Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Tak Biasa


__ADS_3

Selamat awal Oktober.


HAPPY READING


Seharian Andre dan Hana tak terlihat keberasamaannya. Andre yang nampak beberapa kali keluar ruangan sama sekali tak menyambangi Hana yang bersebelahan ruang kerjanya. Hingga waktu pulang menjelang, keduanya sama sekali belum menunjukkan sinyal untuk sekedar bertegur sapa.


“Pulang yuk…” ajak Riza pada kedua rekannya.


Dengan wajah kusut Rahma menatap Riza dari tempatnya.


“Bantuin dulu napa Mbak, masih banyak nih kurangnya…” ujar Rahma dengan wajah memelas.


“Kebanyakan gosip sih,” cibir Riza.


Elis bangkit dari tempatnya ia lantas berjalan menuju meja rekannya. “Tumben...” gumamnya sambil coba melihat salah satu pekerjaan Rahma.


“Nggak tahu dosa apa aku sama atasan kita. Pekerjaanku mentah semua dan ditolak Pak Andre hari ini…” gerutu Rahma tentang nasibnya.


Sebenarnya Riza kasihan juga dengan Rahma, tapi ia tak bisa banyak membantu kali ini. Ini adalah jam pulang dimana menjadi waktu yang paling ia nantikan. Ia begitu ingin segera pulang untuk dapat bertemu dengan putri semata wayang yang saat berangkat seringkali masih belum terbangunkan.


“Mbak Riza pulang aja nggak apa-apa. Biar aku yang nemenin Rahma,” usul Elis dengan badan membungkuk. Meski ia sedang membantu Rahma, ia seakan tahu apa kegundahan yang dirasa rekan kerjanya.


“Sorry banget lo ya…” ujar Riza sambil menyampirkan sling bag di pundaknya. Ia tak mau basa-basi dan itu adalah hal wajar yang sangat dapat dimengerti.


Rahma dan Elis kompak mengangkat jempol mereka sebelum ketiganya saling melambaikan tangan.


“Kamu tadi ngapain aja sih Ma?” tanya Elis begitu mereka tinggal berdua. Ia lantas menarik kursi dari mejanya untuk dibawa ke dekat Rahma.


Rahma menggeleng. “Tahu sendiri sebenarnya aku sudah mengerjakan semua, tapi begitu aku bawa ke pak Andre ada aja salahnya. Padahal menurutku itu bukan hal yang crusial yang masih dapat dimaklumkan.” Elis menghela nafas pertanda ada lelah yang menyerangnya. “Dan kamu tahu nggak, hanya karena kata yang aku gunakan beda dengan maunya pak Andre aku bahkan harus merevisi satu dokumen utuh. Padahal kesalahan itu tak merubah esensi. Terus, ekhm...”


Rahma menelan ucapannya saat pintu di depannya tiba-tiba terbuka. Ia lantas menarik dokumen sembarangan agar terlihat sedang serius bekerja. Tak berselang lama muncullah Andre dengan dasi yang telah dilonggarkan dan jas yang ia sampirkan di lengan.


Disangka hanya akan lewat, ternyata Andre menyempatkan diri berhenti di depan kedua stafnya. “Kenapa kalian belum pulang?” tanya Andre pada Rahma dan Elis yang nampaknya belum ada tanda-tanda untuk pulang seperti dia.


“Maaf Pak, saya belum bisa menyelesaikan dokumen-dokumen yang harus direvisi ini,” jelas Rahma.


Andre melangkah dan mengabil berkas yang Rahma pegang. “Mana yang salah?” tanyanya seolah benar-benar tak tahu jika semua ini karenanya.


Rahma menghela nafas. Ia lantas menunjukkan bagian yang tadi Andre salahkan.


Alus banget actingnya. Berlagak nggak ngerti padahal kan semua gara-gara dia, gerutu Rahma dalam hati.


“Kalau sudah tahu salahnya kenapa kamu harus susah-susah memeriksa. Kan tinggal diganti dan cetak ulang, kecuali kamu cari alasan untuk mendapatkan uang lembur,” ujar Andre dengan enteng. Ia bahkan tak peduli bagaimana reaksi stafnya dan pergi begitu saja.


Rahma mengeratkan giginya. Hidungnya kembang kempis menahan amarah yang tak mungkin dilampiaskannya. Ia sudah bersiap membanting meja, namun urung saat Andre tiba-tiba menghentikan langkahnya.

__ADS_1


“Kalau yang begini saja kamu tak mengerti, kamu mungkin harus bersiap-siap untuk berganti posisi,” lanjut Andre sebelum melangkah lagi.


Rahma benar-benar lemas sekarang.


Selepas Andre pergi, Rahma bangkit seketika dari tempatnya. Tangannya terangkat untuk meremat udara di depan wajahnya.


“Irrrggghhhhh…. Kesel, kesel, kesel, kesseelllll…!!!!!” geram Rahma dengan suara tertahan. Kakinya terhentak-hentak dengan sembarang sebelum kembali menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi kerjanya.


Elis dengan tatapan iba mengelus-elus pundak sahabatnya. Ia sebenarnya kasihan dengan Rahma, namun ia justru lebih fokus dengan kepulangan Andre yang tanpa menunggu Hana.


Apa mungkin ada masalah yang menerpa hubungan mereka?


Belum juga pikirannya menyusun cerita bahagia, Andre tiba-tiba kembali lagi. Entah apa yang selanjutnya terjadi, yang jelas Elis harus menunda hayalannya dan kembali bekerja membantu Rahma.


“Hana masih di dalam kan?” tanya Andre tiba-tiba.


“Mas… sih…” suara Elis tertelan diujung saat Andre tak berhenti atau sekedar memelankan langkah di hadapan mereka.


Andre berjalan melewati kedua stafnya dan masuk begitu saja ke dalam ruangan Hana. Selanjutnya Andre hilang bersama pintu yang ia tutup dari dalam.


Elis sebenarnya punya banyak kata yang ia ingin bicarakan dengan Rahma, namun sepertinya rekannya ini hanya berhasrat untuk menyelesaikan pekerjaan dengan segera.


Di dalam ruangan…


Hana mengangkap kepalanya sesaat sebelum kembali dijatuhkannya.


Andre mendekat dan coba memeriksa Hana. Ia menyentuh kening dan leher Hana.


“Astaga...” gumam Andre. Ia kemudian menegakkan tubuh Hana dan berjongkok di depannya.


Wanita cantik ini nampak pucat dan suhu tubuhnya tinggi.


“Kamu sakit Hana, kenapa diam saja?”


Andre meraih tubuh Hana dan menggendongnya. Tak lupa ia menyambar tas Hana sebelum membawa kekasihnya pergi dari sana.


Elis dan Rahma kembali terusik pekerjaannya saat mendapati kemunculan Andre yang sedang membopong kekasihnya. Tak ada yang berani bertanya karena Andre nampak begitu tergesa. Elis sebenarnya kepo, sayangnya Rahma benar-benar tak peduli saat ini. Terlihat jika hanya ia yang menyaksikan atasannya berh=jalan hingga ujung sementara Rahma sudah kembali fokus dengan layar monitornya.


“Ke rumah sakit ya...” ajak Andre begitu ia dan Hana berada di dalam mobilnya.


Hana menggeleng.


“Kenapa?” Tanya Andre sembari kembali menyentuh kening Hana.


“Aku bisa minta sesuatu?” tanya Hana dengan suara lemah.

__ADS_1


“Apa?” ujar Andre dengan segera.


“Aku ingin ke pantai…”


Andre mendelik dengan permintaan kekasihnya. “Ini malam Hana, bagaimana kalau besok saja...”


“Aku ingin ke pantai tempat kamu pernah meninggalkanku malam itu demi mengantar Dian…” ujar Hana yang seakan tak peduli dengan Andre yang berusaha menawar permintaannya.


“Apa kamu sedang ingin mencari masalah?” tanya Andre yang sepertinya tak senang dengan permintaan Hana.


“Kalau kamu nggak mau aku bisa sendiri…”


Hana bersiap keluar namun segera Andre tahan.


“Jangan. Aku antar saja…”


Andre menyerah dan menuruti permintaan Hana. Ia memasangkan sabuk pengaman di tubuh kekasihnya sebelum kemudian menjalankan mobilnya dengan perlahan.


“Kamu tadi siang makan apa?” tanya Andre di sela mengemudi.


“Apa?”


Merasa ada yang tak beres, Andre lantas menatap langsung kekasihnya. Kebetulan mereka sedang di persimpangan, sehingga ada waktu sembari menunggu menyeberang.


“Sedang pura-pura tak dengar? Pengen main drama?” cecar Andre yang memang sedang kacau perasaannya.


Dada Hana terasa hangat. Meski pandangan Andre terkesan mengintimidasi namun Hana justru merasa senang karena didapatkan lagi sikap kekasihnya yang seperti ini. Jujur saja, menghadapi Andre yang keras lebih mudah ketimbang menhadapi Andre yang diam dan tak peduli.


“Kenapa? Marah?” tanya Hana dengan bibir menahan senyum. Ia juga segera melengos karena tak ingin bertatapan dengan Andre dalam kondisi seperti ini.


Andre sepertinya ingin bertahan di sana sementara ini. Ia bahkan mengacuhkan jalanan yang siap ia seberangi dan fokus terhadap Hana yang membuatnya terombang-ambing saat ini.


“Hana…” ujar Andre sambil membawa Hana untuk kembali menatapnya. “Kamu melewatkan makan siang?” tuduh Andre tanpa kata-kata pembuka.


Hana berusaha mengulum bibirnya yang tertarik dengan kuat kedua sudutnya saat ini. Bibir tipis itu lantas terbuka lebar setelah sebelumnya bergetar hebat. Kepalang tanggung ia meringis saja.


“Oke…” Sepertinya sebuah keputusan telah Andre ambil sekarang.


Dengan cepat Andre melepaskan Hana dan kembali memegang kemudinya. Ia lantas menginjak pedal gas melesat dengan cepat.


Glek!


Hana menelan ludah karena perubahan kekasihnya yang tiba-tiba. Pria tampan ini tak hanya mengacuhkan Hana namun juga mengemudi dengan kecepatan tinggi. Takut sih tapi seperti ini lah watak Andre yang begitu dicintainya ini.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2