
Guling kanan guling kiri duduk baring lagi. itulah aktifitas yang Rina lakukan saat ini.
"Ya Tuhan.....! Aaarrrrggggg!!!" Setelah puas berteriak di atas bantal, Rina kemudian menyibak selimut yang membelit tubuhnya dan bangkit. Dia cepat-cepat meraih ponselnya dan mendial nomer seseorang.
"Hallo," ucapnya ruang kala panggilannya tersambung.
^^^"Apa Rin?" tanya Dika.^^^
"Dik, aku mau ngomong sesuatu."
^^^"Ini kan udah ngomong."^^^
"Ihh, kamu mah. Beneran ini."
^^^Dika menghela nafas. "Mau ngomong apa?" tanya Dika akhirnya.^^^
"Emmm, Rista bawa sini dong. Aku bete sendirinya, Dian Nita pada nggak bisa."
^^^"Kamu turun gih."^^^
"Ha?!"
^^^"Ha gimana? Cepat turun."^^^
"Apa sih."
^^^"Udah cepetan." Dan Dika segera memutus panggilan secara sepihak.^^^
Dengan malas Rina meninggalkan kasurnya untuk memenuhi permintaan Dika. "Ada apa sih, nggak tahu orang BT apa." Rina berjalan menuruni tangga dengan menggerutu. Saat tiba di ruang tamu, wajah Rina yang kusut mendadak berseri.
"Ya ampun Rissttaaaaa....!" dia berlari dan memeluk adik mantan kekasihnya ini. Tak berselang lama, tiba-tiba Rina melepaskan pelukannya dan menatap Dika yang duduk tak jauh dari mereka. "Kok pas banget?"
Dika hanya mengulas senyum. "Tante Ririn tadi kemana ya?" bukannya menjawab Dika malah balik bertanya.
"Lagi kencan sama Papa," jawab Rina asal.
"Siapa yang kencan!"
Rina melonjak kaget dan langsung memeluk Rista yang duduk di sampingnya. "Astaga Mama!?"
"Astaga kenapa!?" tanya Mama yang duduk setelah menyuguhkan minuman yang tadi ia bawa.
"Ya Rina kaget dong."
Mama mencebik.
"Bukannya tadi Mama mau kenc..., emm maksudnya keluar sama Papa."
"Nggak jadi," ucap Mama dengan mata sendu. "Udah di rumah punya anak satu-satunya kerjaannya galau, eh giliran keluar sama Papa malah di tinggal selingkuh sama kerjaan."
"Mama jangan ngadi-ngadi deh. Mananya yang galau," protes Rina.
"Ya itu tadi siapa yang teriak-teriak nggak jelas di dalam kamar."
"Mama!"
Teriakan mendadak dengan suara melengking Rina membuat Rista melongo tak percaya. Pasalnya pada pertemuan mereka sebelumnya, Rina tampil kalem-kalem saja.
Berbeda dengan Dika, dia sudah biasa mendengar atau bahkan diteriaki oleh Rina.
__ADS_1
"Nggak sopan neriakin Mama kayak gitu!"
"Ya habis Mama...., kan Rina malu," lirih Rina dengan wajah cemberut.
"Eh iya sampai lupa sama tamu. Nak Dika sama Rista ya namanya, silahkan diminum." Mama sempat Ragu menyebutkan nama Rista, takut salah sebut karena mereka baru saja berkenalan.
Kakak beradik ini segera meminum teh dihadapan mereka.
"Maaf Tan sebelumnya, kalau boleh saya mau menitipkan Adik di sini sekitar dua hari," ucap Dika kepada Mama Ririn.
"Emangnya Nak Dika mau kemana?"
Rina sebenarnya juga penasaran dan ingin bertanya, namun urung karena kini Dika sedang berbicara dengan Mamanya.
"Saya ada urusan Tante?"
"Urusan apa kok lama sekali?" tanya Mama Ririn penasaran.
"Emm," nggak mungkin aku bilang urusan kerja. Miris sekali nasibku masih punya Mama tapi harus cari makan sendiri. "Urusan sekolah Tan."
"Loh katanya ngurus, aw..." ucapan Rista menggantung kala Dika tiba-tiba menginjak kakinya.
"Boleh banget, ya kan Ma?" Rina yang tahu jika ada sesuatu yang Dika sembunyikan segera menyahut untuk mengalihkan pembicaraan.
Mama mengangguk. "Nggak masalah, biasanya Dian sama Nita juga suka nginep disini," imbuh Mama Ririn.
"Kok bisa pas ya?" Rina yang semula menatap Sang Mama kini beralih menatap Dika. "Kamu tadi posisi dimana pas aku telpon?" tanya Rina pada Dika.
"Udah di sini," jawab Dika yang membalas tatapan Rina. Sejurus kemudian mereka diam.
"Ehm, ehm," Mama dan Rista berdehem secara bersamaan.
Mama menghela nafas. "Sebenarnya ini bukan urusan Mama, tapi apa Mama boleh tahu alasan kalian putus, padahal sejauh pengamatan Mama semua nampak baik-baik saja." Mama bertanya dengan menatap sepasang mantan kekasih ini secara bergantian.
Rina dan Dika kembali beradu pandang. Pertanyaan yang sama juga ingin kutanyakan sama kamu Rina. Batin Dika. Semua salahku Dika. Batin Rina.
Mama menghela nafas dan bangkit kala melihat kedua remaja di hadapannya bungkam tak ada niat untuk segera menjawab. "Ya udah, ngobrolnya di lanjut. Mama mau istirahat."
Tepat saat itu Rista tampak menguap.
"Rista mau istirahat duluan apa gimana?" tanya Rina.
"Ya ampun, belum juga jam 8 udah ngantuk kamu."
Rista hanya manyun tanpa menanggapi ucapan Kakaknya.
"Udah dong Dik, aku anter Rista ke kamar ya," tawar Rina.
"Iya Kak."
Keduanya bangkit meninggalkan Dika sendiri di ruang tamu. Tak lama kemudian Rina kembali dengan mengenakan sweater putih di tubuhnya. "Jalan-jalan bentar yuk," ajak Rina.
"Mau kemana? Ini udah malem loh."
Rina mendesah, "belum juga jam delapan," kata Rina menirukan ucapan Dika untuk adiknya.
"Iya deh. Udah ijin sama Tante?" tanya Dika.
"Udah kok, yuk."
__ADS_1
Mereka berjalan beriringan. "Jalan kaki aja ya?" Dika kembali mengantongi kunci yang semula sudah dikeluarkannya.
Dika hanya pasrah mengikuti Rina. "Tumben komplek sini sepi."
"Tau nih."
"Kamu sebenarnya pengen kemana sih Rin?"
"Kenapa, kamu BT ya nemenin aku."
"Enggak sih."
"Ya terus apa?!" Rina berkacak pinggang dan mendongak tepat di depan Dika.
Dika meraih pinggang Rina dan merapatkan tubuh mereka.
Cup
Sebuah kecupan kilat mendarat di bibir Rina.
"Bisa nggak sih nggak maen nyium-nyium seenak jidat!"
Dika tak menghiraukan omelan Rina, dia justru mengeratkan pelukannya. "Duduk situ yuk." Dika menunjuk sebuah kursi panjang di bawah lampu di pinggir jalan.
"Kamu sebenarnya mau kemana sih?" tanya Rina.
Dika menghela nafas. "Cabang perusahaan almarhum Papa ada yang bermasalah." Dika kembali menghela nafas. "Dan aku kudu turun tangan."
"Sekolah kamu gimana?"
Dika tersenyum simpul. "Sekolah di SMK nggak bertele-tele kayak di SMA Rin, dan otakku masih sangat mampu meng-handle itu semua."
"Terus apa kabar tuh badan. Mampu nggak?!"
"Mampu." Ada ragu dalam ucapan Dika kali ini. Aku mampu asalkan ada kamu Rin.
"Sebelum ini emangnya siapa yang ngejalanin perusahaan? Kenapa kamu nggak minta tolong dia aja?"
"Mau nggak mau, suka nggak suka, cepat atau lambat, aku kudu ngejalanin ini Rin, jadi setelah rentetan peristiwa yang menimpaku dan Rista, aku merasa sudah saatnya aku tak terlalu bergantung pada orang lain. Sudah saatnya aku menjadi tempat bergantung adikku sebelum seseorang nanti kuajak serta hidup bersamaku." Dan aku harap itu kamu.
Rina menengok dan mendapati Dika tengah menatapnya. Dika, apakah penyesalanku ini sudah benar-benar terlambat? Nita benar, kamu bukan bocah dan kamu jauh lebih dewasa dariku. Rina kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Dika.
"Awalnya aku mau nitipin Rista ke Mama, tapi tadi pas aku di cafe nggak sengaja ketemu Mama kamu yang lagi sendirian."
"Terus?"
"Terus aku anter."
"Terus?"
"Terus tadi kamu nelpon pas baru banget aku nyampek rumah kamu?" Dirangkulnya bahu Rina yang tengah menyandar padanya.
Rina mendongakkan kepalanya. "Kamu percaya jodoh?"
"Entahlah," jawab Dika sambil membelai wajah Rina.
Dan ditemani cahaya rembulan dengan langit bertabur bintang, Dika dan Rina kembali larut dalam kasih meskipun kondisinya sudah berbeda.
TBC
__ADS_1
Say something dear.