
Hai****dear.
Sekarang sudah tanggal 28 ya.
Berarti dua hari lagi pengumuman pembagian tanda cinta oleh Senja.
*Support ***terus ya.**
HAPPY READING
“Ya ampun Han, seneng deh bisa kerja bareng gini…” ujar Risma yang tersenyum lebar sambil menatap Hana.
Hana hanya tersenyum menanggapi celoteh Risma. Ia sangat letih karena di hari pertamanya kerja, ia harus menghadapi banyak sekali pelanggan karena Nuke selalu mengumpankan setiap orang yang datang pada Hana. Dan jika Hana sudah ada customer yang dilayani, baru lah yang lain mendapatkan tugas melayani customer yang datang.
“Cara ngomong kamu enak banget tahu nggak, jadi pengen belajar aku jadinya,” ujar Risma lagi.
“Enak gimana sih, aku kan cuma ngomong biasa Ma,” ujar Hana merendah.
Risma tak lagi protes saat Hana kembali memanggilnya dengan cara ini. Ia sudah lelah memberi tahu Hana sehingga ya sudah lah, mau apa lagi.
Hana sekilas menatap Risma yang asik berceloteh kemana-mana, namun pikirannya juga ikut berkelana ke masa ia masih bekerja sebagai bawahan Andre. Jangankan hanya meyakinkan customer tentang barang yang sebenarnya juga bagus, ia bahkan mampu mempresentasikan sesuatu yang kebenarannya masih belum teruji dengan baik sebenarnya.
“Hari ini aku amati customer yang dari kamu itu belanjanya pasti banyak. Bisa-bisa gaji kamu lebih besar dari aku nanti,” ujar Risma disertai tawa.
“Ya baguslah. Nanti kamu yang bayar kos dan keperluan lainnya sedangkan aku yang ngurus makan kita.” Hana menanggapi ujaran Risma ini dengan sungguh-sungguh, karena ia sebenarnya tak nyaman jika harus numpang terlalu lama.
“Dih. Serius banget. Nggak maksud yang itu sumpah.”
“Tapi aku yang mau Ma. Aku nggak nyaman kalau terus-terusan numpang."
"Tapi kamu udah bantu aku Han, dan bantuan yang kamu kasih nggak main-main."
"Aku ihlas kok Ma."
"Sama aku juga ihlas memberikan tumpangan untukmu."
"Tapi kalau Allah memberi jalan rejeki masa ditolak."
"Iya sih..."
Keduanya saling menatap sebelum sama-sama menggelar tawa. "Ya udah balik sekarang yuk,” ujar Hana setelah selesai tertawa.
“Kamu udah nggak lemes lagi?” tanya Risma dengan raut khawatir. Pasalnya mereka belum pulang karena Hana mengaku lemas. Risma paham sekali karena Hana belum spenuhnya pulih dari luka yang diderita gara-gara menolongnya. Padahal selain itu yang membuat kondisi Hana lemah adalah karena keguguran yang barusaja dialaminya.
“Aku nggak selemah itu,” tepis Hana.
Hana bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendahului Risma yang masih mengunci pintu toko.
“Ya ampun, cancel lagi,” celetuk Risma tiba-tiba.
“Apa Ma?” tanya Hana yang tak tahu apa yang Risma maksudkan sekarang ini.
“Taksi online,” jawab Risma singkat.
“Ya udah jalan aja,” usul Hana.
“Gila ya. Kalau aku sendiri sih nggak masalah, tapi kalau sama kamu sih ogah.”
“Kenapa ogah?”
__ADS_1
“Ini malem Hana. Dan jalan bareng cewek secantik kamu itu sama dengan cari masalah namanya.”
"Kok bisa?"
"Kamu itu cantik. Lha kalau ada orang godain gimana, kalau ada yang mau nyulik gimana, parahnya lagi kalau ada yang mau ihhh.... Nggak mau, nggak mau, nggak mau."
"Kalau nggak mau ya udah stop jangan bayangin. Lagian sejak kapan yang buluk gini di sebut cantik.”
“Itu karena kamu lagi haid, jadi nggak kena wudu seharian. Coba kalau udah nggak haid, jadi auto putih nan glowing muka kamu.”
Hana meringis. Lagi-lagi ia teringat jika ia baru saja kehilangan bayi. Tanpa Risma tahu, Hana perlahan mengusap perutnya yang belum sempat membesar. Nak maafin mommy, ujarnya dalam hati.
“Eh Han, itu ada Lutfi, samperin yuk.”
Hana segera mengikuti arah pandang Risma. “Jangan lah. Mau ngapain?” ujarnya kemudian.
“Ya biar kamu bisa pulang bareng lah. Lutfi pasti nggak akan keberatan kalau bawa kamu pulang.”
“Bawa, bawa. Emang aku barang mau di bawa,” kesal Hana.
“Ya ngeboncengin kamu kalau gitu.” Risma mengalah dan mengganti pemilihan katanya.
“Nggak ah. Belum tentu juga dia mau.”
“Pasti mau, orang kelihatan banget dia naksir kamu.”
Hana menghela nafas. Ia kemudian menggeleng sebagai tanda ketidak setujuannya.
“Lutfi itu cakep tahu. Dia dosen muda, udah tahu belum?”
Kembali Hana menggeleng. Aku nggak tahu dan tak tertarik juga untuk mencari tahu. Lanjutnya dalam hati.
“Kamu kenapa sih Ma. Ribet banget bahas cowok. Kenapa nggak buat kamu aja kalau kamu yakin mereka baik.”
Risma meringis. “Dengan tubuh pendek nan gembul seperti ini mana ada cowok yang mau. Termasuk Lutfi sama Bayu.”
Hana benar-benar merutuki kecerobohannya sehingga membuat Risma jadi berkecil hati seperti ini.
“Kamu cakep kali Ma, kurang percaya diri saja,” ujar Hana menghibur.
"Tck. Nggak usah ngadi-ngadi," kata Risma.
“Kulit dekil, badan pendek, rambul bak gelombang cinta seperti ini, mau dilurusin takut nggak ada yang buat makan sama bayar kosan, make up no, badan terawat enggak, style nggak sempat mikirin, outfit seadanya. Harus mulai darimana biar aku bisa percaya diri kalau aku cantik?" sarkas Risma.
"Aku aja nggak berani mikir apakah suatu saat aku bisa menikah ataukah tetap menjadi perawan sampai tua,” lanjutnya dengan menatap lurus kedepan.
Hana menunduk. Diam-diam ia menangisi kondisinya. Ia cantik. Hampir semua standar cantik dia miliki yang memang benar berbanding terbalik dengan yang ada pada Risma. Tubuh tinggi langsing, dan menonjol di beberapa tempat yang tepat. Kulit putih, hidung mancung, mata sipit, pipi tirus, rambut hitam lurus namun sekarang berwarna coklat karena diwarnai, ditambah bonus kecerdasan dan pembawaan yang anggun membuat Hana nyaris tanpa cela.
Tapi dengan semua kelebihan yang ia punya, ia tak punya cinta.
“Lah, napa jadi lu yang bengong…” ujar Risma tiba-tiba.
Hana menarik paksa kedua sudut di bibirnya. Ia menggeleng seakan berkata ia tak apa-apa.
“Han…”
“Apa.”
“Aku tahu kamu masih menyimpan banyak hal, tapi bolehkan suatu saat aku tahu?”
__ADS_1
Hana menatap sekilas Risma yang berjalan di sampingnya sebelum kembali menatap jalan yang terbentang jauh ke depan.
“I will, but I hope you will wait for me ready first.”
“Aduh Han, lu ngomong apa sih?”
“He he he.” Hana segera menutup mulutnya yang dengan lancangnya menyemburkan tawa. “Intinya iya.”
“Aku yakin kamu bukan orang biasa.”
“Aku orang biasa Ma. Hanya saja aku pernah ada di sekitar orang-orang luar biasa,” elak Hana.
“Dah lah mumet, cari ojol nggak apa-apa ya.”
Tanpa menunggu pesetujuan Hana, Risma memesan dua ojol untuk keduanya. Mereka harus segera tiba di kosan, karena besok harus bekerja lagi untuk makan dan bayar kos bulan depan.
***
“Salam dong sayang.”
Andre langsung menghentikan langkahnya saat tiba-tiba dihadang oleh suara sang mama. “Andre pikir tadi nggak ada orang Ma,” ujar Andre untuk menghindari omelan sang mama.
“Assalamualaikum…” ujar Heni pada anaknya.
“Waalaikum salam,” jawab Andre atas salam sang mama.
Heni tersenyum sambil menghampiri anak tunggalnya. “Mau makan dulu apa mau…”
“Andre mau mandi dulu Ma,” sahut Andre cepat.
“Mama siapin makan ya, kalau sudah selesai cepat turun.”
“Andre sebenarnya tadi sudah makan Ma.”
“Mama nggak menerima penolakan.”
Andre tak lagi menjawab. Ia berjalan menyusuri tangga untuk naik ke kamarnya.
Di dalam kamar ia tak langsung menuju kamar mandi, melainkan membanting tubuhnya di atas ranjang. Ia mengusap layar ponselnya dan membuka galeri dimana ia menyimpan foto Hana. Foto-foto yang ia ambil tanpa sepengetahuan Hana ini menjadi saksi bagaimana mereka saling memuja dan mencinta. Foto yang mungkin tak pantas untuk ditunjukkan kepada orang lain, namun ini lah gambaran keintiman mereka sebenarnya. Keintiman dari sepasang pemuja cinta kala terjerembab di kubangan dosa.
“Hana, kamu dimana? Kenapa kamu hobi sekali menghilang seperti ini? Apa kata cintamu kalau itu tak tulus dari hatimu?” gumam Andre sambil melihat gambar Hana yang terlelap dalam pelukannya.
“Anddreeee!! Belum selesai kamu Nak!!!”
Setelah mendengar suara sang mama, Andre segera bangkit dan menanggalkan pakaiannya. Namun bukannya pergi ke kamar mandi, ia justru berjalan ke balkon kamarnya.
“Hai apa kabar? Sudah lama kita tak saling adu kekuatan.”
Bugh!
"Aku nggak akan segan. Kamu tahan ya..."
Bugh bugh bugh!
Bugh bugh!
Bugh bugh bugh!
Bugh bugh bugh bugh!
__ADS_1
Bersambung…