
...*HAPPY READING* ...
Meskipun Rudi mampu, tapi ia tetap mempercayakan pada yang ekspert di bidangnya. Saat ini Dika dan Rina sedang konsultasi di depan dokter kandungan hasil rekomendasi Rudi.
Dr. Halimatus Sa'diyah Sp.OG merupakan dokter spesialis kandungan yang menurut Rudi paling cocok untuk anaknya. OG disini bukan orang gila ya, tapi singkatan dari Obstetri & Ginekologi, atau dalam bahasa Indonesianya dikenal menangani segala sesuatu yang berhubungan dengan kandungan dan kebidanan.
Rudi stand by bersama Dika Rina selama konsultasi, ia turut mendengarkan saran-saran untuk mereka meskipun sebenarnya ia sudah paham hal-hal dasar ini di luar kepala. Namun demi kebaikan anaknya ini, ia mempercayakan mereka kepada ahlinya.
Rina dan Dika harus menjalani serangkaian tes untuk melihat kondisi hormon mereka. Hal ini menjadi perlu mengingat Rina juga melakukan penundaan kehamilan secara hormonal dalam waktu lama. Sebenarnya mereka sudah memilih yang paling minim resiko, namun minim bukan berarti bebas. Untuk memastikan hal tersebut maka perlu dikaji lebih lanjut.
Besok merupakan waktu yang dijadwalkan untuk mereka, sehingga esok hari mereka harus datang ke rumah sakit lagi.
"Makasih Ayah. Anda sudah bersedia menemani kami, padahal saya yakin anda punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan."
"Saya bekerja untuk keluarga, dan kalian adalah keluarga saya. Jadi kalau disuruh memilih antara keluarga atau kalian maka saya pasti akan memilih kalian."
Dika merangkul Rudi.
"Terimakasih telah menjadi Ayah untuk saya."
"Terimakasih juga telah bersedia menjadi anak saya."
Keduanya melepaskan diri.
"Kalau begitu kami permisi," pamit Dika pada Rudi.
"Jaga stamina kalian. Dan untuk Rina ingat pesan dokter Halima untuk tidak terlalu capek dan stress."
"Iya Yah. Terimakasih."
Dika dan Rina mencium tangan Rudi. Hal ini pun tak luput dari pengamatan para pegawai rumah sakit ataupun pasien dan keluarganya yang tak sengaja ada di sana.
"Adem banget ya lihat mereka."
"Iya harmonis banget."
"Jelas lah, mereka nggak akan ada cerita tuh rebutan warisan, jadi apa lagi yang dirisaukan."
Kedua perawat itu tertawa dan melanjutkan pekerjaannya.
Rina urung ke galeri. Ia memilih untuk ikut Dika ke kantornya. Ia mulai terbiasa saat semua orang menunduk hormat kepadanya. Namun bedanya dengan Dika, ia tak segan untuk tersenyum dan membalas sapaan para karyawan Surya Group.
"Sayang, ini nanti nggak larut kan pulangnya?" tanya Rina begitu keluar dari lift di lantai tempat ruangan Dika berada.
"Enggak, kenapa?"
__ADS_1
"Aku pengen ketemu Rista..."
"As you wish sayang..." jawab Dika yang dengan santai merangkul istrinya.
Ketiga orang staf sekretaris itu menunduk hormat pada Rina dan Dika. Terakhir Andre memegang handle dan membukakan pintu untuk pasangan ini.
Tiba-tiba Rina teringat sesuatu dan berhenti tepat di depan Andre.
"Kabar Hana gimana Ndre?"
"Alhamdulillah masih bernafas."
Dika tertawa mendengar jawaban Andre kemudian menarik Rina untuk masuk ke ruangannya. Andre tidak duduk di tempatnya dan memilih untuk ikut masuk bersama bosnya. Pintu tertutup bersama menggilangnya tiga orang petinggi Surya.
Rahma menurut dadanya.
"Aku lihat Pak Restu tertawa kok jadi ngeri ya sekarang. Dia kelihatan protektif banget sama bu Rina juga," ujar Rahma kemudian.
"Namanya juga istri, ya semua suami pasti gitu lah, ya kan Mbak Riza?" lanjut Elis.
Mbak Riza menjadi sasaran karena diantara mereka bertiga hanya dia yang sudah berkeluarga.
Riza hanya menggidikkan bahu dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Aku jadi ngeri saat teringat masih ada Hana dan bu Rina baru masuk. Untung aku nggak pernah berbuat aneh-aneh. Kalau sampe, hmmmm...., pasti tamat sudah riwayatku," kata Elis lagi.
"Kamu lupa dia siapa sebenernya?" bukannya menanggapi Elis justru melempar sebuah pertanyaan.
"Dia itu anak pesaing perusahaan ini, jadi isi otaknya pasti beda dengan orang biasa seperti kita. Kalau kita mah orang biasa yang hanya mikirin kerja, cari uang, udah. Nggak mungkin kita mau sia-siain posisi ini hanya demi sebuah keinginan yang terlampau jauh dari jangkauan," terang Elis kemudian.
" Udah-udah. Kalau nggak mau nasibnya kaya Hana mending sekarang kalian kerja, " ujar Riza memperingati.
Tiga orang ini kembali sibuk dengan segudang pekerjaan yang entah kapan akan dapat mereka selesaikan.
Di dalam ruangan, Dika dan Andre tengah berdiskusi membicarakan soal perkembangan perusahaan. Sementara Rina hanya sesekali saja menimpali. Ia sedang bersantai sambil makan buah di sofa ruangan suaminya.
Rina kadang tersenyum sendiri saat melihat suaminya yang serius bekerja. Ia tak menyangka hidupnya akan seperti ini, menyerah pada seorang pria muda namun bisa dan punya segalanya. Jika melihat Dika yang sekarang, tak akan ada orang yang menyangka bahwa ia pernah jatuh ke dasar terdalam di awal perkenalannya dengan Rina.
"Sayang..." tiba-tiba Dika memanggil Rina.
"Iya," jawab Rina yang tengah mengutak-atik ponselnya.
"Kamu tidur aja kalau capek," ucap Dika.
"Kamu tenang aja, aku bukan gadis manis yang menunggu dipersilahkan untuk melakukan sesuatu."
__ADS_1
"Iya, percaya. Kamu juga sudah tak gadis lagi sejak 4 tahun lalu," balas Dika dengan santainya.
"Ehm, ehm." Andre berdehem saat merasa tiba-tiba menjadi orang asing.
"Kenapa kamu berdehem seperti itu? Sangat tidak sopan."
Andre mengembangkan tawanya menanggapi kesinisan Dika.
"Saya hanya merasa tempat saya bukan di sini. Saya harus segera keluar dan menyelesaikan pekerjaan yang berserak di meja saya."
"Ya sudah, go on," usir Dika.
Andre segera membereskan kertas yang ia bawa dari ruang kerjanya. Ia berjalan keluar menuju pintu dan sempat menunduk hormat sebelum benar-benar keluar dari sana.
Cklek
Pintu tertutup meninggalkan Dika dan Rina berdua di dalam ruang kerjanya.
Rina masih duduk di sofa dan Dika perlahan menghampirinya.
Tuhan, kenapa suamiku tampan sekali. Setelan jas dan dasinya sangat matching melekat pas ditubuhnya. Hanya ada jam tangan sebagai aksesoris tunggal, namun itu sudah cukup membuat penampilannya sempurna.
"Kenapa kamu memandangiku seperti itu, hmm?"
"Apa kamu akan tetap tampan seperti ini kalau bukan seorang Restu Andika?"
Dika melonggarkan dasinya dengan sebelah tangan mencengkeram sofa di samping tubuh Rina.
"Menurutmu bagaimana? Apa menjadi Dika seorang anak SMK membuatku langsung buruk rupa?"
Rina menggeleng dengan tatapan masih terkunci pada suaminya.
"Bagiku kamu tetap sempurna dengan atau tanpa gemerlap kemewahan yang mengelilingimu saat ini?"
"Apa kamu sudah siap untuk bersama membuat hari ini sempurna."
Rina mengalungkan tangannya di leher Dika. Dan Dika dengan lancar langsung menjalankan tugasnya yaitu meraup bibir yang telah menjadi candu baginya.
Dengan bibir tertaut, Dika mengangkat tubuh Rina menuju ruang istirahatnya.
" Kenapa di sini? " tanya Rina saat merasa tubuhnya mendarat di tempat yang keras. Bukan di ranjang seperti yang ia bayangkan.
"Karena di ranjang sudah terlalu biasa."
Dika mengangkat kedua kaki Rina, dan meja kecil ini menjadi saksi bagaimana dua anak manusia ini mengecap indahnya cinta.
__ADS_1
Dika menyusuri jalan yang sudah sangat di hafalnya dan perlahan menyelam ke bagian terdalam Rina.
TBC