Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Asisten Dadakan


__ADS_3

HAPPY READING


Lelah Berputar-putar, Marshal akhirnya berhenti di sebuah taman. Taman dengan danau buatan di tengahnya. Tak besar memang tapi cukup menenangkan hati saat Marshal galau seperti sekarang. King of romance merupakan panggilan Marshal karena ia memang paling banyak menghasilkan karya romance dalam setiap tulisannya. Ia sangat puitis dalam imajinasi namun sangat garing dalam dunia nyata.


“Hai Shal…”


Sebuah suara menghancurkan lamunan Marshal.


“Hai…” Meski sedikit enggan, Marshal tetap membalas sapaan itu.


“Ngapain di sini? Pasti lagi ngehalu?” ujar wanita itu lagi.


“Aku tahu kamu sedang tidak memuji…” kata Marshal yang masih bertahan dalam posisinya yang berselonjor di atas rumput.


“Siapa bilang. Aku sedang memuji Siulan Kedamaian, King of Romance yang terkenal seantero kampus pada masanya….”


Marshal membuang muka. Ia bisa menebak kalimat apa yang akan wanita ini ucapkan selanjutnya.


“Kenapa gitu mukanya. Apa sang pujangga sekarang jadi punya hati sekeras batu dan sedingin salju?” ujar Wanita ini saat Marshal menampakkan raut tak berminat mendengarnya.


“Eh Shal, Kak Mia sudah punya anak dua kapan kapan mau balik ke dunia nyata. Jangan halu terus. Hidup perlu diperjuangkan, tak hanya dibayangkan, ha ha ha...” wanita ini tertawa renyah di akhir ucapannya.


“Cindy, nitip salam ya sama Mia. Aku sering nitip lewat angin yang berhembus, tapi takutnya angin lupa dan salamku nggak sampai buat saudara kamu,” ucap Marshal yang dengan sengaja bicara dengan gaya bahasa mellow yang biasa ia pakai dalam tulisannya.


“Nggak akan ada wanita yang kenyang perutnya kamu kasih makan bualan,” ujar Cindy dengan wajah sinisnya. Semula ia datang dengan wajah ramah berhias senyum, namun kini berubah sadis dan menyebalkan.


“Pantesan Kak Mia nggak mau sama kamu.” Belum puas Cindy menghina, ia kembali melemparkan kata pedasnya.


Cindy menghentakkan kakinya dan berjalan menjauhi Marshal. Ia merasa diacuhkan karena Marshal tak hanya mendiamkannya tapi juga enggan menatapnya.


Di kantor Surya Group…


Hana sama sekali tak bisa menulis sekarang. Ia justru mendapat tugas baru yaitu melanjutkan proyek es krim bersama Rina. Rina yang kehilangan Rista sebagai partner dan Lili yang baru saja mengajukan pengunduran diri, jadi bingung harus sharing dengan siapa untuk masalah ini.


“Han, menurut kamu ini gimana?” tanya Rina menunjukkan sesuatu pada Hana.


“Ini elegan, tapi jadi terlalu sayang untuk dimakan,” ujar Hana menyampaikan pendapatnya.


“Kalau yang ini?” Rina menunjukkan gambar lain.


Hana tampak memperhatikan dengan seksama. “Digital banget,” celetuk Hana kemudian.


“Maksud kamu?” tanya Rina yang tak paham maksud Hana.


Hana memutar posisinya untuk menatap Rina. “Itu sketsa hasil olah digital kan, maksudku dari gambar real yang dirubah menjadi sketsa menggunakan bantuan aplikasi secara otomatis, terus di touch up pake warna dengan ukuran kuas yang cukup besar.”

__ADS_1


Rina meringis. “Iya, aku yang buat tadi.” Rina menjeda ucapannya dengan sebuah helaan nafas. “Ternyata mendesain cover itu lebih susah dari pada mendesain perhiasan ya,” lanjut Rina sambil mengusap perut buncitnya.


“Emm, kalau misal aku coba buat boleh nggak?” tanya Hana agak ragu.


“Kamu bisa?”


“Aku coba ya…”


Hana mulai memegang pena gadget yang biasa digunakan untuk membuat sketsa. Gores demi gores ia torehkan di sana. Dan Rina terus mengamati dari tempatnya.


“Kok bagus…” gumam Rina sambil mengamati pergelangan tangan Hana.


“Ini belum selesai Nona…”


“Idih, gitu lagi manggilnya.”


Hana menhentikan sejenak gerakan tangannya dan segera menatap Rina. “Masih belum terbiasa.”


“Segera biasakan, jangan kelamaan…” ujar Rina sambil menyangga dagunya.


Hana tersenyum dan kembali menggerakkan tangannya.


“Kalian belum selesai?” tanya Dika menghampiri istrinya dan asisten barunya.


RIna tersenyum lebar setelah menyadari kemunculan suaminya. “Sayang… Sini, sini...”


“Sini deh.” Rina terus menggerakkan tangannya meminta Dika untuk segera mendekat ke arahnya.


Dengan kaki panjangnya, Dika dengan cepat bisa menjangkau sisi Rina. Ia kemudian ikut melihat apa yang Hana lakukan dengan gadgetnya.


“Sejak kapan kamu bisa beginian?” tanya Dika yang baru tahu kemampuan Hana yang satu ini.


“Sejak…” Masih dengan tangan yang bergerak, Hana memikirkan jawaban yang tepat. “Aku hobi menggambar…” bohong Hana akhirnya.


“Tapi menggunakan alat ini tidak semudah menggoreskan pena di atas kertas?” tanya Dika tak menerima alasan Hana begitu saja.


Hana menghela nafas. Kenapa Dika jadi mendadak penuh selidik seperti ini. Batin Hana dalam hati.


Perangkat yang ia pegang memang milik Rina, tapi sepertinya Rina kurang mahir menggunakanya. Hana dulu punya, namun tersimpan dan mungkin sudah di buang dari kediaman papanya.


“Han…” panggil Rina melihat asisten barunya mendadak melamun dan diam.


“Ah, he he he….” Hana nyengir karena tak juga menemukan kata-kata yang sebaiknya ia ucapkan sebagai jawaban. “Sa, saya selesaikan dulu ya…” ujar Rina akhirnya. Menyembunyikan sesuatu dari Andre saja susah, apa lagi ini Dika, bos Andre yang sudah jelas lebih rumit dari sekertarisnya.


“Oke, memang ini sepertinya ini lebih penting,” ujar Dika. “Sayang, aku bawain strawberry cheese cake…” lanjut Dika berbicara pada Rina.

__ADS_1


“Maauuuu…” Dengan antusias Rina menyambutnya.


Dika membantu Rina untuk berdiri meninggalkan Hana yang masih berkutat dengan gambarnya.


“Hana mau?” tanya Rina saat baru sesuap ia memakan strawberry cheese cake yang dibawa Dika.


“Enggak makasih, Non…, Rina, ehm…” Hampir saja Hana memanggil Rina dengan sebutan Nona tapi dia keburu ingat kalau Rina selalu melarangnya.


“Dia emang takut sama makanan manis, padahal tubuh


sama sekali nggak ada lemaknya.”


Tiba-tiba Andre muncul di ruangan Dika dengan membawa sesuatu di tangannya. Hana menghentikan gerakan tangannya dan tersenyum menyambut kekasihnya.


“Itu apa?” tanya Hana.


“Buah. Kalau ini mau kan?” tanya Andre sembari mengangkat kotak bekal di tangannya.


“Dapat dari mana?” tanya Hana.


Andre duduk di depan Hana dan menoel hidung mancung kekasihnya. “Kamu gimana sih, bukannya tadi kamu yang bawa dari rumah?”


Dika dan Rina membulatkan mata mendengar apa yang Andre ucapkan, namun sedetik kemudian wajah mereka normal lagi sesakan tak ada kata janggal yang mampir di indera pendengaran mereka.


“Oh iya lupa,” ujar Hana sebelum menerima suapan Andre.


“Kita makan dulu yuk. Udah jam makan siang juga,” ajak Rina.


Saat Hana sudah menelan habis buah di mulutnya, ia kembali memasukkan satu lagi agar ia tak ditanyai saat ini. Ini kalau di sini aja boleh nggak sih. Aku capek kalau harus keluar-keluar hanya untuk cari makan, gerutu Hana dalam hati.


“Aku pengen makan ayam bakar yang ada jeruk limaunya, terus banyak sambelnya mentahan, hmmm…” Rina menatap ke atas sambil membayangkan makanan yang ia inginkan.


“Pada setuju nggak?” tanya Rina pada semua yang ada di sana.


“Setuju. Ya kan Ndre?”


Ditodong Dika seperti itu pasti Andre langsung menganggukkan kepala.


“Ya udah, itu lanjut nanti aja Han ya, kita sekarang makan dulu,” putus Dika.


Dengan sedikit terpaksa Hana tersenyum lebar membalas tatapan Dika yang sejenak menatapnya..


“Nggak masalah kan?” tanya Andre to the point. Ia sadar ada sesuatu dengan Hana sekarang sehingga ia ingin segera memastikan.


Sekali lagi Hana menggeleng dengan senyum yang masih berusaha ia pertahankan. Ia menyandarkan kepala di lengan Andre yang masih berdiri di sampingnya. Tak berapa lama, kepalanya ia tegakkan sebelum ia bangkit mengikuti Dika dan Rina yang juga bangkit dari tempatnya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2