
HAPPY READING
Dika menumpahkan galaunya, mencurahkan lelahnya, dan menceritakan keluh kesahnya pada Dedi sahabatnya. Dedi adalah sosok yang berada di dekatnya dimasa terburuk dalam hidupnya dan bersama ia bangkit bersama.
Bukan maksud Dika tak menganggap Andre yang kini di dekatnya, namun dua orang ini punya peran masing-masing yang sama pentingnya untuk Dika
Dika menceritakan banyak hal, termasuk masalah berat yang harus Andre hadapi. Tentunya ia sekarang sudah tak di ruang tengah lagi, karena mama dan adiknya bisa jantungan kalau tahu apa yang terjadi pada Andre sekarang.
“Kok bisa sih Andre seperti itu dan kamu nggak tahu,” heran Andre yang tak paham dengan situasi yang Dika hadapi.
“I’m human Ded, dan aku nggak sama-sama dia selama 24 jam. Ya kalau itu kamu, kita pernah serumah jadi saling tahu apa yang masing-masing kita lakukan sejak membuka mata hingga mata terpejam,” ujar Dika mengingatkan.
Dedi hanya menyahut dengan menghela nafas. “Ini sulit,” ujarnya sambil memijat kepala.
“Benar. Terlebih karena orang tua Andre sepertinya kurang suka dengan Hana. Tapi mau gimana lagi. Sudah terlanjur ada anak di tengah hubungan mereka, sehingga mereka harus segera menikah sebelum anak itu lahir.”
“Nggak bisa Dika.”
“Nggak bisa? Maksud kamu gimana?” Kaget Dika saat melihat Dedi punya pendapat yang berlawanan seratus delapan puluh derajat dengan dirinya.
“Kamu beneran nggak tahu,” jujur Dika. Jika Dika kaget dengan ucapan Dedi, sekarang Dedi yang dibuat heran dengan reaksi Dika.
Dika menggeleng sebagai jawabannya.
Dedi menghela nafas. “Seorang wanita yang berada dalam kondisi hamil di luar ikatan pernikahan itu dilarang menikah sebelum anaknya dilahirkan.”
“Loh, masa iya.” Lagi-lagi Dika harus menunjukkan reaksi ini.
Dedi terlihat bangkit meninggalkan meninggalkan kamera yang menghubungkannya dengan Dika. Tak lama berselang dia kembali dengan secangkir besar minuman. “Gimana-gimana?”
“Tadi kamu bilang Andre nggak boleh nikahin Hana sekarang,” ujar Dika mengingatkan.
Dedi nampak mengangguk di sela minum. “Iya,” lanjutnya setelah air dalam mulutnya tertelan sempurna.
“Terus nasib anaknya gimana dong?”
“Nasibnya ya anak ibu. Gimana lagi,” ujar Dedi.
“Itu aturan siapa sih Ded yang nggak mengizinkan seorang wanita yang hamil untuk menikah.”
“Aturan islam lah.”
__ADS_1
Dika hanya mendesah. Terlihat sekali ia kecewa dan tak terima.
“Kenapa kamu? Nggak terima sama aturan agama?”
Kembali Dika menghela nafas. Dadanya terasa sesak sehingga butuh lebih banyak pasokan udara. “Ya kejam sih ini…”
Dedi kembali meraih cangkirnya dan memiumnya. Setelah gelas ia letakkan, ia mulai serius menatap Dika. “Kejam kamu bilang?” tanya Dedi tak percaya.
Dika kembali menjawab dengan anggukan.
“Justru ini bukti islam yang penuh cinta dan kasih sayang.”
Dika nampak tak paham dengan apa yang baru saja Dedi ucapkan. *Dedi kenapa jadi gini sih.*Jangan-jangan selama di Amerika dia kecantol aliran radikal lagi, batin Dika dalam hati.
Dedi terdiam dengan alis tertaut. “Kamu pernah mendengar istilah pernikahan merupakan ladang pahala?”
Dika sepertinya mulai sayang mengeluarkan suaranya. Lagi-lagi ia hanya mengangguk sebagai respon untuk kata-kata yang baru saja Dedi ucapkan.
“Dalam hal ini, wanita sebagai ladang dan laki-laki sabagai pemilik dan penyemai benih.”
Kali ini Dika tak bereaksi. Ia lebih memilih untuk dengan serius
memperhatikan Dedi.
Otak Dika mulai bekerja. Menggarap lahan yang bukan miliknya ini berarti perumpamaan untuk perbuatan zina dong. Batin Dika dalam hati.
“Selanjutnya, kalau sudah ada ladang yang ditumbuhi tanaman, masa iya kamu ditanami benih yang lain lagi?”
Dika menatap serius wajah Dedi yang tampil di layar. “Maksud kamu lahan yang sudah ada tanamannya itu wanita hamil?" tanya Dika memastikan.
“Benar.” Dedi menghela nafas. “Tak boleh bagi umat muslim laki-laki menanam di atas lahan yang sudah ditumbuhi tanaman sebelumnya, meskipun mungkin itu adalah dia sendiri penyemai illegal yang sudah mengambil start saat lahan itu belum sah jadi miliknya.”
Dika terdiam. Kenapa dia yang sudah islam sejak lahir tak tahu hal ini. Dan justru Dedi yang menjadi muslim belum terlalu lama sudah paham dengan baik masalah yang satu ini.
“Dika. Dalam hal ini mungkin aku salah. Lebih baik ajak Andre untuk berkonsultasi pada orang yang paham benar masalah ini. Karena sayang saja jika sampai ada pernikahan yang susah-susah dilaksanakan tapi ujung-ujungnya tidak sah di mata Allah.”
“Aku harus nanya siapa?”
“Om Rudi.”
Dika kembali Diam.
__ADS_1
“Apa om Rudi belum tahu masalah ini?” terka Dedi.
“Aku belum pernah membahasnya, tapi mungkin ayah sudah tahu hanya saja dia memilih diam diam,” jelas Dika.
“Apa ayah akan paham masalah ini?” lanjut Dika setelah sebuah helaan nafas kembali dilakukannya.
“Aku yakin beliau mengerti. Tapi kalau pun beliau tak mau memberikan solusi, pasti kalian akan dikenalkan pada seseorang yang paham benar masalah ini.”
Entah ini menjadi helaan nafas berat keberapa yang dilakukan Dika selama panggilan, yang jelas ia terus melakukan seolah tak pernah merasa cukup dan terpuaskan.
“Thanks Dedi. Sayang kamu jauh, kalau enggak mungkin sudah aku mintai peluk.”
“Dih jijik, hahaha…”
Keduanya kembali tertawa dan bercanda, menanggalkan obrolan serius yang membuat mereka sakit kepala. Dan setelah merasa puas, akhirnya mereka memutus panggilannya. Kemudian melanjutkan apa yang sebelumnya ingin mereka lakukan.
***
“Hana…”
Karena panggilannya tak dijawab, Andre menyibak selimut yang Hana gunakan untuk menutupi tubuh hingga wajahnya.
“Ya Tuhan, malah tidur lagi.”
Andre membenahi posisi Hana dan menarik selimut agar tak menutupi wajahnya.
“Mukanya jangan ditutupin dong sayang, nanti kalau susah nafas gimana?” ujar Andre pada Hana yang matanya sudah terpejam. Ia kemudian mencium puncak kepala Hana dan bangkit meninggalkan Hana di atas ranjang king sizenya.
Andre berjalan ke arah pintu kemudian perlahan menutupnya. Di luar ia berbicara dengan kepala security untuk membahas suatu hal.
Ternyata di dalam kamar, Hana tak benar-benar tidur. Ia hanya pura-pura karena tak ingin ngobrol dengan Andre yang mungkin akan memicu perasaan lebih tak nyaman yang ia rasa. Ia tak tahu kenapa ia merasa hatinya berselimut kecewa. Entah kecewa pada dirinya sendiri atau pada sikap Andre yang membuat Hana merasa dirinya hanya menjadi beban. Saat mendengar sayup-sayup suara Andre yang memberikan instruksi pada para penjaga dirumahnya, Hana turun dari kasurnya dan berjalan mengendap-ngendap untuk dapat lebih jelas mendengar apa yang Andre ucapkan pada anak buahnya sekarang.
“Intinya perketat penjagaan. Jangan sampai Hana keluar, dan langsung gasak saat melihat ada orang asing yang mencurigakan di sekitar rumah ini.”
“Baik Bos.”
“Ingat jangan kecewakan saya.”
Dari kamar dapat Hana lihat bahwa Andre terlihat menyambar kunci mobilnya dan berjalan ke depan. Tak berselang lama, Hana mendengar suara deru mobil yang meninggalkan rumah ini. Meskipun tak melihat secara langsung, ia tahu benar itu adalah Andre yang baru saja keluar dari area rumahnya.
“Andre mau kemana?” gumam Hana yang kini sudah kembali duduk di atas ranjangnya.
__ADS_1
Bersambung…