
Kalau aku bilang**sorryapa yang ada di benak kalian, xexexe
Yang sudah baca terimakasih.
Yang sudah komen terimakasih banyak.
Big hug. Luv, luv, luv**
HAPPY READING
Dian senang sekali saat Andre mengabarkan bahwa ia sudah sampai tepat saat Dian selesai membenahi riasannya. Tubuh tinggi dan ramping, outfit yang fashionable, kemampuan make up yang bagus membuat penampilan Dian begitu memukau. Potongan pendek masih menjadi andalannya ditambah ia baru saja meluruskan rambutnya yang membuat penampilan Dian jadi lebih segar dan mempesona.
Dian berjalan keluar dan mengunci ruangannya sebelum ia berjalan ke depan untuk menghampiri Andre yang sudah menunggunya. Ia mempercepat langkah saat melihat mobil Andre sudah menunggunya. Ia menarik handle pintu depan dan masuk segera. Saat hendak memasang sabuk pengaman, Dian baru sadar jika ternyata ada orang lain selain mereka.
“Eh ada Hana,” sapa Dian pada Hana yang duduk di belakang.
“Hai…” balas Hana masih dengan sesekali memegangi hidungnya. Tak lupa ia melambaikan tangan dari kursi belakang.
“Kamu tadi jemput Hana dulu ya, pantesan lama…” Ada gurat kecewa di wajah Dian, untung masih tersamarkan dengan pencahayaan yang remang.
“Kita mau kemana?” tanya Andre yang enggan menanggapi ucapan Dian.
“Terserah sih. Kan biasanya kamu yang paling tahu tempat untuk kita menghabiskan waktu.”
Dian menatap Andre tanpa memperdulikan Hana yang dibelakang. Ia berbicara seakan di sana hanya ada mereka berdua.
“Eh tapi biasanya kita cuma berdua ya, sorry lupa kalau di belakang masih ada Hana.”
Entah apa yang terjadi pada Dian. Ia sudah bawel dari orok, tapi dulu ia tak menyebalkan seperti sekarang.
Hana tak punya cukup tenaga untuk membalas ucapan Dian. Ia masih harus menyembuhkan sakit pasca diajak Andre ke tempat yang tinggi, namun tiba-tiba tergelincir lagi ke dasar jurang yang begitu dalam.
“Ndre," panggil Dian sambil memegang lengan Andre. Ia menggoyangkan lengan pria di sampingnya ini. "Kita makan malam yuk. Sudah lama kita nggak ke caffe langganan pas SMA dulu, ya…”
__ADS_1
“Aku sudah makan malam Di,” tolak Andre sambil mendorong pelan tangan Dian dari lengannya.
“Yaaahh… padahal aku pengen banget ke sana.” Dian kembali merengek manja.
Andre mulai menjalankan mobilnya. Karena dia sama sekali tak menaggapi candaan Dian, akhirnya Dian mengajak Hana berbicara. Sesekali Andre menatap ke belakang. Ia melihat bagaimana Hana tersenyum menanggapi setiap ocehan Dian,
padahal baru saja wanita ini kembali ia buat menangis dengan kata dan perlakuan kasarnya di restoran tadi. Andre sadar jika
sikapnya terlalu sadis dan seenaknya pada Hana. Tapi self controlnya benar-benar kacau akhir-akhir ini. Jika dia bahagia, ia akan sulit untuk memendam apa yang ia rasa. Jika ia marah, ia akan kesulitan untuk meredam ledakan emosinya, jika sedang kecewa, ia tak bisa menyembuntikan kehancuran moodnya.
Dan satu-satunya penawar ledakan emosinya adalah Hana. Setelah semuanya ia tumpahkan pada Hana, ia akan kembali menjadi Andre yang stabil dan tenang seperti biasanya.
“Lhah Andre. Katanya tadi nggak mau ke sini, tapi ternyata tiba-tiba sampai saja. Sengaja ya kasih kejutan,” ujar Hana dengan bahagia.
Andre sama sekali tak bereaksi, ia justru segera melepas sabuk pengaman dan membuka pintu di sampingnya untuk keluar. Andre sendiri juga bingung kenapa dia harus ke sana. Ia ingin menolak keinginan Dian, tapi nyatanya tanpa sadar ia terus berjalan ke sana. Ini merupakan tempat tongkrongan langganannya semasa SMA. Tak hanya bersama Dian, tapi Miko, Nita, Rina bahkan kadang Dika dan Dedi juga saat dua pemuda luar biasa ini memili waktu di sela kesibukannya.
“Ayo Ndre.”
Dian menahan tangan Andre tepat sebelum tepat sebelum tangan Andre menyentuh handle.
“Janga terlalu kamu manjain, masa buka pintu aja nggak bisa. Bukan kamu banget kalau harus serve perempuan sampai seperti ini,” ujar Dian mengingatkan.
Andre urung membuka pintu untuk Hana dan mengikuti Dian masuk ke dalam. Hingga saat keduanya mendapat sapaan selamat datang, Andre kembali menoleh ke belakang. Ternyata Hana belum juga nampak menyusul mereka. Andre merasa ia tak boleh terus seperti dengan Hana. Entah bagaimana nasib hubungan keduanya di masa yang akan datang, yang jelas ia bertekat hari ini akan mengatakan
keseriusannya untuk mengikat hatinya dengan Hana.
Andre melepaskan tangan Dian. Ia memacu langkahnya untuk menjemput Hana. Ia langsung menarik handle saat tiba di dekat mobilnya.
“Hana?!”
Andre langsung panic saat tak menemukan Hana di sana. Ia kembali menutup pintu dan nyaris berteriak sebelum melihat punggung Hana yang tengah berjongkok tak jauh dari mobilnya. Andre tak ingin membuang waktu dan segera
menghampiri Hana.
__ADS_1
“Kamu ngapain malah di sini, bukannya segera masuk dan nyusulin kita.”
Hana bangkit dengan seekor kucing kecil bersamanya.
“Kamu nggak geli?” tanya Andre sambil mengelus kepala kucing kecil ini.
“Kenapa harus geli? Kamu sering mengataiku rumput liar, saat diinjak pun akan diam saja, sedangkan mereka kucing liar yang bisa lari atau membela diri saat ada yang mengusiknya,” terang Hana sambil memainkan kaki depan kucing ini.
“Tapi kamu nggak mungkin bawa ini masuk,” ujar Andre dengan lembut.
“Ya nggak usah ajak aku masuk, biar aku di sini saja,” ujar Hana tanpa ada gurat ketegangan sebagaimana yang batinnya rasa sekarang.
Andre menghela nafas. “Ayo masuk, biar dia kembali pada kelompoknya.”
“Kucing itu bukan hewan yang hidup dalam kelompok. Mereka selalu sendiri bahkan akan saling menyerang dan menyakiti jika sedang terancam, meskipun sama-sama bagian dari koloni,” tutur Hana lagi.
“Kenapa kamu jadi banyak teori seperti ini. Sudah lah, sekarang kamu lepaskan. Toh kucing ini bisa membela diri seperti katamu tadi.”
Hana menghela nafas. Andre berhasil melumpuhkannya dengan kata-kata yang ia gunakan untuk melawan Andre tadi. Dia harus terlebih dahulu banyak belajar jika ingin berdebat dengan Andre. Dengan terpaksa Hana harus melepas kucing kecil berwarna hitam dan berekor panjang yang baru saja ia temui. Ia berjalan mengikuti Andre berjalan memasuki caffe dengan tangan yang digenggam erat.
Andre langsung menemukan keberadaan Dian yang langsung melambaikan tangan padanya saat baru saja melewati pintu. Dian memilih tempat di salah satu sudut sebagaimana yang mereka favoritkan sejak dulu. Hana hanya mengekor dan ikut saja kemana Andre membawanya.
“Jadi ikut masuk?” kaget Dian saat baru menyadari ada Hana yang berjalan di belakang Andre.
“Duh, sorry ya. Ini aku pesennya buat Andre doang, spaghetti in tomato, favorit kamu,”Ujar Dian sambil menatap Andre. Ia sengaja meletakkan makanan yang ia pesan di dekatnya. Ia berharap mantan pacarnya ini akan duduk di sampingnya.
Hana merasa tak nyaman dengan cara Dian menatapnya. Tapi mau bagaimana lagi, Andre memaksanya untuk masuk meski sebenarnya ia sedang mencuri waktu untuk melarikan diri. Saat ia sibuk melawan keraguan hatinya untuk segera pergi, Andre terlebih dahulu datang dan membuatnya bimbang.
“Duduk…” Andre menarik kursi di depan Dian dan meminta Hana duduk di sana. Ia pun menyusul Hana dengan duduk di sampingnya.
Kenapa Andre malah duduk di sana sih, aku kan sudah menyiapkan makanannya di sini. Gerutu Dian dalam hati.
Bersambung…
__ADS_1