
Menanggalkan dasi dan jas, menyisakan celana bahan dan kemeja yang ditekuk membuat Dika terlihat matang. Ditambah dengan wajah serius yang kini terpasang di wajahnya.
"Mau ngomong apa?"
Rina belum mampu menjawab. Dia masih terpesona dengan berondong yang dianggapnya tengil selama ini.
Dika meraih tangan Rina dan membawanya duduk di kursi panjang yang terletak tak jauh dari mereka. Suasana taman kota yang bersih berhias lampu taman yang temaram ditambah bersanding dengan orang tersayang memang terasa begitu lengkap.
Berkali-kali Rina menghela nafas, namun belum juga mampu membunuh ragu. Aku benar-benar nggak siap kalau kamu menjauh Dika.
Dika mengambil 1 batang rokok putih dan mulai menyalakannya.
"Kamu ngerokok terus ya sekarang." Sial. Kenapa malah kata-kata seperti ini yang keluar.
"Hmm, menurutku ini jauh lebih baik daripada mabuk-mabukkan atau clubbing." Dika menghisap rokok yang terselip di jarinya dan bermain dengan asap setelahnya.
"Dika, maafin aku." Kembali terucap tiga kata yang sama sekali bukan inti dari permasalahan mereka. Kenapa jujur itu sungguh berat. Rina mendesah frustrasi.
"Jangan lagi katakan maaf." Bingo, ternyata Dika juga tak mengharapkan kata-kata itu.
"Apa penyesalanku masih bisa membuatmu kembali?" Rina menengok Dika yang menengadah menatap langit.
"Tergantung." Dika kembali menghisap batangan putih itu. Matanya menyipit kala kembali bermain dengan asap yang baru dibuatnya.
Rina menelan ludah.
"Dika..." Tenggorokan Rina terasa tercekat. Bagaimana cara ia menjelaskan kerumitan yang ia alami jika setiap berkata dia selalu terbata sebelum menyelesaikannya.
Dika menghempaskan rokok yang tinggal ujungnya itu. "Mau ngomong apa sih Rin, hmm?" Dika meraih dagu Rina dan mengusapnya lembut.
Rina menatap pria tampan di hadapannya ini.
Dika membawa jempolnya sedikit naik hingga mampu meraba lembutnya bibir yang menjadi candunya itu. "Mau dicium dulu biar bisa ngomong."
"Ish....," Rina menarik wajahnya yang berubah kesal.
Dika meraih bahu Rina dan di bawa dalam pelukannya. Rina mendongak. Mengapa sekarang Dika selalu menawan dilihat dari sisi manapun.
Dika tahu benar saat ini Rina tengah memandanginya. Merasa tak ingin kehilangan momen, Dika segera meraih tengkuk Rina dan segera meraup bibir tipis miliknya. Milikku. Apa benar ini milikku?
Dika menarik wajahnya. Wajah cantik itu hanya berjarak sekian senti hingga nafas keduanya saling menyapu. Dalam sekali tarikan, Dika kembali mendaratkan kecupannya bahkan kali ini lebih dalam dari sebelumnya.
"Ck, dasar cewek ga**l!" Suara gadis di dalam mobil yang tak sengaja melintas ini terdengar begitu kesal.
"Cewek siapa sih Lus?"
"Tuh..." Lusi menunjuk sejoli yang samar terlihat tengah berciuman.
Uka dan Lusi pulang dari Jogja tempat dimana kedua orang tua Lusi tinggal. Saat melewati taman kota, Lusi tak sengaja melihat Dika yang sedang mencium mesra Rina, gadis yang sempat ia temui di sekolah beberapa minggu yang lalu.
"Hallah, cuma gitu doang, nggak kayak kamu yang jago goyang."
__ADS_1
"Ukaa...," Lusi merengek manja.
"Apa sayang?"
"Nanti langsung balik?"
"Hhmm, tergantung."
Keduanya pun melanjutkan perjalanan meninggalkan dua sejoli di taman kota.
Di taman, ciuman panjang Rina dan Dika terpaksa di sudah i mengingat lokasi mereka saat ini. Rina masih menenggelamkan wajahnya di dada Dika, sementara Dika kembali bergumul dengan asap dari batangan putih yang terselip di jarinya.
"Tadi ada yang lihat nggak ya?" tanya Rina lirih.
"Kalau punya mata dan lewat sini ya pasti lihat lah."
"Kamu kok santai banget ngomongnya." Terdengar nada kesal dari ucapan Rina.
"Emang kudu gimana? Emangnya kalau aku nggak santai kenyataan bisa berubah."
Rina menegang. Benar, kenyataan nggak akan bisa berubah, tapi masa depan yang bisa berubah.
"Ka...?"
"Hmm..."
"Gimana pendapat kamu tentang cewek yang nggak perawan?"
"Bukanbukanbukan." Sanggah Rina cepat. "Kamu kan tahu sendiri kemarin..." Rina tak sanggup meneruskan ucapannya. Begitu manis, namun ia sangat malu jika mengingatnya kejadian yang beberapa hari yang lalu mereka alami, apalagi hingga membahasnya ulang.
Dika kini dapat kembali bernafas lega. "Terus..." Dika melayangkan tatapan menggoda.
"Ya...." Rina salah tingkah.
"Apa??"
"Dika...."
"Mau ngomong apa sih? Kurang ciumnya?" Dika terkekeh. "Udah malem, apa pengen ngamar, aw!!!" Cubitan di perut berhasil membuatnya diam.
"Aku serius...?"
"Udah pengen diseriusin?"
"Dikkaaaa...."
Dika tertawa dan mengeratkan pelukannya. "Aku pengen ngehalalin kamu Rin. Apa kamu mau?"
Rina mendongak. "Aku nggak yakin kalau kamu masih mau sama aku."
Dika melonggarkan pelukannya. "Kamu kenapa?"
__ADS_1
Rina mendesah. "Aku, aku...."
"Hey, jangan gugup." Dika membimbing Rina agar menatap matanya. "Aku di sini, dan aku sayang sama kamu."
Rina menghela nafas. "Rio, aku nggak bisa mutusin dia." Rina diam tak mampu melanjutkan ucapannya.
Dika menatap Rina lekat. "Kamu rileks ya, ceritain yang perlu aku tahu. Aku bakal di sini dan dengerin semua cerita kamu." Dika merapikan rambut Rina dan menyelipkan di belakang telinga. "Kalau kamu juga masih sayang sama aku, please jujur dan jangan tutupin apapun dari aku."
Rina mengangguk. "Aku sempat ingin putus dengan Rio, setelah ia hampir memper**sa ku."
Dika menegang mendengar kalimat itu. "Kapan?"
"Sesaat setelah kamu pertama kali mempertemukan aku dengan Rista." Rina merasa nyeri saat mengingat kejadian itu.
"Setelah ia datang dan menampar kamu?"
Rina mengangguk. "Itu adalah kali pertama Rio menamparku. Keesokan harinya aku pengen putus, tapi..." Apa aku harus jujur?
"Rina, jangan sembunyikan apapun terkait hal ini." Dika berkata seakan tahu isi hati Rina.
"Dia bilang, ada kamera yang ia pasang untuk merekam kejadian itu. Aku takut Dik, aku takut..."
Tangan Dika terkepal. "Sejauh mana dia menyentuhmu." Suara Dika terdengar dingin kali ini.
"Dik, aku nggak maksa kamu untuk mau menerima aku."
"Jawab Rin!"
Tubuh Rina bergetar, ini kali pertama ia melihat Dika emosi seperti ini. "Sampai sini..." suara Rina bergetar sembari menunjuk dadanya.
Dika menoleh sekilas. "Dibuka?"
Rina mengangguk lemah.
"Yang bawah?"
"Dari luar, nggak sampe kebuka tiba-tiba ada anak yang nendang bola terus kena kaca mobil." Rina menunduk dalam. Aku sakit Dik, aku juga nggak suka mengingat-ingat ini semua.
"Setelah itu?"
"Kita hampir nggak pernah kontak fisik, aku selalu menghindar dan ia juga sibuk dengan tugasnya." Rina kemudian menceritakan bagaimana perlakuan Rio padanya, termasuk kejadian yang membuatnya bertemu Dika di kamar kos Dedi. Dia menceritakan apa yang ia dengar dari wanita yang di temui Rio di sana.
"Dan, kemarin dia sempat menyebutkan namamu. Dik, dia tahu nama lengkap kamu. Nama kamu Restu Andika Putra Surya kan? S di akhir nama kamu itu kepanjangan dari Surya kan?"
Dika menatap Rina. "Dia ngomong apa?"
"Saat itu aku memohon agar ia bersedia memutuskanku, karena aku yakin sebenarnya dia juga tidak mencintaiku, tapi ia menolak dan kembali mengancam ku. Dia bilang salah satu kesalahanku adalah karena aku merupakan pacar dari Restu Andika Putra Surya, jadi perkenalan ku dengan Rio bukan kebetulan. Dia memang sengaja masuk di kehidupan kamu Dik, target dia itu kamu, dan aku hanya alat untuk menghancurkan kamu."
"Rio..." Sepertinya aku belum pernah berurusan dengan dia selama ini.
TBC
__ADS_1
Spam komen ya dear.