADS_1


Cklek!


Hingga akhirnya pintu terbuka dan buyar sudah semua lamunan Rina. Meski risau belum pergi sepenuhnya, namun saat sang suami akhirnya muncul di sana Rina sudah berhasil dibuat lega.


Melihat Gendis sedang ditimang, Dika menghampiri sejenak dan melewati Rina. Senyum yang semula sempat merekah, kini luntur sudah.


“Itu ASIP kan sus?” tanya Dika.


“Iya Tuan. Tadi Nona sepertinya lelah, jadi saya ambilkan ASIP saja,” terang sang suster.


Dika nampak tersenyum lega dan kini berbalik untuk menghampiri Rina. Merasa ada yang aneh dengan istrinya, ia lantas mengambil tempat untuk duduk di sampingnya.


“Heyy, Sayang… What’s going on?” tanya Dika saat melihat Rina membuang muka dengan kehadirannya.


Masih nampak enggan bertatapan langsung dengan suaminya, Rina hanya menggeleng dengan pelan sebagai jawabannya.


Dika menghela nafas. Meski tak tahu pasti apa yang terjadi, ia merasa harus bersabar menghadapi hal ini. Perlahan ia meraih dagu Rina dan membawa kehadapannya. Pipi yang entah sejak kapan berlinang air mata itu ditangkupnya.


“Tell me Baby… Nggak ngerti aku kalau kamu cuma nangis gini…” ujar Dika dengan lembutnya.


Rina hendak kembali memalingkan wajah, namun berhasil Dika cegah karena kedua tangannya masih menangkup wajah istrinya.


Dan akhirnya bibir Rina bergetar sebelum air mata itu kembali tumpah. Dan meski belum tahu apa-apa, Dika pun mengambil inisiatif untuk menarik tubuh Rina. Membiarkan istri tercinta menumpahkan tangis dalam pelukannya.


Nanti saja sesi tanya jawabnya, yang penting sekarang bagaimana aku menenangkan Rina, batin Dika.


Hampir setengah jam Rina menangis, dan Dika sudah meminta suster membawa Gendis ke kamar sebelah. Dengan begini akan lebih leluasa ia dan Rina bicara nantinya.


Tiada henti Dika memberi sentuhan lembut, bergantian mengusap punggung dan kepala Rina. Merapikan rambut saat nampak wajah istrinya, dan mengecup puncak kepala sebagai wujud kasihnya yang tulus dari hatinya.


“Kamu boleh cerita kalau sudah menangisnya…” ujar Dika begitu suara tangis istrinya terdengar tinggal isak saja.


Rina hanya menggeleng dalam pelukan Dika, yang artinya Dika masih harus bersabar meski tubuhnya mulai pegal.


“Sayang…”


Dengan lembut Dika memanggil istrinya. Lebih dari satu jam ia diam dalam posisi ini, hingga beberapa bagian di tubuhnya mulai terasa kebas dan kesemutan.


“Sayang…” kembali Dika memanggil istrinya saat panggilan pertamanya diacuhkan. Namun sepertinya yang kedua masih sama.


“Ada yang aneh,” gumam Dika.


Rina nampak begitu tenang. Suara isak pun sudah tak kedengaran, tapi…


Dan Dika pun penasaran. Perlahan ia melonggarkan pelukan dan…


“Zzzz zzzz zzz zzz…”


Kening Dika mengerut. Perlahan ia mendongakkan wajah Rina.


“Astaga…”


Dan benar saja. Dengan muka yang kacau dan memerah, Rina terlelap bersama mata sembabnya.


Semula Dika ingin membangunkan Rina, namun akhirnya ia tak tega. Meski harus menahan penasaran dan memendam tanya, akhirnya ia memilih untuk membaringkan Rina. Biarlah Rina istirahat, karena akhir-akhir ini Rina begitu banyak melalui hal yang berat.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2