Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Move On


__ADS_3

HAPPY READING


“Jadi gimana nasib baju-baju ini?” tanya Eka pada Nuke dengan takut-takut. Pasalnya barang di display sudah banyak yang kosong dan hari ini ia yang bertanggung jawab untuk penjualan offline di toko ini.


Nuke tak menjawab, ia hanya menghela nafas dan duduk diam di tempatnya.


“Ya pastinya harus dibongkar karena tak ada yang akan membayar untuk ini semua,” sahut Haning yang baru muncul dan berdiri di samping bosnya.


“Lagian nih ya, si Hana pake mau ngelayanin orang sok kaya lagi. Iya sih bawa mobil mewah, tapi siapa tahu dia sopir dan itu mobil bosnya. Harusnya kamu itu tahu mana yang beneran kaya dan mana yang hanya sok kaya. Orang kaya itu hanya membeli yang ia mau dan ia buthkan, bukan seenaknya menghambur-hamburkan uang.” Setidaknya itu yang pernah aku pelajari di youtube, lanjut Haning dalam hati.


Tak ada yang menyahut atau menyela ucapan Haning. Terutama Hana. Ia hanya bisa menunduk dalam mendengar ucapan Haning. Ia tahu Andre kesal karena ia pergi begitu saja tanpa memeberikan keterangan dan alasan atas kepergiannya.


“Han, jangan diem aja dong. Kasih solusi. Kamu kayaknya sudah saling kenal sama pria tadi,” desak Haning yang seang sekali melihat Hana terpojok seperti ini..


“Udah lah Mbak. Jangan memperkeruh suasana lah. Kita sama capeknya. Aku yakin semua tadi pada seneng pas tahu ada yang borong di toko kita, dan langsung membayangkan bonus besar yang akan kita terima. Termasuk Mbak Haning juga,” ujar Risma. Meski pun tadi ia merasa sangat kecewa pada Hana karena dewa penolong yang tersimpan manis diingatannya ternyata nampak punya kedekatan dengan Hana, tapi melihat Hana yang Haning pojokkan seperti ini membuat kasihan juga.


“Ya jelas seneng lah, tapi aku kan orangnya rasional nggak asal iya kayak Hana.” Haning berusaha berkilah.


Semua yang ada di sana tak ada satu pun yang membalas ucapan Haning. Belum juga lelah mereka terbayarkan, sekarang harus dihadapkan pada pekerjaan baru yaitu membongkar semua barang yang sudah mereka masukkan ke dalam paperbag dan menatanya kembali di display dan sebagian masuk lagi ke gudang. Karena baju yang Andre acak-acak tadi hampir menghabiskan seluruh isi toko ini.


Haning nampak hendak membuka mulutnya namun urung saat melihat Nuke bangkit dari tempat duduknya. Secarmuk carmuknya Haning, ia akan tetap diam jika Nuke sudah menampakkan wajah seriusnya seperti ini.


“Bongkar sumua dan kembalikan ke tempat semula…” titah Nuke sebelum pergi begitu saja dan menghilang di balik pintu ruangannya. Ia juga sama dengan kelima karyawannya yang nampak marah dan kesal di wktu yang sama.


“Nah kan. Nambahin pekerjaan kan. Kamu sih…” Super sekali Haning ini. Ia tak kehabisan kata untuk menjatuhkan orang lain.


Risma mengusap punggung Hana, dan setelahnya tangannya berhenti di pundak Hana. “Sudah yang sabar,” ujarnya kemudian.


Hana menarik paksan kedua sudutnya untuk berterimakasih pada pengertian yang Risma berikan.


“Oh iya, memangnya pria yang tadi itu siapa? Bukankan kamu tahu namanya, kenapa tidak kamu hubungi saja sekarang?” tanya Haning langsung pada Hana.


“Saya tidak tahu nomornya Mbak,” jawab Hana.

__ADS_1


"Nah kan, beneran kenal kan."


Hana mendengus. Maunya Mbak Haning ini apa sih. Tanya, dijawab. Bukannya udah malah cari masalah.


“Maaf ya, karena sudah jam segini juga, lebih baik semua segera kita bereskan karena sebentar lagi waktunya pulang.” Eka yang biasanya terbiasanya iya-iya saja pun memberanikan diri untuk membuka suara. Ia memang kesal, tapi kasihan juga pada Hana kalau ia tak coba membantunya. Karena selama beberapa hari mereka bekerja bersama, sudah banyak sekali hal baik yang Hana lakukan padanya.


“Gara-gara kamu semua ikut capek.” Belum menyerah juga Haning sepertinya.


“Mbak, udah dong. Lagian Mbak Haning pas kita packng nggak ikut bantu kan?” sarkas Anin dengan nada kalemnya.


“Kamu tahu apa, jangan ikut campur Nin.” Haning tak akan membiarkan semua balik menyerangnya dan membela Hana.


“Setahuku kita disini sama-sama kerja, dan dari kita berlima tak ada yang kedudukannya lebih tinggi dari yang lain.” Ternyata Anin tak gentar sama sekali dengan gertakan Haning.


Risma ingin tertawa melihat wajah Haning yang langsung berubah saat mendengar ucapan Anin. Tak lupa ia juga melihat wajah Hana dan Eka yang juga ada di sana. Ternyata Eka sama seperti dirinya, melakukan beberapa gerakan hanya untuk menyamarkan tawa. Sayangnya Hana tak terpengaruh sama sekali dengan kejadian ini. Ia masih saja diam dengan wajah datar tanpa ekpresi mungkin saking kesalnya juga. karena terus dibombardir sejak tadi.


Memang orang yang jarang bicara dan terbiasa mendengarkan kata orang itu sekali bersuara bisa membuat orang kehilangan kata. Seperti Anin ini. Dia bukan pendiam, dan masih bisa diajak bercanda. Hana saja saat jajak pendapat ia selalu berasa di barisan paling belakang untuk mendengarkan dan menjalankan apa pun  yang diputuskan.


“Di sini nggak ada senioritas Mbak, apa perlu kita tanya mbak Nuke untuk hal semacam ini?” Anin memang super.


“Permisi…”


Haning menelan kembali ucapannya saat melihat perempuan dengan pakaian formal dan rapi datang ke toko mereka.


“Iya…”


Setelah sempat saling memandang, tiba-tiba Haning bangkit begitu saja untuk melayani calong pelanggan.


“Pasti dia mau mangkir dari dari beres-beres,” kesal Risma pada ketiga kawannya.


Hana yang sebelumnya menahan kesal, kini dibuat terkejut dengan kedatangan orang yang sama sekali tak pernah ia sangka.


“Ehm, maaf ya. Aku mau permisi ke kamar mandi dulu,” ujar Hana yang melihat sekilas saja tahu siapa yang datang.

__ADS_1


“Mau mangkir juga Han,” canda Risma yang sudah mengembangkan senyum lebarnya.


“He he he he, iya. Panggilan alam.”


Sesaat setelah menyelesaikan ucapannya, Hana langsung pergi ke kamar mandi. Di dalam ia tak benar-benar ada hajat, hanya saja ia tak mau bertemu langsung dengan mantan rekan kerjanya.


“Kenapa Elis yang ke sini? Apa dia yang Andre maksud wanita


istimewanya?” gumam Hana seorang diri.


Hana duduk dan memegangi dadanya. Kenapa sakit sekali? Padahal ini kan yang kamu mau Han. Andre bisa menemukan move on setelah kamu pergi. Dengan begitu ia bisa menemukan wanita yang sesuai dengan keinginan orang tuanya. Setelah serentetan kalimat yang Hana ucapkan pada dirinya sendiri, ternyata nyeri dihatinya tak kunjung reda. Malah yang ada kian menjadi karena dalam hati kecilnya ia masih ingin hidup bersama Andre dan saling mengasihi.


Setelah hampir limabelas menit di dalam, Hana memutuskan untuk keluar. Dengan langkah mengendap, ia perlahan ke depan untuk melihat apa kah Elis masih di sana. Saat baru saja kepalanya muncul untuk mengecek situasi, ternyata semua yang ada di sana langsung mendapati kemunculannya dan menatap padanya. Hana yang tak ingin melnjutkan kelakuan anehnya, segera keluar dari persembunyian dan membalas senyum-senyum yang terarah padanya. Ia mengabaikan wajah Haning yang terlihat masam, karena ia memang selalu menunjukkan wajah semacam itu kepadanya.


“Hana sini,” panggil Nuke dengan wajah seram yang sudah hilang entah sejak kapan.


Hana mempercepat langkahnya agar bosnya ini tak terlalu lama menunggunya.


“Loh, nggak jadi dobongkar?” kaget Hana saat mendapati jajaran paperbag yang belum berubah sejak ia ke belakang tadi.


“Kenapa dibongkar, sudah dibayar sama pembelinya,” ujar Nuke lagi.


“Benarkah?” Senyum di wajah Hana langsung terbit. Ia mendesah lega dan mengurut dadanya. “Aku yakin bukan masalah uang Andre tadi menghilang, tapi pasti ada urusan,” lanjutnya kemudian.


“Tapi yang ke sini bukan pria tadi, melainkan seorang wanita yang katanya stafnya dia.”


Aku tahu mbak, namanya Elis. Batin Hana.


“Dia tak hanya membayar semua ini, tapi juga menitipkan ini." Nuke menunjukkan sebuah kotak yang berada di tangannya.


“Ini isinya apa Mbak?” tanya Hana begitu menerima kotak yang Nuke serahkan.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2