
Halu, ada yang kangen nggak ya?
Kalau kangen, kangennya sama siapa, hehe
HAPPY READING
Rudi menyusul Santi yang sudah terlebih dahulu masuk ke ruangannya. Ia membawa map snechelter dan meletakkan di hadapan istrinya.
“Ini apa Mas?” tanya Santi begitu sadar yang dibawa Rudi adalah map berisi beberapa lembar kertas.
“Kamu baca saja," ujar Rudi sambil mengambil tempat di samping istrinya. "Pelan-pelan saja bacanya, dan tak usah terburu-buru menyimpulkan,” lanjut Rudi kemudian.
“Apa ini ada hubungannya dengan Rista?” Ada cemas yang tiba-tiba menyusup di hati Santi. Ya Allah, jangan bilang Rista sakit parah.
Tak ada yang salah memang dengan pikiran Santi. Suaminya ini adalah seorang dokter, sehingga saat ini yang ada di benaknya adalah Rudi akan membicarakan masalah yang berkaitan dengan kesehatan.
Buru-buru Santi meraih lembaran kertas itu. Namun setelah ia membaca dengan seksama, itu bukan lah rekam medis yang ia takutkan melainkan data asset seseorang yang setelah tahu namanya matanya ia cukup terbelalak karenanya.
“Apa kamu tahu itu apa?” tanya Rudi saat melihat ekspresi terkejut yang tercetak di wajah cantik istrinya.
“Apa ini nominal yang dimiliki Dedi sekarang?” tanya Santi saat menangkap garis besar informasi yang tertulis di kertas-kertas ini.
“Menurut kamu?” Dan bukannya menjawab, Rudi pun membalas Santi dengan mengumpankan pertanyaan karena pertanyaan yang ia lntarkan sebelumnya diacuhkan.
“Dari mana anak ini bisa memiliki nominal sebesar ini? Ini banyak sekali, bahkan aku belum pernah melihat uang sebanyak ini," lanjut Santi yang terus berselancar dengan argumennya sendiri.
Rudi menutup mulutnya yang nyaris menyemburkan tawa. Kalau segitu saja mata kamu sudah mau keluar, gimana kalau kamu lihat apa yang dimiliki anak kamu. Dan kamu juga lupa kalau suamimu juga memiliki nominal yang juga sangat besar dalam roda ekonominya. Lanjut Rudi dalam hati.
Rudi menhela nafas untuk memastikan tak akan ada tawa yang keluar. “Setahun bekerja di Surya Group, Dedi nyaris tak menerima gaji, melainkan ia menerima dalam bentuk saham. Jadi meskipun ia sudah tak bekerja lagi di Surya sejak 5 tahun terakhir, namun ia masih tetap punya penghasilan dari sana.” Fakta pertama sudah Rudi ungkapkan.
“Kalau nggak nerima gaji dia makannya pakai apa? Numpang sama Restu?”
Meskipun diam, Rudi paham sekali pola pikir istrinya. Logis sih sebenarnya saat seorang ibumengkhawatirkan masa depan anaknya, sehingga ia menunggu Dedi benar-benar mampu sebelum ia membela anak angkatnya ini. Bukan maksud Rudi memastikan Dedi sebagai calon menantunya, tapi ia ingin merubah pola pikir istrinya dalam hal menilai seseorang.
“Dalam setiap proyek yang berjalan ada bonus yang dihasilkan. Dan untuk perusahaan sekaliber Surya tentu nominalnya tidak mungkin hanya berkisar ratusan ribu atau jutaan dengan 7 digit angka. Ditambah selama setahun awal Dika memimpin perusahaan, semua proyek Dedi yang handle karena Dika masih harus belajar sana-sini demi bisa membawa Surya Group seperti sekarang ini. Jadi dengan gaya hidup Dedi yang sederhana, biaya setahun kehidupannya akan tercover dengan bonus sebuah proyek saja, bahkan mungkin masih sisa banyak.”
Rudi kembali tersenyum simpul setelah berhasil menyelesaikan kalimat panjangnya. Ia tak langsung berbicara lagi dan justru diam menikmati ekspresi lucu sang istri.
__ADS_1
Ternyata Santi masih kekeh mencari celah. Ia membolak-balik lembar demi lembar di tangannya dan membacanya dengan seksama. “Tapi dari catatan keuangan ini, ternyata Dedi menghabiskan satu kali bonus proyeknya dalam setahun.”
Rudi menghela nafas. Itu hanya satu kali Santi, dan proyek yang ditanganinya banyak sekali.
Santi berusaha menyerang balik suaminya. “Dibuat foya-foya pasti. Sudah aku duga, namanya saja anak muda, dan sebelumnya ia tak punya apa-apa,” ujar Santi dengan nada kecewa.
Rudi mencoba bersabar dengan beberapa kali helaan nafas. “Coba kamu lihat, lembaran yang di belakang,” sambung Rudi cepat saat melihat istrinya hendak meletakkan lembaran-lembaran kertas itu.
Santi mengurungkan niatnya dan langsung melakukan apa yang Rudi instruksikan.
“Yayasan…, ha?!!!” mulut Santi terbuka lebar saking terkejutnya. Namun saat sadar langsung ditutupnya.
“Bahkan biaya hidupnya termasuk makan, sekolah, dan segala keperluannya jauh sekali dari nominal ini. Kenapa Dedi bisa menggelontorkan uang sebanyak ini padahal untuk keperluannya saja tak sampai sebanyak ini?”
Santi membolak-balik kertas itu dan berkali-kali matanya terbelalak saat menemukan hal yang membuat matanya terbuka lebar. “Dan nggak cuma sekali ternyata. Berarti nominal yang menyentuh ratusan milyar tadi hilang Mas? Berarti dia nggak punya apa-apa lagi dong, padahal selama lima tahun di Amerika aku yakin biaya yang dibutuhkan juga banyak.”
“Dia…”
“Jangan-jangan dia punya maksud tertentu Mas," potong Santi cepat. Apa yang ada di pikiran Dedi ini. Apa dia sedang cari muka?”
Rudi menghela nafas. Ia sudah cukup terlatih menghadapi Santi yang seperti ini. Sebenarnya istrinya hatinya baik, gampang tersentuh dan punya empati yang tinggi. Namun namanya manusia pasti punya dua sisi yang berbeda, yaitu sisi terang dan gelap dalam dirinya. Dan sisi gelap Santi adalah sering kali menyimpulkan suatu hal padahal ia belum tahu dengan baik faktanya. Selain itu dia tipikal orang ribet yang kerap over thingking, sehingga perkara mudah pun akan menjadi sulit jika sudah seperti ini.
“Ya jelas ada maksud lah, karena panti asuhan menjadi tempat dimana Dedi bisa pulang setelah kepergian orang tuanya.”
“Mas kenapa sih harus bela Dedi, kan masih banyak anak baik yatim piatu lainnya yang juga baik dan bisa dibantu.”
“Ya masalahnya Dedi yang dituntun Allah untuk dekat dengan kita. Dedi juga yang berhasil membuat anak kita merasa tertarik dengan lawan jenisnya, dan Dedi juga yang mendampingi Dika di masa sulitnya. Kalau kamu masih terus bertanya, tanya saja sama Allah sana. Jangan tanya saya bagaimana caranya. Kalau sudah dapat jawaban, jangan lupa tolong kabarkan ke saya.”
“Caranya gimana Mas?”
Rudi menyatukan kedua tangannya dan mengeratkan keduanya dengan sekencang-kencangnya.
“Saya tidak tahu Arsanti. Sekarang kamu mau apa?”
“Mau apa? Aku nggak mau apa-apa?” jawab Santi dengan wajah tanpa dosa.
Astagfirullah.
__ADS_1
Rudi melepas kacamatanya dan memijat pelipisnya. “Oke saya ingatkan kalau kamu lupa.”
Rudi menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya. Ia menatap Santi setelah melipat kedua tangannya di depan dada. “Kamu ingin kita membatasi Rista agar tak melanjutkan hubungannya dengan Dedi, benar?”
Santi mengangguk dengan memusatkan perhatian pada suaminya.
“Saya tahu, sangat tahu apa yang menjadi salah satu alasan terbesarmu tidak yakin dengan Dedi jika sampai ia berjodoh dengan Rista, ini tidak jauh-jauh dari masalah finansial kan?” todong Rudi tanpa basa-basi.
Rudi mendekatkan wajahnya untuk dapat lebih intens menatap istrinya.
“Ya…” Santi ingin membebaskan dari dari penjara tatapan maut Rudi, tapi sepertinya tak bisa karena jaraknya pun sedekat ini. “Kalau masalah finansial aku yakin Rista nggak akan kekurangan siapa pun yang menjadi jodohnya, termasuk Dedi,” ujar Santi akhirnya.
“Nah itu. Tapi Dedi itu terlalu sensitif Santi. Ia bahkan harus lari sejauh ini agar bisa kembali dengan keadaan yang lebih pantas dan dapat kamu terima jika memang masih ada jodoh nantinya.”
“Kok aku, bukannya Rista?”
“Ya karena kamu mamanya Rista. Dedi itu pikirannya sudah dewasa sejak lama, makanya ia hingga berfikir sejauh ini.”
Rudi menghela nafas lagi. Bicara dengan Santi itu tak bisa jika terlalu banyak basa-basi karena malah bikin ribet dan bisa salah tafsir. Cara yang terbaik adalah to the point dengan menggunakan kalimat sesederhana mungkin.
“So…?”
"So Dedi tak tega memutuskan hubungannya dengan Rista tapi ia tak mungkin tetap mempertahankan hubungannya jika kamu tak yakin dengannya."
"Dia ngadu sama kamu."
"Enggak Arsanti. Tapi aku laki-laki jadi sedikit banyak aku bisa tahu apa yang Dedi rasakan tanpa dia beritahukan pun."
“Jadi sekarang biarkan semua berjalan apa adanya. Insya Allah Dedi tak akan memulai kembali hubungannya dengan Rista seperti kita memulai hubungan kita dulu.” Rudi sengaja membahas masa lalu mereka agar Santi tak selalu menuntut kesempurnaan untuk anaknya.
“Jangan terlalu mencampuri urusan anak kita hanya demi mengejar ego. Dulu kamu ragu dengan Dedi karena dia tak punya apa-apa, sekarang ia sudah kembali dengan ekonomi yang sudah mapan dan talenta yang diasah dengan susah payah di luar negeri sana.”
Santi menunduk dengan punggung bersandar di sofa setelah berhasil melepas kontak dengan suaminya. Ia merenungkan apa yang baru saja di bahas barusan.
"Aku kan hanya ingin anakku berjodoh dari kalangan yang sama agar lebih mudah dalam menjalani kehidupan rumah tangga nantinya. Bukan maksudku harta menjadi tolok ukur kebahagiaan, tapi lebih kepada meminimalisir ketimpangan
pola dan gaya hidup agar kehidupan rumah tangga anak-anak kita bisa langgeng dan minim masalah."
__ADS_1
Rudi merangkul bahu istrinya. "Aku tahu."
Bersambung…