
...*HAPPY READING*...
Ada yang berbeda dari penampilan Rina kali ini. Jika biasanya ia muncul di kantor dengan pakaian casual, kini ia datang dengan penampilan formal.
Sengaja berangkat terlebih dahulu dari Dika dan kini menemui Andre yang sudah menunggunya di lobi.
"Selamat pagi Pak Andre."
Rina menjabat tangan Andre yang terulur di hadapannya.
"Syukurlah Rin kamu mau gabung ke sini, setidaknya aku bisa bernafas saat bekerja."
Rina tertawa kecil mendengar ungkapan Andre.
"Terimakasih atas kerja kerasmu selama ini," ujar Rina sebelum melepas tangannya.
Andre sempat mengangguk sebelum mengedarkan pandangan pada karyawan yang berlalu lalang.
"Perhatian untuk semuanya!"
Semua yang mendengar suara Andre menghentikan langkahnya.
"Perkenalkan, ini adalah ibu Rina. Mulai hari ini beliau akan bergabung dengan perusahaan kita dan bekerja sebagai asisten pribadi pak Restu Andika. Jadi segala sesuatu yang ada urusannya dengan beliau harus melalui Ibu Rina."
Rina tersenyum dan menundukkan kepala pada semua staf yang kebetulan di sana.
"Salam kenal semuanya. Mohon bantuannya."
Ujaran Rina barusan mendapat hadiah tatapan tak menyenangkan dari para karyawan. Terlebih bagi mereka yang suka menggosipkan Rina yang sebelumnya bisa seenaknya menemui bosnya tanpa harus capek-capek membuat janji.
"Sebenarnya siapa perempuan ini?"
"Sepertinya ia juga tak punya pengalaman apa-apa."
"Aku yakin dia tak lebih dari seorang penggoda."
Bukannya menundukkan kepala, Rina justru terang-terangan menatap pemilik suara yang berbisik membicarakannya ini.
"Sepertinya ada banyak pertanyaan yang ingin diajukan kepada saya?"
Para penggosip itu mendadak menundukkan kepala. Rina tersenyum puas atas keberanian dirinya. Saat itu pula sebuah mobil hitam berhenti di depan lobi.
"Bu Rina, sepertinya Pak Restu sudah tiba."
Rina menatap keluar, melihat suaminya yang gagah keluar setelah sopir membukakan pintu untuknya.
"Mari..."
__ADS_1
Andre mempersilahkan Rina untuk berjalan terlebih dahulu.
"Permisi..." ucap Rina sebelum melewati deretan karyawan yang sebelumnya Andre berhentikan.
"Kalian semua bisa kembali bekerja. Terimakasih atas perhatiannya."
Para karyawan itu semuanya minggir. Namun mereka belum masuk ke masing-masing ruangannya dan lebih memilih untuk berhenti untuk memperhatikan Rina.
Dika tersenyum puas melihat cita-citanya bekerja dengan Rina di sampingnya akhirnya kesampaian. Ia tahu sebenarnya Rina cukup tersiksa bersembunyi seperti ini, namun ia hargai keteguhannya.
Dadanya serasa meledak menahan hasrat untuk berteriak. Meneriakkan pada dunia bahwa wanita cantik yang berjalan ini adalah istrinya yang telah 4 tahun dinikahi.
Rina menggeleng saat Dika meraih kepalanya. Ia yakin bahwa suaminya akan mendarat kan kecupan di keningnya.
"Selamat pagi Pak Restu. Mulai hari ini saya akan bekerja sebagai asisten pribadi anda."
"Selamat datang Bu Rina. Semoga anda betah bekerja dengan saya."
Keduanya tertawa kecil dengan sandiwara yang baru saja mereka mainkan.
"Mari Pak."
Dika berjalan dengan Rina mengikuti dari belakang. Andre yang masih bertahan di lobi sempat membungkukkan badan sebelum ikut berjalan bersama Dika dan Rina.
Ting
Ketiganya segera memasuki pintu lift yang telah terbuka pintunya.
"Iya. Kalau main drama di layar kaca udah biasa, kalau di dunia nyata baru keren kan sayang."
Dika meraih bahu Rina dan mengecup puncak kepala istrinya. Sementara itu Andre langsung memalingkan muka.
Ting
Tak terasa mereka sudah tiba di lantai teratas. Drama kembali di mulai.
Setelah mempersilahkan Dika memasuki ruangan, Andre memperkenalkan Rina pada jajaran staf sekretaris bawahannya. Di kantor besar seperti Surya Group memang tak hanya punya satu sekretaris saja, namun ditambah staf sekretaris yang membantu pekerjaannya.
Staf sekretaris yang membantu Andre di kantor pusat ini perempuan semua. Jumlahnya ada 4 yaitu Hana, Rahma, Elis, dan yang paling senior adalah Riza.
"Mohon perhatiannya sebentar. Perkenalkan, ini adalah ibu Rina. Mulai hari ini beliau akan bekerja sebagai asisten pribadi bapak Restu Andika. Dan Bu Rina, mereka adalah staf sekretaris di kantor ini. Yang paling ujung adalah Hana, disampingnya Rahma, selanjutnya Elis dan yang ini Mbak Riza yang sudah bekerja paling lama."
"Salam kenal semuanya. Mungkin anda sudah sering bertemu dengan saya sebelumnya, dan mulai hari ini saya akan bekerja bersama anda. Mohon bantuannya."
"Iya Bu Rina," serempak keempatnya.
"Kalau begitu Bu Rina, mari saya antar ke meja kerja anda. Dan kalian silahkan melanjutkan pekerjaan."
__ADS_1
Rina sempat berbalas anggukan dengan staf sekretaris suaminya sebelum berjalan mengikuti Andre ke ruang Dika.
"Ck, kok bisa jadi asisten pribadi sih dia?" gumam Elis tak percaya
"Lagian pak Restu hobi banget rekrut orang yang minim pengalaman," imbuh Hana
"Dulu pak Dedi. Untung dia cerdas sekali, kemudian pak Andre yang kacau sekali di saat awal bergabung, untung sekarang sudah enggak," terang Riza yang tahu benar sepak terang Dika sejak awal masuk perusahaan.
"Terus ini malah perempuan yang kayaknya nggak ngerti urusan kantoran," lanjut Rahma.
Keempatnya saling memandang sebelum kembali duduk untuk bekerja.
Cklek
Andre mencul dari ruangan Dika dan menatap satu-persatu bawahannya.
"Saya harap kalian fokus bekerja dan tak berpikiran macam-macam."
"Maksud Pak Andre?" tanya Riza mewakili empat rekannya.
"Tidak ada maksud tertentu Mbak Riza, hanya berharap kalian tak kehilangan fokus dalam bekerja saja. Mengerti?"
"Mengerti Pak," serempak empat perempuan di sana.
Andre sesekali menatap stafnya. Ia tahu pasti mereka baru saja membicarakan Rina. Ia sendiri tak paham untuk apa Dika dan Rina menyembunyikan status pernikahan mereka, namun ia tak berani banyak menduga.
Tanpa Andre sadari, ada yang begitu tak suka dengan kehadiran Rina. Dia adalah Hana sekretaris dengan usia termuda yang belum lama bergabung dengan perusahaan mereka. Dia adalah lulusan terbaik jurusan sekretaris dari kampus elit terkemuka di Indonesia. Sehingga di usianya yang belum 25 tahun, dia berhasil menduduki posisi tinggi di salah satu perusahaan terbesar di Indonesia.
Berita masuknya perempuan muda bernama Rina di perusahaan sebagai asisten pribadi Dika menyebar dengan cepat. Bahkan sampai kepada Reno yang merupakan pimpinan salah satu cabang perusahaan Dika.
"Memang kenapa dengan wanita ini?" tanya Reno pada staf yang tengah membahas masalah ini. Ia tadi tak sengaja lewat dan tertarik untuk ikut bicara.
"Rumornya wanita muda ini sebelumnya sering menemui pak Restu secara pribadi, ada yang bilang juga dia simpanan pak Restu."
Reno mengernyit. Dalam hati ingin sekali ia memukul mulut pegawai ini dengan sepatu. Tak tahu saja yang dibicarakan ini adalah anaknya.
" Pak Restu kan belum mengumumkan pernikahan, jadi untuk apa dia punya simpanan," ucap Reno mencoba memberi pandangan yang berbeda.
Namun beberapa karyawan ini justru menertawakan pemikiran Reno. Reno hanya diam dengan wajah tegang.
"Pak Reno ini jangan berlagak tak paham lah. Pemuda sukses seperti pak Restu pastilah tak mau pusing dengan pernikahan, makanya dia pilih cara simpel dengan memelihara simpanan. Jadi kalau sudah bosan tinggal mengakhirinya saja tanpa harus repot-repot mengurus segala sesuatunya. "
" Ehm. Sebaiknya kalian lanjut bekerja, karena saya dengar akan ada pengurangan pegawai yang kinerjanya kurang baik. "
" Masa iya. "
Reno melangkah begitu saja tanpa berniat untuk menjelaskan. Ia sudah cukup dibuat geram kala putrinya dikabarkan tak baik seperti demikian.
__ADS_1
Ya Allah, semoga rumah tangga anakku baik-baik saja.
TBC