Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Sudah Ku Duga


__ADS_3

HAPPY READING


Langkah seribu Elis dan Rahma berhasil membawa mereka tiba di tempatnya tepat sebelum Dedi dan Dika lewat menuju ruangan. TIga staf ini serempak bangkit dan menyapa penuh hormat kedua petinggi muda ini. Dan seperti biasa keduanya hanya lewat tanpa balas menyapa.


“Kucel banget tu muka Bos?” tanya Andre  yang tepat saat Dedi dan Dika lewat muncul dari balik pintu ruangannya.


Dika hanya menggeleng dan segera masuk ke ruangannya setelah sempat Andre bukakan.


“Bu Bos ngidam aneh lagi?” tebak Andre melihat kondisi bosnya.


Dika menggeleng lagi dan mengulurkan tangannya untuk meraih berkas yang sudah menggunung di mejanya.


“Kalau kamu mumet mending serahin saja sama kita,” ujar Dedi yang spontan menghentikan gerakan tangan Dika.


“Aku nggak apa-apa Ded, yang lagi apa-apa tuh ayah!” jawab Dika dengan nada tinggi.


Andre mundur. Ini adalah kalimat pertama yang Dika keluarkan sejak tiba tadi. Tapi tanpa aba-aba sudah menggunakan nada setinggi ini saat menanggapi ujaran Dedi.


“Tapi aku bukan dewa yang bisa menjadi solusi untuk masalah seserius ini,” balas Dedi yang Andre taksir sebuah penolakan atas permintaan Dika yang ia tak tahu apa.


Andre mamantabkan dirinya untuk diam. Sepertinya ada masalah serius yang tengah dihadapi bosnya ini dan dia belum tahu tentang apa.


“Ya at least ayah bisa sedikit lega jika kamu mau sedikit peduli,” ujar Dika sungguh-sungguh.


“Aku sangat peduli Dika. Itulah alasanku kenapa aku tak aji mumpung dan langsung masuk ke dalam rumah sakit yang om Rudi bangun dengan usaha yang pasti tak mudah.”


Andre berjalan dan duduk di sofa yang ada di ruangan bosnya. Sepertinya ia mulai tahu apa yang menjadi masalah mereka.


“Yang kamu maksud peduli dengan membiarkan ayah kelelahan menghandle semuanya sendiri hingga kondisi kesehatannya memburuk seperti ini…” ujar Dika berapi-api.


“Tapi aku…” Dedi menunduk. Sepertinya ia merasa lemah sekarang. Terbukti dengan ia yang nampak ragu dengan ucapannya seperti ini.


“Apa? Mau ngomong apa kamu!?” sela Dika tak membiarkan Dedi berfikir untukmenyempurnakan alasannya. “Kalau saja aku punya sedikit ilmu tentang dunia kesehatan, aku pasti tak akan diam saat ayah bahkan untuk duduk saja hampir tak punya waktu.”


“Aku ini manusia bukan dewa. Aku masih baru Dika. aku masih harus lebih bantang-mentang karena aku lama di Amerika kamu pikir saat pulang aku jadi bisa semua? Tidak Dika, tidak.”


Dika tersenyum miring sembari berdecih tak terima mendengar apa yang barusaja sahabatnya ungkapkan. “Mending kamu pergi saja sekarang. Belajar serius sana biar kamu layak untuk ayah. Biar aku urus semua ini, jadi kamu nggak perlu merasa terbebani dengan membantuku di sini.”


Sesaat setelah Dika menyelesaikan ucapannya, ia langsung dibuat terbelalak dengan apa yang dilakukan sahabatnya. Bukannya mencoba menenangkan Dika atau apa, Dedi  justru langsung balik badan tanpa berkata sepatah kata pun untuknya.


Dedi sampat berhenti di dekat sofa tempat Andre berada. Ia


menyentuh pundak Andre sejenak berjalan melewati pria ini. Andre diam saja dan hanya mampu menatap kepergian Dedi tanpa sedikit pun mengeluarkan kata. Ia juga masih bertahan di tempat menyaksikan tanpa minat bosnya yang nampak kesal dengan tangan terkepal.


“Andre. Apa jadwal kita hari ini?” tanya Dika yang melengos dari arah pintu tempat Dedi menghilang sebelumnya ke sembarang arah yang ia sendiri tak tahu fokusnya apa.

__ADS_1


Andre segera membuka agenda Dika hari ini yang telah dijadwalkan sebelumnya. Dika tampak lost konsentrasi mendengarkan Andre membacakan jadwal untuknya. Meski Andre tahu hal ini, ia tetap melanjutkan tugasnya seakan ia tak tahu apa-apa.


“Batalkan semua,” potong DIka bahkan saat Andre belum selesai membacakan agenda untuknya.


Andre langsung mematikan layar dan meletakkannya di atas meja. Ia masih diam saja saat melihat Dika mengendurkan dasinya.


“Andre, gua mumet sekarang,” ucak Dika lagi. Kali ini ia menatap Andre yang juga menatapnya tanpa ekspresi.


“Kenapa Bos?” tanya Andre akhirnya.


“Ayah sakit, sedangkan Dedi masih kekeh tak mau membantu ayah menghandle pekerjaannya sementara,” jelas Dika mengutarakan isi kepalanya.


Andre diam. Ia tak mungkin asal bicara sekarang melihat bagaimana Dika tampak kusut seperti ini.


“Kalau aja gue bisa, pasti gue langsung yang turun tangan,” lanjut Dika sembari menatap Andre yang berdiri tak jauh darinya.


“Apa tidak ada orang lain yang bisa om Rudi mintai bantuan.”


“Sejauh ini menurutku hanya Dedi yang ideologinya mirip ayah. Dan aku yakin ayah menaruh harapan besar padanya, meski ayah tak pernah mengungkapkannya langsung.”


“Maksud kamu? Menaruh harapan besar untuk mendampingi Rista?”


Dika menggeleng. “Bahkan sejak awal ayah tak pernah mau ikut campur dalam hubungan mereka, karena ayah tak mau hubungannya dengan Dedi berubah jika hubungannya dengan Rista tak bertahan lama. Makanya sekarang mereka tetap dekat meskipun Dedi dan Rista mungkin ya…” Dika menjeda ucapannya dengan helaan nafas. “Tak berjalan dengan begitu baik,” lanjutnya dengan nada lelah.


Andre manggut-manggut mendengarkan Dika.


Kembali Andre manggut-manggut. “Jadi maksud kamu, kamu ingin Dedi terun tangan membantu om Rudi?”


“Benar,” jawab Dika singkat.


“Dan Dedi nggak mau?” terka Andre.


“Iya…”


“Sudah kamu coba cari tahu alasannya? Setahuku Dedi orang yang sangat memegang prinsip. Ia tak mungkin menolak suatu hal yang kita yakin dia mampu jika tanpa suatu alasan yang jelas.” Andre coba mengingatkan.


Dika menghela nafas. Dia mulai menarik rokok yang biasa ia bawa dan menyalakannya.


“Alasannya karena ia tak mau dianggap anak emas yang baru datang langsung dapat posisi nyaman.”


Sudah ku duga. Batin Andre.


Andre menerenung sejenak sebelum membalas tatapan Dika. “Masuk akal loh tapi.”


“Iya. Tapi kasihan bokap dodol.”

__ADS_1


“Ya om Rudi kasih aja pengertian dulu, biar beliau cari kandidat lain sembari menunggu Dedi siap.”


“Masalahnya ayah nggak pernah minta masalah ini, tapi gue yang punya inisiatif.”


“Ya berarti elu yang sotoy. Belum tentu juga kan beliau mau Dedi menempati tempat yang lu maksud.”


“H h h h… Lu nggak ngerti sih.”


“Ya emang nggak ngerti…”


Dika mengancingkan kancing terbawah jasnya setelah bangkit dari tempatnya. Dengan sekali dorong, kursi kebesarannya telah berhasil ia singkirkan.


“Eh mau ke mana?!” kaget Andre saat melihat hawa-hawa tak menyenangkan yang mulai berhembus padanya.


“Mau balik,” singkat Dika tanpa melihat tatapan panik Andre.


“Schedule?”


“Udah aku bilang cancel semua kan…?”


“Tapi Bos…”


Dika acuh dan berjalan meninggalkan Andre di ruangannya. Tepat di depan pintu Dika menghentikan langkahnya tiba-tiba tanpa ada yang meminta. Ia kemudian berbalik dan bertemu pandang dengan sekertarisnya.


Nafas segar menghampiri Andre saat merasa bosnya ini akan mengurungkan niatnya.


“Kamu sudah tahu apa yang harus dilakukan tanpa aku jelaskan.”


Pupus sudah harapan Andre.


“What de fffhhhh….”


Ddaggkk!!


Andre menghantamkan tangannya yang terkepal ke atas meja, sementara Dika hanya menggerakkan tangannya sebelum menghilang di balik pintu.


Dika terus berjalan mengabaikan tatapan dari staf yang dilewatinya. Hingga akhirnya ia masuk di dalam lift pribadinya.


“Bener-bener kamu ya Ded. Kenapa seenaknya saja pergi. Emang kamu pikir kamu siapa?” Dika bermonolog seorang diri. Ia kesal karena Dedi pergi begitu saja padahal ia hanya ingin menggertak tadi. Bukannya berhasil membuat Dedi menuruti maunya, tapi malah ditanggapi serius oleh sahabat


jenius kesayangan ayahnya ini.


Lagi pula Dedi datang memang karena Dika yang minta, jadi pasti Dedi tak akan berfikir dua kali untuk pergi saat Dika sendiri yang memintanya. Karena dia sendiri punya jadwal yang sangat padat dalam profesinya. Hanya saja dia tak pernah bisa menolak saat DIka minta bantuan karena budi yang diberikan oleh sahabatnya ini sungguh besar terhadap kehidupannya.


Sejak Dedi kembali, Dika memang selalu ada alasan meminta sahabatnya untuk datang. Andre yang sigap ditambah Dedi yang terampil dalam banyak hal membuatnya merasa dimanjakan. Sehingga ia mulai bergantung lagi pada sahabatnya ini karena sejak dulu tak pernah ada masalah yang gagal Dedi tuntaskan.

__ADS_1


Sekarang yang ada di otak Dika hanya pulang. Ia ingin meluangkan lebih banyak waktu bersama Rina yang kurang enak badan. Rista jadi enggan bekerja sama dengan Rina karena keberadaan Dedi di sekitar mereka, sehingga Rina jadi kelelahan saat harus memikirkan ulang semua yang sudah dirancang bersama Rista sebelumnya.


Bersambung…


__ADS_2